Menjadi ibu.

Dulu, saya merasa saya bukanlah orang yang memiliki naluri keibuan. Saat berhadapan dengan anak kecil, I didn’t know what to do. Bingung aja mesti gimana, dan mau diapain seonggok daging bernyawa dengan wajah polos di hadapan saya.
Saat saya mencoba bercanda dengan memberi senyum, atau pasang mimik lucu, yang ada anaknya malah mau nangis. Mungkin senyum saya lebih mirip menyeringai, ya?
Saat saya berumur 12 tahun, yaaa kira kira menjelang usia masuk SMP, saya dikejutkan dengan kedatangan seorang adik baru.
Saat itu mungkin anak anak tidak sematang.. Eh maaf, dipaksa matang seperti anak anak sekarang. Jadi I had no idea that my mom was pregnant, dan bakal ada sebentuk makhluk mungil yang tak berdaya hadir di antara kami.
Ibu tidak pernah memiliki pembantu. Paling banter, tukang cuci setrika yang datang siang, dan pulang saat menjelang sore. Dengan dua orang anak dan seorang bayi, tentu lumayan berat beban yang ia pikul sehari harinya. Bisa, terhandle semua? Dari memasak, mengurus rumah, mencuci, mengurus 3 anak sekaligus? Ya tentu tidak. Alhasil terkadang saya lah yang di usia yang masih demen demennya main itu diminta Ibu ikut membantu mengurus adik bayi. Aduh, bikin ribet saja, pikir saya saat itu.
Rasa…uhmm…anggaplah ketidaksukaan saya terhadap anak anak terbawa sampai dewasa. Saya cenderung melipir, begitu tahu di dekat situ banyak anak anak kecil. Apalagi jika mendengar mereka berteriak atau menangis. Atau melihat anak kecil yang kotor dengan hidung beringus. Hiiy! Jijai.
Sampai suatu ketika saya dihadapkan dengan suatu kenyataan : bahwa setiap orang terutama wanita harus menikah. Baiklah, saya menikah di usia yang sebenarnya lagi lucu lucunya. 23 tahun.
Setelah menikah lalu apa? Tentu ke langkah selanjutnya : memberikan keturunan. Yang artinya , akan ada seorang baby. Or babies.
1 tahun 4 bulan kemudian setelah tarik ulur dengan alasan ‘belum siap’, tibalah masa itu. Saya hamil. Hahaha… Tahu tidak? 3 hari berturut turut saya mewek. Nangis sesenggrukan saat melihat 2 garis merah di test pack.
Bagaimana tidak merasa takut, panik dan bingung, lhaa.. Selama ini saya cenderung menghindari anak kecil? Bagaimana saya bisa jadi ibu yang baik? Bagaimana jika kelak saya tidak tahu mau diapakan anak itu saat lahir nanti? Aduuh, stress!
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Hingga tiba hari itu, 2 hari menjelang 21 Oktober 2001. Begitu ya, rasanya kontraksi? Astagaaa.. Saat itu tak ada hal lain yang ingin saya lakukan kecualu mencium kaki ibu saya. Minta ampuuuun ibu, rasanya.
Selama 2 malam itu tidak mampu saya memicingkan mata. Bagaimana tidak, setiap 3-5 menit sekali timbul serangan mulas yang meski tidak terlalu hebat, namun cukup mengganggu. Alhasil, saya menyerah..Dok, belek aja ‘Dok… Alias operasi.
Kontraksi selama 2 malam itu membuat saya berpikir, oh mungkin di kehamilan ke dua, saya akan lebih ‘pintar’, sehingga bisa melahirkan dengan jalan normal. Ternyaaaata, kontraksi yang sama datang 4 hari sebelum lahirnya anak ke dua saya pada tanggal 23 Februari 2008. Saya kembali menyerah dan membiarkan pisau bedah membelah perut saya untuk kedua kalinya.
Setelah menjadi ibu, perubahan besar pun terjadi. Sebagai ibu baru, tentu saya masih idealis dan sedikit sok tahu. Anak pertama saya putuskan untuk saya rawat sendiri, tanpa bantuan pembantu atau suster. Pegal? Tentu. Makanya dalam 8 bulan pasca melahirkan bobot saya sudah kembali ke angka semula setelah mengalami kenaikan 17kg.
Saya hanya mampu rehat sejenak saat suami pulang kerja atau saat orang tua dari kampung datang melawat ke Jakarta.
Anak ke dua lebih ringan saya merawatnya. Setelah anak pertama saya berumur 3.5 tahun, kami memiliki seorang pembantu rumah tangga yang saat saya menulis ini, masih berkerja pada kami. Jadi, lumayan terbantulah saya. Makanya bobot yang melonjak hingga 18 kilo baru turun setelah lebih dari 3 tahun dan itupun dengan berbagai intervensi, hahaha.
Sekarang dua orang anak saya ini sudah besar besar. Laki laki semua. Dengan watak yang berbeda, meski keluar dari perut yang sama. Dalam membesarkan mereka, rasanya indah indah saja. Meski si Kakak sempat mengalami keterlambatan bicara dan divonis ADHD. Atau si Adik yang ternyata sensitif alergi yang menyebabkan saat bayi kondisinya rentan dengan flu dan batuk. Saat itu Adik tidak memiliki umumnya bau bayi yakni : bedak dan minyak telon. Boro boro, untuk mandi aja tidak bisa dengan sabun bersoda.
Saya tidak mengatakan bahwa saya sekarang berubah menjadi orang yang mencintai anak anak. Dalam beberapa hal, saya masih kagok terutama saat berhadapan dengan anak perempuan. Sedikit lebih gampang menghadapi anak laki laki, karena selain anak anak saya juga laki laki, saya pun lumayan jauh dari sifat yang ‘girlie‘.
Namun paling tidak, sekarang I know what to do jika ada seorang bayi, atau anak di hadapan saya. Senyum saya pada mereka mungkin sudah tidak menyeringai lagi. Sorot mata saya mungkin sudah tidak bingung lagi. Karena pada saat mata saya menatap anak anak saya, ada cinta yang luar biasa yang secara otomatis saya curahkan melaluinya. Dan itu menetap.
Jika ada satu hal yang paling utama yang harus saya syukuri, maka saya bersujud syukur atas karunia yang satu ini. Di sini saya mengenal cinta tanpa syarat. Dan semakin saya mencintai anak anak saya, semakin pula rasa hormat, sayang dan terimakasih saya terhadap orangtua.
It’s tough being parents. It’s not always easy. But it’s well worth it.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s