Melihatlah ke Belakang Barang Sekejab….

Penyanyi dan mantan juara ajang putri-putrian itu resmi bercerai. Tak pernah kudengar berita sumir, pernikahan itu berakhir dengan cepat, di tahun ke delapan. Hanya melewati 2 kali sidang saja.

Tak pernah kudengar rumor yang berhembus tentang keduanya. Yang aku tahu, istrinya getol sibuk berolahraga. Sekali, aku pernah lihat mereka. Bertiga, dengan anak mereka. Di sebuah event olahraga. Aku suka suka melihat pasangan itu. Dua duanya sama sama menjulang, untuk ukuran tubuh orang Indonesia. Cocok, pikirku.

Kembali ke berita perceraian, nomer satunya adalah : aku merasa sedih.

Aku seperti patah hati saban kali melihat atau mendengar sebuah perceraian. Apalagi jika sudah ada buah hati.

Sama seperti saat salah seorang temanku, dan istrinya yang juga seorang penyanyi, baru-baru ini bercerai tanpa angin dan badai.

” Mantan istrinya sudah punya pacar baru, hasil dari bisik-bisik tetangga,” kata adikku bergibah.

” Aku sudah pernah melihatnya,” lanjutnya menambah racun gibah.

Ah.

Mengapa kini gampang sekali orang Indonesia memutuskan bercerai? Banyak, aduuuh banyaaaaaaak sekali kasus ini terjadi di sekelilingku.

Tak bahagia, main gila, cerai.

Tak sabar menghadapi pasangan, cerai.

Jenuh, cerai.

Lagi pede-pedenya di puncak karir, cerai.

Kena goda, cerai.

Eh ini tidak berlaku ya untuk kasus kekerasan domestik, apalagi jika telah membahayakan jiwa. Bercerai sepertinya mau tak mau jadi sebuah solusi. Daripada mati?

Pernahkan mereka mengingat ingat bagaimana ribetnya dulu ketika saat akan menikah?

Pingitan, ribetnya mencari suvenir/penghulu/tukang jahit kebaya/ make up artis, pening menyatukan keinginan dari dua keluarga besar ( satu ngotot pakai adat ini, yang satu ngotot kudu pakai adat itu ), capeknya berdiri dipajang di panggung sambil harus senyum manis selalu ( apalagi jika mempelai wanita harus mengenakan sunting dan kembang goyang di kepala ), saldo tabungan yang mendadak defisit untuk bayar sewa gedung? Coba ingat-ingat. Seru ya? Apalagi mengingat malam pertama dimana apapun yang dilakukan menjadi halal. Oh yeaaaaaaah!

Pernahkah mereka kenang, proses pertama kalinya menjadi orang tua?

Berdegubnya dada menanti munculnya dua strip merah? Kunjungan perbulan ke dokter kandungan? Bahu membahu saling menguatkan di proses kelahiran? Tangis pertama anak mereka dan those sleepless nights sesudahnya? Hari pertama mengantar anak sekolah?

Bikin tersenyum, ya?

Memang, kita itu harus selalu menatap masa depan, maju dan tak melulu menoleh ke belakang.

Namun, ada beberapa hal dalam hidup yang perlu harus kita kenang dari masa lalu demi sebuah senyum di hari tua kita kelak.

Percaya deh, kita tua kelak, jika semua fase hidup telah kita lewati, yang tersisa dari kita hanyalah mengenang masa lalu.

Lihat saja nenek, kakek atau buyutmu. Dengar apa yang kerap beliau-beliau katakan.

” Dulu…..”

Atau

” Waktu kau kecil…”

Atau

” Saat zaman perang…”

Atau

” Saat aku menikah dengan nenekmu dulu…”

Atau

” Ayahmu bertemu ibu di sebuah pesta…”

Bagaimanapun juga, perceraian itu sebuah kepahitan, percaya deh. Akan ada anak keturunan yang kelak akan kau tarik untuk mendengarkan ceritamu. Kalau ternyata kau bercerai dan menikah lagi ( amit amit kalau lagi), bisa jadi akan ada sejarah yang dihilangkan sehingga tak pernah diceritakan.

Nah. Jika kau tengah berpikir hendak melakukan kepahitan ini, yakinkah jika tua kelak kau mau mengenangnya kembali?

Advertisements

Pudar….

Kau tahu, tanda utama akan memudarnya sebuah cinta?

Tak lain dan tak bukan : rusaknya sebuah komunikasi.

Jika kau merasa tenang-tenang saja, tak mendengar atau berbicara dengannya selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari, maka ketahuilah: cinta itu telah memudar.

Apapun alasannya : sibuk. Sedang sakit. Lagi marah. Gengsi, apapun!

Karena jika kamu (masih) mencintai seseorang, maka akan sukar melepaskan dirinya dari keseharianmu.

Mau pergi, ingat memberi tahu.

“Hai Sayaaang, aku hari ini mau ke sini ya… kayaknya lusa aku ada pertemuan di situ, deh.. nanti kukasih tau lagi ya..jadi apa enggaknya…”

Having a rough day, dia orang pertama yang ingin kamu curhati.

” Aduh, kepalaku mendadak sakiiit banget tadi… nggak enak deh… Kenapa ya? Perasaan ngga makan yang aneh-aneh..”

Having a good day, dia orang pertama yang ingin kamu bagi.

” Eh kamu tau nggak, masa ya tadi aku dapat arisan! Pas bener, pas lagi bokek-bokeknya!”

Mau mandi, makan, kerap teringat akan si dia, sama seperti judul lagu jadul itu. Terkadang, sebuah pesan singkat atau telepon dengan isi pembicaraan yang remeh dilakoni <— meski terlihat nggak penting, namun sesungguhnya hal ini maha penting. Kalau bicara cuma untuk hal-hal yang penting, ya apa bedanya pasangan dengan rekan kerja atau tukang somay langganan anda?

” Eh..eh.. aku mau gosipan… Masa ya, tadi si Anu…berantem ama si Itu…”

Atau…

” Itu artis yang Enoh ketangkep gara-gara apaan sih?”

Atau….

” Kamu jangan pakai lagi ya baju yang itu.. aku ngga suka.”

Kira-kira seperti itu… pembicaraan remeh yang nampaknya tak penting namun nyatanya teramat penting untuk menjalin sebuah komunikasi.

Sedang kesal pun, kamu akan rasakan adalah siksaan untuk tak berbicara dengannya. Karena…. cinta itu semestinya sih tanpa gengsi.

” Yang…Udah dong… jangan ngambek terus…”

Atau…

” Diem aja, kamu masih marah ya?”

Atau…

” Maaf ya, tadi aku kata-katanya kasar sama kamu.. ”

Atau…

” Baikan yuk…. Sudah jangan berantem lagi. Sini, peluk.”

By the way, gengsi itu sangat bisa merusak cinta. Selain dari perselingkuhan dan kepelitan. Ini kataku, loh ya….

Ketika komunikasi sudah tak terjaga, tentunya masing masing akhirnya akan mencari kesibukan atau berusaha mengabaikan sebuah “kehilangan” itu.

Mungkin dengan harapan : ah, nanti juga balik lagi sendiri.

(Atau…… memang dasarnya sudah tak peduli? I don’t know. Go ask him..or her…)

Perlahan-lahan sebuah kebersamaan menjadi tak penting lagi. Perhatian-perhatian kecil semakin tak pernah diterima lagi.

Dia atau kamu mulai sibuk sendiri.

Dia atau kamu sudah tak pernah memberikan atau membelikan pasangan sesuatu lagi.

Dia biarkan engkau membayar makanmu sendiri. <—- khusus kalo “dia” itu laki-laki.

Dia tak pikirkan kado ulangtahunmu lagi.

Wah…itu sih sudah gawat!

Perempuan ke Dua…Tiga, dst.

Salah satu ustadz terkemuka itu tengah sakit keras. Mukanya menghitam akibat efek kemoterapi. Media massa mengatakan bahwa beliau didiagnosa menderita 2 penyakit kanker sekaligus. Namun berkat ridha Allah, lagi lagi menurut media, dalam dua bulan saja kedua penyakit itu dinyatakan bersih.

Ada dua hal yang menjadi fokus di benakku.

Pertama : mata sang Ustadz yang nampak sendu. Jelas. Siapa yang mau menderita sakit? Penyakit yang gawat, pula. Aku berempati pada beliau, sungguh.

Ke dua, adalah siapa yang mendampingi beliau saat kini tengah menjalani serangkaian perawatan di negara tetangga : istri pertamanya.

Sang Ustadz ini yang kutahu, beristri lebih dari satu. Dua, tiga, bahkan sepertinya hendak memiliki istri ke empat. Eh apa sudah, ya?

Hal ini menggelitik benakku.

Mengapa istri-istri lainnya tak ada?

Media pun ramai memuji istri pertama sebagai wanita yang luar biasa. Setia, berhati lapang seluas samudera. Karena ikhlas dan rela dimadu, pun tetap nomer satu merawat sang suami yang hati dan kemaluannya telah terbelah belah.

Ah.

Sungguh membuat mataku terbelalak, terbuka selebar-lebarnya. Bahwa cinta yang kumau sesungguhnya tak pernah mau dibagi, apapun alasannya, surga sekalipun yang dijanjikan.

“Tak mengapa, bisa kok cari jalan lain menuju surga,” pikirku.

Pikirku, wanita ke dua, ke tiga dan seterusnya, sesungguhnya hanya merupakan “pelengkap”, aksesoris dari yang sudah ada.

Ibarat busana, istri pertama bak sebuah blus yang mungkin motifnya dirasa masih polos. Sementara wanita wanita berikutnya adalah sebuah bros, atau kalung yang tak ada pun tak membuat si pemakai busana telanjang.

“Sebuah penggenap dari bilangan yang ganjil,” ujarku.

Lantas, mengapa wanita mau, menjadi yang ke dua, ke tiga dan seterusnya?

[Apalagi yang dengan bodohnya mau dijadikan simpanan tanpa pernah akan diberi sebuah kejelasan]

Mungkin karena tak ada pilihan lain. Karena kebutuhan hidup itu perlu dipenuhi.

[Nah ini… tipe yang banyak terjadi di ibukota]

Jika mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, kok masih mau jadi wanita ke dua, ke tiga dan seterusnya?

[Apalagi yang dengan bodohnya mau disimpan tapi masih juga memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, ngga bakal juga dinikahi]

Karena kadung cinta, tampaknya….

Ah cinta.

Bodoh memang kau kadang-kadang karena cinta, mak cik!

Tinder.

Aku selalu takjub dengan orang-orang yang punya keberanian untuk berkenalan dengan orang lain melalui aplikasi cari jodoh.

Aku punya seorang teman wanita. Bercerai, mandiri, dan punya karir bagus. Ia memang mengincar untuk berkenalan dengan pria-pria asing, terutama yang memiliki level yang juga bagus di pekerjaannya. Bule terpelajar lah, katanya. Ia bahkan rela mendaftar di sebuah platform cari jodoh berbayar, demi menggapai cita-citanya yang satu ini.

Setiap ia mengunjungi benua lain, terutama Eropa, ia selalu mengaktifkan akun Tinder-nya. Kalau yang ini sih aplikasi gratisan, jadi lebih besar peluang untuk gayung yang dilempar segera bersambut.

Katanya sih, untuk sekedar teman ngobrol atau ketemu ngopi sesaat. Mana tahu kalau ternyata berjodoh juga…

Aku takjub.

Iya, benar. Aku takjub dengan keberanian sejenis ini. Bukan berarti aku menganggap hal seperti ini sesuatu yang negatif ya..

Aku punya kok, teman seorang laki-laki yang ngga sengaja berkenalan di ruang chat MIRC atau IRC gitu..(ketahuan umurnya dah!). Hingga kini, sudah sekitar 20 tahun kami tetap berteman.

Aku pernah juga membalas celotehan sok akrab seseorang di kolom komentar akun media sosial seorang teman. Iseng. Dan hasilnya? Sudah berjalan 5 tahun, aku hingga kini akrab beneran dengan Si Sok Akrab tadi.

Sudah. Itu saja.

Aku tipe orang yang jika berkenalan, memastikan asal usul orang tersebut. Terutama laki-laki. Akun media sosialku hampir semua dalam posisi terkunci.

Tapiii…Kalau hanya berkenalan karena sama sama antre nunggu panggilan dokter, ya sudahlah. Paling ngobrol sebentar, habis itu bhayyy! Belum tentu juga ketemu lagi, toh?

Tapi untuk perkenalan yang lebih intim, one on one , apalagi stranger to stranger : sumpah aku ngga bakalan berani.

Apalagi jika berkenalannya di negara orang. Bule pula. Mana tahu, latar belakangnya? Tujuannya apa? Worse, penyakitan apa kagak?

Hiih!

Di kepalaku, seorang laki-laki, jika bela-belain berkenalan dengan seorang perempuan secara random, 51 % otaknya sudah menuju ngeres.

Dan jika itu bule, persentasenya langsung melonjak drastis ke : 70-80% for sex. Logika aja, sebagian besar dari mereka PASTI memilih perempuan dengan foto profil yang dianggap menarik. Kecuali maniak ya, mungkin bagi mereka, asal bisa bernafas, jadilah.

Ngeri, buatku.

Mana tahu rampok. Mana tahu kelainan jiwa, kayak di film-film. Mana tahu human trafficker. Apalagi, di negara orang. Ada apa-apa, ke mana meminta pertolongan?

Mungkin jika bertemunya di lobby atau kafe di hotel tempat kita menginap, ya ngga apa apa. Relatif lebih aman. Asal ngga minta ikutan naik ke kamar. Ish! Nggak banget.

Call me old fashioned.

Aku pernah, punya akun sejenis si Tinder ini. Entahlah apa namanya, aku lupa. Awal mendaftar, karena kecele. Katanya buat cari temen. Begitu masuk, lah kok aneh? Satu akun bertahan sekitar beberapa hari, akun yang satu lagi cuma dalam hitungan jam langsung kuhapus.

Tapi aku emang ngga bisa begini-begini. Untuk berkenalan saja, aku memastikan si Anu ini siapa, temannya siapa. Apalagi untuk ke hal yang lebih intim.

I was no saint, I’ve done things. But an idea of one night stand with a total stranger is never a thing for me. Make me feel disrespected!

Takut.

We live in a stressful world. Full of fear.

Takut ga punya uang. Takut gak disukai orang. Takut kemalingan. Takut sendirian. Takut anak gak naik kelas, anak ngga pinter , anak nggak dapet sekolah bagus. Takut pembantu kabur. Takut sakit parah. Takut naik pesawat. Takut mati. Takut masuk neraka. Takut pasangan selingkuh. Takut… takut… takut.

Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Sebagai seseorang yang pernah beberapa kali mengalami anxiety atau panic attack, aku paham betul efek dari rasa takut pada tubuh.
Tiba-tiba merasa dingin di mulai dari tubuh bagian bawah, napas yang mendadak terasa sesak, mual, jantung berdebar-debar dan mata berkunang-kunang. Tahap akhirnya gejala-gejala di atas kalau tak terkontrol : pingsan.
Padahal, sebenarnya tak ada yang salah dengan fisik. Tensi normal. Respons mata normal. Detak jantung normal. Murni hanya : psikologis.
Ah…Kan bodoh, ya?
Katanya, jika merasa tak tenang, berarti kurang mendekatkan diri pada Tuhan. Kurang pasrah, kurang percaya pada Tuhan.
Mmmmm… bisa jadi siiiih….
Tapi, Tuhan.. eh.. tepatnya sih.. sesuatu agama, menurutku turut berkontribusi baik secara langsung maupun tak langsung dengan anxiety, fear, dan panic attack.
Bagaimana tidak, ketimbang mengedepankan cinta kasih, selama ini yang lebih ditonjolkan lebih banyak berupa ancaman, demi sebuah kepatuhan.
Kalo ngga shalat, berdosa. Masuk neraka.
Kalau istri ngga nurut suami, berdosa. Masuk neraka.
Gak zakat, sedekah, infaq, hartanya ngga berkah. Makan uang haram, berdosa. Masuk neraka.
Pilih pemimpin politik berbeda agama dan ngga direstui ulama, berdosa. Masuk neraka.
Ucapkan kalimat selamat hari raya pada pemeluk agama lain, berdosa. Masuk neraka.
Tak berhijab, setiap langkah dan mata yang memandang adalah dosa, bukan hanya pada dirimu namun juga bapakmu.
Pacaran, berdosa. Masuk neraka.
Masukin uang di bank itu riba, berdosa.
Kata seorang teman : “Harus begitu, dikerasin dulu agar patuh. Jika melaksanakan ibadah karena ketakutan masuk neraka, maka lama lama akan jadi sebuah kebisaan.”
[Mendengar hal ini, entah kenapa ya.. aku langsung teringat era Orde Baru. Atau….. negara Korea Utara]
Akhirnya, merasa berdosa sedikit saja, parnonya bisa luar biasa. Padahal namanya manusia, kan sarangnya alpa dan salah?
Aku pernah ditegur oleh seseorang. Katanya : ” Kau tak boleh mempertanyakan dan memperdebatkan kitab suci, karena kau seperti mempertanyakan kata-kata Tuhan. Wah…Itu ngeri, sekali!”
Nah kan.
Ada sebuah unsur ancaman yang menakutkan dalam kalimat “ngeri sekali” itu.
Padahal….siapaaaa yang mau mempertanyakan dan memperdebatkan? Kan titik beratku adalah cara penyampaian?
Coba ganti dengan feel yang positif misalnya seperti ini:
“Shalat, yuk…. dalam shalat penuh dengan ucapan doa dan pujian pada Allah. Setiap doa dan pujian itu berupa pahala untukmu.”
” Suami kamu capek ya mencari nafkah, dia juga mengurus kamu dan anak anak… jaga baik-baik ya, dia. Sayangi, hormati dan jangan lupa doa’kan… besar nanti berkah dan pahalanya untukmu…”
Jadi ketimbang ngancem dengan dosa dan masuk neraka, coba tawarkan janji yang indah indah. Jadi melakukan ibadah itu dengan cinta, bukan karena takut.
Menurutku sih, gitu ya.
Tapi ngga usah juga yang mendayu-dayu sehingga seperti bujuk rayu. Lebay, ah…
Yang bisa diterima logis aja, meski berbicara tentang sesuatu yang well…abstrak.
Kembali ke rasa takut, sedari kecil kita sudah dikenalkan dengan rasa takut. Contoh saja, pada saat baru bisa berjalan atau lagi senang-senangnya berlari :
” Awas nanti jatuh!”
” Awas, nanti kejedug!”
Makanya, ketika anak-anakku kecil, aku tak mau mengatakan hal seperti ini. Kuawasi saja mereka saat berjalan dan berlari. Paling kuingatkan agar tidak terlalu kencang.
Ketika mereka tak mendengarnya dan akhirnya terjatuh dengan dengkul bonyok berdarah, aku hanya berkata singkat :
” Kan tadi mami bilang apa? Sakit?”
Dan biasanya mereka keburu gengsi, karena tak mengindahkan ucapanku. Mereka akan menggeleng dan menahan tangis. Segera berdiri, dan kembali tegak lagi.
That’s, how I build a (little) man.
Oh ya…Anak-anakku keduanya laki-laki, by the way anyway busway… dan pada …superaktif, yang pertama malah sempat hiperaktif.
Nampak ideal, ya?
Bah.
Sesungguhnya enggak. Terhadap orang lain aku bisa menanamkan rasa percaya diri dan menghalau ketakutan.
Namun terhadap diri sendiri? Ah, ternyata tak semudah itu, Maria Esperanza!
Dalam hidup, aku senantiasa berjaga-jaga. Aku selalu sedikit lebih banyak menyiapkan diri dengan kemungkinan terburuk. Biar ngga kecewa, alasannya.
I learned this from my mom. Ada satu episode dalam hidupku ketika aku dengan jelas mengingat momen beliau menerapkan metode ini.
( So mommas, becareful how you behave infront of your children, especially your daughters. Kata-kata maupun tindakan kita tanpa disadari bisa membentuk watak dan karakter yang terbawa hingga anak-anak ini dewasa )
Kukira, selama ini dengan memikirkan kemungkinan terburuk dahulu, membuatku kuat. Siap dengan segala situasi dan kondisi. Jadi tangguhlah, gak mudah kecewa.
Awalnya iya. Akhir-akhir ini, sejalan dengan bertambahnya umur, kusadari ternyata……. enggak begitu.
Memikirkan sesuatu yang negatif itu pada dasarnya tak pernah baik. Ia seperti nikotin yang jika dihirup setiap hari, menjadi flek-flek dan kemudian menjelma menjadi plak yang melekat erat di paru-parumu.
Kusadari kini, alam bawahku terlalu banyak merekam ketakutan. Sepanjang hidupku aku terlalu sibuk berjaga-jaga dalam berbagai hal : tentang hati, finansial, bahkan kesehatan.
Hal yang semestinya baru sampai tahap dipikirkan, sudah mulai kupersiapkan. Jika engkau berpikir tentang hari ini dan lusa, dia berpikir tentang lusa dan minggu depan, maka aku sudah merancang hal untuk 3 bulan ke depan.
Padahal, setelah berhasil ditarik ulang, aku ternyata masih berjibaku dengan gembolan beban masa lalu, yang kukira sudah berhasil kulewati dengan gemilang.
Duh!
Akhirnya, benakku letih. Overload. Berasap. Tubuhku protes. Meski aku rutin berolahraga nyaris setiap hari.
Secara fisik, aku nampak sehat. Namun secara mental, aku ternyata sedikit babak belur …eh apa banyak ya? Hehehe.
Penyebabnya apa?
Ya itu, ketakutan-ketakutan yang belum terjadi yang membuatku selalu sibuk berjaga-jaga setiap waktu. Aku selalu merasa seorang diri yang harus bertanggung jawab akan segala sesuatunya.
Aku kini tak punya pegangan atau sandaran, karena aku merasa hanya aku seorang yang bisa diandalkan.
( Aku merupakan anak pertama, cucu pertama di keluarga besar yang selama ini selalu berulang-ulang disebutkan untuk menjadi contoh dan sosok pelindung dan pengayom, dan rupanya hal ini tertanam kuat di kepalaku )
I always think too much. My mind is constantly busy. And it’s slowly destroying me.
What about God?
Itu salah satunya. I believe in God, Allah Al Mighty, I do.
Tapi otak gue yang konslet ini selalu berpikir bahwa God wants me to think and do something first. Jadi aku harus berusaha sendiri dulu. Hubunganku dengan Tuhan selama ini baru hanya sebatas do’a.
” Ya Allah… Ampuni dosaku, dosa kedua orangtuaku…”
” Ya Allah.. Jadikan aku orang yang tahu bersyukur akan nikmatMu dan jangan jadikan aku orang yang pongah dan takabur.”
” Ya Allah lindungi anak-anakku..”
” Ya Allah, murahkan rezekiku, sesungguhnya aku tahu dan yakin bahwa Engkau akan selalu menjagaKu…”
” Ya Allah, maka sembuhkanlah sakitku, karena sesungguhnya tanpa ridhamu tak akan ada kesembuhan, hanya Engkau Sang Maha Penyembuh…”
Iya. Sebatas do’a dan meminta saja, bukan sebuah komunikasi berupa dialog yang menggetarkan hati, sehingga akhirnya tercapai sebuah kepasrahan dan keikhlasan yang luar biasa.
Kepasrahan dan keihklasan ini yang seharusnya menggantikan metoda : think of negativity first yang selama ini kupakai.
It should turn into : positivity and optimistic first, ikhlas next. Hilangkan pikirkan gagal/ngga dapet/ngga berhasil dulu. Karena apapun itu, segala bentuk kenegatif-an tak pernah ada faedahnya bagi diri kita.
Susah lo. Tapi bisa dilakukan. Dan mau sekali aku lakukan. Di usia yang matang pohon ini, aku akhirnya menyadari. Bahwa sesungguhnya, cintai lah dirimu sendiri dulu, tentunya dengan tidak merugikan orang orang sekelilingmu, ya…
||di suatu Minggu pagi di pertengahan Desember 2018, ditingkahi dengan dengungan dan suara kriettt kriettt kunyahan rahang di telinga kiri||

Self love.

I should be on number one list.

But since I’m a mother : my kids become my number ones.

Then myself.

Then my parents.

Then the rest of my family.

Then my money.

Then all these best people I call friends.

After that, you. Yes, you.

….Along with other come-and-go people and things.

That’s, how it should be.

Affirmasi kesehatan dan penyembuhan.

1. Sakit itu…. jika tak dirasa-rasakan justru akan membaik, bahkan sembuh sendiri.

2. Apa yang aku makan dan minum akan membawa faedah dan kesembuhan untukku.

3. Sel-sel di dalam tubuhku akan tumbuh dan beregenerasi dengan sendirinya.

4. Setiap tidur adalah waktu di mana tubuhku memperbaiki dirinya sendiri.

5. Setiap pagi akan menjadi permulaan yang lebih baik dari hari sebelumnya.

6. Ini adalah sebuah proses yang akhirnya akan berlalu, hanya perlu sedikit waktu.