Keras.

  
Seperti yang berkali kali saya katakan atau ulang ( terhadap diri saya sendiri ), bahwa terlalu letih mencari tahu tentang siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kisruhnya sebuah hubungan antara seorang laki laki dan wanita. Yang paling tepat adalah menyadari adanya sebab dan akibat.

Sibuk sibuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah itu juga gunanya buat apa? Agar yang benar ditetapkan sebagai pemenang, maka yang salah makanya harus dihukum?

Dihukum seperti apa? Sejauh apa? Mungkin jenis hukuman itu sih yang baru bisa masuk kategori abusive atau tidaknya. Misalnya dihukum tidak boleh jajan selama seminggu, atau disuruh hadep tembok yaaa ga bisa dianggap sebuah tindakan abusive sih. Kecuali disuruh hadap temboknya ampe 2 minggu ya jelas itu menyiksa.

Kalau baca kolom serial kisah hidup di media cetak, semisal ow mami ow papi, kekerasan dalam rumah tangga itu menurut gue biasanya terjadi karena beberapa sebab. Seperti terkena pengaruh zat terlarang seperti narkotika atau minuman keras. Sebab lainnya adalah salah satunya punya problem psikis dan terkadang bisa menjurus ke… rada rada sarap.

Namun, kedua sebab tersebut bermuara ke satu hal : mental yang tidak sehat.

Iyalah, kalau mentalnya sehat, ngapain juga mabuk mabukan atau teler-teleran. Mending diisi dengan aktivitas bermanfaat sebagai penyaluran emosi. Olahraga misalnya. Kalau mentalnya sehat, ngapain juga parno, posesif dan tidak percaya diri secara berkepanjangan. Mending belajar untuk lebih percaya pada orang lain dengan ikhlas. 

Sejauh apa dikatakan abusive? Paling jelas adalah kekerasan fisik, apalagi jika tanpa sebab. Contoh. Akibat pengaruh zat terlarang, ujug ujug pulang ke rumah dan tiba tiba saja ngamuk gak keruan karena anak rewel atau istri telat membukakan pintu. Memukul, menjambak, melukai, jelas adalah kekerasan. Entah laki laki atau perempuan, tetap sih menurut saya tidak pernah pantas melakukan hal hal di atas kecuali untuk membela diri.

Namun, tak kalah berbahaya adalah kekerasan mental, atau kekerasan emosi. Bahaya, meski tidak meninggalkan bekas fisik, efek traumatis dari si korban tak kalah hebat dari kekerasan fisik.

Silent treatment, termasuk kekerasan mental. Iyalah, emang enak didiamkan secara terus menerus, apalagi jika tinggal satu atap. Kalau hanya pacaran sih, terserah. Paling paling yuk dadag yuk bhayyy.. Cari pacar baru. Lah kalo sudah berkeluarga? Di mana segala segala sesuatu nya termasuk pengambilan keputusan harus selalu dibicarakan. Boro diskusi. Sekedar pamit keluar rumah pun uda enggak mau. 

Perbuatan memata matai, menuduh, mengejek, memberikan label , melarang ini itu, IMO, termasuk juga kekerasan mental. Apalagi jika mainannya ultimatum dan mengancam. Memang tidak bisa didiskusikan dulu? Agar dapat win win solution yang akhirnya semua pihak merasa nyaman.

  
Pun jika yang menjadi ‘korban’ dari kekerasan tersebut akhirnya mampu melawan, atau meluapkan emosinya secara berlebihan tidak bisa disebut kekerasan. Lah namanya juga ditekan dan merasa tertekan. Adalah di satu titik di mana akan meledak juga. Kalau bisa sabar, tenang dan diam saja, tetapi sehat walafiat jasmani dan rohaninya, maka God bless him/her. Pencerahannya di dunia nyaris mencapai titik yang sempurna. Saya sih kepingin banget bisa sabar begitu. Ada les nya nggak?

Bagi yang merasa menjadi korban pun sebaiknya berpikir ulang tentang aksi reaksi atau sebab akibat dari mengapa hal tersebut terjadi pada dirinya.

Gak usah ke ge er an merasa benar dan nelangsa, mentang mentang abis ditreakin suaminya. Lah gimana…suami pulang, istri terus merepet tentang beban hidup atau kurangnya uang belanja trus membanding bandingkan dengan tetangga, ya mesti lah senewen juga suaminya. Percaya deh. Semua pasti ada sebabnya kok. 

Contoh ekstrim lainnya, ya jangan teriak teriak sebagai korban KDRT kalau ketauan suami atau istri nya ternyata demen tebar pesona atau yang lebih parah, serong? Mo digebuk, mo dikata katai, ya sudah telan saja. Menjadi korban kekerasan kata saya, bukan prestasi lah. Sebaiknya sadari dulu : diri sendiri ada kontribusi nya atau tidak?

Namun atas alasan apapun menurut saya tak ada seorang pun yang pantas untuk mendapatkan kekerasan jenis apapun : fisik, mental/emosi, verbal. Menurut saya itu perbuatan pengecut. Menggunakan kuasa, dan kekerasan untuk menutupi kekurangan. 

Jika cukup terdidik, memiliki akhlak dan dibesarkan dengan benar, saya rasa seseorang akan berpikir 2, 3 sampai 4 kali untuk melakukan kekerasan. Buat apa? Menurut saya tidak ada hasil yang baik didapat dari itu selain hanya : memuaskan ego.
Sekian. 

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s