Afirmasi kesehatan dan penyembuhan.

1. Sakit itu…. jika tak dirasa-rasakan justru akan membaik,, bahkan sembuh sendiri.

2. Apa yang aku makan dan minum akan membawa faedah dan kesembuhan untukku.

3. Sel-sel di dalam tubuhku akan tumbuh dan beregenerasi dengan sendirinya.

4. Setiap tidur adalah waktu di mana tubuhku memperbaiki dirinya sendiri.

5. Setiap pagi akan menjadi permulaan yang lebih baik dari hari sebelumnya.

6. Ini adalah sebuah proses yang akhirnya akan berlalu, hanya perlu sedikut waktu.

Advertisements

Ya Tuhan, Kurinduuuu…

Oh sungguh kudamba sebuah kedamaian

Setelah sekian lama kepalaku penuh dengan kebisingan tanpa jeda ini

Aku rindu suara hujan, cericipan burung gereja dengan apa adanya

Aku ingin dengarkan deringan jangkrik, asli!

Bukan sebuah halusinasi riuh rendah seperti saat ini

Tapi Ya Allah…Ya Tuhanku…

Sungguh-sungguh kurindukan akan rasa aman, tenang, nyaman…

Di kamarku sendiri, seperti waktu-waktu itu

[03/10/2018 – 17/11/2018]

Renungan A.

Adalah seorang wanita..berusaha menjadi istri yang shaliha…

Melayani suaminya dengan sukarela..dan berharap banyak akan pahala…

Dengan bangga ia berkata, ” Suamiku amat sayang dan mengasihi saya!”

Tahukah ia, sang istri shalihah…

Suatu ketika dengan pongahnya…

Suaminya membuka laptop memamerkan wanita wanita simpanannya…

Dan dengan mudahnya saat ditanya mengapa..

Sang Suami berkata, ” Agar tidak bosan saja!”

Alkisah seorang wanita…Berusaha agar selalu cantik rupa…

Bertindak tanduk apa adanya…bermanis bicara menghadapi suaminya…

Meski banyak Sang Suami menyimpan rahasia..

Namun ia tetap berlapang dada…Banyak teman, dekat dengan saudara..

Hal hal yang mencegahnya berlaku gila…

Tak urung hal itu dirampas jua… Hanya karena suami tidak suka…

Meski hatinya nelangsa, namun terpaksa ia nikmati saja…

Ku tahu seorang wanita…dengan harta berlimpah ruah…

Bisa membeli apa saja… tak susah, hanya cukup berkata…

Sesungguhnya ia rindu belaian suaminya…berharap ia kembali ke pelukannya..

Tapi apa daya suami berkata, ” Kau nikmati saja uang yang ada..tapi jangan ganggu saya..”

Dan sang Suami kembali pada candunya….Mungkin juga pada wanita wanitanya…

Temanku seorang wanita…seorang istri beranak dua…

Suatu ketika ia berkata, ” Saya diancam ditinggalkan oleh suami saya..”

Hanya karena telepon yang digeledah..Ada sms mesra yang tak ia indah

Sang suami nampaknya murka…berkata kasar dan penuh hina…

Temanku berkata, ” Aku boleh pinjam dana? Buat anakku sekolah. Suamiku sudah 3 bulan tak berkerja..”

Dalam hatiku berkata, sudahlah tak mencari nafkah, masih pula berburuk sangka!

Ku kisahkan seorang wanita… mengalami kekesalan dan setumpuk masalah…

Yang tak pernah terselesaikan dari masa ke masa….

Karena suami yang tak terbuka, penuh praduga… Meminta ia melayaninya..

Sudah mencoba, namun si Wanita tak bisa… karena sesungguhnya bukan hanya fisik saja..

Butuh batin yang juga rela.. Maka dengan lantang suami berkata, ” Itu dosa!!!!!!”

Mengapa tak pernah kudengar didengung dengungkan, berdosa pulalah kaum pria..

Yang menolak hasrat istrinya….

Ku pernah dengar suatu cerita… entah di negara mana..

Katanya awan membentuk sesosok wanita.. tengah disiksa api neraka…

Jawabnya saat kutanya, ” Karena akan banyak penghuni neraka…

wanita wanita yang gemar membicarakan sesama, tidak menurut pada suaminya…”

Dalam hati kubertanya, seperti apakah hukuman bagi suami yang tak setia..

Yang tak membuat istrinya bahagia? Tidakkah wanita juga punya hak yang sama? Untuk dituruti dan dimengerti kemauannya?

Alangkah beratnya nasib wanita… dituntut kepandaian berbagai rupa…

Dipagari oleh berbagai norma…Seumur hidupnya selalu dipunya..

Saat sendiri mutlak milik orang tua..Ketika menikah mutlak milik suaminya..

Tak pernah bebas dan termaklumi seperti kaum pria…

Yang hanya dengan kata sakti ‘pencari nafkah’..hingga bebas berbuat apa saja…

Jika pria pandai menaklukkan hati berbagai wanita… Ia merasa dan dianggap bagaikan seorang raja..

Namun jika itu seorang wanita, mampu menaklukkan hati para pria..

Bukannya puja, namun predikat miring malah yang diraihnya…

Sesungguhnya sangat berat beban wanita… menjaga kesucian dan martabatnya…

Bertarung maut demi keturunan keturunannya… Tak bisa banyak menuntut karena konon sudah kodratnya…

Bahwa harus menurut dan pasrah saja….

Kuyakin Tuhan itu ada…Menurutku Ia pasti menganggap semua umatNya sama…

Jangan hanya terpaku pada bait yang sebahagian saja.. Pasti ada penjelasan yang masuk logika..

Wanita memang banyak keterbatasannya..Namun rasanya tak pantas hanya sebatas pinggang apalagi kaki pria…

Tak bisakah wanita mereka letakkan, paling tidak sebatas telinga?

Wanita memang lemah… Tak berarti bisa gampang disiksa…

Sadarkah mereka, bahwa yang melahirkan mereka juga seorang wanita?

Maka berbahagialah wahai wanita… Jika memiliki pria yang menganggapmu amat berharga…

Yang mendengarkanmu dengan suka cita.. Berkata pun jujur apa adanya

Bersyukurlah wahai wanita… Karena tidak semua mengalami berkah yang sama…

Yang menerimamu seutuhnya, tanpa melihat cela… Memaklumi bahwa kau pun punya rasa…

Peliharalah wahai wanita…Karena tak banyak pria yang sedemikian rupa…

Ketika Cinta itu Jadi Sebuah Kepandiran

Oh sayang..

Akan kuberikan engkau bulan, bintang dan bahkan…sang mentari juga..

[Etapi.. jikalau bisa, sih…]

Ku t’lah berikan semua yang kupunya hingga tak ada satupun yang bersisa..

Cintaku sedemikian megah sampai pandir kini kujelma…

Oh sayang…

Kuberikan kau seluruh jiwa raga utuh tak terbagi..

Sesuatu yang kutahu tak kan mampu kau beri..

Tapi sayang,

Maski kurasa harga diri ini t’lah luluh lantak tak terperi…

Aku masih punya sejumput hati untuk diriku sendiri….

Kau ingat kelak, ya sayang,

Bahwa kuberi kau semua utuh tak terbagi…

Tanpa sedikitpun berusaha membebani,

Padahal…..

Aku perempuan yang semestinya kau tanggung dan penuhi…

Bukankah…. selama ini kau katakan kau cinta, dengan sepenuh hati?

WIL, Perempuan Ke Dua dan Pelakor

I. WIL

WIL atau Wanita Idaman Lain itu artinya masih abu-abu sih menurut saya. Belum bisa dituding macam-macamlah.

Loh, kok bisa? Gini loh ceritanya, menurut saya looh yaaaa….

Misalnya : si Ajeng nikah sama si Tino. Si Tino ini kenal dengan si Karen, yang menurut Tino adalah tipe perempuan yang bisa membuatnya merasa kagum.

Dari kekaguman itu bisa jadi obsesi, dan hasil terburuknya adalah : membandingkan Karen dengan Ajeng yang di rumah.

” Gila si Karen ini udah cantik, pinter banget!”

” Karen kalo ngga pake baju kira-kira gimana, ya?”

” Ah Ajeng sih ngga segesit si Karen, suka lelet..”

” Karen mah ibu rumah tangga yang baik…the best mother!” —-> OUCH!

” Duh Karen tuh bibirnya ya…mantep tuh keknya…”

Maka seketika Karen adalah seorang WIL, menurut gue. Padahal…..belom tentu juga Karen-nya mau atau ada apa-apa ama si Tino.

So my dear fellas and you husbands out there, berapa banyak WIL yang tanpa kamu sadari kamu punya?

II. Wanita Ke Dua

Si Tino sudah menikah dengan si Ajeng. Nikahnya terserah kamu deh…masih baru, ataukah sudah lama, karena toh… sama aja.

Dalam perjalanan sebuah mahligai perkawinan, tentulah tak lepas dari cobaan. Dan godaaan, cencyuuuu….

Entah hubungan antar suami istri yang kerap cek cok karena silang pendapat, atau sesimpel alasan karena rasa jenuh, si Tino kemudian menemukan dirinya kerap menyediakan sebagian waktu dengan Karen. Entah untuk makan siang bersama, ngopi-ngopi, atau sekedar saling sapa melalui aplikasi chat.

Awalnya sih, mungkin ngga niat gimana-gimana. Iseng aja. Pengalihan dari (apa yang dirasakan sebagai) kusut masai urusan rumah tangga.

You know lah, ada tipe laki-laki yang suka begitu. Urusan masakan kurang garam aja sudah bisa jadi pasal.

“Susah amat sih, nambahin garem doang? Gue kan sebagai seorang suami kayaknya ngerasa gak dianggep bener. Padahal permintaan gue cuma secuil itu…” kira-kira begitu curhatnya.

Padahal…. kamu tau juga kan, perempuan juga suka…. begitu. Apa apa suka dipikirin dan dikerjain semua. Saking multitasking-nya, ya gitu… jadi ngga fokus. Urusan sesimpel nambahin garam 1/2 sdt aja suka terlupa, terbengkalai.

Nah, urusan semisal kurang garem ini lah yang kemudian membuat Tino mulai sering janjian sama Karen.

Awalnya ngopi.

Lusa makan siang.

Minggu depannya, nonton.

Waaaaaaaah….. gawat ini kalo sudah mulai nonton berduaan aja di bioskop. Apapun bisa dimulai dari berada di dalam ruang gelap itu. Inget ngga, jaman pacaran? Pegangan tangan pertama tanpa takut malu karena rona wajah tak terlihat dan duduknya juga gak saling berhadapan (Aaaaaah…those good and cute old days…!)?

Abis itu saling berbalas isi chat seperti “sudah makan?” Atau…. “lagi apa/di mana?”..atau “aku sudah sampai di rumah, ya..” jadi semakin rutin dilakukan. Every single day in a month, a year… couple of years..many many years.

Voila!

Karen, regardless akhirnya dikawinin..eh maksudnya dinikahin apa enggak, is officially berstatus sebagai Perempuan Ke Dua.

III. Pelakor

Ketika pertama kali bertemu dengan Tino, Karen sudah tahu bahwa pria tersebut telah memiliki istri. Or pacar. Or pasangan kumpul kebo, whatever…. yang jelas sudah memiliki komitmen hubungan dengan seorang wanita. Sebutlah namanya Ajeng.

Tapi Karen tak peduli.

Baginya, Tino yang ia mau. Mungkin karena Tino ganteng, kharismatik, menyenangkan, lucu, bodinya yahud, atau……kaya raya <—— naaaah INI!!!!

Mungkin awalnya Tino biasa-biasa aja, ngga niat juga cari yang macam-macam. Namun sayangnya, Tino juga seperti umumnya pria. Semacam kucing yang meski uda kenyang makan ayam geprek, masih ngiler juga lihat ikan asin peda.

Apalagi, ikan asinnya yang nyamperin, sambil lambai-lambai tangan memanggil menggoda.

Tino, seperti yang bisa diduga akhirnya alpa. Karen membuatnya tak berkutik dan akhirnya membuatnya harus memilih : Karen, atau Ajeng?

Tanpa pikir panjang, Karen tak ragu membuat Tino dalam posisi yang tak mudah. Biasanya sih pake ngancem, misalnya akan adukan ke keluarga, temen-temen.. intinya : ngocehlah.

Oh ya ke dukun juga sekalian, kalau perlu. Minta jampe jampe atau trik tanem sempak ke dalam tanah biar Tino manut.

Terserah.

Yang penting Tino bisa dimiliki utuh olehnya. Bodo amat, Ajeng atau anak-anaknya terluka. Bodo amat ama omongan orang.

Dan ketika Tino akhirnya memilih Karen dan melepas Ajeng, maka Karen secara resmi sukses menjabat titel barunya : pelakor. Perebut Laki Orang.

Ngiiiiiiiing….

Saya yah, merasakan budeg sebelah dengan sensasi suara berdenging (tinnitus) gara-gara radang di hidung aja rasanya ngga karu-karuan. Senewen, keganggu, dadakan stress. Takut ngga bisa denger lagi.

Makin cari tahu di internet, yang ada stress sendiri. Uring-uringan lah saya.

Padahal dokter bilang ngga apa apa. Diobati dulu, sumber penyebabnya yakni pembengkakan di hidung, nanti kuping hopefully beresnya akan mengikuti.

Tapi…

Begitu liat barisan para atlet difabel di acara pembukaan Asian Paragames tadi malam, baru rasanya saya kayak ketampar.

Ya Tuhan, mereka mungkin ada yang kehilangan panca indera maupun anggota tubuhnya secara permanen. Saya mah, masih beruntung pake banget nget nget dengan adanya kesempatan buat sembuh.

Yah…begitulah kabar baru saya hari ini. Dengan telinga kiri yang masih budeg sebelah dan diiringi suara bak jutaan jangkrik yang berdenging di dalamnya. Tetaplah saya harus berucap : al…hamdu…lillaaah.