Pinta, hutang dan bahagia.

Satu hal yang paling jarang dan malas untuk aku lakukan adalah meminta. Apalagi yang berkaitan dengan uang. Jangankan uang orang, uang milik sendiri yang di orang pun aku suka malas memintanya kembali, mbok ya kesadarannya aja gitu loh.
Adalah beberapa kali, saat uang milikku dipinjam atau terpakai, tak kutagih kembali. Ada juga siih, yang sempat kutagih, sekali beberapa kali, sampai akhirnya kuanggap sebagai sedekah saja lah.
Bijaksana ya?
Ah gak juga. Ada kepentinganku juga di situ. Ada beberapa orang yang entah mereka sadar atau tidak sadar, berhutang itu menjadi sebuah kebiasaan. Dan biasanya, mereka mereka ini akan menyimpan baik-baik data tentang siapa siapa saja yang gampang meminjamkan uang. 
Singkatnya sihhh… Berikutnya mereka butuh berhutang, mereka pasti akan mengontak kita. Pasti!
Orang yang meminjam uangku tadi, seperti yang kuduga, selang beberapa waktu menghubungiku lagi. Hebatnya, dengan tanpa rasa bersalah, bahkan seolah lupa, masih ada kewajibannya yg belum ia kembalikan padaku. Nah kan, penyakit!
Kubilang saja, ” Nah yang lo pinjem tempo hari aja belom balik. ”
Jawaban klisenya : ” Ya sekalian dengan yang tempo hari nanti gue bayarnya. Gue cicil.”
Eh buset. Pake cicil.
Kujawab lagi : ” Yang kemarin aja da mo setahun. Balikin aja dulu yang itu. ”
Padahal….Hutangnya tadi sudah kurelakan saja, anggap beramal. Menghabiskan energi saja menagih yang begituan karena tak terlihat itikad baiknya untuk mengembalikan. Selain itu, kulihat secara ekonomi bukan juga golongan berlebih, mungkin memang dia butuh. Ya cukup lah. Pada akhirnya sampai detik ini dia tidak pernah lagi meminjam uang padaku. Itu tujuanku. Relasi tetap terjaga, posisiku juga aman. Tak lagi sebagai bank penyedia kredit lunak tanpa bunga.
Dulu, aku sering merasa sebagai perempuan tidak berkerja, memiliki pembantu dan supir pula, aku tidak punya hak atas keringat yang dikeluarkan si Pencari Nafkah di keluarga.
Entahlah, rumah tangga konvensional yang aku tahu, seperti bagaimana orang tuaku : ayah berkerja, ibu yang mengelola keuangan. Artinya seluruh pendapatan ayah ibuku pasti tahu, dan hampir semua dikelola ibu.
Tetapi ibuku mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Baginya, daripada uang buat pembantu, mendingan buat ia tabung. Paling paling, ada pembantu yang datang pagi, pulang siang. Begitu saja.
Namun belakangan ini aku berpikir, profesi sebagai ibu rumah tangga juga berhak mendapatkan imbalan. Ya kalo mau hitung2an sih, gak mungkin bisa disamakan dengn suster dan pembantu. Suster dan pembantu, ketauan. Ada ijin cuti, diongkosi, dapat THR. Sewaktu waktu bisa berhenti, demi nominal gaji yang lebih tinggi. Lah kalau ibu rumah tangga? Gak usah susah susah lah.. Mari berhitung dari proses hamil, melahirkan, menyusui, dan make sure tumbuh kembang anak terjaga dengan baik. Satu periode itu saja, deh. Bisakah dihitung angkanya dari situ? Emang harga nyawa seorang ibu itu berapa? Itu aja deh. Ga perlu dihitung bagaimana rasanya berjaga setiap malam saat si anak sakit, mengatur rumah tangga dan sebagainya sebagainya.
Bagi sebagian laki laki bisa sih, dengan gampangnya berkata : ” Itu kan sudah kodrat. Tugasmu. ” Seolah menjadi wanita itu sebenarnya berupa pilihan. Heyyyylaaaauw???? Emang kita bisa rikwes mau lahir jadi laki laki atau perempuan?
Yaaah jika seorang ibu rumah tangga harus bekerja menghasilkan uang hanya demi sebuah penghargaan, apakah sepadan? Lantas yang urus anak anaknya siapa dong? Bapaknya? Jika situasi dibalik, ibu berkerja ayah jaga rumah, sanggupkan jika diberi ucapan yang sama? Aku rasa tidak. Namanya juga ego sebagai laki laki.
Aku pernah diberi tahu, kunci kebahagiaan dalam keluarga ternyata bukan terletak pada ayah yang bahagia. Namun pada kebahagiaan ibu atau istrinya. Kalo dipikir, betul juga. Ibu kan ibarat jembatan, penghubung segalanya di keluarga. Ke anak, ke ayah, ke orang belakang, ke keluarga besar Ayah cukup konsentrasi mencari nafkah, memberikan kepercayaan pada ibu, dan sedikit sedikit membantu jika memang diperlukan. Jika itu berjalan semestinya, sesuai fungsinya, ya ibarat mobil yang rajin servis, lancar tanpa mandeg akibat mogok. 
Lain cerita jika si ibu punya beban pikiran, tak bahagia. Ini kita bicara ketidakbahagiaan yang masuk akal loh ya. Bukan ga bahagia karena ga dikasih beli berlian 4 krat, atau ga bisa ikut arisan jut-jut-an. 
Lihat yang terdekat dulu deh, anak anaknya pasti sedikit terbiar. Boro anak, ngeberesin rumah pun pasti tidak bisa optimal. 
Ayah yang tidak bahagia ( biasanya dalam karir ), niscaya anak, rumah, taman, hewan peliharaan, masihlah bisa terjaga karena ada ibu sebagai benteng penahan, sekaligus penguat bagi Ayah yang resah tadi. Itu jika si Ibu tadi cukup kuat secara lahir batin. Eniwei, perempuan ditakdirkan untuk multitasking kok. Biaaaasanya sih gitu loh ya.
Namun tak terlalu penting sebenarnya sih…siapapun yang merasa tak bahagia. Jika urusannya sudah menyangkut keluarga, apalagi jika menyangkut anak anak, sudah lebih ke arah tanggung jawab. 
Bertanggung jawab atas pilihan menikahi dan dinikahi anak orang, dan yang terpenting adalah bertanggung jawab terhadap anak anak yang sudah dilahirkan.
Mau apa lagi sih dalam hidup? Bahagia di dunia kan begitu saja. Namun kehidupan sesudah mati nanti yang abadi akan dijalani. Saat mati nanti, apa yang sudah diwariskan ke anak cucu? 
Kalau aku sih, ingin mewariskan empati, welas asih, keikhlasan dalam memberi, dan…  

Harapku sederhana, kelak mereka memiliki kebutuhan untuk mendoakanku tanpa henti ketika aku masih hidup, pun sampai saat aku mati nanti. Itu saja aku sudah bahagia, kok.

Siklus rejeki.

Uang itu hanya numpang lewat. Datang, buat pergi. Dapat, buat dibelikan sesuatu. Jadi ya sudah, tidak usah berpikir terlalu ruwet tentangnya. 

Punya uang segudang, gak bisa melunakkan hati jika tak dipakai bersedekah dengan ikhlas. Catet, dengan ikhlas loh ya…

Dapat uang segepok, percuma saja jika nuraninya tak terketuk untuk menyelamatkan hewan terlantar, dan memilih pura pura tidak melihat.

Aku sih ngga bisa. Meski hanya seekor kucing kurus, dekil, bau. Mirip seperti yang digambarkan oleh lagu Phoebe Buffay, salah satu karakter di serial Friends: ” Smelly Cat.”

Beberapa bulan lalu, seekor anak kucing ( kampung ) dengan pedenya main masuk ke rumah ini. Dia lucu, cakep. Bersih. Mungkin ada yang memeliharanya, sebelumnya.


Jadilah sekarang kucing ini salah satu anggota rumah kami sekarang. Dengan nama yang berbeda beda : Sylvester, Warrior dan Meng. Tapi lebih sering dipanggil : “Pus..”

Standart banget.

Anyway, gak ribet ribet amat memeliharanya karena relatif sudah cukup besar, bersih pula. Palingan problemnya adalah cacingan. Karena kami tidak bisa melacak apa dan bagaimana dia makan sebelum memilih migrasi ke sini.

2 bulan kemudian, tiba tiba seekor anak kucing nyasar lagi di sini. Entahlah, rumah kami sering disambangi oleh kucing2 liar sekitar sini, entah deh.

Anak kucing ke dua ini belum punya nama. Tadinya aku pikir dia hanya numpang lewat saja, dan selanjutnya pergi melipir entah ke mana.

Namun ternyata ngga. Manteng aja terus di teras depan, dan sesekali berusaha masuk rumah. 

Kucing kecil ini kotor. Aku tau,sekecil itu masih belom bisa dimandikan sembarangan. Kulihat pula, ia berkutu. Gawat kalo sampe menulari si Meng yang lagi sehat. Dan melihat perutnya yang buncit, hampir dipastikan dia cacingan.

Duh. 

Sehari. Dua hari, tiga hari, aku masih hanya sekedar memberi makan dan minum. Tapi tadi, kulihat dia agak lesu. Kalau sudah begini, ya mana tega aku. Apalagi kalo, amit amit, sampai mati di rumah ini. Aku bisa mewek.

Ya sudah. Mau gak mau mesti dibawa ke dokter hewan. Inapkan sampai besok agar dapat diawasi. Toh di rumah pun aku nggak ngerti mau diapain.

Down paymentnya lumayan. Setengah dari uang yang kudapatkan dari bangun pukul 3 pagi untuk membuat 53 botol jus buah 2 hari lalu.

Cuma kupikir, ah sudahlah. I have always been a cat person. Lagipula, saat hati kecil sudah bersuara untuk menolong, entah manusia atau hewan, kenapa harus ditahan?

Percayakan sajalah pada Tuhan. Uang yang dikeluarkan jika buat kebajikan, akan kembali juga ke kita, entah dari sumber yang mana. Kalaupun tidak, biar saja…anggap ladang untuk meraih pahala.

Apa yang kulakukan ini ngga seberapa. Aku punya pasangan teman yang dengan ikhlas menampung, merawat dan memelihara kucing kucing liar dan yang terlantar. Jumlahnya mungkin sudah puluhan ekor. Untuk biaya perawatannya saja sudah mencapai belasan juta perbulan. Dan mereka adalah orang orang yang berkerja keras mengais rupiah. Yang bukan sekedar kaya dari warisan orang tua atau punya kesuksesan yang mudah. Dan menurut mereka, rejeki ya ada aja.

Mungkin, jika hewan bisa bicara, mereka akan menyatakan terima kasih. Tapi karena ngga bisa, mungkin hanya dalam hati. Dan cuma Tuhan yang bisa mendengarnya. Karena itu, Tuhan pula yang memelihara mereka, dan rejekinya. Pasti begitu.

What are you?

Miliki sebuah karakter. Terserah, mau yang bagaimana. Asal tulus dan jujur keluar dari lubuk hati. 

Jika memilih karakter baik hati dan tidak sombong, ya go ahead. Asal emang aslinya begitu. Kalo cuma karena niatnya agar dikenal demikian, caya deh.. malah jadinya lebay. 

Begitupun jika menentukan akan memilih karakter nan alim dan bijaksana. Kalo ga bener bener dipraktekin apa yang didakwahkan, ya gitu. Jadinya selain terlihat lebay, ya muna.

Jika memilih karakter anak gaol seantero kota, go ahead juga. Be free, happy go lucky. Kalo emang aslinya orangnya easy going, ada aja sih emang, teman di mana mana. Gak perlu beli temen, misalnya dengan cara sering mbayarin bill saban kali nongkrong. Itu sih, bodo ya. Dan gak ngedidik pula.

Buat saya, I wanna do what I wanna do. Regardless orang mau mengkotakkan ke bagian mana.

Jutek. Ya udaaah, emang pada dasarnya bukan tipe yang gampang senyum duluan. Palagi ditunjang dengan mata sipit dan bibir tipis lancip ujung atasnya.

Sangar. Ya udaaaah. Emang selain bentuk tulang pipi dan rahang yang tegas, saya emang lebih suka menghadapi langsung, one on one, jika timbul sebuah persoalan. Gak demen, perang sindir2an di sosmed, chat apalagi posting posting quotes macam orang bener.

Barbaric? Ya terserah. Being princess yang manis, manja, menye2 is not my cup of tea anyway. 

One thing I know that : I don’t wanna be boring. I get bored easily. Jadi buat saya, its not fun untuk jadi orang dengan 1 kriteria atau karakter tertentu.

I wanna be like bamboo trees. Diterpa angin dari berbagai penjuru mata angin, dia akan meliuk mengikuti arahnya agar tidak patah.

Oh ya ofcourse, sifat dasar itu ada, dan sampai tua juga akan begitu adanya. But yea, yang lainnya buat fleksibel aja. Jadi, di mana pun kita berada, will fit. Buat saya, bisa masuk di dalam berbagai lingkungan sosial lebih menyenangkan, lebih banyak yang bisa diserap, daripada cuma dengan yang itu itu saja.

Maternal instinct.

” Maternal instinct (məˈtɜːnəl ˈɪnstɪŋkt) :

the natural tendency that a mother has to behave or react in a particular way around her child or children. ”

The term also refers to an inborn tendency to want to protect and nurture one’s offspring.

Protect. 

You see, protect. So like any other mothers in this world, I’m gonna make sure my children is safe, and sound. Away from danger, and threats.

For the prettier, better body and nicer one.

You know, i just heard the funniest story last night. About a jealous lover who thought what I’ve been writing in this blog somehow related to her man…well sort of man toy , if you know what I mean.

HaHa. 

I heard when they’re talking about her being mental behind her back, I never thought that..well.. this insanely insecure.

My dear, if you read this… It was never about what you thought it is.  NEVER, and actually…not even worth it for a status on my lame twitter or facebook. 


Again, shall we meet over lunch?