Renungan kloset.

Dari dulu, saat masih tinggal bersama orang tua, otak saya baru bisa bekerja maksimal sekitar di atas jam 8 malam, setelah semua orang sudah kenyang, santai dan tinggal menunggu tidur. 

Dengan waktu yang sedemikian singkat, sudah pasti kalo belajar ya sistim kebut semalam. Padahal, biasanya juga jam 9 saya sudah mesti tidur. Yaaa kalo musim ujian boleh lah molor molor sedikit sampai jam 10-an. 

Cukup, buat belajar? Ya enggak. Bused, belom pake ngelamunnya, paling cuma mampu menyerap beberapa lembar saja. Ujian kan bisa beberapa mata pelajaran sekaligus.

Trus gimana dong? Ya gak gimana mana. Santai saja. Sebagai orang yang mengandalkan penglihatan dan pendengaran dalam menghapal, kan bisa colongan saat mendengar guru atau dosen mengajar di depan kelas. Biasanya sih, materi ujian nggak terlalu beda dengan apa yang diajarkan kok. Jadi cuma perlu ambil sedikit dari buku paket. 

Makanya saya suka senewen jika tidak bisa hadir semisal karena sakit. Bisa dipastikan, materi hari itu susah sekali menetap di kepala meski saya sudah membaca catatan dari teman.

Saya juga tidak terlalu tekun mencatat. Paling berupa poin poin, atau bikin foot note di buku teks. Makanya buku paket saya jarang turun temurun. Kasihan, keburu ruwet nanti yang memakainya. Rame dengan coret coretan. 

Bisa tidak hal yang saya alami itu diterapkan ke anak anak saya? Nah ini dia. Tanpa disadari kan kita sebagai orang tua menerapkan apa yang biasa diterapkan pada kita saat kita kecil. 

Saya suka lupa, bahwa anak anak saya bukanlah saya. Jendernya saja sudah beda, mereka laki laki dan saya perempuan. Di usia yang sama, saya pasti lebih anteng dan lebih dewasa ketimbang mereka, maka bisa menemukan metode belajar seperti di atas.

Hingga hari ini pun saya masih mencoba menemukan formula yang pas untuk membuat anak anak saya ini merasakan kebutuhan akan belajar. Dan di era gadget dan game dan segala macam fasilitas yang memanjakan anak begini, astagaaaa.. Susahnya. Baru mendengar kata ‘belajar’ aja si Sulung udah langsung menguap dan si Bungsu kontan melipir membawa tablet.

Jadi ya begitu renungan saya di kloset pagi ini. Membesarkan anak di jaman begini, susah susah gampang. Dikerasin, tidak bisa. Mereka berontak dan bisa melawan. Dengan lemah lembut lah kok ya jadinya ngetes ngetes terus kesabaran simboknya….

Kasih tahu ya, kalo kamu sudah ketemu metodenya. Saya perlu pencerahan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s