If I Had a Girl.

Suatu ketika, pernah kulihat seorang gadis kecil duduk termangu. Wajahnya murung. Ia hanya menggeleng pelan, saat kutanya hendak kah ia bermain bersama teman temannya di halaman depan. Untuk beberapa saat kucoba tidak menghiraukannya, dan meneruskan kembali membaca buku yang kupegang. Namun lama kelamaan tak tahan juga. Kudatangi dia.
“ Ayolah main sana… masa sore sore begini kamu malah bengong…”
“ Enggak Tante..” sekali lagi ia menggeleng. 
“Kamu kenapa? Sakit? “
Ia mengangguk.
“ Sakit apa?”
Duh, benar benar deh aku… mau tahuuu aja.
Gadis kecil itu terdiam. Mukanya nampak bingung.
“ Sakit apa? “ ulangku.
Dengan takut takut ia berkata bahwa ia sedang haid. Tidak mau pergi bermain karena ia takut jika celananya tembus oleh darah haid.
“ Loh…memangnya tidak pakai pembalut? “
Dia kembali menggeleng. Whaaaatttt??!?!!? Jelas aku kaget setengah mati. Kutanya lagi, “ Mengapa tidak pakai pembalut? “
“ Aku takut ibu marah, Tante….” si Gadis Kecil tertunduk. Waktu kemarin dulu aku bilang aku sepertinya haid, ibuku marah… Katanya aku masih terlalu kecil untuk haid. Ibuku dulu baru haid saat berumur 15 tahun. Katanya aku masih 11 tahun, mustinya belum…”
“ Ah tidak juga…” kataku. “ Tante dulu juga seumur kamu…Gak apa apa kok..”
“ Aku takut Tante. Kata ibuku kalau sudah haid, aku tidak boleh dekat dekat dengan anak lelaki. Katanya bisa hamil. Ibuku waktu itu kelihatan marah sekali. Jadi aku tidak berani bilang kalau sekarang aku haid lagi. Kapan haid ini tidak datang lagi, Tante? Aku mau haid ini jangan datang lagi…Aku nggak mau punya anak. Aku pasti nggak bisa, aku kan masih kecil…”
Kudekati dia. Kukatakan padanya, bahwa memang perempuan sudah semestinya mendapat haid. Kucoba menjelaskan kepadanya bahwa sebenarnya mungkin ibunya tidak benar benar marah. Hanya kaget saja ( dan mungkin juga ngeri, karena kewajiban untuk lebih mengawasi anak gadisnya ternyata datang lebih cepat dari yang ia duga). Haid bukanlah sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan.Namun benar, itu suatu pertanda bahwa dia harus benar benar menjaga dirinya.
Ia mengatakan bahwa itu haidnya yang kali kedua. Saat pertama kali ia mengetahui bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, ia sendiri bingung dalam menghadapinya. Di tengah kebingungan itu ia bertanya pada ibunya. Dan sayangnya, ya seperti yang ia ceritakan padaku di atas. Bukannya mendapat penjelasan dan arahan, justru kebingungan dan ketakutan yang ia dapat. Ya Tuhan, anak ini baru kelas 6 sekolah dasar, pikirku. Tentu saja ia masih belum mengerti. 
“ Kalau kamu tidak memakai pembalut, sekarang kamu pakai apa? “
Wajahnya nampak malu malu. “ Ada kain bekas seprai, Tante. Diam diam aku ambil dan aku potong potong… Makanya aku tidak berani main, aku takut copot dan jatuh…”
Astagaaa… aku mau menangis mendengarnya. Segera kuambil dompetku dan mencari warung terdekat untuk membelikan dia pembalut sebanyak banyaknya. Kukatakan padanya, jika ibunya bertanya, katakan saja aku yang memberinya. Walaupun saat itu aku masih gadis dan belum berkeluarga, namun jika untuk menghadapi ibunya dalam memperjuangkan hak si Gadis Kecil ini,aku sih siap siap saja. Untungnya, tidak ada apa apa sih, setelah kejadian hari itu. Dalam hati kubertekad, jika kelak aku memiliki anak perempuan aku tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padanya…
Pada suatu pesta pernikahan keluarga, kulihat ada seorang gadis, remaja tanggung. Kalau tidak salah kelas 2 SMP. Aku sebenarnya sedikit geli melihatnya karena ia memakai busana yang kedodoran di tubuh mungilnya.
“ Ah, kamu kurang makan nih…. kekurusan sih.. Makanya bajunya belum masuk…” godaku.
“ Bukan bajuku, Kak..” jawabnya. “ Pinjam punya tante…”
“ Emangnya kamu tidak punya baju pesta?”
Ia menggeleng.
“ Masa tidak punya? Satu pun? “
Ia mengangguk. Aku terhenyak. Aku tahu orangtuanya. Setahuku, ayahnya bekerja sebagai pegawai di perusahaan yang cukup besar. Memang sih, dia punya seorang kakak dan seorang adik. Tapi masa sih, sehelai baju yang cukup layak untuk dipakai ke acara resmi ia tak punya?
“ Benar benar tidak punya? “ aku masih tak percaya.
“ Ada Kak. Baju buat Lebaran 2 tahun lalu. Tapi sudah kekecilan.. lagipula sudah agak lusuh, karena setiap ada acara aku pakai baju itu…”
Tak usah kutanya, aku yakin pasti ia pun malu. Umur umur segitu, anak ABG pasti lagi centil centilnya kan. Selanjutnya kukatakan padanya, walau kedodoran, dia tetap manis kok memakai baju itu. Dan kalau ternyata baju itu dihibahkan untuknya, kusuruh ia makan yang banyak agar cepat muat di baju tersebut. Saat kuajak dia mengambil makanan, katanya nanti saja. Dia sudah minta abangnya mengantarkan makanan, karena kalau berdiri dia takut celana yang ia kenakan melorot, karena masih longgar di pinggang mungilnya. Dalam hati kubertekad, jika kelak aku memiliki anak perempuan aku tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padanya….
Sorang temanku sedang hamil tua. Mungkin tinggal menghitung hari. Menurut perkiraan dokter, mungkin jatuh di antara 2-3 hari ke depan, terhitung pada hari saat aku bertemu dia di sebuah kafe pada suatu sore.
Di saat sedang sibuk membahas suatu topik, telepon genggamnya berdering. Kudengar ia berkata :’ya Ma’ , ‘tak apa apa Ma..’ atau ‘tak usah Ma..’ , jadi kupikir pastilah itu ibunya yang menelepon. Kuteruskan menghirup tehku sambil menunggu ia selesai berbicara dengan ibunya.
Tak sampai lima menit kemudian temanku tadi meletakkan telepon genggamnya. Selanjutnya pembicaraan kami seperti tidak nyambung. Kulihat dia pikirannya entah melayang ke mana. Kutanyakan padanya, “ Kamu kenapa? Kok gak konsen? Mulai mulas? Apa uda mau pecah ketuban nih….?”
Was was juga aku. Kalo mbrojol di tengah tengah kafe sih kan gak lucu juga, meski sebuah rumah sakit besar tepat berada di sebelahnya . Oh ya, aku janjian sama temanku ini sebelum dia cek ke dokter kandungan mengenai flek flek yang sudah mulai keluar. Sembari menunggu suaminya datang, maka aku lah yang menemaninya terlebih dulu. 
“ Ah tidak… Itu tadi ibuku..”
“ Oh ya? Sudah mau berangkat ya? Menunggui kamu melahirkan? “
Di luar dugaan ia menggeleng. Katanya ibunya memutuskan tidak akan datang.
Haaaaaah???
“ Ibuku bilang, dia gak usah datang saja ya… Soalnya ada adikku dan istrinya baru datang ke Medan. Katanya ia tidak enak meninggalkan mereka. Katanya apa ayahku saja, yang datang ke mari. Kubilang tidak usah. Tak apa apa…”
Temanku tadi mengambil tisu. Suaranya mulai bergetar. Waduh, aku jadi tidak enak hati. Kudekati dia, kuelus elus pundaknya sembari celingak celinguk takut ada yang memperhatikan . Nanti aku pula yang dikira membuat menangis seorang wanita hamil.
“ Urusan begini, mau melahirkan, jelas aku lebih butuh ibuku,kan? Katanya, karena ini anak ke duaku, ibuku bilang aku pasti sudah punya pengalaman. Jadi sudah bisa sendiri…“
Temanku mulai terisak.
“ Hmmmmm…” kepalaku berputar mencari kata kata yang tepat. “ Lihat sisi baiknya, Say… Ibu lo menaruh kepercayaan yang besar ama elo.. Menurutnya, elo dan suami bisa menghandle semuanya… “
“ Iya tetap saja. Aku sebenarnya sangat berharap ibuku ada. Dan dengan perkataannya bahwa sedang ada adikku di sana, aduuh… rasanya aku ini seperti tidak dianggap …Bukannya aku tak mau ada ayahku. Tapi ayahku mana mengerti urusan perempuan begini. Sebenar benarnya aku sangat butuh ibuku. Nggak tau nih..rasanya aku sedih sekali..
” Kau tahu, saat hendak melahirkan anak pertamaku pun tadinya ibuku enggan datang. Katanya ia tak sanggup membayangkan..apalagi melihat aku kesakitan saat melahirkan. Sedangkan justru di saat saat itu, aku sangat membutuhkan seorang ibu…Mengapa ia memilih ketakutannya sendiri, mengesampingkan apa yang aku, anak perempuannya, sangat butuhkan? ”
” Tapi kan si Tante akhirnya datang Say..” hiburku.
” Iya. itu setelah didesak nenekku… dan seminggu setelah aku melahirkan, ibuku sudah kembali pulang.”
Aku tak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa menit kubiarkan ia menumpahkan isi hatinya, temanku tadi segera menghapus air matanya. Katanya, walau sesedih dan sebegitu kecewanya ia, tetap saja itu ibunya. Ah dalam hati kubertekad, jika kelak aku memiliki anak perempuan aku tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padanya….

( a re-post )

Advertisements

In Love. 

“ Hi… so sorry…I’m late..” 

 “ Oh no, not at all, I’m only here like 15 minutes. No worries..”

“ Have you ordered yet?”

“ I have. What would you like to eat?”

“ Perhaps, I’ll have a cup of tea.. I think I’ll skip dinner, not too hungry anyway..”

“ Uhm… why don’t you order something light, like an appetizer , or salad… I don’t like to eat alone.”   

I heard the girl chuckled. A moment later, she called the waitress to order salad with separate dressing.

“ So, how’s your bussiness trip? “

“ It was okay. I brought you something… here..”

The girl thanked the boy. Probably gave him a little kiss, because at glance I saw their head getting nearer for few seconds. Then the boy grabbed her hand, and whispered something to her ear. I bet he was saying ‘I miss you’. The girl blushed and gave a nervous grin.

I held my smile. I didn’t know when was the last time I feel the same feeling as hers. But I knew that warm feeling , when your heart beats like crazy, and all the sudden your endorphin level gets high. And you wish that the time would stand still, and night would never end…

“ Oh…About the trip, this week is a no go.. I gotta…”

A phone call distracted me from this guilty pleasure of eavesdropping. It was my son, asking whether he can have instant noodle for dinner.

“ Then next week it is… “

“ Yea, and I should be back before weekend.”

The boy picked up his phone, made an arrangement about flights and hotel.

I went back to my book. Still another 1.5 hours of waiting for a friend. I came early, because I thought the traffic would be a headache on that Friday evening. Unfortunately, somehow, I was wrong. The traffic was very nice and smooth.   

As I requested,my dinner was served 30 minutes later. I was already hungry, I thought I’d order dessert later, wait for my friend to arrive first.

“ You know, it’s kinda funny… How we end up like this. Have you ever thought about this before..?”

“ Yea. Sometimes. But I dont really think much of it…Better just let it flow..”

“ I don’t know where we’re going… But honestly, you got me dreaming here, like a fool..”

“ Well,now I am here with you, right..? It all that matters..”

I could not stop my smile. Oh these are lovebirds! While chewing my lasagna, I let my mind wandered, back to those good old days when youth was really still be a good friend of mine. When a strong, sacred bondage called marriage was never cross my mind, yet. No.. no… I wasn’t blaming or regreting the path I was taking. It was just a reminiscence of this youthful feeling of being in love. After years of marriage, when the priorities in life is getting more complex, somehow romance became a privilige to have.   

I let those two lovebirds with their intimate conversation, apparently they were much deeply in love. I could see the way they looked at each other. The boy just couldn’t take his eyes off of the girl, while the gestures of the girl said the same thing to him. Ahhhh..felt like watching a romance movie , actually not really watching since I was only listening and sometimes glancing to their table on my left.

I was about to finish my lasagna when I heard the girl’s phone ringing. I couldn’t hear what she was talking about since she left the table to take the call. Afterwards, she got back and put her things back to her purse in a hurry.

“ I gotta go..”

“ What happened?”

“ It’s my kid. He bumped his head in the bathroom, perhaps he needs some stitches. My husband already on his way to pick me up now. By the way, I met that your wife’s bestfriend down at the lobby. I told her I have meeting in the another restaurant, ya…”

I choked. 

( a re-post )

Tentang Berkeringat.

  

Dulu, saat kecil, saya kerempeng. Susah makan, kata ibu saya. Pilih pilih (daaaaaan itu terulang pada 2 anak anak saya. Oh well, si kecil untungnya tidak se-picky eater kakaknya ). Dari SD sampai SMA saya enggan sarapan. Alhasil, kerjaannya bolak balik siup, alias pingsan.

Lagi olahraga atletik, pingsan. Lagi upacara bendera, pingsan. Ditindik kupingnya, pingsan. Padahal sudah kelas 1 SMA. Tensi pun cenderung rendah. Terakhir, tensi terendah yang saya ingat adalah 90/60.

Karena itu, saya dianggap bapak saya : fisiknya lemah. Jadi nggak boleh capek capek. Apalagi olahraga terlalu keras.

Saat itu saya senang senang saja, tidak disarankan berolahraga. Malas juga keringetan. Padahal, sedari kecil saya melihat ibu saya sangat aktif berolahraga, terutama bola voli. 

Ibu saya tidak tinggi. Kecil. Mungkin hanya sekitar 155 senti, atau kurang. Tapi ibu liat dan kuat. Kalian musti lihat saat ibu mengulen adonan empek empek. Setrong !

Berbagai olah raga ibu saya ikuti. Saya masih ingat kok, saat saya dan adik masih kecil suka diajak melihat ibu bertanding. Selain bola voli, ibu juga bisa badminton, tenis meja, bahkan pernah ikut sepak bola wanita. Basket dia tidak bisa, katanya : kurang suka. Di usia senjanya ibu saya sudah hampir tidak pernah melakukan olahraga outdoor lagi. Ibu beralih ke olahraga bowling, dan cukup berprestasi di situ. 

Kesukaan ibu akan berolahraga menurun ke adik laki laki saya. Adik saya menyukai olahraga bola lapangan dan bola basket. Dia dulu bahkan menjadi kapten di tim basket sekolah kami dan memenangi berbagai kejuaraan. 

Saya, bapak dan adik perempuan yaaaa, begitu begitu saja, hahaha. Boro boro ada prestasi dalam olahraga. Keringatan sedikit saja sudah gerah.

Saat duduk di kelas 1 sma, saya mulai melirik olahraga tenis lapangan. Saya senang mendengar saat suara bola dan senar raket beradu. Sederhana, bukan?

Selain itu, teman dekat saat itu juga  bermain tenis. Jadi yaaa, sekalian lah. Di situ saya menemukan betapa enaknya after effect dari berkeringat.

Tenis lapangan itu capek. Lari sana sini, butuh refleks yang mantap, dan tentu tenaga yang tak kalah mantap pula. Belum lagi ribet, karena masih pemula, bola asik asik melambung jauh keluar lapangan dan harus memungut sendiri.

Tidak ada yang bertugas memungut bola di sana. Lapangan tenis yang kami punya di kampung sana bukan lapangan komersil, melainkan fasilitas dari perusahaan tempat ayah kami berkerja. Jadi, bebas mau main kapan saja. 

Belum lagi bisa, saya putus dengan si Teman Dekat. Jadilah kehilangan gairah. Kembali deh, jadi malas lagi berolahraga. Paling paling hanya berenang. 

Saat kuliah di kota Bandung apalagi. Karena bertahun tahun dimanjakan hidup di kampung yang memiliki fasilitas olahraga komplit gratis, mau membayar untuk ikut sanggar olahraga atau sewa lapangan ya saya malas. Sebagai anak kos yang uangnya pas pas an, mendingan buat makan.

Sampai saya menikah dan menetap di Jakarta. Setelah melahirkan anak pertama, tentu saya ingin secepatnya kembali memiliki bobot tubuh seperti sebelum mengandung. Ikutlah saya di sebuah pusat kebugaran di Cilandak. Yang saya pilih olahraga cardio, yakni aerobik. Awalnya cuma sekali seminggu. Coba coba dulu. Terus naik jadi dua kali seminggu, akhirnya naik menjadi 3-4 kali seminggu. Rutin saya jalani, dalam 2.5 bulan bobot saya berhasil turun 4 kilo, dari 58 kilo menjadi 54 kilo. Untuk proporsi tubuh saya, entah kenapa saya sudah terlihat sangat kurus dengan bobot segitu, sampai sampai keluarga besar prihatin. Dikira saya tidak bahagia. Serba salah, ya?

Bosan dengan aerobik, saya mulai melirik olahraga yang sedang tren saat itu. Yakni yoga. Waaaaah, dengan tubuh yang sama sekali tidak lentur, amit amit rasanya. Sakiiit. 1.5 thn setelah mengenal yoga, saya hamil anak ke dua. Blas, 2-3 tahun sesudahnya saya tidak ada waktu berolahraga.

Berbeda dengan anak pertama, pasca melahirkan anak ke dua ini, timbangan saya tidak mau bergerak ke bawah angka 6. Tentu saja saya terlihat montok, apalagi di foto. Mau ikut gym, ahhh.. Takut. Nanti males malesan. Trus joining fee nya mahal ah… Banyak deh pertimbangannya, plus dasarnya sudah pemalas juga sih.

Suatu hari seorang teman menawarkan. Mau nggak ikut gym terkenal bayar langsung sekaligus untuk setahun? All club. Dengan harga yang jauuh lebih murah. Istilahnya di bawah tangan ( terakhirnya saya baru tahu ternyata ini illegal dan karyawan yang terlibat di dalamnya terkena masalah hukum dan tentu, dipecat dari gym tersebut ). Saya setuju, dan selanjutnya bergabung dengan gym tersebut 6 tahun lalu, hingga hari ini.

Untuk memulai kebiasaan berolahraga itu awalnya pasti susah. Kalau saya perhatikan, mungkin karena hal itu belum menjadi budaya di negara kita ini. 

Saya jadi teringat masa kecil saya dulu. Kampung kami terletak di tengah belantara hutan di timur Kalimantan. Era 70-an akhir hingga menjelang 90-an awal banyak orang asing atau expatriat yang berkerja di perusahaan yang sama dengan ayah kami. Populasi mereka lumayan banyak, sehingga ada sebuah sekolah internasional khusus untuk anak anak mereka.

Karena tempat tinggal saya saat itu lumayan dekat dengan permukiman mereka, saya sering melihat betapa aktifnya mereka dengan olahraga. Paling tidak jogging lah, setiap pagi dan sore ada saja bule bule yang berlari mencari keringat. 

Begitupun anak anak mereka. Di usia dini mereka sudah pandai berenang dan rajin nyemplung di kolam. Di sekolah, olahraga termasuk ekstra kurikuler selain  merupakan mata pelajaran wajib. Dan mereka antusias melakoninya.

Sementara, di sekolah saya, mata pelajaran olahraga hanya seminggu sekali, selama 1.5 jam. Ada sih ekskul softball. Tapi itu juga peminatnya sedikit dan kelihatannya tidak berlangsung lama. 

Jadi, ya begitu. Mungkin bagi masyarakat kita olahraga belum menjadi sebuah budaya. Tidak terlalu penting seperti matematika atau IPA. Padahal istilah mensana in corpore sano itu menunjang loh, buat dunia pendidikan. Kan anak anak bisa lebih kuat fisiknya, segar pikirannya, sehingga menyerap pelajarannya juga akan lebih baik. Asal sesudahnya jangan makan sekalap kalapnya. Ya lemas, trus ngantuk deh…

Awal mula saya memecut diri saya untuk rutin berolahraga adalah dengan alasan umum kaum perempuan : pingin kurus, jangan sampai gemuk. Tadi saya bilang kan, saya sudah 6 tahun bergabung dengan pusat kebugaran terbesar di Jakarta Raya ini. Bisa terbentuk pola olahraga yang sekarang juga paling 3 tahun terakhir. Sebelumnya ya bolong bolong, bahkan sempat vakum sampai beberapa bulan. 

Awalnya mulai dengan latihan 2 kali seminggu, 3 kali seminggu, hingga akhirnya sampai hari ini hampir setiap hari saya berolahraga. Karena saya orangnya gampang jenuh, saya memilih masuk kelas kelas. Sehingga olahraga yang saya jalani bisa bervariasi, dari kardio, beban dan yoga. Paling tidak, seminggu sekali saya berlari. Kalau tidak sempat ke pusat kebugaran, saya sempatkan berlari di sekitar rumah selama 30 menitan. Jarak terjauh berlari  yang sudah saya jalani adalah 21 kilometer. 

Kerenkah badan saya? Nggak juga tuh, masih ada bagian yg bisa dicubit, banyak malah… hahahaha. Butuh disiplin yang sangat baik untuk bisa membentuk tubuh  kencang berotot. Latihan yang keras, dan tentu yang utama : pola makan.

Nah itu. Makan. Waaaaah,kita di Indonesia ini dimanjakan dengan baaanyaaaak sekali masakan yang enak, lezat dan berkalori tinggi. Sementara makanan diet itu ya begitu. Meski gizi tinggi, namun dengan citarasa amat terbatas, nyaris hambar malah. Terus terang, bagian yang ini yang saya masih berantakan.

Namun paling tidak, olahraga kini telah jadi bagian dari keseharian saya. Dulu, cape sedikit saya tidak enak badan. Sakit sakit, masuk angin. Sekarang terbalik, 2-3 hari tidak berolahraga, maka sakit sakitlah tubuh saya. Menagih endorfin, katanya. Hal yang baik bukan? Daripada sakau yang lain…..
  

Curiosity can kill the cat.

Dalam hidup, ada beberapa hal yang kita nggak perlu cari tahu. Terutama jika hal tersebut berkaitan dengan masalah hati.

Mau judulnya karena sayang, cinta atau apalah. Intinya, pada saat rasa mencari tahu itu timbul itu sudah didasari dengan rasa yang negatif kok.

Akibat yang ditimbulkan juga menurut saya tidak terlalu banyak berfaedah. Jika yang dikhawatirkan benar, apa cukup siap? Jika ternyata salah pun, yang merasa sedang dicaritahupun  bisa bisa kecil hati karena merasa tidak mendapat kepercayaan. Satu lagi, penyakit seperti ini biasanya berulang. Karena ya itu… Dasarnya sudah adanya perasaan insecure. Kurang percaya diri, akibatnya susah percaya pada orang lain.

Sebaiknya, berusahalah untuk selalu memiliki prasangka baik. Bukan karena bodoh, tapi demi menjaga hati. Biasanya perbuatan tidak baik, jika mesti diketahui, cepat atau lambat akan ketahuan sendiri kok.

Anggap saja saya memang getir. Tapi saya memang menganggap kita tidak akan pernah benar benar utuh memiliki seseorang. Selalu ada resiko untuk dicurangi, dibohongi, bahkan ditinggalkan. Tinggal bagaimana kita menyiapkan diri dan mental menghadapi resiko tadi. Mau penuh dengan ketakutan, atau dengan santai saja.

  

Once upon a time.

Once upon a time, an angel fell in love with The Devil. They broke the rules, they drowned themselves in a sea of lust, affections, tenderness and what they thought it would last forever. And it would work out somehow, since everything seemed so perfect.

Time gone by, the feeling grew stronger and The Devil started to want more. Oh that devilish feeling of greed! 

For the sake of fun, The Creator threw the dice. He already knew what’s gonna happen next. Ofcourse.

The Angel stood still, without a word, but it was clear as an answer for The Devil. What has been written by The Creator is only can be re-write by Himself. And nobody can change that, even an angel. 

Shattered into pieces, The Devil also stood still in numbness. Fact was a slap on The Devil’s face. But indeed, a good reminder. Acceptance is a must.

That’s when slowly The Devil turning into an angel too…

  

Brokenhearted.

When your child said something hurtful to you. 

When seeing your loved ones get ill, or in pain. 

Funerals, members of your family.

Separations, when you knew there’s no chance or use of getting back together.

When you see your parents shed a tear because of something bad you’ve done.

When technically you’re single but you can not call him/her your own…

For you.

You’re gonna be okay.Eventhough trust have been broken.

Respect have been failed.

Scars have been made.

Hearts have been wounded.

Or…

Karma has been earned.
There’s always something to learn.

To build you better and stronger than yesterday.

To more appreciate things that you have today.

To trust that there’s going to be a better tomorrow.