Not Sorry.

Maybe…. just maybe…

Some people thought I am a mean person and have hurt them badly.

Maybe, they’re right.

Maybe what I thought don’t matter still matters to them, somehow.

Maybe I never say sorry.

Because I always thought : what to sorry about?

Yea, maybe I am that bad.

That mean.

But I am still not sorry.

Kelulusan

Sekolah Kembang di kawasan Kemang, Jakarta Selatan adalah sekolah tingkat pendidikan dasar yang baik. Dengan pengajaran nilai-nilai yang juga sangat baik. Sekolah yang kukatakan semi peivate ini juga seru. Bagaimana tidak, anak anak tidak harus memakai seragam setiap hari, alias boleh pakai baju bebas, asal sopan dan rapi. Rambut anak laki-laki juga diperbolehkan panjang, gondrong. Tetap, asal rapi dan tentunya bersih.

Cuma ada 1 kelas untuk satu angkatan di Sekolah Kembang, dengan murid maksimal 20 anak. Tak heran, jika keterikatan batin di antara para murid sangat kuat. Lah gimana, yang dilihat dia lagi-dia lagi. Tentu ada 1-2 anak yang pindah ke sekolah lain, dan mungkin digantikan oleh 1 siswa baru. Tetapi lebih banyak anak anak yang selalu bersama bahkan sedari Taman Bermain di sekolah ini.

Hasilnya, anak-anak ini sudah lebih seperti saudara. Bahkan tak ada rasa sungkan untuk bermain bersama dan berkomunikasi dengan teman yang berbeda jenis kelamin.

Guru-gurunya pun cukup komunikatif tentang apapun perkembangan atau perubahan anak. Apalagi jika kamu modelan ibu ibu yang juga proaktif, mereka akan tanggap melayani.

Toleransi amat diutamakan di Sekolah Kembang. Tak seperti sekolah konvensional lain, dalam pelajaran agama, murid-murid mempelajari semua agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Sebagai gantinya, anak-anak memilih pelajaran agama masing-masing sebagai ekstrakurikuler. Atau ya, tambah sendiri di rumah.

Untuk anak-anak berkebutuhan khusus pun mendapat perhatian penting dari guru maupun sesama murid. Sekolah Kembang tidak mengizinkan shadow teacher. Jadi orang tua sebaiknya memastikan jika anaknya sudah bisa mandiri meski berkebutuhan khusus.

Kondisi fisik sekolah juga rapi, bersih dan menyenangkan. Secara keseluruhan, aku cukup puas telah memilih dan menyekolahkan kedua anakku di Sekolah Kembang.

Hari ini, anak keduaku lulus dari Sekolah Kembang. Tanpa seremoni, mengingat situasi pandemi yang sudah lebih dari 3 bulan mendera secara global. Tak mengapa, memang harus seperti ini jalannya. Toh masih ada jenjang SMP dan SMA yang akan dilaluinya.

Jika para ibu yang lain merasa sedih dan terharu,…sayangnya aku tidak. Padahal sudah l2 tahun aku mondar mandir di tempat di mana kedua anakku mengenyam pendidikan dasar di sekolah ini.

Dibalik rasa puas dan senang anak-anakku mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Kembang, terselip sebuah kelegaan untuk akhirnya tak perlu menginjakkan kaki lagi di situ.

Secara pribadi, tak banyak cerita indah yang bisa kukenang. Lebih besar kenangan bagaimana pahitnya perasaanku saat aku pernah menjadi bulan-bulanan pembicaraan beberapa orang tua murid di situ, terkait masalah pribadiku.

Pernikahanku pun berakhir saat anakku masih bersekolah di situ. Sebelumnya, lebih banyak tekanan yang kurasakan jika harus datang ke sekolah sebagai sebuah keluarga. Aku pernah menangis tersedu-sedu di hadapan wali murid anakku, karena perubahan yang harus dialami, sempat berimbas pula pada pendidikan anakku.

Aku memang tipikal orang yang susah melepaskan ingatan. Aku tak pernah lupa, dengan sebuah perasaan.

Ketika anakku memegang sertifikat kelulusannya hari ini, akupun merasa seperti merasakan tengah menjalani hal yang sama.

Seperti anakku yang akan mengarungi dunia baru di sekolah menengah, akupun merasa akan segera bergerak maju dan meninggalkan kenangan pahit masa lalu yang terus berulang saat masih harus mondar-mandir di sekolah itu.

Namun apapun itu, terima kasih kuucapkan untuk Sekolah Kembang. Atas semua yang telah dilewati. Terima kasih atas ilmu, persaudaraan, pendewasaan, kebahagiaan, kesedihan, canda, tawa, kepahitan, keseruan, tangis… terima kasih atas semuanya.

Luka Dalam Perkawinan

Mengapa seorang istri itu bisa demikian pemaaf setelah mengetahui cintanya dibagi?

Apakah di luar sana ada suami-suami yang juga bisa sedemikian pemaaf ketika mengetahui istrinya berkhianat?

Seperti apakah perubahan yang mereka alami, ketika memutuskan melanjutkan biduk pernikahan setelah mengetahui pengkhianatan ini?

Akankan mereka bisa kembali memupuk kepercayaan terhadap satu sama lain?

Mungkinlah pihak yang dikhianati secara tak sadar akan bertindak semena-mena atas dasar kesalahan yang dibuat pasangannya?

Apakah mereka akhirnya tetap bisa berbahagia hingga akhir hayat?

Ataukah mereka akan hidup dengan luka gores yang tak akan pernah hilang?

Bad/ Good Mother

What makes a woman the title of bad or good mother?

Because succesfully shaping her children as straight A students?

Or simply blessed for having independent and smart children?

What if her children were not academically smart but well behaved, is she also considered as a good mother?

What if .. her children are extremely smart but have lack of empathy? Or being a weird awkward person in social life? Does that mean she has done her job well too?

Unfortunately we are still living in a life where successfull parenting based on merely numbers and grades.

This, not only put pressure on our children, but also to us, parents.

( As if life was not getting more and more complicated everyday….)

Mentalitas

Kalau mendengar seorang laki-laki berkata padamu : ” Aku mencari pasangan yang bisa diajak hidup susah…” baiknya kamu segera minggat.

Apalagi kalau bapakmu selama ini cukup bisa memberikan sebuah kenyamanan hidup.

Kasihan.

Di mana-mana orang tua itu selalu ingin anaknya menjalani hidup lebih baik dari yang selama ini mereka bisa berikan. Paling tidak, sama lah. Jangan malah semakin susah.

Kata-kata di atas tadi seperti terdengar ucapan dari seorang pesimistis, dan… pemalas!

Sudah seharusnya seorang laki-laki itu bekerja keras mencari nafkah. Seperti sudah seharusnya juga wanita itu bekerja keras di rumah.

Semua orang tahu, jika hidup itu tentang naik dan turun. Tapi mental pekerja keras tentu akan bisa melewati tantangan hidup. Bukan yang belum apa-apa sudah pesimis bahwa akan membawa anak perempuan seseorang hidup susah.

Jadi..minggat aja deh, kalau denger begituan.

Lebaran Minimalis

Jika ada yang berkeluh kesah Lebaran kali ini tak bisa bertemu keluarga besar, sungkem bersentuhan tangan, ingatlah ada keluarga yang tercerai berai. Syukurilah masih bisa tersenyum dan berpose lengkap, ayah, ibu dan anak-anak kalian. Karena itu yang paling utama.

Jika ada yang menyayangkan tak bisa berpesta dengan sajian lengkap seperti tahun sebelumnya, ingatlah ada keluarga yang tengah kebingungan karena kepala keluarga baru saja kehilangan pekerjaan.

Jika ada yang bersedih baru saja kehilangan orang yang disayang, ingatlah hari ini diri sendiri maupun orang-orang ditinggalkan masih diberi nafas dan masih dapat bersentuhan.

Jika ada yang mengenakan busana yang sama dengan tahun sebelumnya, ingatlah bahwa tak ada juga yang mengingat, melihat atau memujinya.

Lebaran kali ini memang mengajarkan banyak hal. Untuk kita lebih menahan diri, mawas diri, banyak berterima kasih dan berdamai dengan keadaan. Mungkin itu, yang selama ini dirasa kurang, oleh Tuhan.

6.5

Do you know when it’s time to realize that maybe you should leave that toxic relationship?

It is when someone is trying to change who you really are

It is when you always get punished for making your partner feel bad, whether you’re wrong or right

It is when your partner decides your social life

It is when you feel your faithfulness and loyalty is never enough

It is you, who always beg for forgiveness

It is when your partner makes you think that you are easily replaceable

It is when your concern is probably heard, but never acknowledged

It is when you try to speak your mind and your partner pointed at your fault and flaws instead

It is when you feel like your anger and frustation escalating day by day or worse, year by year

It is when when you can’t see and talk about the future…….

Melihat Manusia, Namun Bukan Kemanusiaan

Unggahan di salah satu media sosial mengatakan : WHO tidak menjamin bahwa virus Corona akan benar benar hilang dari muka bumi. Satu-satunya harapan adalah dengan diketemukannya vaksin, yang nanti semestinya mudah diakses segala pihak. Eh satu lagi, ada obatnya juga, buat mereka yang kadung sakit.

Seketika aku teringat film tentang kiamat berjudul : 2012. Dalam film tersebut, digambarkan upaya menyelamatkan umat manusia dari kehancuran dunia dengan menggunakan bahtera besar, seperti apa yang dilakukan Nabi Nuh.

Umat manusia yang segitu banyak, tentu berbanding jauh dengan jumlah bahtera yang sekian biji. Mudah ditebak, yang dapat kesempatan untuk berada di dalamnya adalah orang orang VIP dan tentu, yang kooooayaaa roooayaaa banget.

Kembali ke masalah vaksin, mungkin saja mirip seperti yang digambarkan oleh film tadi. Begitu vaksin diketemukan, keistimewaan untuk dienjusss vaksin ini mulanya akan diberikan kepada orang-orang penting, dan si koooayaaa roayaaa yang gak masalah kalau harus membeli mahal sekaligus memborong vaksin-vaksin tersebut untuk istri, anak, aa’, teteh, om, tante, kolega bisnis, pacar gelap dan entah siapa saja yang dianggap penting.

Sama seperti rush buying masker saat pertama kali Indonesia konfirm terkena kasus Covid-19.

Satu keluarga bisa menumpuk berkotak-kotak masker sekali pakai.

Oooo, ternyata ada masker yang lebih canggih, impor yang tentunya lebih mahal? Ngga masalah! Punya berapa kotak? Borong semua!

Akhirnya, tenaga medis sempat kekurangan masker.

Akhirnya si keroco, orang kebanyakan serta rakyat jelata sempat hanya mampu membeli 1 pak masker isi 3 lembar. Itupun ada yang mencuci ulang, soalnya susah banget di pasaran.

[ Syukurlah saat tulisan ini diketik uda ngga gitu lagi ]

Kayak toko onlen, jika sampai ada open PO pemesanan order vaksin Covid-19, yakin bener dah…pesanan membludag sampai server hang.

Lah, pemesanan karcis nonton band U2 nyinden di Singapura kemarin aja begitu dibuka ludes dalam hitungan beberapa jam dan sampai websitenya hang kok. Padahal, ngga semua umat manusia demen U2.

Di deretan list open PO vaksin Covid-19, aku bayangkan posisi teratasnya para VVIP, VIP seperti pejabat, konglomerat, atau artis terkenal yang punya koneksi ke pejabat..

Aduh.. gak usah level negara deh.. tempo hari aku lihat sendiri pejabat daerah aja bisa gampang dapat rapid test kit sekian biji, bukan cuma buat keluarganya yang berjumlah 3 orang. Tapi sekalian 5 lagi buat keluarga cem-cemannya. Biasanya yang gini gini mah kaga bayar. Secara ghoib tau tau sudah dapet jatah.

Di deretan list berikutnya, ada pengusaha pengusaha kaya, karyawan sukses, pewaris tahta bisnis, para keturunan keluarga kaya 7 turunan..ah simpelnya mereka-mereka yang punya duit boooanyak banget dah.

” Pesan 150 vaksin! Saya langsung bayar! 4 buat saya, istri/suami, 4 buat ayah bunda dan kedua mertua, 8 buat supir-kang kebon-pembantu saya, 3 buat guru les anak anak saya, 30 buat kolega bisnis teratas saya…(terus panjang listnya)…sisanya buat jaga jaga. Inget ya, saya langsung bayar!!!”

Ngga menutup kemungkinan, ada modelan orang yang kayak saya gambarkan di atas. Lah, kayak di film 2012 tadi, tokoh konglomerat Rusia di situ bisa membawa serta mobil-mobil mewahnya kok, dalam bahtera penyelamatan. Padahal, jatah untuk 1 mobil itu bisa diisi oleh berapa banyak manusia?

Begitulah… terkadang manusia hari gini itu suka lupa untuk merasa cukup. Kalo bisa makan 7 donat kenapa mesti puas cuma dengan 3? Padahal, 3 itu sudah bikin begah.

Lah, yang 4 kan disimpan buat jaga-jaga kalau lapar? Begitu katanya.

Padahal di luar sana banyak yang di waktu yang sama, sudah dari kemarinnya kemarinnya merasakan lapar.

However….

Skenario open PO vaksin di atas semoga tak terjadi sampai gitu-gitu amat, deh. Jika benar nanti vaksin Covid-19 diketemukan dan diperlukan, pendistribusiannya niscaya akan diatur dengan adil dan merata.

Eh..

Tapi entah kenapa kok aku agak ragu sinis gimana gitu ya..>_<…

Karena, sama seperti pedagang penimbun masker, bisa jadi kelak ada juga calo vaksin…

Terserah, mungkin begitu di benak orang orang ini, yang penting aku aman..dan untung!

Manusia dan Covid-19

Selama masa pandemi ini, aku mengamati ada 3 jenis manusia :

1. Tim Parno, termasuk di antaranya mereka yang mendadak histeris melihat orang lain tidak menjaga jarak, tak mengenakan masker, masih keluar rumah, masih berolahraga outdoor, dan masih berkerumun.

2. Tim Nanggung. Ya gitu, mereka berusaha tetap menjaga protokol kebersihan dan kesehatan namun masih nekat sesekali beraktivitas di luar rumah tanpa mau banyak mikir macem-macem.

3. Tim Somsek. Yaitu adalah mereka yang gagah berani berkoar-koar tidak takut akan virus Covid-19 : “Hidup-matiku-di-tangan-Tuhan-jadi-bodok-amat-gue-mau-ngapain-suka-suka-gue-weeew!”

Kamu yang mana?