Pisah.

Aksi reaksi seseorang dalam menghadapi perceraian tentu berbeda satu sama lain. Ada yang terbawa emosi dan secara frontal menunjukkannya, ada yang apapun terjadi memilih diam dan memendamnya sendiri, ada pula yang berusaha tenang dan sedapat mungkin berpikir logis.
Bagaimanapun itu, kata kata ‘cerai’ saja sudah merupakan beban dan hantaman yang cukup kuat, terutama bagi yang merasa ‘diceraikan’. Terus terang, saya sendiri merasa takjub dengan orang orang yang mampu dan berani mengucapkan kata kata itu. Apalagi akhirnya mampu mengambil inisiatif memulai proses perceraian tersebut. Saya sih terus terang, tidak punya nyali.
Namun, saya pun tidak dengan konyol mengatakan bahwa apapun yang terjadi, mau renyek bobrok babak belur, tetaplah bertahan. Ya tidak juga seperti itu.
Dalam pemikiran saya, hanya ada 3 hal yang cukup pantas untuk dijadikan alasan bercerai. 
Jika salah satu ternyata ringan tangan, melakukan KDRT baik secara mental maupun psikis, ya silakan saja, jika sudah siap. Karena itu punya potensi membahayakan jiwa raga. Kalo tekanan mental, terkadang bisalah ditahan, sih. Tinggal merubah bagaimana mindset menghadapinya. Tapi kalau sudah berani melakukan kekerasan fisik ( yang biasanya pasti diikuti pula dengan kekerasan mental ), mending keluar deh. Daripada mati? 
Jika salah satu juga terjebak dan tidak bisa keluar dari lingkaran setan zat zat addiktif seperti narkotika dan alkohol, silakan juga jika ingin mengakhiri perkawinan. Bisa siih, ada harapan untuk tetap bersama, dengan catatan pasangannya memiliki cinta dan kesabaran yang luar biasa. 
Dan yang terakhir adalah jika salah satu pihak telah menemukan kenyamanan dari orang lain, dan memutuskan meneruskan hidupnya dengan orang ke tiga tersebut. Kalau sudah begini, percuma lah diteruskan demi sebuah status : ( masih ) menikah. Dalam agama saya mengenal poligami. Tapi poligami itu pun yah berat lah dilakukan apalagi hati dan respek si suami sudah tak di istri sahnya. Bagaimana bisa berlaku adil ke depannya yang merupakan syarat dasar jika hendak berpoligami? Kecuali… Jika istri tuanya rela rela saja dimadu, ya tentu gak masyalah.
Hari gini orang orang terbiasa melakukan hal yang instan. Boro boro melibatkan keluarga dalam penyelesaian perselisihan, lah ada kok kasus di mana komunikasi putus total. Pasangannya sendiri dibiarkan menerka nerka apa yang sedang dan sekiranya akan terjadi. 
Padahal, seperti umumnya adat Timur, pada saat hendak menikah semua dilakukan sesuai SOP. Mengenal keluarganya, pelan pelan mendekatkan diri ke keluarganya, dan akhirnya meminta baik baik pada keluarganya. Maniiiiis deh. Selesai perkawinan, yang lebih banyak terjadi adalah : ‘ Dah ya. Dah selesai, saya kembalikan nih si Anu. Kita sudah tidak related lagi. Bhayyy!.’ Pahit.
Kembali ke hal yang saya jabarkan tadi, selain 3 alasan tersebut di atas, saya anggap adalah hal hal yang tidak seberapa krusial dan sebetulnya bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mufakat. Dengan catatan masing masing pihak mau menurunkan ego, dan mau introspeksi diri.
Masalahnya akan runyam jika salah satu pihak selalu merasa benar dan memiliki ekspektasi yang sangat besar pasangannya yang dianggap salah tadi melakukan hal yang dia inginkan. Apalagi jika hal tersebut tidak pernah dibicarakan sampai tuntas. Ayolah, dalam hidup ini bisa, kita dapat semua yang kita mau? Ya tentu tidak.
Mungkin ada bagian yang bisa kita tidak bisa dapat di situ, namun akhirnya kita bisa dapat lebih besar dari bagian lain. Seperti yang saya katakan tadi, tinggal atur saja mindset. 
Saya punya prinsip, sebagaimana yang selama ini berjalan di keluarga besar kami, menikah itu sekali saja seumur hidup. Soal bahagia atau tidak, ah… Bahagia itu kan tidak terletak pada orang lain. Tapi cari di diri sendiri kok. Sesimpel itu saja.
Tapi katanya it takes two, buat menjalankan sebuah hubungan ( pernikahan ). Kata kanselor saya sih, no. It takes only 1. Nah lo!

Sampe sekarang juga saya belum bisa memahami maksud dari kanselor saya tadi. Entah deh.
Yang pasti saya cuma memegang 3 alasan di atas saja, sebagai tolak ukur sanggup tidaknya meneruskan sebuah pernikahan. Ah ya ada satu lagi, yang tak kalah penting. Jika pasangan berpindah keyakinan, saya rasanya tak sanggup meneruskan pernikahan. Saya tipe yang percaya, bahwa sebaiknya dalam 1 keluarga memiliki keyakinan yang sama, biar ibadah bisa selalu bersama.
Begitu lah kira kira pandangan saya tentang kata ‘cerai’. Siapkah saya jika hal itu menimpa saya? Tentu tidak. Lah wong dengan gamblang saya katakan tadi : prinsip saya menikah itu sekali seumur hidup. 
Tapi, jalan hidup kita sudah ada yang menentukan. Takdir. Maka jika Allah mengatakan : ” kun fayakun! ” , maka saya bisa apa, selain menarik nafas dalam dalam, tahan air mata dan perasaan seraya perlahan mengucap : BISMILLAH!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s