Curhat.

    
Suatu ketika, seseorang berkata pada saya. Dalam menghadapi masalah sebaiknya tidak perlu banyak bicara. Diam saja, nikmati dan perbanyak doa dan memohon bantuan Tuhan. Curhatnya sama Tuhan saja.

Katanya, belum tentu orang yang kita ajak bicara sebenarnya sungguh sungguh ingin membantu kita.
Katanya, kebanyakan dari mereka hanya ingin tahu atau kepo doang kok. Tak jarang meneruskan apa yang kita curhatkan tadi untuk dijadikan bahan gosipan, baik dengan sengaja ataupun tanpa sengaja.
Benar juga sih. 
Tapi tidak sepenuhnya saya akan ikuti. Mungkin bagi sebagian orang, saya ini ndableg. Terlalu cuek.
Kalo cuma masalah orang yang saya curhati tadi memanjangkan lidahnya, dan akhirnya isi curhatan saya tadi tersebar, I don’t really care. Bagi saya itu resiko. Kenapa curhat dengan yang bisa bicara. Kenapa tidak dengan tembok aja.
Rasanya saya belum pernah deh, menyimpan rapat rapat sebuah masalah. Paling tidak nih, ada satu orang yang saya ajak bicara. Entah siapapun itu, keluarga, teman, atau bahkan seorang di pusat kebugaran yang bertemunya cuma sesekali saja. Bagaimana feeling dan mood saja. Saya memang butuh mengadu pada Tuhan…uhmm lebih tepatnya meminta sih. Karena setiap kali saya bersujud kepadaNya saat menghadapi masalah, saya lebih banyak meminta. Meminta untuk dikuatkan dalam iman, ditenangkan hati, dilapangkan dada dan dijernihkan pikiran. Selalu begitu.

Sesudah tenang, jernih, disitulah saya butuh sparing partner, teman bertukar pikiran. Curhatlah saya, kepada seseorang. Terkadang saya hanya perlu merasa didengarkan. Terkadang memang saya butuh saran, bahkan beberapa saran yang akan saya pilah mana yang tepat untuk saya ikuti, dan mana yang tidak.
Saya pun pernah, atau sering, mendengar curahan hati seseorang. Macam macam deh. Dari masalah gak cocok mertua, pasangan, anak, akan bercerai, pasca bercerai, punya 2 istri, punya selingkuhan, diselingkuhi, urusan ranjang, urusan ekonomi, pekerjaan, dan sebagainya. Dengan banyak mendengar , menatap muka dan berinteraksi dengan berbagai tipe orang, dari yang modelan difensif, drama queen, pasif, egois, agamis, teoritis, pesimistis, mistis dan is is lainnya, tanpa saya sadari saya makin terampil mengenali karakteristik orang. 
Saat mendengarkan..singkatnya saya sebut saat sedang menjadi bak sampah..eh jangan deh. Kesian juga saat masalah orang kita anggap adalah ‘sampah’. Kalo gitu saya ralat lagi. Saat sedang mendengarkan cerita dan keluh kesah seseorang hal yang pertama saya perhatikan adalah pemilihan subyek yang orang tersebut pakai.
Kalo lebih banyak ‘dia'( berlaku juga untuk ‘mereka’), oh orang ini tipenya butuh validasi dan dukungan. Isinya menudiiiiing mulu. Dia gak begini, dia gak begitu, dia beginiin gue, dia anu, itu , ini.. Kalo yang begini, biasanya saya banyak ho-oh aja. Simpel, meski misalnya saya mengenal orang yang disebut si Dia itu, tapi kan saya bukan si Anu yang berada di depan saya ini. Tidak melihat dengan pasti apa yang si Dia ini lakukan terhadap si Anu.
Saya amat mempercayai tentang adanya chemistry. Setiap orang memiliki memiliki vibrasi nya sendiri. Saat bertemu dengan manusia manusia lain , yang tentunya memiliki vibrasi mereka masing masing, di situ lah baru terbentuk ramuan kimiawi itu. Kalo cocok, jadi lah hasil yang baik, ibarat hidrogen dan oksigen , karena klop jadi lah H2O alias air. 
Seperti itulah hubungan antar manusia. Pada dasarnya sih, sifat dasar dan watak asli seseorang itu pasti ada, dan tetap akan muncul segimana pun jaimnya. Namun bagaimana dan segimana  watak aslinya muncul, ya tergantung vibrasi. Vibrasi si Anu dangan Si Dia pasti berbeda dengan dengan vibrasi saya dan si Dia. Jelas berbeda juga pasti bagaimana si Dia membawa dirinya di depan  si Anu, yang notabene adalah pasangannya, dengan seorang saya yang bukan siapa siapa. 

Berakar dari situ, saya selalu menempatkan diri saya di posisi senetral-netralnya. Saya tidak menelan bulat bulat image si Dia yang sedang dibuat si Anu. 
Sama juga sih jika si Anu lebih sering memakai kata aku/saya/gue. Tapi ini cenderung sedikit lebih nyaman sih di kuping saya ketimbang ucapan menuding dengan memakai dia. Tergantung kalimat berikutnya ya. 
Kalo ‘aku’-nya difensif, misalnya : gue uda begini, gue uda begitu, gue orangnya anu..ini..itu..ana… Ya malas juga. Narsistik banget. Sama juga, butuh validasi : SAYA BENAR , DIA SALAH.
Kan cape. Dalam satu perselisihan, baik pertemanan, percintaan, hubungan keluarga kalo mau ribet menarik benang kusut nya dari permulaan, niscaya tidak ada yang benar benar salah maupun salah salah benar. Bingung? Iya, saya juga.
Selama ini, saya sering melihat bahwa yang dicurhati sering terbawa dengan cerita yang sedang curhat. Apalagi jika mereka sama sama perempuan . Sudah pada dasarnya, perempuan memiliki solidaritas yang tinggi terhadap sesama perempuan ( apalagi yang kisahnya sedang terzolimi / teraniaya ). Makanya kadang kita sering lihat kan, yang berantem siapa sama siapa, yang musuhin bisa satu geng. Tidak seperti kaum laki laki yang bisa lebih netral dan logis. 

Lah terus bagaimana dengan lintas jender?  Perempuan kan dasarnya memang gemar curhat, ya pas pas aja curhatnya ke kaum laki laki yang sifat dasarnya melindungi. Palingan dari curhat jadi suka sukaan. Lumrah. Yang gawat kalo salah satu atau dua duanya sudah memiliki pasangan. Makanyaaa… Kalo bisa hindarilah curhat lintas jender gini. Apalagi kalo yang jadi pelacur ( pelan pelan curhat ) yang laki. Waaaaaah… Lebih parahnya lagi, kalo sampai curhatnya di depan lebih dari 1 perempuan pulak, di momen arisan pula. Hedeeuh…amit amit.

Saya sebagai seorang manusia, perempuan pula, dan pasti juga gemar curhat ( dan bergunjing..ouch! ), biasanya menggunakan ‘aku’ setelah ‘dia’ dalam sebuah sesi curhat.
Wah bagaimana tuh maksudnya?
Begini lo, saya kalo curhat ( walaupun berusaha mati matian untuk tidak melakukan) tak urung tetap juga keceplosan menuding. Dia ini , dia bikin itu, masa dia ngomong gitu, dia giniin gue, dia..dia..dia…Sesudahnya, baru deh saya kembalikan ke ‘aku’.
Lah aku yang bagaimana? Ya jangan yang narsistik. Percaya deh. Segimana pun kita menaruh harga akan diri kita, tiap orang tetap punya penilaian dan skor sendiri kok, tentang diri kita. 

Coba dengan : mungkin karena gue begini ya. Gue juga kali ya yang salah. Iya sih, gue agak keterlaluan. Jangan jangan karena gue begitu ya? 
Nah kira kira seperti itu. Menurut saya, setelah sibuk menuding orang, jangan lupa pula bercermin. Mungkin kita pun memiliki andil mengapa kita bisa mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Jangan lupa, hidup itu bukan tentang benar atau salah. Tetapi sebab akibat. Pikirkan saja seperti itu, jika ingin menemukan kedamaian hati.
Pleuuus, yang dengerin curhatpun, akan lebih bisa berempati dengan lebih jernih. Dan mungkin, jika diperlukan, akan bisa memberikan saran dengan lebih netral.

Begitulah kira kira pendapat saya.

Sekian.

Advertisements

4 thoughts on “Curhat.

  1. Setuju2, kadang orang terlalu ego menarik kesimpulan maslah dari satu perspektif, padahal masih banyak patahan puzle lainnya yang harus dirangkai supaya jelas dan terlihat fokus penyebabnya ada dimana. Teoritis, tp harusnya seperti itu haha

    Like

    1. Yah gitu dueeh.. Lebih gampang menjatuhkan vonis, ketimbang mencoba menganalisa . Katanya, emang ga kurang banyak, apah masalah gua? Kita hidup dengan backgound ribet sehingga benak letih karena di dalamnya sudah terlalu ribut..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s