Realita Ibu Kota.

Sebut saja namanya Dahlia. Sepuluh tahun membina rumah tangga. Anaknya dua. Suaminya suka kerja di luar kota, proyekan katanya. Jadi jarang di rumah. Kalau komunikasi sih tetap ada. Telepon atau pesan singkat, juga di sosial media. Suaminya ketika pulang ke rumah, selalu bercerita. Banyaak, tentang apa saja. Termasuk juga tentang teman teman wanitanya. Semua terasa baik baik saja. Sampai suatu ketika pesan di telepon suaminya membuat Dahlia ternganga. Ajakan memadu kasih yang nyata dari suaminya. Pada salah satu teman wanita, yang sering diceritakan padanya. Singkat cerita Dahlia murka. Teman suaminya itu telah menikah juga. Oh tidak  bisa, pikirnya. Semua harus duduk bersama. Berkumpullah mereka semua. Kesepakatan pun diharapkan terjaga. Tiada lagi hubungan dalam bentuk apapun antara suaminya dan itu wanita. Beberapa bulan kemudian, suaminya berkata. Mengapa ia merindukan si teman wanita. Dahlia pun kembali ternganga. Kali ini tamparan itu perihnya terasa berkali kali di muka.

Sebut saja namanya Sakti. Menginjak 13 tahun menikah semestinya sebentar lagi. Terlahir 1 anak laki laki. Sebenarnya Sakti memiliki kemampuan dan otak yang mumpuni. Pergaulan pun tak kurang lagi. Wajahnya pun cukup menarik hati. Sayangnya ia kurang gigih. Tak mengerahkan segala potensi. Berbeda dengan sang istri. Mungkin karena Sakti pun anak tunggal tak bersaudara lagi. Dibesarkan oleh sang Ibu seorang diri. Perhatian, kasih sayang dan materi mungkin berlebih. Karakter manja dan enggan susahlah yang terjadi. Akhirnya sang Istri tak kuat lagi. Letih harus mencari nafkah dan berbagi . Pikirnya nafkah yang kucari kan mestinya hakku sendiri. Bercerai adalah jalan yang dipilih. Dalam hitungan bulan si mantan istri menikah lagi. Dengan duda dengan penghasilan yang lebih tinggi. Sakti harus menggigit jari.

Sebut saja namanya Bedu. Seumur hidup pacarnya cuma satu. Lah yang kini jadi istrinya itu. Lebih dari duapuluh tahun mereka bersatu. Aku rasa pastilah ada satu dua titik jenuh. Saat semua tentang pasanganmu kau rasa telah khatam kau tahu. Mulai lah si Bedu mencari yang lucu lucu. Demi menimbulkan percikan dan semangat baru. Permainan berbahaya yang bisa merusakmu, kataku. Bedu bilang, ah ini hanya semu. 2 tahun berlalu, yang semu semakin terasa nyata menjadi apa yang Bedu butuh. Berhenti pun ia tak mau. Kuingatkan, bagaimana dengan istrimu? Ah katanya, ia tak mungkin tahu. Ia tak macam macam, manis dan lugu. Kurasa Bedu beranggapan bahwa istrinya selalu patuh. Sampai suatu hari Bedu datang padaku. Dengan kelu ia berkata, istriku berselingkuh dengan orang yang lebih kaya daripada aku. Kali ini aku rasa, bagi Bedu, skor yang ia terima adalah dua banding satu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s