Letting go.

  

Advertisements

The curse of having fair skin in Indonesia.

– People often assume you have more money.

– You end up buy more things because any color will suit you.

– Eye catching, it’s hard to play hide and seek. Or having an affair. ( what the hell am I writing here?! )

– Prone to skin problems , especially hyperpigmentation.

– One single zit, enough to ruin your face.

– They say physically, fair skin people are not as strong as people with dark skin. 

 

Menjadi ibu.

Dulu, saya merasa saya bukanlah orang yang memiliki naluri keibuan. Saat berhadapan dengan anak kecil, I didn’t know what to do. Bingung aja mesti gimana, dan mau diapain seonggok daging bernyawa dengan wajah polos di hadapan saya.
Saat saya mencoba bercanda dengan memberi senyum, atau pasang mimik lucu, yang ada anaknya malah mau nangis. Mungkin senyum saya lebih mirip menyeringai, ya?
Saat saya berumur 12 tahun, yaaa kira kira menjelang usia masuk SMP, saya dikejutkan dengan kedatangan seorang adik baru.
Saat itu mungkin anak anak tidak sematang.. Eh maaf, dipaksa matang seperti anak anak sekarang. Jadi I had no idea that my mom was pregnant, dan bakal ada sebentuk makhluk mungil yang tak berdaya hadir di antara kami.
Ibu tidak pernah memiliki pembantu. Paling banter, tukang cuci setrika yang datang siang, dan pulang saat menjelang sore. Dengan dua orang anak dan seorang bayi, tentu lumayan berat beban yang ia pikul sehari harinya. Bisa, terhandle semua? Dari memasak, mengurus rumah, mencuci, mengurus 3 anak sekaligus? Ya tentu tidak. Alhasil terkadang saya lah yang di usia yang masih demen demennya main itu diminta Ibu ikut membantu mengurus adik bayi. Aduh, bikin ribet saja, pikir saya saat itu.
Rasa…uhmm…anggaplah ketidaksukaan saya terhadap anak anak terbawa sampai dewasa. Saya cenderung melipir, begitu tahu di dekat situ banyak anak anak kecil. Apalagi jika mendengar mereka berteriak atau menangis. Atau melihat anak kecil yang kotor dengan hidung beringus. Hiiy! Jijai.
Sampai suatu ketika saya dihadapkan dengan suatu kenyataan : bahwa setiap orang terutama wanita harus menikah. Baiklah, saya menikah di usia yang sebenarnya lagi lucu lucunya. 23 tahun.
Setelah menikah lalu apa? Tentu ke langkah selanjutnya : memberikan keturunan. Yang artinya , akan ada seorang baby. Or babies.
1 tahun 4 bulan kemudian setelah tarik ulur dengan alasan ‘belum siap’, tibalah masa itu. Saya hamil. Hahaha… Tahu tidak? 3 hari berturut turut saya mewek. Nangis sesenggrukan saat melihat 2 garis merah di test pack.
Bagaimana tidak merasa takut, panik dan bingung, lhaa.. Selama ini saya cenderung menghindari anak kecil? Bagaimana saya bisa jadi ibu yang baik? Bagaimana jika kelak saya tidak tahu mau diapakan anak itu saat lahir nanti? Aduuh, stress!
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Hingga tiba hari itu, 2 hari menjelang 21 Oktober 2001. Begitu ya, rasanya kontraksi? Astagaaa.. Saat itu tak ada hal lain yang ingin saya lakukan kecualu mencium kaki ibu saya. Minta ampuuuun ibu, rasanya.
Selama 2 malam itu tidak mampu saya memicingkan mata. Bagaimana tidak, setiap 3-5 menit sekali timbul serangan mulas yang meski tidak terlalu hebat, namun cukup mengganggu. Alhasil, saya menyerah..Dok, belek aja ‘Dok… Alias operasi.
Kontraksi selama 2 malam itu membuat saya berpikir, oh mungkin di kehamilan ke dua, saya akan lebih ‘pintar’, sehingga bisa melahirkan dengan jalan normal. Ternyaaaata, kontraksi yang sama datang 4 hari sebelum lahirnya anak ke dua saya pada tanggal 23 Februari 2008. Saya kembali menyerah dan membiarkan pisau bedah membelah perut saya untuk kedua kalinya.
Setelah menjadi ibu, perubahan besar pun terjadi. Sebagai ibu baru, tentu saya masih idealis dan sedikit sok tahu. Anak pertama saya putuskan untuk saya rawat sendiri, tanpa bantuan pembantu atau suster. Pegal? Tentu. Makanya dalam 8 bulan pasca melahirkan bobot saya sudah kembali ke angka semula setelah mengalami kenaikan 17kg.
Saya hanya mampu rehat sejenak saat suami pulang kerja atau saat orang tua dari kampung datang melawat ke Jakarta.
Anak ke dua lebih ringan saya merawatnya. Setelah anak pertama saya berumur 3.5 tahun, kami memiliki seorang pembantu rumah tangga yang saat saya menulis ini, masih berkerja pada kami. Jadi, lumayan terbantulah saya. Makanya bobot yang melonjak hingga 18 kilo baru turun setelah lebih dari 3 tahun dan itupun dengan berbagai intervensi, hahaha.
Sekarang dua orang anak saya ini sudah besar besar. Laki laki semua. Dengan watak yang berbeda, meski keluar dari perut yang sama. Dalam membesarkan mereka, rasanya indah indah saja. Meski si Kakak sempat mengalami keterlambatan bicara dan divonis ADHD. Atau si Adik yang ternyata sensitif alergi yang menyebabkan saat bayi kondisinya rentan dengan flu dan batuk. Saat itu Adik tidak memiliki umumnya bau bayi yakni : bedak dan minyak telon. Boro boro, untuk mandi aja tidak bisa dengan sabun bersoda.
Saya tidak mengatakan bahwa saya sekarang berubah menjadi orang yang mencintai anak anak. Dalam beberapa hal, saya masih kagok terutama saat berhadapan dengan anak perempuan. Sedikit lebih gampang menghadapi anak laki laki, karena selain anak anak saya juga laki laki, saya pun lumayan jauh dari sifat yang ‘girlie‘.
Namun paling tidak, sekarang I know what to do jika ada seorang bayi, atau anak di hadapan saya. Senyum saya pada mereka mungkin sudah tidak menyeringai lagi. Sorot mata saya mungkin sudah tidak bingung lagi. Karena pada saat mata saya menatap anak anak saya, ada cinta yang luar biasa yang secara otomatis saya curahkan melaluinya. Dan itu menetap.
Jika ada satu hal yang paling utama yang harus saya syukuri, maka saya bersujud syukur atas karunia yang satu ini. Di sini saya mengenal cinta tanpa syarat. Dan semakin saya mencintai anak anak saya, semakin pula rasa hormat, sayang dan terimakasih saya terhadap orangtua.
It’s tough being parents. It’s not always easy. But it’s well worth it.

Aku dan cinta.

Aku hanya tahu cinta yang sederhana. Saat benakku memelankan suara suara gaduh di dalamnya. Perlahan lahan kegaduhan itu berubah menjadi alunan sebuah simfoni, ah bukan…
Bukan sebuah simfoni, masih terlalu banyak instrumen di dalamnya. A Lullaby. Lagu pengantar tidur, yang mesti hanya berupa gumam halus namun bisa membuatku berpikir, sudah. Berhenti lah sejenak.
Aku hanya tahu cinta yang sederhana. Saat hatiku tenang berada di dekatnya. Nyaman meski tanpa lembaran kertas berharga dan makanan melimpah di sebuah resto mewah. Entah bagaimana caranya, sebuah getar halus membuat hatiku berkata, aku percaya padanya.
Aku hanya tahu cinta yang sederhana. Saat telingaku mendengar 3 kata : rindu, sayang dan maaf. Tak perlu bak pujangga. Aku mampu rasakan mana yang tulus mana yang merupakan akal bulus.
Aku hanya tahu cinta yang sederhana. Saat mataku menatap padanya, aku tahu dia ada. Rupa mendadak menjadi hal yang tak penting lagi. Jika itu cinta, semua makhlukNya akan terlihat sempurna. Dan saat mata itu menatap kembali padaku, sejenak rasa hangat mengalir di setiap denyut nadiku. Karena kutahu dia akan selalu ada.
Dan aku tahu itu cinta. Saat semua belenggu yang terangkai atas nama cinta, kulakukan dengan suka cita. Kerelaan yang tiada kupaksa, karena kumau ia tetap ada.
   

Words of wisdom.

My papa said, never let money control your life. Not everything in this world can be measured by numbers. For instance, love and good relationship with families and friends. No matter how much money you have, if you don’t invest in it, you will always feel lonely and insecure.
  

Tembok batu.

Kau tahu,

Aku tak pernah mengenal cinta yang utuh sebelum ku akrab dengan sapamu.

Ah apalah cinta itu, pikirku.

Semacam salam pembuka demi rentetan pergumulan nafsu.

Atau sebuah kontrak kepemilikan bahwa aku punyamu.

Padahal belum tentu kau utuh milikku.

Atau sebuah proses jual beli, aku beri itu padamu

Kau beri apa untukku?

Ketika kau sapa aku

Benakku masih kelu

Kupikir, ah kau hanya orang baru

Sebentar datang nanti juga berlalu

Ternyata kau tetap berdiri di tempatmu

Kau bilang, saat kau butuh aku

Aku ada untukmu

Kukatakan aku sudah tak utuh
Sayapku rapuh 

Tak apa, katamu

Aku tetap ada untukmu

Di situ aku tahu

Kau memang tak mungkin sembuhkan sayapku

Aku harus balut sendiri lukaku

Tapi kau akan bantu aku melewati itu

Dan itu cukup untukku

Bahwa kau ada di situ

  

Curhat.

    
Suatu ketika, seseorang berkata pada saya. Dalam menghadapi masalah sebaiknya tidak perlu banyak bicara. Diam saja, nikmati dan perbanyak doa dan memohon bantuan Tuhan. Curhatnya sama Tuhan saja.

Katanya, belum tentu orang yang kita ajak bicara sebenarnya sungguh sungguh ingin membantu kita.
Katanya, kebanyakan dari mereka hanya ingin tahu atau kepo doang kok. Tak jarang meneruskan apa yang kita curhatkan tadi untuk dijadikan bahan gosipan, baik dengan sengaja ataupun tanpa sengaja.
Benar juga sih. 
Tapi tidak sepenuhnya saya akan ikuti. Mungkin bagi sebagian orang, saya ini ndableg. Terlalu cuek.
Kalo cuma masalah orang yang saya curhati tadi memanjangkan lidahnya, dan akhirnya isi curhatan saya tadi tersebar, I don’t really care. Bagi saya itu resiko. Kenapa curhat dengan yang bisa bicara. Kenapa tidak dengan tembok aja.
Rasanya saya belum pernah deh, menyimpan rapat rapat sebuah masalah. Paling tidak nih, ada satu orang yang saya ajak bicara. Entah siapapun itu, keluarga, teman, atau bahkan seorang di pusat kebugaran yang bertemunya cuma sesekali saja. Bagaimana feeling dan mood saja. Saya memang butuh mengadu pada Tuhan…uhmm lebih tepatnya meminta sih. Karena setiap kali saya bersujud kepadaNya saat menghadapi masalah, saya lebih banyak meminta. Meminta untuk dikuatkan dalam iman, ditenangkan hati, dilapangkan dada dan dijernihkan pikiran. Selalu begitu.

Sesudah tenang, jernih, disitulah saya butuh sparing partner, teman bertukar pikiran. Curhatlah saya, kepada seseorang. Terkadang saya hanya perlu merasa didengarkan. Terkadang memang saya butuh saran, bahkan beberapa saran yang akan saya pilah mana yang tepat untuk saya ikuti, dan mana yang tidak.
Saya pun pernah, atau sering, mendengar curahan hati seseorang. Macam macam deh. Dari masalah gak cocok mertua, pasangan, anak, akan bercerai, pasca bercerai, punya 2 istri, punya selingkuhan, diselingkuhi, urusan ranjang, urusan ekonomi, pekerjaan, dan sebagainya. Dengan banyak mendengar , menatap muka dan berinteraksi dengan berbagai tipe orang, dari yang modelan difensif, drama queen, pasif, egois, agamis, teoritis, pesimistis, mistis dan is is lainnya, tanpa saya sadari saya makin terampil mengenali karakteristik orang. 
Saat mendengarkan..singkatnya saya sebut saat sedang menjadi bak sampah..eh jangan deh. Kesian juga saat masalah orang kita anggap adalah ‘sampah’. Kalo gitu saya ralat lagi. Saat sedang mendengarkan cerita dan keluh kesah seseorang hal yang pertama saya perhatikan adalah pemilihan subyek yang orang tersebut pakai.
Kalo lebih banyak ‘dia'( berlaku juga untuk ‘mereka’), oh orang ini tipenya butuh validasi dan dukungan. Isinya menudiiiiing mulu. Dia gak begini, dia gak begitu, dia beginiin gue, dia anu, itu , ini.. Kalo yang begini, biasanya saya banyak ho-oh aja. Simpel, meski misalnya saya mengenal orang yang disebut si Dia itu, tapi kan saya bukan si Anu yang berada di depan saya ini. Tidak melihat dengan pasti apa yang si Dia ini lakukan terhadap si Anu.
Saya amat mempercayai tentang adanya chemistry. Setiap orang memiliki memiliki vibrasi nya sendiri. Saat bertemu dengan manusia manusia lain , yang tentunya memiliki vibrasi mereka masing masing, di situ lah baru terbentuk ramuan kimiawi itu. Kalo cocok, jadi lah hasil yang baik, ibarat hidrogen dan oksigen , karena klop jadi lah H2O alias air. 
Seperti itulah hubungan antar manusia. Pada dasarnya sih, sifat dasar dan watak asli seseorang itu pasti ada, dan tetap akan muncul segimana pun jaimnya. Namun bagaimana dan segimana  watak aslinya muncul, ya tergantung vibrasi. Vibrasi si Anu dangan Si Dia pasti berbeda dengan dengan vibrasi saya dan si Dia. Jelas berbeda juga pasti bagaimana si Dia membawa dirinya di depan  si Anu, yang notabene adalah pasangannya, dengan seorang saya yang bukan siapa siapa. 

Berakar dari situ, saya selalu menempatkan diri saya di posisi senetral-netralnya. Saya tidak menelan bulat bulat image si Dia yang sedang dibuat si Anu. 
Sama juga sih jika si Anu lebih sering memakai kata aku/saya/gue. Tapi ini cenderung sedikit lebih nyaman sih di kuping saya ketimbang ucapan menuding dengan memakai dia. Tergantung kalimat berikutnya ya. 
Kalo ‘aku’-nya difensif, misalnya : gue uda begini, gue uda begitu, gue orangnya anu..ini..itu..ana… Ya malas juga. Narsistik banget. Sama juga, butuh validasi : SAYA BENAR , DIA SALAH.
Kan cape. Dalam satu perselisihan, baik pertemanan, percintaan, hubungan keluarga kalo mau ribet menarik benang kusut nya dari permulaan, niscaya tidak ada yang benar benar salah maupun salah salah benar. Bingung? Iya, saya juga.
Selama ini, saya sering melihat bahwa yang dicurhati sering terbawa dengan cerita yang sedang curhat. Apalagi jika mereka sama sama perempuan . Sudah pada dasarnya, perempuan memiliki solidaritas yang tinggi terhadap sesama perempuan ( apalagi yang kisahnya sedang terzolimi / teraniaya ). Makanya kadang kita sering lihat kan, yang berantem siapa sama siapa, yang musuhin bisa satu geng. Tidak seperti kaum laki laki yang bisa lebih netral dan logis. 

Lah terus bagaimana dengan lintas jender?  Perempuan kan dasarnya memang gemar curhat, ya pas pas aja curhatnya ke kaum laki laki yang sifat dasarnya melindungi. Palingan dari curhat jadi suka sukaan. Lumrah. Yang gawat kalo salah satu atau dua duanya sudah memiliki pasangan. Makanyaaa… Kalo bisa hindarilah curhat lintas jender gini. Apalagi kalo yang jadi pelacur ( pelan pelan curhat ) yang laki. Waaaaaah… Lebih parahnya lagi, kalo sampai curhatnya di depan lebih dari 1 perempuan pulak, di momen arisan pula. Hedeeuh…amit amit.

Saya sebagai seorang manusia, perempuan pula, dan pasti juga gemar curhat ( dan bergunjing..ouch! ), biasanya menggunakan ‘aku’ setelah ‘dia’ dalam sebuah sesi curhat.
Wah bagaimana tuh maksudnya?
Begini lo, saya kalo curhat ( walaupun berusaha mati matian untuk tidak melakukan) tak urung tetap juga keceplosan menuding. Dia ini , dia bikin itu, masa dia ngomong gitu, dia giniin gue, dia..dia..dia…Sesudahnya, baru deh saya kembalikan ke ‘aku’.
Lah aku yang bagaimana? Ya jangan yang narsistik. Percaya deh. Segimana pun kita menaruh harga akan diri kita, tiap orang tetap punya penilaian dan skor sendiri kok, tentang diri kita. 

Coba dengan : mungkin karena gue begini ya. Gue juga kali ya yang salah. Iya sih, gue agak keterlaluan. Jangan jangan karena gue begitu ya? 
Nah kira kira seperti itu. Menurut saya, setelah sibuk menuding orang, jangan lupa pula bercermin. Mungkin kita pun memiliki andil mengapa kita bisa mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Jangan lupa, hidup itu bukan tentang benar atau salah. Tetapi sebab akibat. Pikirkan saja seperti itu, jika ingin menemukan kedamaian hati.
Pleuuus, yang dengerin curhatpun, akan lebih bisa berempati dengan lebih jernih. Dan mungkin, jika diperlukan, akan bisa memberikan saran dengan lebih netral.

Begitulah kira kira pendapat saya.

Sekian.