Mulut.

  
Sometimes people hate you without any particular reasons. They just… Hate you. Maybe they don’t like you because how you behave, your face, your talk.. Even your walk.

They will always find a negative spot from whatever the things you are doing. 

  
What to do then? 

Oh why bother.  All you have to do is just sit back and relax. Universe will handle the rest.

Advertisements

Pisah.

Aksi reaksi seseorang dalam menghadapi perceraian tentu berbeda satu sama lain. Ada yang terbawa emosi dan secara frontal menunjukkannya, ada yang apapun terjadi memilih diam dan memendamnya sendiri, ada pula yang berusaha tenang dan sedapat mungkin berpikir logis.
Bagaimanapun itu, kata kata ‘cerai’ saja sudah merupakan beban dan hantaman yang cukup kuat, terutama bagi yang merasa ‘diceraikan’. Terus terang, saya sendiri merasa takjub dengan orang orang yang mampu dan berani mengucapkan kata kata itu. Apalagi akhirnya mampu mengambil inisiatif memulai proses perceraian tersebut. Saya sih terus terang, tidak punya nyali.
Namun, saya pun tidak dengan konyol mengatakan bahwa apapun yang terjadi, mau renyek bobrok babak belur, tetaplah bertahan. Ya tidak juga seperti itu.
Dalam pemikiran saya, hanya ada 3 hal yang cukup pantas untuk dijadikan alasan bercerai. 
Jika salah satu ternyata ringan tangan, melakukan KDRT baik secara mental maupun psikis, ya silakan saja, jika sudah siap. Karena itu punya potensi membahayakan jiwa raga. Kalo tekanan mental, terkadang bisalah ditahan, sih. Tinggal merubah bagaimana mindset menghadapinya. Tapi kalau sudah berani melakukan kekerasan fisik ( yang biasanya pasti diikuti pula dengan kekerasan mental ), mending keluar deh. Daripada mati? 
Jika salah satu juga terjebak dan tidak bisa keluar dari lingkaran setan zat zat addiktif seperti narkotika dan alkohol, silakan juga jika ingin mengakhiri perkawinan. Bisa siih, ada harapan untuk tetap bersama, dengan catatan pasangannya memiliki cinta dan kesabaran yang luar biasa. 
Dan yang terakhir adalah jika salah satu pihak telah menemukan kenyamanan dari orang lain, dan memutuskan meneruskan hidupnya dengan orang ke tiga tersebut. Kalau sudah begini, percuma lah diteruskan demi sebuah status : ( masih ) menikah. Dalam agama saya mengenal poligami. Tapi poligami itu pun yah berat lah dilakukan apalagi hati dan respek si suami sudah tak di istri sahnya. Bagaimana bisa berlaku adil ke depannya yang merupakan syarat dasar jika hendak berpoligami? Kecuali… Jika istri tuanya rela rela saja dimadu, ya tentu gak masyalah.
Hari gini orang orang terbiasa melakukan hal yang instan. Boro boro melibatkan keluarga dalam penyelesaian perselisihan, lah ada kok kasus di mana komunikasi putus total. Pasangannya sendiri dibiarkan menerka nerka apa yang sedang dan sekiranya akan terjadi. 
Padahal, seperti umumnya adat Timur, pada saat hendak menikah semua dilakukan sesuai SOP. Mengenal keluarganya, pelan pelan mendekatkan diri ke keluarganya, dan akhirnya meminta baik baik pada keluarganya. Maniiiiis deh. Selesai perkawinan, yang lebih banyak terjadi adalah : ‘ Dah ya. Dah selesai, saya kembalikan nih si Anu. Kita sudah tidak related lagi. Bhayyy!.’ Pahit.
Kembali ke hal yang saya jabarkan tadi, selain 3 alasan tersebut di atas, saya anggap adalah hal hal yang tidak seberapa krusial dan sebetulnya bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mufakat. Dengan catatan masing masing pihak mau menurunkan ego, dan mau introspeksi diri.
Masalahnya akan runyam jika salah satu pihak selalu merasa benar dan memiliki ekspektasi yang sangat besar pasangannya yang dianggap salah tadi melakukan hal yang dia inginkan. Apalagi jika hal tersebut tidak pernah dibicarakan sampai tuntas. Ayolah, dalam hidup ini bisa, kita dapat semua yang kita mau? Ya tentu tidak.
Mungkin ada bagian yang bisa kita tidak bisa dapat di situ, namun akhirnya kita bisa dapat lebih besar dari bagian lain. Seperti yang saya katakan tadi, tinggal atur saja mindset. 
Saya punya prinsip, sebagaimana yang selama ini berjalan di keluarga besar kami, menikah itu sekali saja seumur hidup. Soal bahagia atau tidak, ah… Bahagia itu kan tidak terletak pada orang lain. Tapi cari di diri sendiri kok. Sesimpel itu saja.
Tapi katanya it takes two, buat menjalankan sebuah hubungan ( pernikahan ). Kata kanselor saya sih, no. It takes only 1. Nah lo!

Sampe sekarang juga saya belum bisa memahami maksud dari kanselor saya tadi. Entah deh.
Yang pasti saya cuma memegang 3 alasan di atas saja, sebagai tolak ukur sanggup tidaknya meneruskan sebuah pernikahan. Ah ya ada satu lagi, yang tak kalah penting. Jika pasangan berpindah keyakinan, saya rasanya tak sanggup meneruskan pernikahan. Saya tipe yang percaya, bahwa sebaiknya dalam 1 keluarga memiliki keyakinan yang sama, biar ibadah bisa selalu bersama.
Begitu lah kira kira pandangan saya tentang kata ‘cerai’. Siapkah saya jika hal itu menimpa saya? Tentu tidak. Lah wong dengan gamblang saya katakan tadi : prinsip saya menikah itu sekali seumur hidup. 
Tapi, jalan hidup kita sudah ada yang menentukan. Takdir. Maka jika Allah mengatakan : ” kun fayakun! ” , maka saya bisa apa, selain menarik nafas dalam dalam, tahan air mata dan perasaan seraya perlahan mengucap : BISMILLAH!

Tentang SocMed.

Gue punya temen. Momentsnya mungkin 2-3x moments gue. Tapi dia berkerja, sesekali eh sering malah…nganter anak ke sekolah, masih membantu mengerjakan pekerjaan rumah, dan has a great relationship di keluarga.
Mungkin dia cuma has so many things di kepalanya, dan simply suka nulis pas di waktu jeda.
Ngoce ( baca : nulis ) di socmed itu sebagian dari bakat. Kl ga berbakat ya ude sik.. Nikmatin aja. Lapak lapak die…Gitu aja kok bawel. 

Home.

  

I once had a place I call ‘home’. The place where I found comfort, and missed while I was away. A sanctuary. Every room, every wall had their own different stories.

My babies were born there. Their first walk, the first ground they touched was in that house. It was quite big for a small family. 3 storeys, 3 bedrooms ( eventhough we used only the master bedroom, yeah..we always sleep in the same room, the 4 of us ), huge living room where we used to spend most our time , a nice pantry and a dining room.

It has semi basement floor, sometimes during wet seasons it caused us a little trouble with the waterflow when the pump didn’t work properly. 

I remembered first time we moved there from a small apartement in North Jakarta. Our things were so few they all could fit into 1 room.  Little by little, one by one, it took like more than 2 years to finally had the right furniture for every room.

The house was facing east. Every morning I always had it’s windows opened wide until around 9 a.m. I like fresh air, it feels nice.

For 11 years I had a place I call ‘home’. Those precious years. Bad, good, happiness, sadness..I cherished them all. And I remember every single moment while I was living there. I believe, home is the place where your heart is, it should connect to you. I believe it also has a soul. 

The last time I was there, I cleaned every single floor by myself. I sat for a while remembering all those beautiful moments. Before I left the house and locked the door, I closed my eyes and whispered to one of it’s wall : ‘thank you’.

After that, I was homeless…

  

If I had…

If I had the money, I’d take my kids to different holiday destinations once a year or every 2 years, instead of going to the same destination twice every year. 
If I had the money, I’d teach my kids how to do charity, instead of showering them with toys and fancy things.

If I had the money, I’d pray harder to God, so I will stay humble and be far from arrogance.

Father.

👦🏻 : ” Dalam ajaran agama begitu lo da kawin, maka lo mesti lebih nurut ama suami lo daripada bapak lo. Jadi mestinya suami lah yang kudu nomer satu. ”

👧🏻 : “…if shit happens, when marriage fails, ke mana gue dipulangkan? ”

👦🏻 : ” Mmmm. Keluarga lo? ”

👧🏻 : ” And how dare you compare atau tak menomersatukan bapak ( dan orang tua ) gue yang sudah mati2an membesarkan anak perempuannya dengan tanpa pamrih, melepas gue ke laki laki yang nerima gue ‘sudah jadi’, dan saat shit happens, laki laki tersebut melepas tanggung jawabnya mengembalikan gue lagi ke keluarga gue, yang selanjutnya mereka lagi yg akan merawat gue yg uda babak belur begitu dengan tanpa pamrih lagi di sisa umur mereka? ”

👦🏻 : …..mmmmmm.

  

Keras.

  
Seperti yang berkali kali saya katakan atau ulang ( terhadap diri saya sendiri ), bahwa terlalu letih mencari tahu tentang siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kisruhnya sebuah hubungan antara seorang laki laki dan wanita. Yang paling tepat adalah menyadari adanya sebab dan akibat.

Sibuk sibuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah itu juga gunanya buat apa? Agar yang benar ditetapkan sebagai pemenang, maka yang salah makanya harus dihukum?

Dihukum seperti apa? Sejauh apa? Mungkin jenis hukuman itu sih yang baru bisa masuk kategori abusive atau tidaknya. Misalnya dihukum tidak boleh jajan selama seminggu, atau disuruh hadep tembok yaaa ga bisa dianggap sebuah tindakan abusive sih. Kecuali disuruh hadap temboknya ampe 2 minggu ya jelas itu menyiksa.

Kalau baca kolom serial kisah hidup di media cetak, semisal ow mami ow papi, kekerasan dalam rumah tangga itu menurut gue biasanya terjadi karena beberapa sebab. Seperti terkena pengaruh zat terlarang seperti narkotika atau minuman keras. Sebab lainnya adalah salah satunya punya problem psikis dan terkadang bisa menjurus ke… rada rada sarap.

Namun, kedua sebab tersebut bermuara ke satu hal : mental yang tidak sehat.

Iyalah, kalau mentalnya sehat, ngapain juga mabuk mabukan atau teler-teleran. Mending diisi dengan aktivitas bermanfaat sebagai penyaluran emosi. Olahraga misalnya. Kalau mentalnya sehat, ngapain juga parno, posesif dan tidak percaya diri secara berkepanjangan. Mending belajar untuk lebih percaya pada orang lain dengan ikhlas. 

Sejauh apa dikatakan abusive? Paling jelas adalah kekerasan fisik, apalagi jika tanpa sebab. Contoh. Akibat pengaruh zat terlarang, ujug ujug pulang ke rumah dan tiba tiba saja ngamuk gak keruan karena anak rewel atau istri telat membukakan pintu. Memukul, menjambak, melukai, jelas adalah kekerasan. Entah laki laki atau perempuan, tetap sih menurut saya tidak pernah pantas melakukan hal hal di atas kecuali untuk membela diri.

Namun, tak kalah berbahaya adalah kekerasan mental, atau kekerasan emosi. Bahaya, meski tidak meninggalkan bekas fisik, efek traumatis dari si korban tak kalah hebat dari kekerasan fisik.

Silent treatment, termasuk kekerasan mental. Iyalah, emang enak didiamkan secara terus menerus, apalagi jika tinggal satu atap. Kalau hanya pacaran sih, terserah. Paling paling yuk dadag yuk bhayyy.. Cari pacar baru. Lah kalo sudah berkeluarga? Di mana segala segala sesuatu nya termasuk pengambilan keputusan harus selalu dibicarakan. Boro diskusi. Sekedar pamit keluar rumah pun uda enggak mau. 

Perbuatan memata matai, menuduh, mengejek, memberikan label , melarang ini itu, IMO, termasuk juga kekerasan mental. Apalagi jika mainannya ultimatum dan mengancam. Memang tidak bisa didiskusikan dulu? Agar dapat win win solution yang akhirnya semua pihak merasa nyaman.

  
Pun jika yang menjadi ‘korban’ dari kekerasan tersebut akhirnya mampu melawan, atau meluapkan emosinya secara berlebihan tidak bisa disebut kekerasan. Lah namanya juga ditekan dan merasa tertekan. Adalah di satu titik di mana akan meledak juga. Kalau bisa sabar, tenang dan diam saja, tetapi sehat walafiat jasmani dan rohaninya, maka God bless him/her. Pencerahannya di dunia nyaris mencapai titik yang sempurna. Saya sih kepingin banget bisa sabar begitu. Ada les nya nggak?

Bagi yang merasa menjadi korban pun sebaiknya berpikir ulang tentang aksi reaksi atau sebab akibat dari mengapa hal tersebut terjadi pada dirinya.

Gak usah ke ge er an merasa benar dan nelangsa, mentang mentang abis ditreakin suaminya. Lah gimana…suami pulang, istri terus merepet tentang beban hidup atau kurangnya uang belanja trus membanding bandingkan dengan tetangga, ya mesti lah senewen juga suaminya. Percaya deh. Semua pasti ada sebabnya kok. 

Contoh ekstrim lainnya, ya jangan teriak teriak sebagai korban KDRT kalau ketauan suami atau istri nya ternyata demen tebar pesona atau yang lebih parah, serong? Mo digebuk, mo dikata katai, ya sudah telan saja. Menjadi korban kekerasan kata saya, bukan prestasi lah. Sebaiknya sadari dulu : diri sendiri ada kontribusi nya atau tidak?

Namun atas alasan apapun menurut saya tak ada seorang pun yang pantas untuk mendapatkan kekerasan jenis apapun : fisik, mental/emosi, verbal. Menurut saya itu perbuatan pengecut. Menggunakan kuasa, dan kekerasan untuk menutupi kekurangan. 

Jika cukup terdidik, memiliki akhlak dan dibesarkan dengan benar, saya rasa seseorang akan berpikir 2, 3 sampai 4 kali untuk melakukan kekerasan. Buat apa? Menurut saya tidak ada hasil yang baik didapat dari itu selain hanya : memuaskan ego.
Sekian.