Citra, Media Sosial dan Getirnya Saya…

Suatu hari, di sebuah media sosial ada pertanyaan dari seorang teman : ” Mengapa orang cenderung sinis menanggapi kata ‘pencitraan’? ”

Pertanyaan tersebut mau tak mau menggelitik benak saya. Iya juga, ya.. Saya sih memang terkadang suka usil, dan malah terkadang skeptik memperhatikan berbagai status, foto, isi dari tulisan orang orang di berbagai media sosial yang menurut saya adalah salah satu upaya ‘pencitraan’. Apa iyaaaa, situ seindah yang situ sedang tunjukkan melalui tulisan atau foto yang diunggah?

Menurut pandangan saya, sekali lagi loh yaa pandangan SAYA, di era sosial media ini masyarakat makin hari makin senang dibohongi dan membohongi atas dasar ‘citra’. Penting, buat dipandang orang begini , jangan sampai diduga begitu. Maka, berlomba lombalah pemilik akun media sosial mencitrakan diri, bak politikus lagi kampanye demi sebuah kursi di parlemen.

Apakah saya sendiri pelaku ‘pencitraan’? Oooh iya, tentu. Gila aja, apah….?! Eh tapi…Apa yang perlu saya citrakan dari seorang ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan dengan 2 anak? Biasanya saya mencitrakan diri saya melalui ramalan bintang atau shio . Buat apa? Entahlah.. Mungkin ada bagian dari diri saya yang ingin dimaklumi oleh orang lain, mengingat saya memiliki sifat dan temperamen yang.. Uhmm… Kata teman yang lain : ABSURD.

  
Berikutnya, melalui check in di media sosial lain. Isinya gak jauh jauh, paling di mal. Resto, pusat kebugaran , salon, yang sebagian besar memang ada di dalam mal yang itu itu juga. Tujuannya supaya Yang Merasa Perlu Tahu selalu tahu di mana saya berada. Ribet amat bukan, jika berpindah lokasi harus selalu telepon atau kirim pesan ke pasangan? Naah, jika sedang berada di luar negeri, apalagi di tempat yang eksotis, pasti harus check in doong.. Ini sih, pemberitahuan aja.. Alias pamer. Sebel yah, bacanya? Well, at least saya jujuuur, ngaku.

Terkadang, jika mengamati status atau avatar orang orang di friendlist saya, tak urung saya mempertanyakan, sejauh apa mereka jujur apa adanya dengan segala tampilan yang dipertontonkan.

Jika berbagai status melulu berisi rasa syukur, doa, keluhan dan pertanyaan kepada Tuhan YME, apakah ia memang orang yang sungguh relijius ataukah sedang berupaya mati matian meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa ia adalah orang yang relijius?

Jika status yang ditulis, foto yang diunggah melulu menyatakan betapa ia mencintai pasangan, dan betapa kehidupan rumah tangganya indah bak di taman bunga adalah wujud sesungguhnya? Yakin? Bukan karena menutupi sesuatu?

Jika status dan foto yang diunggah melulu berupa kegiatan sosial, party-party, apa iya tujuannya gak buat pamer bahwa ybs sudah mencapai status sosial yang lebih tinggi? By the way.. Sejak kapan ya status sosial ada tingkatannya? Perasaan bersosialisasi harusnya sama aja bukan, mau dengan lingkungan RT, pasar, arisan, kolega bisnis, selebritis, atau bahkan dengan si mbak mbak di kompleks rumah? Kok gak ada yah, yang memajang foto sedang gaul bersama satpam, mas mas dan mbak mbak kompleks? Saya juga belom pernah sih… Nanti, deh…

Balik ke pertanyaan di awal celotehan ngelantur saya tadi, saya ikut menimpali. Kira kira begini jawaban saya : ” karena pencitraan itu cenderung memuji diri sendiri. Seharusnya pujian itu datang dari orang lain ( tentunya tanpa paksaan, apalagi sogokan ) , kalo memuji muji diri sendiri sih.. Namanya ge-er..”

Nyambung, gak? Taukk deh.. Paling tidak moga moga anda sekalian menangkap maksud dan pandangan saya mengenai masalah pencitraan melalui media sosial.

Seperti yang selalu saya katakan ( jika ada yang komplen tentang status orang lain ) , pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang gemar pamer dan butuh curhat. Mengingat akun media sosial itu bak tanah pribadi, no trespassing, sah sah aja buat posting apa aja. Mau curhat, marah marah, pamer.. siiilaahkaaan…Saran saya sih .. Jangan lebay. Sama ganti ganti topik. Beberapa orang soalnya ada yg tidak cukup santai, gemar berasumsi . Asumsi tapi disimpan sendiri sih silahkan. Paling malas, bukan sekedar berasumsi, malah manjatuhkan vonis selanjutnya menyebarkan gosip berdasarkan ya itu.. Asumsi tadi. Padahal, mana tauuu, yang ditulis tadi hanya sebuah potongan lagu, atau malah tulisan di angkot . Yang beginian, baiknya ga usah masuk era internet.. Bisa mainin atari atau nintendo aja uda bagusan, deh.. Damai dunia.

22 Nov, 2012

Advertisements

2 thoughts on “Citra, Media Sosial dan Getirnya Saya…

  1. Naaaa…. Gitu dong nulis lagi…
    Betewe… Gw cuma bisa muji elo klo perut gw kenyang… Pempek radal kayaknya asik tuh… 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s