BPJS part 1.

Setelah browsing di internet bagaimana prosedur penggunaan BPJS yang baik dan benar ( demi menghindari tolakan, yang akhirnya bikin kita ribet bolak balik ), aku segera memulai proses penggunaan Kartu Indonesia Sehatku.

Pertama tama, aku ke faskes tingkat 1, yakni Puskesmas terdekat untuk minta rujukan. Karena Puskesmas tak mampu menangani penyakit kistaku ( obviously ), oleh dokter muda nan manis berkulit putih di Puskesmas aku dirujuk ke faskes tingkat berikutnya. Penunjukan RS ini tergantung wilayah tempat kita tinggal, ya.

Sehabis dari Puskesmas, aku pulang ke rumah. Dari rumah kutelepon RS yang dirujuk oleh Puskesmas tadi. Tanya, bagaimana prosedurnya.

Oleh customer service rumah sakit tersebut, aku diberi nomer jalur khusus BPJS. Rupanya, harus dapat nomor appointment dulu dengan dokter, sebelum memulai proses registrasi.

Butuh waktu sekitar 5 hari, untuk aku bisa mendapatkan appointment dokter. Karena entah kenapa, tiap kali aku menelepon nomor khusus BPJS itu, yang kudapat nada sibuk, atau tak diangkat sama sekali. Kenapa, ya? Apa karena kebetulan saja, belum rejeki?

Akhirnya di suatu pagi yang cerah, nomor khusus tersebut diangkat oleh seorang mas mas dengan suaranya yang cukup ramah. Aku dijadwalkan bertemu seorang dokter kandungan, di hari Selasa, minggu depannya.

Sebut saja nama dokternya adalah Dr. Fulan.

Duh, reaksiku saat itu.

Aku pernah konsultasi dengan Dr. Fulan tersebut beberapa bulan sebelumnya. Dengan jalur biasa, dalam artian : bayar.

Saat itu, Dr Fulan melayani dengan ramah, meski aku agak syok saat beliau berkata salah satu indung telurku harus diangkat. Karena dokter kandunganku yang biasa, tak mengatakan hal seekstrim itu. Meski salah satu indung telurku diangkat, tak menjamin endometriosis tak akan terjadi lagi .

“Endometriosis memiliki kecenderungan untuk kambuh. Pada kasus endometriosis yang dilakukan bedah definitif, 3% dari kasus tersebut akan timbul endometriosis berulang. Sementara pada pasien yang menjalani pembedahan konservatif, timbul kekambuhan pada 10% kasus dalam 3 tahun pertama. Tingkat kekambuhan pada endometriosis mencapai 40% dalam 5 tahun.”

” Berapa, ya Dok.. biaya operasi?” Tanyaku kemudian.

” Oh tergantung kelas. Mulai dari 20 juta, sampai 40 juta. Kalo ibu ambil kelas VIP atau VVIP ya lebih mahal.”

Buset. Main kelas VIP aja, pikirku. Mungkin karena aku berkulit putih, bermata sipit, citranya banyak duit aja, kali ya?

” Kalo pake BPJS, bisa Dok?”

Sejenak Dr. Fulan tak langsung menjawab. Matanya tertunduk, dan berkata pelan ( tak seantusias sebelumnya) ,” Ya bisa aja, siiiiih…”

Saat itu juga aku hilang simpati.

Tapiiiiii….kini aku harus ketemu beliau lagi, dan dengan jalur BPJS pula! Aduuuuh! Kalau ternyata secara prosedur aku tak bisa dirujuk ke RSCM dan berakhir di meja operasi di rumah sakit itu dan dengan dokter itu, bagaaaaimaaanaaa???

Advertisements

Endometriosis part 3.

Dengan membulatkan tekad, aku kembali mengunjungi dokter spesialis kebidanan. Kali ini, aku konsultasi dengan dokter yang berbeda, karena dokter kandunganku yang biasa hanya bisa laparatomi, bukan laparaskopi.

“Cara konvensional yang telah lebih dahulu digunakan adalah laparotomi, yakni membuat sayatan yang dilakukan pada dinding perut, kurang lebih seperti operasi Caesar. Laparaskopi menggunakan kamera dan instrumen-instrumen khusus yang dimasukkan ke perut. Eksplorasi dapat dilakukan hanya dengan melakukan sayatan minimal sepanjang 2-3 cm, sehingga proses penyembuhan relatif lebih cepat .”

Dokter kandungan yang kudatangi ini, wanita berhijab. Dari data yang kubaca di internet, sepertinya mumpuni . Selain spesialis kebidanan, beliau juga spesialis onkologi atau sub bidang medis yang mempelajari dan merawat kanker. Titelnya SpOG(Onk).

Setelah periksa ini itu ( periksa dalam, yang horor banget bagi para ibu ), dokter meminta aku untuk tes lab, untuk tau kadar CA 125.

Tau ngga, 24 jam lebih aku stress membayangkan hasilnya, meski katanya tidak bisa dijadikan acuan ada tidaknya sel kanker. 3 hari sebelumnya, aku baru kehilangan tante terakhir dari pihak bapak.

Selain 6 orang adik laki-laki, bapakku punya 3 adik perempuan. Ketiganya meninggal dunia akibat kanker. Yang pertama kanker paru, padahal tak pernah merokok seumur hidupnya. Disusul tante terkecil, kanker payudara. Terakhir, tante tengah, juga karena payudara yang entah kenapa… di akhir hayatnya berubah menjadi kanker darah atau leukimia.

Nah kan. Gimana aku ngga parno?

Keesokan harinya, dengan berdebar debar, kutelepon poli kebidanan untuk tahu nilai dari tes CA 125.

Hasilnya, nilai rujukan tak boleh lebih dari 35 mg/iu, punyaku 65.7 mg/iu. Hampir 2 kalinya. Apa artinya?

Entahlah. Yang pasti melebihi batas maksimal. Namun, katanya, namanya juga ada benda asing di tubuh ( kista tersebut dianggap tumor ) maka biasanya memang ada kenaikan kadar CA 125.

Dokter Berhijab ini menyatakan, lagi lagi, harus operasi. Akhirnya aku setuju.

” Ini suami sudah setuju, bu?”

” Saya orangtua tunggal, Dok.”

” Sudah lama? Bercerai?”

” Iya. Tahun lalu.”

” Punya asuransi?”

Aku menggeleng.

” Punya pekerjaan?”

” Freelance, Dok.”

Si Ibu Dokter meletakkan pulpen yang sedianya buat menuliskan rujukan persiapan operasi.

” Operasi laparaskopi itu mahal sekali. Bisa 60-70 juta. Sayang uangnya, mending untuk hidup. Ibu pakai BPJS saja. Minta rujukan ke RSCM. Nanti saya sendiri yang mengoperasi. ”

Aku terdiam. Baik juga dokternya. Padahal dia kan tinggal iyakan saja. Masalah finansialku, dia kan bisa saja tutup mata. Karena yang kudengar, fee dokter yang menangani pasien BPJS berbeda jauh, apalagi di rumah sakit swasta.

” Ini saya kasih nomer HP saya, kabari saja sejauh mana prosesnya.”

Aduh. Baik banget ya, dokternya.

Sebelumnya, aku sudah bersiap-siap kalau harus operasi, mau tak mau aku akan cairkan deposito, yang tentunya berimbas dengan cash flow bulanan. Karena terus terang, saat ini aku masih membutuhkan bunga bulanan dari deposito.

Okelah, jika si Ibu Dokter menjanjikan akan menangani sendiri operasiku. Akan kucoba melewati jalur BPJS.

Endometriosis part 2.

3 tahun lalu, aku merasakan linu yang lumayan mengganggu menjelang menstruasi. Kupikir, ini pasti ada yang salah, meski hanya terjadi sekali.

Tak menunggu lama-lama, aku memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Tarrrraaaa.

Dapat hadiah kista endometriosis, ternyata. Saat itu ukurannya masih sekitar 7 senti lebih.

“Kista Endometriosis adalah penyakit kista coklat yang ditandai dengan adanya suatu keadaan dimana jaringan yang melapisi rahim yang diawali dari pertumbuhan di luar tersebut. Dan biasanya lebih mudah kita bayangkan adalah sebagai suatu kantung yang isinya adalah gumpalan darah dengan warna merah pekat yang agak cokelat dan menempel di luar rahim. Biasanya juga bisa menempel pada daerah panggul, indung telur, usus, rektum serta kandung kemih.”

” Penyebabnya apa, Dok?”

” Biasanya dari gaya hidup. ”

” Saya rewel, kok Dok..dalam makanan. Saya ngga makan jerohan, lemak berlebih, santan, suka sayur-sayuran dan makan buah.”

” Ibu olahraga?”

” Hampir tiap hari , minimal 1 jam.”

” Biasanya penyakit begini gak jauh jauh dari gaya hidup, dan pola makan, karena lekat kaitannya dengan ketidakseimbangan hormon. Oh ya, sama manajemen stress.”

Stress?

Aku nyengir.

Pas, waktunya. Kalau dihitung dari stressnya. Okelah, sudahlah… toh kistanya sudah ada. Tinggal selanjutnya bagaimana. Dokter sih mengatakan, di atas 5 cm : operasi.

Aku bergidik.

Hari demi hari berlalu. Begitupun bulan dan tahun. Karena sibuk ini itu, urus ini itu, planning ini itu, aku baru memeriksakan kembali kista endometriosisku tahun lalu.

Tarrrrraaaaa.

Naik 2cm. Jadi 9 koma sekianlah.

6 bulan kemudian, aku kontrol lagi. Masih di ukuran yang sama, yakni 9cm-an.

Sampai 2 bulan kemudian, tepatnya bulan Agustus 2017 ini, aku dihantam masalah yang cukup pelik dan cukup menguras air mata. Entah kebetulan, entah ada pengaruhnya atau tidak, saat itu aku merasakan bagian perutku tempat di mana kista itu bersemayam, berdenyut ngilu.

Aku datangi kembali dokter kandungan.

Taaarrrraaa.

Naik jadi 10 koma sekian senti. Ok. Fix. Stress pemicu utamanya. Dokter mengatakan ( tentunya ) : OPERASI.

Whaduuuuuuuuhhh!!!!

Sumpede.

Aku takut operasi. Takut dibius. Meski sudah 2 kali menjalani operasi Caesar, namun tidak juga menjadikan itu sebuah pengalaman yang ngangenin untuk diulangi lagi.

Belum lagi biaya. Untuk biaya sebuah operasi laparaskopi kista, berkisar antara 50-60-70 juta tergantung kasus, dan jenis kamar.

Aku sempat mencoba pengobatan alternatif. Dari minum rebusan bawang dayak yang rasanya…ya gitu deh. Dengan pijit di jari kaki yang bujub sakitnya ( semoga membuat aku bertambah pahala, karena asik-asik berteriak memanggil nama Tuhan dengan berlinangan air mata).

Namun pada akhirnya, aku menyerah dengan berniat memilih tindakan medis: operasi.

Endometriosis part 1.

Dulu, sekitar 7-8 tahun yang lalu, pertama kalinya aku membubuhkan tandatanganku untuk dua polis asuransi. Keduanya untuk anak anakku. Saat itu aku tak terlalu mengerti apa kegunaan 2 polis asuransi tersebut, sepintas kubaca, sepertinya untuk tabungan pendidikan, yang mengcover pula biaya kesehatan.

Kemudian, seorang teman yang seorang agen asuransi bertanya : “Kamu punya, asuransi?”

Aku menggeleng.

“Kamu mesti punya, untuk proteksi.”

Selanjutnya aku dikirimkan beberapa ilustrasi polis asuransi. Kukatakan pada temanku tadi, aku tanyakan dulu pada bapaknya anak-anak.

Ketika hal itu kutanyakan, mengapa aku tak dibuatkan asuransi, jawaban yang kuterima adalah : ” Tidak perlu. Yang perlu itu aku, sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah yang perlu diproteksi. Kalau ada apa-apa, toh semua jatuhnya ke kamu juga.”

Pun ketika beberapa tahun lalu seorang kerabat mencoba menawarkan agar aku dibuatkan asuransi, jawaban “tidak” pun tetap diterima.

Sayangnya, aku…diam saja. Entah bodoh, entah memang merasa premi yang harus dibayarkan adalah berupa beban, karena jika aku mengiyakan, kemungkinan besar aku sendiri yang harus membayarkan.

Jika ditanyakan, adakah sebuah sesal, maka ya. Ada sebuah sesal mengapa tidak dari bertahun tahun lalu aku memaksakan diri membuat asuransi kesehatan. Kini, saat usia sudah di kepala 4, saat beberapa bagian tubuh mulai sedikit bertingkah, mungkin aku tak perlu seribet ini.

Karena sesungguhnya, jika bagian tubuh ada yang bertingkah cukup bandel sehingga membutuhkan tindakan operasi, premi asuransi yang bisa dicicil perbulan itu sungguh terasa manfaatnya.

Untuuungnya… masih untungnyaaa nih… aku cukup nekad memaksakan diri membuat BPJS, yang kalau di kartuku tertulis : Kartu Indonesia Sehat.

Meski kadang kudengar atau kubaca, kartu BPJS ini cukup lekat dengan citra “kurang asyik”.

Mulai dari katanya birokrasi yang ribet, antrian yang paaaaanjaaaaang dan laaaamaaaa…. Dokter yang ogah-ogahan karena hanya dibayar seperberapa plus lama pula turunnya itu fee dari negara.

Belum lagi, berita bahwa BPJS mengalami defisit hingga 9 trilyun, karena klaim penyakit tak sebanding dengan dana yang terhimpun. Sehingga, masyarakat banyak meragukan kualitas pelayanan yang mereka terima. Intinya, tampak dipandang sebelah mata lah, pasien pasien yang datang dengan fasilitas BPJS ini.

https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/mengakhiri-defisit-dana-bpjs-kesehatan-yang-menahun-cz8v

“Mau gratis, kok minta yang bagus..”

Lah.

Siapa bilang gratis? Tiap bulan aku bayar Rp.80.000 loh, perorang. Kalau 10 bulan aja nggak kupake, sudah Rp 800.000 dana yang bisa dipergunakan oleh saudara saudara lain yang membutuhkan. Itu baru dari aku seorang. Sementara, BPJS kan kalau bayar , wajib bayar pula seluruh anggota keluarga yg tertera di kartu keluarga. Kalau dalam satu KK aja ada 7 orang dikalikan Rp 80.000, sudah berapa dana yang terhimpun perbulannya? Kan belum tentu dipakai semua buat berobat. Siapa jugaaa, yang mau sakit, kan?

RI 1 mantu.

Reaksi cewek-cewek lihat upacara pernikahan :

– ada yang baper, inget saat dulu nikah

– ada yang ngarep, dinikahi tahun ini juga

– ada yang emang seneng aja lihat bagaimana romansa

– ada yang mewek karena emang bawaan aja gitu kalo liat kawinan

Me?

Rasanya gak pernah ingin mengulang prosesi yang sama. 

Cukup, sekali saja.

Tentang sebuah rindu.

Kalau saja bisa kuputar waktu

Kembali ke 5, atau 7 tahun lalu

Saat kau masih mau tidur di pangkuanku

Bercerita tentang ini dan itu

Bertanya tentang mengapa begini mengapa begitu

Ketika masih mau kau genggam jemariku

Oh sungguh aku merindu

Ketika aku masih banyak  berada di benakmu

Sebagai penenang jiwamu

Pemberi damai hatimu

Bukanlah seseorang yang kau anggap pengganggu

Perusak rasa bahagiamu

Penghalang di antara senangmu

Oh aku rindukan sungguh kau, anakku…

Menulis lucu.

Seingatku, aku belum pernah membuat sebuah tulisan yang lucu. Kebanyakan sih…tulisan getir, nyinyir, atau pemikiran yang rada berat dan sedikit njlimet yang terkadang setelah kubaca ulang, buatku berpikir, “ Ini gua lagi kenapa, ya?”

Kalau cuma kalimat kalimat singkat lucu sih sering, terutama di sosial media Path. Malas, ngetik panjang panjang di situ. Karena aku sendiri, kalo liat postingan panjang, cenderung cuma baca judul, dan langsung scroll.

Sampai suatu ketika……

Aku membaca ulasan lucu dari seseorang blogger, tentang sebuah film horor yang saat tulisan ini diketik, lagi hot-hotnya. 

Tulisannya ringan. Tentu. Kalo gak ringan ya susah menjadi lucu.

Jalan ceritanya cukup teratur, dengan agak belok ngawur kanan kiri sedikit khas anak muda, meski aku nggak tau yang nulis umurnya berapa.

Si Blogger tadi menyelipkan beberapa cuplikan foto dan meme lengkap dengan captionnya. Ini serasa menampar: ya ampuuun… blog gue ternyata standart banget, bacaan emak-emak abis gitu kali ya….. 

Padahal sih…… aku sendiri emang seorang emak-emak. Bukan anak muda lagi, yang memandang hidup masih deg-deg an dan penuh rasa senapsaran

Setiap fase yang dilewati, tentu merubah cara pandang seorang penulis atau orang yang gemar menulis, dan tentu berimbas pula ke warna dan rasa sebuah tulisan. 

Lingkungan juga memberikan kontribusi. Contohnya begini, aku punya teman yang gemar juga menulis. Karena lingkungan sekitarnya dekat dengan segala jenis manusia dari berbagai umur, kulihat si kawan tadi tulisannya bervariasi pula.

Ada masa tulisannya bisa serius dewasa matang mapan nan bijaksana. Namun di lain waktu, bisa dengan lincah melompat lompat memainkan kata khas bacaan penggemar anggota boiben Korea, meski topiknya ya topik dunia dewasa.

Hebat loh kalo bisa begitu ….👍🏼

Mungkin aku belakangan ini lupa. Aku juga sebenarnya bisa menulis dengan tema yang ringan dan sederhana. Tanpa perlu bergetir-getir dan mencoba menggiring orang yang baca buat mikir,” Apaan ya ini, maksudnya?”

Mungkin aku juga lupa, dalam hidup, sebaiknya kita  hadapi  saja dengan canda dan tawa. Bukan untung menggampangkan masalah, hanya supaya isi kepala ngga kusut seperti jalinan kabel listrik dan telepon di ruas jalan perumahan ibukota (betewe,di kampung tempat aku dibesarkan, semua kabel ditanam di bawah tanah *sombooooong* ). Bukan untuk ditertawakan, lalu dilupakan. Namun anggap saja sebagai bantuan agar kepala bisa lebih enteng dan jernih dalam mengambil keputusan.