Bully / Perundungan

Sebagai seorang ibu, tentunya aku terbiasa mendengar obrolan para emak-emak ( dan terkadang juga bapak) dengan hal hal yang terjadi di seputar sekolah.

Salah satu topik paling serius adalah tentang bullying, atau bahasa bakunya : perundungan.

Kebetulan beberapa hari lalu, lewat sebuah siaran radio aku mendengar kisah seorang korban perundungan, berikut dampak psikologis yang ia dapat dari tindakan itu.

” Aku takut masuk sekolah. Bangun pagi terasa malas dan berat sekali, sampai akhirnya aku ngga mau ke sekolah sama sekali..” demikian ucap si Korban.

Waduh.

Aku seperti bisa merasakan seperti apa rasa tak nyamannya si Korban tadi. Terbayang tidak, jika ini terjadi pada anak sendiri?

Aku lantas mengingat-ingat, apakah pernah aku mengalami perundungan?

Hmmm… perundungan sepertinya sih tidak. Kalau terror psikis sih, adalah beberapa kali. Hahahaa.

Ataukah…

Sebenarnya aku mungkin pernah mengalami perundungan, namun dengan reaksi yang berbeda.

Aku ingat, saat duduk di kelas 1 SMP, entah bagaimana ceritanya, atas urusan apa, tahu-tahu aku berada di toilet sekolah dikelilingi oleh beberapa kakak kelas, cewek juga tentunya.

Salah satunya berkata,” Kamu itu mestinya respek sama kakak kelas!”

Seingatku, reaksiku hanya memasang muka lempeng, sembari di dalam hati berkata,” Idih, sape luh..”

Tanpa berkata apa-apa aku hanya ngeloyor keluar toilet, membuka pintu sekaligus membantingnya.

Setelah itu rasanya tak pernah lagi aku “dikeroyok” seperti itu. Paling banter, karena ada teman mereka yang sepertinya tertarik padaku, yang kerap diledek ledek saban kali aku melintas di depan area kelas mereka.

At that time, honestly I did not really care, sih… Belum tertarik sama naksir-naksiran.

Sampai tiba waktunya aku melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri di kota Bandung. Mau tak mau aku harus terjun bebas di lingkungan baru, orang-orang baru, yang tentunya tak sesteril kampung di belantara Kalimantan Timur itu.

Aku harus ikut ospek, katanya. Kalau tidak, akan bla bla bla.

Yasudah, aku ikuti. Ospek Universitas, aku aman. Paling-paling dipanggil karena kena dedel di keliman rok SMA yang kukenakan karena dianggap kurang panjang. Ospek fakultas, juga aman. Sampai tiba ospek jurusan.

Idiiiih.

Kayaknya aku dan 2 teman ( kebetulan kami bertiga langsung akrab) paling habis dikerjai oleh kakak-kakak kelas.

Kata beberapa kakak kelas (sembari bergantian berteriak) mukaku nyebelin. Katanya, aku sebagai anak baru tak pernah menyapa dan menunjukkan rasa hormat kepada mereka.

Teriakan teriakan ini bak nyanyian sumbang di telingaku. Apakah membuat aku takut?

Oh tidak sama sekali.

Seperti biasa di benakku melintas,” Sape lu. Minta makan ma lu juga kagak…”

Atau…

” Lah gue mah anaknya gitu, kalo ngga kenal ya emang diem aja…”

Atau…

” Iiiih siapa yang ngerasa sok cantik? Orang gue ngerasanya gue ini ganteng…”

Atau…

” Ya Tuhaaan, lapar amat ya. Mi instan enak nih dingin-dingin begini..”

Aku akhirnya agak terpancing, ketika ujug-ujug seorang alumni cewek, mendadak menuruni bukit tempat ia mengawasi kami, si para korban ospek, langsung menuju tempatku berdiri.

Konon, katanya si Alumni ini, 6 angkatan di atasku, terkenal puaaaling guuuaaalaaaak setiap masa orientasi.

Begitu berada di hadapanku, dia langsung memuntahkan….entah deh apaan aja. Aku juga ngga ingat apa tepatnya kata-katanya.

Karena orangnya jauh lebih pendek, dan agak bulet (ngga kece pula) aku yang dipaksa selalu menundukkan kepala, dengan leluasa dapat melihat ekspresi wajahnya.

Rupanya dia ngga suka.

Katanya aku menantangnya. Lantas dengan jemarinya ia mendorong-dorong bagian atas dadaku, tepat di antara tulang selangka. Lumayan keras, sampai aku terdorong sedikit ke belakang.

Oh kali ini, aku yang tak suka.

Words can do me harm. Kalo uda main fisik, lain ceritanya.

Di benakku, dengan satu kali tumbuk, paling tidak bengkak memar tulang hidungnya, pendek ini kok orangnya. Masalah dipanggil ketua jurusan atau dekan sekalipun, entar aja dipikirin.

I did nothing wrong, kok, except join this stupid orientation program.

Kepalan tangan kananku kemudian sudah siap mengudara, sampai dilihat oleh beberapa senior laki-laki yang memang sudah mengawasi.

Aku buru-buru ditarik, kami pun dipisahkan.

Dan sesudahnya…

Aku makin habis dikerjai secara fisik oleh senior-senior cewek lainnya, hahahhaa.

You see…

Moral of the story adalah tak ada seorang pun, apalagi yang entah dari mana asalnya, ngga ngasih kita makan, yang berhak menekan kita.

Apalagi cuma dengan kata-kata. Words can never let you down, unless you let them.

” Jelek lo!”

Ya deh, lu kece banget daaah. Ngga papa gue segini aja.

” Belagu ya lo..”

Idiiih orang gua kagak ngapa-ngapain, apa yang gua belaguin?

” Cupu! You are nothing, tau ngga?!

Yeaaah.. perhaps only for you. For many other people, I am precioussss.

” Awas ya lo, kalo berani lewat sini lagi.”

Ya ude, tawuran aja, gimana? Emang ni tempat atau gang punya nenek moyang lu? Bonyok pikirin belakangan daah… Prinsip gue mah, yang penting lawan aja dulu.

Begitu, kira-kira… Menurut benakku.

Tapi yang perlu diingat, jangan sampai memulai duluan, jika sampai ada adu fisik. Pokoknya jangan. Kalau bisa, pastikan ada saksi yang melihat, atau bukti jika kita memang terpaksa membela diri.

Atau sesimpel : just walk away, dengan kepala tegak. Don’t let them bullies feed on your fear.

Karena menurut pengamatanku, selain beraninya keroyokan, perundung cendurung keder jika lawannya balik menggertak, meski terkadang…hanya dengan tatapan mata.

Maka dari itu, wahai pemirsaaah…

Adalah penting menanamkan rasa percaya diri, pada diri sendiri dan juga pada anak.

Korban perundungan biasanya merasa tak berdaya, takut, memiliki pribadi introvert yang amit amit bisa akhirnya menjurus ke arah depresi. Hal ini erat kaitannya loh, dengan rasa tidak percaya diri.

Sebagai orang tua, apa yang harus kita lakukan agar anak percaya diri?

Simpel (menurutku loh ya… Etapi jangan lupa juga, aku itu bukan psikolog looh yaa).

Show them your pure love. Show your kids you are proud of having them as yours.

Nilai mereka jelek, jangan dikata-katai, atau dimaki. Terus beri dorongan, jangan paksa anak anda jadi harus pintar matematika, dokter, arsitek, atau apapun yang kamu mau.

Suruh anak main dengan siapa saja, tanpa pilih-pilih. Mau kaya, mau engga. Mau kece, atau engga. Mau laki, mau perempuan. Biar mereka bisa belajar beradaptasi, dan menempatkan diri.

Eh. Tapi jangan pula dikasih main dengan teman yang engga engga… you know lah what I mean.

Dan yang terpenting, selalu jalin komunikasi dengan anak. Sekarang uda ngga jaman, kok.. orang tua jaim-jaiman, dan pasang wibawa.

Oh well…Tetap mesti disisain sih, jaim dan wibawa sebagai orang tua. Aku masih penganut pola asuh ketimuran, kok.

I can be your friend, you can tell me anything, but still I am your mother so I demand some respect type of parenting gitu deh…..

PerBIKEan, di Mata Saya.

Folding bikes vs non folding bikes :

Jika bisa gowes sejauh jauhnya tanpa ribet mikirin gimana pulangnya, kenapa engga? Begitu capek, tinggal lipet. Masukin mobil atau kereta. Done!

Fixed gear vs multi gears :

Jika ada yang meringankan, kenapa pilih yang memberatkan? Apalagi buat tabah menjalani tanjakan.

Folding bike vs road bike :

Jika bisa berpakaian semaunya, kenapa harus terkekang dengan seragam? Masuk mal atau kantor pakai kaos atau kemeja sembari nenteng sepeda yang dilipat mah biasa.

Folding bike vs folding bike :

Jika ada duitnya buat beli yang cakep mahal atau yang spek termutakhir, kenapa harus beli yang jelek modelnya, ribet dilipat atau berat ditentengnya?

Brake or brakeless :

Jika ada bisa menyelamatkan, kenapa memilih yang membahayakan?

Rules vs no rules :

Aturan ya dibuat untuk keamanan semua pihak. Bukan hanya untuk pesepeda itu sendiri, namun juga bagi pengguna jalan yang lain.

Gunakan jalur sepeda, kalau ada.

Lampu merah, ya diam berhenti.

Helm ya dipakai saat gowes di jalan raya.

Lampu depan belakang pastikan dinyalakan saat gowes malam.

Do not swarm the road like those damn flies. You share, not own the road.

Gagal Paham.

Selama 21 tahun tinggal di ibu kota Jakarta ini aku mengenal banyak beragam jenis manusia. Setiap mereka adalah unik, dengan latar belakang dan ceritanya masing-masing.

Tapi kini aku sedang enggan membahas yang ribet ribet atau konflik njlimet yang kerap membelit kaum metropolis. Yang enteng saja, ya?

Tinggal di wilayah selatan Jakarta, yang konon dikenal sebagai daerah paling “gahol” alias “hits”, tentunya membuatku banyak mengenal manusia manusia dengan status sosial yang berbeda.

Selain para embak, suster, kang sayur, kang jamu, pemilik warung, satpam, tukang parkir, sehari-hari pergaulanku pastinya juga naik kelas ke pemilik strata sosial menengah, berada, artis terkenal, anak gaul Jakarta, artis ngga terlalu terkenal hingga mantan artis, kaya doang sampai ke yang koooaayaa rooayaaaaaaaa…. Banyak deh, beraneka rupa.

Bagi seorang anak rantau dari sebuah kota satelit kecil di belantara Kalimantan Timur sana, strata sosial ini entah mengapa tak membawa efek apa-apa bagiku.

” Okay… lu kaya banget! Rejeki lu.”

” Ooo, aslinya kamu begini ya kalau lagi sedang ngga masuk TV… ”

” Eh, ternyata bapakmu pejabat yang itu…”

Ya sudah begitu saja aku melihat mereka. Sama-sama bernafas, sama sama demen makan nasi dan mi ayam, sama-sama manusia.

Makanya aku suka heran, jika beberapa orang merasa penting berteman atau berada di lingkungan dengan strata sosial yang uhm… anggap deh, tinggi.

Lah, yang ngetop dan kaya kan mereka. Kenapa harus berharap diri kita juga ikutan ngetop?

Buat apa? Faedahnya apa?

Apakah dengan mendompleng status sosial seseorang kita juga akan ikutan naik pangkat?

(Kecuali kalau dengan tujuan upaya bisnis ya, nah beda!)

Kalau cuma karena urusan pergaulan saja, apa sih pentingnya?

Ngeledekin Temen.

Situasi menjelang konser band U2 di Singapura 30 Nov-1 Des 2019 :

Her : ” Elu ngga nuker S$?”

Me : ” Engga, ntar aja di erpot sana.”

Her : ” Gilak, rupiah kan ngga ada harganya di sana.”

Me : ” Gue nukernya dengan € kok..”

Her : ” Oh gue di sini nuker seribu. Wah uda berapa juta tuh.”

Me : ” Mmmm..gue ngambil dari kuncian gue, masih ada beberapa ratus Euro.”

Her : ” Oh. Lo nanti beli Singtel ngga? Ribet nih gue ngurus di Grapari. Pas mo bayar, yah kasirnya da tutup.”

Me : ” Mmm. Tsel gue open roaming internasional sih.”

Her : ” Lo pasca bayar?”

Me: ” Ya kan nomer gue cuman 10 angka. Dari situ kan udah ketahuan nomer lama dan paska bayar.”

Her : ” Gue beli Singtel aja dah, gue kan di T3, Gak tau deh ada ngga konter Singtel di terminal buat LCC kayak elo…..Hanyiir kenapa gue jadi kagak mau kalah gini yak? Hahahaha…”

Me : *ngakak*

Provokatif.

Secara tak sengaja, aku menemukan sebuah blog dengan judul yang menggelitik : “the people I’ve slept with”.

Isi blog yang kurasa bukan orang Indonesia itu menarik, provokatif, dan tentu, menggelitik.

Dengan jumlah kata jauh kurang dari seribu, cerita pendek tentang perjalanan “percintaan” berbagai individu yang kalau di sini (Indonesia) sudah pasti dianggap tabu.

Bagaimana tidak, isi blognya belum ada satupun yang kubaca mengisahkan percintaan yang terikat dalam perkawinan.

It was just…purely, simply sex, mainly with some random people.

And how do I react ?

Gak ada. Sama sekali ngga ada reaksi ataupun penghakiman dariku. Lah orang sana (bule) ya emang gitu. Bukannya di film-film sudah jelas terpampang begitu?

Bukankah yang begitu pula yang kini, di sini, semakin banyak ditiru?

Eh.

Tinnitus : Kegaduhan dalam Kesunyian

Pernahkah kamu tiba-tiba mendengar suara berdenging di salah satu telinga? Dalam keadaan normal, denging tersebut berlangsung selama beberapa detik saja dan kemudian mereda dan hilang.

Tapi pernahkan merasakan atau paling tidak membayangkan sensasi tersebut selama 24 jam, 30 hari, atau bahkan 365 hari tanpa henti?

Ketika divonis dokter menderita Tinnitus, hal yang pertama saya rasakan adalah : TAKUT.

Iya, takut.

Bagaimana jika suara di telinga kiri ini tak akan pernah hilang? Bagaimana jika suaranya akan semakin kencang?

Sejak Oktober tahun 2018 lalu sudah satu tahun lebih saya hidup berdampingan dengan tinnitus. Tak kurang dari 9 orang spesialis THT yang sudah saya datangi, dan hei.. hingga kini saya masih belum mendapatkan kembali pendengaran saya dengan kondisi seperti sedia kala.

Hal ini tentu mengajarkan saya banyak pengalaman berharga.

Nomor satu, tentu sebuah kalimat klise yang sudah sering kamu dengar, bahwa : ” kesehatan itu memang adalah karunia nikmat yang tak ternilai harganya”.

Nomor dua adalah : stress MEMANG biang dari segala masalah gangguan kesehatan.

Dari beragam literatur, info dari internet dan pengamatan, saya menemukan bahwa tinnitus ternyata berkaitan erat dengan stress dan bagaimana cara mengelolanya.

Ah ya… satu lagi, rupanya info internet itu nyatanya memang bak pisau bermata dua.

Lho, apa ya hubungannya?

Begini, tak sampai 24 jam dari saya mulai merasakan sensasi riuh rendah suara ribuan atau bahkan jutaan jangkrik di telinga kiri, saya sudah mendatangi sebuah rumah sakit khusus THT. Tak hanya menjalani upaya secara medis, saya menjalani juga upaya pengobatan alternatif, salah satunya akupuntur.

Saya mencari sebanyak-banyaknya informasi mengenai gangguan Tinnitus ini melalui internet. Saya masuki forum-forum penderita Tinnitus baik di dalam dan di luar negeri.

Alih-alih mendapatkan ketenangan dan rasa senasib dan sepenanggungan dengan penderita yang lain, yang ada saya semakin stress.

Bagaimana tidak, saya yang saat itu masih dalam hitungan hari merasakan seisi kepala saya penuh dengan suara bak jutaan jangkrik tengah berpesta, harus membaca testimonial dari mereka mereka yang masih menderita Tinntinus selama 8 bulan, 3 tahun, 15 tahun, 28 tahun, bahkan selama hampir 3/4 masa hidupnya.

Belum lagi jika ada member yang japri atau menelepon saya langsung untuk curhat mengisahkan betapa menderita hidupnya didera Tinnitus dan sudah habis puluhan hingga ratusan juta rupiah namun tak kunjung sembuh juga.

Aduuuh, mau gila rasanya! Dalam hitungan hari, saya memutuskan hengkang dari forum-forum tersebut. Boro-boro menemukan solusi, yang ada saya semakin parno dan ngeri!

Meski bisa jadi berupa tanda adanya tumor, Tinnitus biasanya bukan berarti gangguan penyakit yang serius. Mengganggu, iya. Sangat. Bahkan bisa menjurus ke stress akut dan keinginan untuk bunuh diri. Bagaimana tidak, di kasus yang cukup parah, intensitas suara bisa sedemikian dashyat sehingga seperti memenuhi seisi kepala tanpa diketahui kapan bisa mereda.

Suara yang terdengar pun beragam, mulai dari dengungan, deringan, impuls listrik, siulan ketel air, kicauan serangga, dengan volume yang bervariasi.

Selama menderita Tinnitus, 3 bulan pertama suara yang saya dengar adalah suara serangga mirip seperti jangkrik. Seperti saat kita masuk ke dalam sebuah hutan lebat, kita biasanya mendengar beragam suara serangga. Seperti itulah kira-kira riuh-rendahnya.

Dalam skala 1 sampai dengan 10, volume yang saya dengar berkutat di angka 7,8,9 dan 10. Setiap hari, tanpa henti. Kalaupun turun ke skala 4-5, keesokan harinya Tinnitus kembali menyerang dengan skala maksimum, seolah ingin membalas dendam.

Jika sebelumnya, berada di dalam kamar tidur yang tenang dan sunyi adalah salah satu cara saya berelaksasi, kini hal itu serupa siksaan tanpa henti. Kesunyian yang saya cintai itu tiba-tiba menjadi musuh yang menakutkan. Begitu berada di dalam ruangan kedap suara, suara-suara di telinga saya terdengar gegap gempita.

Satu bulan pertama, untuk dapat tidur di malam hari saya harus mendengarkan suara hujan dari tablet. Hal ini lumrah disebut “masking“.

[ Untungnya, Allah Maha Baik. Saya hanya diberi 1 malam tak dapat tidur karena stress memikirkan hal baru yang mendera saya ini. Saya banyak membaca testimonial penderita Tinnitus lain mengalami gangguan tidur yang cukup parah, hingga menyebabkan depresi]

Jika kamu mengalami gangguan tidur (baik karena tinnitus atau hal lainnya), cobalah mencari tahu suara yang membuat kamu nyaman. Misalnya suara debur ombak, dengungan kipas angin, lagu instrumentalia, atau alunan bacaan kitab suci.

Karena saya amat menyukai hujan, maka suara hujanlah yang dapat membuat saya tenang dan tertidur.

Suatu hari, seorang teman yang sangat beruntung lepas dari deraan tinnitus dalam kurun waktu satu bulan saja berkata,” Kamu jangan terlalu sering masking ya, nanti justru kamu akan mengalami ketergantungan.”

Saya pikir, betul juga.

Sampai kapan, saya harus mendengarkan suara hujan untuk relaksasi dan tidur? Walau bagaimanapun juga, perangkat elektronik seperti tablet dan telepon genggam tentunya mengeluarkan gelombang tertentu, yang mungkin saja berpengaruh pada kesehatan syaraf di kepala saya.

Setelah sekitar 1 bulan, saya memutuskan menghentikan penggunaan “masking“. Saya memilih untuk mendengarkan riuh rendah suara di telinga saya dengan sebuah kesiapan dan juga kepasrahan.

Gaduh, ya gaduhlah.

Berisik, ya sudah sana berisik.

Kriiik..kriik..nguung..nggung… krikk.. kriik… ngiiiiiiiiiiiing….kriiikk…

Begitu terus, sampai saya akhirnya tertidur sendiri.

Hari demi hari saya jalani. Hingga bulan pun berganti. Desember 2018 saya memutuskan berlibur, walau dengan deg-degan setengah mati.

Saya takut tekanan udara di pesawat memperparah kondisi telinga saya. Saya siapkan berbagai amunisi seperti minyak essensial untuk pelega pernafasan (mengingat dugaan penyebab utama tinnitus saya adalah infeksi sinusitis), obat semprot hidung, bahkan saya meminum obat flu menjelang pesawat tinggal landas.

Penerbangan menuju tempat tujuan berlibur terhitung sukses, tanpa ada hambatan apapun. Padahal, penerbangan yang saya tempuh lebih dari 12 jam lamanya.

Penerbangan kembali ke tanah air, saya sudah jauh lebih percaya diri, sehingga merasa tak perlu minum obat pilek atau menyemprot hidung. Dan semua berjalan baik-baik saja.

Stress, biang kerok?

Dari berbagai sumber yang saya kumpulkan, saya menemukan teori bahwa tinnitus amat erat hubungannya dengn stress.

Iya sih.

Sensasi yang saya dengar membuat saya stress, sementara karena stress, benak saya selalu berkutat atau terkunci pada suara di telinga yang menyebabkan saya semakin stress. Begitu terus seperti lingkaran setan.

So…..

Saya (secara teori) tahu bahwa saya harus memutus lingkaran setan itu.

Saya harus tangani apa yang menjadi sumber stress saya. Wah banyak yang sudah saya lakukan.

Dari konsultasi psikologi, terapi minum saripati bunga, terapi joged-joged sambil merem dengan bunyi tetabuhan (jangan ketawain plisss…), berbagai jenis akupuntur dari ala Tiongkok sampai Jepang yang harganya lumayan menguras kantong, pijat refleksi, pijat syaraf, sampai minta diruqiyah. Hahahaha.

Sampai pada suatu hari, saat saya tengah berselancar di Youtube, saya menemukan kanal milik seorang praktisi terapi craniosacral asal Inggris bernama Julian Cowan Hill.

Terapi kraniosakral adalah pengobatan alternatif yang dirancang untuk melancarkan aliran cairan selebrospinal yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Teknik ini dipercaya membantu memperbaiki fungsi sistim syaraf pusat.

Mengikuti vlog Mister Julian ini membuat saya seperti menemukan secercah harapan (ceile).

Beliau mengaku telah terlepas dari belenggu tinnitus setelah 20 tahun (whaaat?!!! 20 tahuuuun??!!!), dengan mendalami self healing. Berkali kali dalam konten videonya Julian mengatakan penderita tinnitus harus bisa membuat dirinya merasa aman, tenang dan menghindari stress.

Lakukan olahraga yang tenang seperti yoga atau taichi. Dan lakukan kegiatan yang menyenangkan seperti berlibur, atau dekat dengan orang-orang yang dikasihi.

Cara bicaranya yang tenang dan lembut, membuat saya nyaman. Dan lagi, Julian sangat baik, 2 kali saya berkirim surel pada beliau, selalu dibalas.

Nice, ya?

Okelah.

Saya berpikir, bagaimana caranya supaya saya tak terlalu punya beban pikiran yang tanpa saya sadari mungkin saja menjadi pemicu dari segala masalah kesehatan yang saya alami.

By the way, sebulan terakhir saya sempat merasakan apa itu yang namanya “gerd”.

GERD (gastroephageal reflux disease) adalah gangguan pada katup lambung di mana asam pada lambung naik hingga ke kerongkongan dan menyebabkan sensasi dada terbakar hingga irama jantung yang seperti terdengar lebih kencang.

Biasanya penderita gerd bermula dari menderita maag. Biasanya, penderita maag selain memiliki pola makan dan tidur yang berantakan, juga rentan terhadap stress.

Wah. Fix. Saya mengalami stress, dan ini harus saya sendiri yang harus menemukan apa sumber penyebabnya.

Saya mulai dengan menerima keadaan saya. Iya, saya menderita tinnitus di telinga kiri saya (walau terkadang rasanya seperti sensasi suara itu sesekali berpindah juga ke telinga kanan).

Tapi alhamdulillah meski hasil audiologi telinga kiri saya tak sesempurna telinga kanan, namun terhitung di batas normal.

Secara medis saya menerima belum ada obat yang bisa menyembuhkan gangguan ini. Namun ada usaha berupa terapi yang bisa dilakukan, seperti akupuntur. Belum ada bukti klinis yang menguatkan hal ini sih, tapi saya percaya saja setiap penyakit pasti ada obatnya.

Berikutnya, apa yang membuat saya bisa mengalami stress?

Oh, mungkin masalah finansial. Sebagai seorang ibu tunggal, saya tak memiliki suami yang setiap bulan memberi uang belanja. Saya ada rumah yang harus selalu disiapkan biaya perawatannya.

Belum lagi biaya emergensi yang siapa tahu nanti dibutuhkan. Kalau saya sakit gimana? Saya tak memiliki asuransi, loh.

Mungkin juga masalah pekerjaan. Hampir 2.5 tahun saya memiliki pendapatan tambahan dengan menjadi penulis lepas untuk berita hiburan/infotainmen dan menjadi admin sosial media seorang public figure.

Pekerjaan ini sangat memudahkan. Waktunya bisa saya atur, bayarannya juga lumayan.

Yang menjadi rumit adalah : pada dasarnya saya adalah orang yang suka tidak mau tahu atau mengulik hidup seseorang. Sedangkan pekerjaan saya menuntut saya untuk rutin mengamati perkembangan berita terkini dari artis-artis, public figure, bahkan para sekuter alias selebritis kurang terkenal.

Tak hanya berita terkini, masa lalu tokoh tersebut pun tak jarang harus saya ulik karena berhubungan dengan berita tentang dirinya di masa kini.

Kamu tahu kan ya, di dalam dunia hiburan itu : bad news is always good news?

Berita perselingkuhan, perceraian, perseteruan, tuntutan hukum selalu lebih menarik ketimbang berita tentang prestasi.

Dalam satu hari, saya bisa membuat paling sedikit 5 artikel berita hiburan, dan bisa mencapai 11 artikel, tergantung dari berapa banyak bintang tamu yang hadir dalam sebuah acara talkshow yang menjadi acuan dari tulisan saya.

Jika acara tersebut tayang selama 20 hari dalam sebulan, hitung saja berapa banyak berita yang harus saya tulis. Belum lagi jika ada topik panas seperti perceraian, maka bisa berhari-hari, bahkan minggu saya menulis tentang berita itu.

Depressing bukan?

Jadi, kawan… istilah : mirip dengan istilah you are what you eat, maka apa yang sehari hari kau dengar, lihat dan baca tentunya memberikan pengaruh pula terhadap diri kamu.

Entah kamu terbawa dan jadi seperti mereka (artis-artis dan public figure atau tokoh yang tengah kamu baca)…

Entah kamu menjadi skeptikal atau sinis menatap dunia…

Entah kamu menjadi manusia paling kepo terhadap orang lain…

Dalam kasus saya, seperti ada pergolakan batin, karena saya merasa saya orang yang paling malas ngepo-in hidup orang lain.

Sampai pada suatu titik, saya merasa demi kesehatan mental saya, saya memutuskan mencoba memutus semua hal yang sekiranya berkaitan dengan sumber stress saya.

Selama 5 bulan terakhir saya tidak menjalankan pekerjaan saya, yang imbasnya, saya kehilangan pendapatan.

Saya memilih melakukan hobi saya bersepeda, bergaul, dan tidak terlalu mempedulikan keruwetan rutinitas sehari-hari.

Tabungan yang tadinya akan saya pergunakan untuk jalan-jalan akhir tahun ini, hampir ludes untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Anehnya, saya merasa tenang-tenang saja.

Tabungan habis, ya sudah. Cairkan aset yang lain masih bisa.

Uang habis, ya tinggal cari.

Ah, rejeki mah ada yang ngatur.

Surprisingly, saya kemudian lebih mendapatkan hari hari tenang, di mana suara di telinga kiri saya berada di level rendah, bahkan sangat rendah sehingga nyaris terabaikan.

Jika tinnitus berhubungan erat dengan stress, maka dengan ini saya mengakuinya. Meski belum benar-benar hilang, namun otak jadi tidak terfokus pada gangguan suara-suara itu.

Dalam vlog seorang audiologis bernama Joey Remenyi, dikatakan otak itu bak plastik, yang memiliki potensi untuk dicetak, dipahat, dan dimodifikasi. Istilah kerennya neuro plasticity. Otak mampu melakukan reorganisasi dalam bentuk adanya interkoneksi baru pada saraf, bahkan meregenarasi sel syaraf yang sudah mati. Termasuk syaraf di otak dan di telinga.

Nah! Tetap, masih ada harapan kan?

Lantas, bagaimana cara membuat sel sel syaraf yang sudah mati beregenerasi?

Lagi-lagi melalui hasil berselancar di dunia maya, saya menemukan sosok Liam Boehm. Cowok kece asal Australia yang 5 tahun menderita tinnitus akibat paparan suara saat menggebuk drum.

Si cowok kece unyu unyu ini memaparkan teori untuk membuat tinnitus membaik bahkan sembuh adalah melalui diet. Dia dengan tegas mengatakan bahwa : tinnitus is not for life!.

Rasanya cukup menyenangkan, setelah banyak mendengar atau melihat vonis bahwa tinnitus menetap alias tak dapat disembuhkan. Atau menurut seorang dokter spesialis THT berpangkat profesor yang saya temui : sangat susah disembuhkan.

Bang Liam dalam beberapa vlognya dengan santai mengucapkan : ” Tell your ENT doctor he can go f*ck himself for telling you tinnitus is for life.

Hahaha.

Meski terkadang agak ekstrem, semisal mengkonsumsi daging dan organ dalam hewan dalam keadaan mentah ( euuuuuw!!), beberapa pendapatnya cukup bisa saya terima.

Misalnya : berpuasa. OK. Kita semua tahu manfaat berpuasa, dan salah satunya adalah regenerasi sel sel di dalam tubuh.

Hindari makanan yang diproses, minum air yang mengantung klorin (di luar negeri sana kan biasa minum air langsung dari keran), tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, konsumsi buah dan sayur organik dan beberapa hal lainnya.

Make sense.

Meski demikian, saya belum benar-benar melakukan diet sehat. Agak susah ya, atau tepatnya mungkin agak malas.

Empek-empek, enak.

Bakso, enak.

Mi ayam gerobakan, enak.

Gorengan, juga enakkkkk…..!

Kesimpulannya?

Hingga detik ini, saya memang belum benar-benar terlepas dari cengkeraman tinnitus. Ketika saya menulis ini, dari telinga kiri saya terdengar suara statik, seperti ada 2 kabel yang dialiri listrik yang terus saling bersentuhan.

Padahal, kemarin siang hingga sebelum tidur, terasa teeenaaaang sekali. Dalam skala 1-10, volume kegaduhan di telinga kiri saya mungkin hanya 0.5. Pagi ini, mmm… mungkin di angka 2-4 yah.

Begitulah tinnitus. Dia bisa datang dan pergi sesuka hatinya, dengan intensitas volume yang juga seenak jidatnya.

Suatu hari saya mengkonsumsi makanan atau minuman yang tidak sehat, telinga saya anteng- anteng saja.

Namun suatu ketika hanya menghirup sedikit kuah santan, kuping saya mendadak gaduh hingga 3 hari lamanya.

Namun dari pengalaman yang saya alami setahun terakhir ini, iya. Tinnitus akan membaik, jika kita merubah beberapa hal dalam diri kita.

Baik mindset, rajin melakukan aktivitas fisik, dan juga diet. Hindari pemakaian telepon genggam langsung pada telinga yang bermasalah. Gunakan handsfree, jika pembicaraan sekiranya cukup lama.

Beberapa kali saya mengalami, menggunakan telepon genggam langsung di telinga yang bermasalah, tak lama kemudian saya didera suara denging tinggi yang berlangsung selama beberapa detik.

I don’t know, mungkin saja memang ada korelasinya antara gelombang radiasi yang dikeluarkan telepon genggam dengan otak dan syaraf pendengaran. Yang pasti, hal seperti ini memang benar saya alami.

Oh ya, satu lagi. Perbaiki kualitas tidur. Saya menemukan hal yang signifikan. Ketika tidur malam saya lelap, suara di telinga saya mereda.

Apalagi jika tidurmu lelap, kemudian bertemu dengan sahabat-sahabat yang membuat tertawa, ditemani pula oleh orang yang dicinta. Percaya deh, kegaduhan itu tak lagi terasa menyiksa.

A adalah A.

Suatu ketika seseorang bertanya kepadaku :

” Kamu dulu dari kecil ya main sama si Itu? Dia bilang sudah kenal lama sama kamu dan keluargamu…” begitu katanya.

Aku terdiam sejenak. Heh. Kenal (cukup) lama sih iya. Kenal keluargaku sih iya. Tapi ngga juga sedari kecil ‘kali.

Aku lantas berpikir, oh. Mungkin si Itu sengaja berkata demikian karena memiliki kepentingan tertentu. Tapi karena hal ini ditanyakan langsung kepadaku, ya gimana yah. Aku maunya menjawabnya tentu dengan versiku.

” Ah, kagaklah kalo dari kecil. Kalo dekat dan kenal dengan keluargaku sih iya,” jawabku.

” Tapi kok katanya uda kenal dari kecil sih?” kata si Seseorang itu dengan nada bingung.

” Dibo’ongin, lu…” sahutku sambil tertawa dan berlalu.

Jadi begini.

Aku tipikal orang yang paling malas ngeles-ngeles atau bohong-bohong manis. Kalo mau bohong, ya yang mutakhir lah, sekalian.

Eh…Enggaaa kok, aku ngga suka bo’ong koook….

Pada dasarnya dasarnya aku hanya punya 2 pilihan : diam, atau jujur apa adanya sekalian.

Jika faktanya A, dan situasi tak memberikan opsi lain untuk berkata B atau C atau D atau E, yasudah. Kukatakan A.

Walaupun jika berkata A bisa berimbas dengan resiko dituding… hmmm…. brengsek misalnya.

Maka aku akan siap untuk mengakui : iya, gue emang brengsek, sih. Selesai.

Prinsipku sesimpel begini : gua, kalo gak ditanya akan diam. Tapi kalau ditanya, ya gua jawab.

P.S – Jawabannya juga pasti kupikirkan laaah. Ngga juga segitu gampang dan bodohnya main mengaku.