U

Adanya hal hal yang dianggap masyarakat adalah tabu 

 
Sehingga sebuah ikatan suci lebih ke arah menjadi belenggu

Padahal menurutku tidak perlu terlalu begitu

Karena sebuah diskusi dapat menjadi penyatu

Asal dengan hati yang tenang dan kepala tak perlu membatu

Dan yang penting ada rasa ikhlas untuk berkata, ” Baiklah, kupercaya padamu.”

Cemburu itu sih tentu perlu

Syak wasangka yang sesungguhnya merusak kalbu

Sayangnya, cinta yang menggebu 

Terkadang sukar membuat hati dan logika berpadu

Ego pun tersulut di situ

Apakah kamu pernah merasa begitu?

Rasa itu aku pun tahu

Apalagi jika ada luka terikut di situ

Rasanya seperti koreng yang tertusuk sembilu

Tapi kembali seperti kataku

Butuh keikhlasan untuk berkata, ” Baiklah, kupercaya padamu.”

Dan jika ternyata rasa itu tak kunjung berlalu,

Kuucap perlahan di dalam hatiku 

Hal yang mungkin berupa penyeimbang buatku

Yaitu : 
Sayangku… Aku memang lebih brengsek daripada kamu.

Advertisements

Citra, Media Sosial dan Getirnya Saya…

Suatu hari, di sebuah media sosial ada pertanyaan dari seorang teman : ” Mengapa orang cenderung sinis menanggapi kata ‘pencitraan’? ”

Pertanyaan tersebut mau tak mau menggelitik benak saya. Iya juga, ya.. Saya sih memang terkadang suka usil, dan malah terkadang skeptik memperhatikan berbagai status, foto, isi dari tulisan orang orang di berbagai media sosial yang menurut saya adalah salah satu upaya ‘pencitraan’. Apa iyaaaa, situ seindah yang situ sedang tunjukkan melalui tulisan atau foto yang diunggah?

Menurut pandangan saya, sekali lagi loh yaa pandangan SAYA, di era sosial media ini masyarakat makin hari makin senang dibohongi dan membohongi atas dasar ‘citra’. Penting, buat dipandang orang begini , jangan sampai diduga begitu. Maka, berlomba lombalah pemilik akun media sosial mencitrakan diri, bak politikus lagi kampanye demi sebuah kursi di parlemen.

Apakah saya sendiri pelaku ‘pencitraan’? Oooh iya, tentu. Gila aja, apah….?! Eh tapi…Apa yang perlu saya citrakan dari seorang ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan dengan 2 anak? Biasanya saya mencitrakan diri saya melalui ramalan bintang atau shio . Buat apa? Entahlah.. Mungkin ada bagian dari diri saya yang ingin dimaklumi oleh orang lain, mengingat saya memiliki sifat dan temperamen yang.. Uhmm… Kata teman yang lain : ABSURD.

  
Berikutnya, melalui check in di media sosial lain. Isinya gak jauh jauh, paling di mal. Resto, pusat kebugaran , salon, yang sebagian besar memang ada di dalam mal yang itu itu juga. Tujuannya supaya Yang Merasa Perlu Tahu selalu tahu di mana saya berada. Ribet amat bukan, jika berpindah lokasi harus selalu telepon atau kirim pesan ke pasangan? Naah, jika sedang berada di luar negeri, apalagi di tempat yang eksotis, pasti harus check in doong.. Ini sih, pemberitahuan aja.. Alias pamer. Sebel yah, bacanya? Well, at least saya jujuuur, ngaku.

Terkadang, jika mengamati status atau avatar orang orang di friendlist saya, tak urung saya mempertanyakan, sejauh apa mereka jujur apa adanya dengan segala tampilan yang dipertontonkan.

Jika berbagai status melulu berisi rasa syukur, doa, keluhan dan pertanyaan kepada Tuhan YME, apakah ia memang orang yang sungguh relijius ataukah sedang berupaya mati matian meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa ia adalah orang yang relijius?

Jika status yang ditulis, foto yang diunggah melulu menyatakan betapa ia mencintai pasangan, dan betapa kehidupan rumah tangganya indah bak di taman bunga adalah wujud sesungguhnya? Yakin? Bukan karena menutupi sesuatu?

Jika status dan foto yang diunggah melulu berupa kegiatan sosial, party-party, apa iya tujuannya gak buat pamer bahwa ybs sudah mencapai status sosial yang lebih tinggi? By the way.. Sejak kapan ya status sosial ada tingkatannya? Perasaan bersosialisasi harusnya sama aja bukan, mau dengan lingkungan RT, pasar, arisan, kolega bisnis, selebritis, atau bahkan dengan si mbak mbak di kompleks rumah? Kok gak ada yah, yang memajang foto sedang gaul bersama satpam, mas mas dan mbak mbak kompleks? Saya juga belom pernah sih… Nanti, deh…

Balik ke pertanyaan di awal celotehan ngelantur saya tadi, saya ikut menimpali. Kira kira begini jawaban saya : ” karena pencitraan itu cenderung memuji diri sendiri. Seharusnya pujian itu datang dari orang lain ( tentunya tanpa paksaan, apalagi sogokan ) , kalo memuji muji diri sendiri sih.. Namanya ge-er..”

Nyambung, gak? Taukk deh.. Paling tidak moga moga anda sekalian menangkap maksud dan pandangan saya mengenai masalah pencitraan melalui media sosial.

Seperti yang selalu saya katakan ( jika ada yang komplen tentang status orang lain ) , pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang gemar pamer dan butuh curhat. Mengingat akun media sosial itu bak tanah pribadi, no trespassing, sah sah aja buat posting apa aja. Mau curhat, marah marah, pamer.. siiilaahkaaan…Saran saya sih .. Jangan lebay. Sama ganti ganti topik. Beberapa orang soalnya ada yg tidak cukup santai, gemar berasumsi . Asumsi tapi disimpan sendiri sih silahkan. Paling malas, bukan sekedar berasumsi, malah manjatuhkan vonis selanjutnya menyebarkan gosip berdasarkan ya itu.. Asumsi tadi. Padahal, mana tauuu, yang ditulis tadi hanya sebuah potongan lagu, atau malah tulisan di angkot . Yang beginian, baiknya ga usah masuk era internet.. Bisa mainin atari atau nintendo aja uda bagusan, deh.. Damai dunia.

22 Nov, 2012

TALK!

  

Why is it so hard to communicate in ‘old fashion way’? In this smartphones and internet era we hardly communicate using what God has given us as blessings : toungue and lips. We would rather stay in silent using our fingers instead. I found it ironic, how we become more brave and more coward at the same time. More brave to express anything we feel, from love, hate , lust to anger freely on smartphone/FB/Twitter/Path status. On the other side, we are turning into cowards, too afraid to express ourselves face to face, eyes to eyes . Avoiding debates and confrontations nowadays is easier, cos all you have to do is simply ignore the incoming messages. Or turn off the phone. More extreme : press delete contact option.

I dont get it, how some people handle this, when a problem occurs. Some chose to give hints over social medias, making others wonder. When somebody else, out of curiousity ask, he/ she would rather talk about him/her instead talk to that person directly. 

I’ve been experiencing being deleted, being talked about, being unanswered by instant messages or phone. IMO, problems must be solved. Arguments should find win win solution. But it takes 2 BRAVE persons to deal with this, and definitely need communication in old fashion way : talk. It will never work out if one of them, oh well too coward to start a discussion face to face.

Ring.

For me, it doesn’t really matter in what ring of friendship ( ring 1, ring 2, ring road, or ringg ring ring bunyi sepeda ) I am in. Doesn’t really matter too, what title ( best friend, just friend, colleague, acquaintance, somebody else’s friend ) they were giving me. As long as they’re nice to me, oh..I’ll be super nice to them too.
But I will never, never ever let myself to be considered as an ‘entourage’. ☝️😤
Sekiaaaaan.
  

Trust. My way.

I trust people. I choose to trust people. Kalo mau bohong, siapapun bisa kok berbohong. Mau bohong besar, kecil. Black lies, white lies. Intinya lidah tak bertulang. Bisa kok belok sana sini. 
Gue berharap orang untuk selalu jujur? Ya nggak lah. Begitu ketahuan boong, kan nyesek. Dan gue itu narsis, amat sangat mencintai diri gue sendiri. Maka dari itu, daripada nyesek atau sakit hati, I choose to trust.
Mungkin dari situ gue terkesan cuek. Susah cemburu. Ga suka menyelidik, apalagi ngoprek2 barang pasangan.
Padahal ga segitunya juga sih. Jealous? Tentu lah punya. Cuma, daripada ngabisin enerji dengan mencari tahu ( yang belum tahu gue apakah gue cukup kuat mental jika ternyata hasilnya memang mengecewakan ), gue memilih untuk mengamati saja sembari memasang radar. Jika radar sudah mengirim sinyal2, baru gue ngomongin. Ngomongin juga, gue memilih mempercayai apa yang dikatakan ( regardless itu jujur atau bohong ), yang diucapkan itulah yang gue pegang. 
I just don’t have the energy. I do love. I can love hard, very deep. Same like you do. But in my head, love is supposed to be easy. Free. 
And in any relationship respect is needed. And it takes both side. Gak cuma satu doang yang kudu hormat muluk semacam upacara ngadep tiang bendera.
Kalo kita bicara benar salah, dalam kusut masainya relationship, palagi jika keduanya kepala batu, bisa ga kelar kelar macam guguk yg ngegigit buntutnya sendiri. Muterrrr aja terus ga kelar kelar sampai Adam Levine jadi vokalis Kenjen Band yang baru.
Sebaiknya disadari, bukan siapa yang benar, siapa yang salah. Pahami aja, aksi reaksi. Kenapa terjadi begini, karena terjadi begitu. Niscaya salah satu atau malah dua duanya gak ada yang kepedean ngerasa dia benar dan yang satunya salah.

Sekian.