Tentang Berkeringat.

  

Dulu, saat kecil, saya kerempeng. Susah makan, kata ibu saya. Pilih pilih (daaaaaan itu terulang pada 2 anak anak saya. Oh well, si kecil untungnya tidak se-picky eater kakaknya ). Dari SD sampai SMA saya enggan sarapan. Alhasil, kerjaannya bolak balik siup, alias pingsan.

Lagi olahraga atletik, pingsan. Lagi upacara bendera, pingsan. Ditindik kupingnya, pingsan. Padahal sudah kelas 1 SMA. Tensi pun cenderung rendah. Terakhir, tensi terendah yang saya ingat adalah 90/60.

Karena itu, saya dianggap bapak saya : fisiknya lemah. Jadi nggak boleh capek capek. Apalagi olahraga terlalu keras.

Saat itu saya senang senang saja, tidak disarankan berolahraga. Malas juga keringetan. Padahal, sedari kecil saya melihat ibu saya sangat aktif berolahraga, terutama bola voli. 

Ibu saya tidak tinggi. Kecil. Mungkin hanya sekitar 155 senti, atau kurang. Tapi ibu liat dan kuat. Kalian musti lihat saat ibu mengulen adonan empek empek. Setrong !

Berbagai olah raga ibu saya ikuti. Saya masih ingat kok, saat saya dan adik masih kecil suka diajak melihat ibu bertanding. Selain bola voli, ibu juga bisa badminton, tenis meja, bahkan pernah ikut sepak bola wanita. Basket dia tidak bisa, katanya : kurang suka. Di usia senjanya ibu saya sudah hampir tidak pernah melakukan olahraga outdoor lagi. Ibu beralih ke olahraga bowling, dan cukup berprestasi di situ. 

Kesukaan ibu akan berolahraga menurun ke adik laki laki saya. Adik saya menyukai olahraga bola lapangan dan bola basket. Dia dulu bahkan menjadi kapten di tim basket sekolah kami dan memenangi berbagai kejuaraan. 

Saya, bapak dan adik perempuan yaaaa, begitu begitu saja, hahaha. Boro boro ada prestasi dalam olahraga. Keringatan sedikit saja sudah gerah.

Saat duduk di kelas 1 sma, saya mulai melirik olahraga tenis lapangan. Saya senang mendengar saat suara bola dan senar raket beradu. Sederhana, bukan?

Selain itu, teman dekat saat itu juga  bermain tenis. Jadi yaaa, sekalian lah. Di situ saya menemukan betapa enaknya after effect dari berkeringat.

Tenis lapangan itu capek. Lari sana sini, butuh refleks yang mantap, dan tentu tenaga yang tak kalah mantap pula. Belum lagi ribet, karena masih pemula, bola asik asik melambung jauh keluar lapangan dan harus memungut sendiri.

Tidak ada yang bertugas memungut bola di sana. Lapangan tenis yang kami punya di kampung sana bukan lapangan komersil, melainkan fasilitas dari perusahaan tempat ayah kami berkerja. Jadi, bebas mau main kapan saja. 

Belum lagi bisa, saya putus dengan si Teman Dekat. Jadilah kehilangan gairah. Kembali deh, jadi malas lagi berolahraga. Paling paling hanya berenang. 

Saat kuliah di kota Bandung apalagi. Karena bertahun tahun dimanjakan hidup di kampung yang memiliki fasilitas olahraga komplit gratis, mau membayar untuk ikut sanggar olahraga atau sewa lapangan ya saya malas. Sebagai anak kos yang uangnya pas pas an, mendingan buat makan.

Sampai saya menikah dan menetap di Jakarta. Setelah melahirkan anak pertama, tentu saya ingin secepatnya kembali memiliki bobot tubuh seperti sebelum mengandung. Ikutlah saya di sebuah pusat kebugaran di Cilandak. Yang saya pilih olahraga cardio, yakni aerobik. Awalnya cuma sekali seminggu. Coba coba dulu. Terus naik jadi dua kali seminggu, akhirnya naik menjadi 3-4 kali seminggu. Rutin saya jalani, dalam 2.5 bulan bobot saya berhasil turun 4 kilo, dari 58 kilo menjadi 54 kilo. Untuk proporsi tubuh saya, entah kenapa saya sudah terlihat sangat kurus dengan bobot segitu, sampai sampai keluarga besar prihatin. Dikira saya tidak bahagia. Serba salah, ya?

Bosan dengan aerobik, saya mulai melirik olahraga yang sedang tren saat itu. Yakni yoga. Waaaaah, dengan tubuh yang sama sekali tidak lentur, amit amit rasanya. Sakiiit. 1.5 thn setelah mengenal yoga, saya hamil anak ke dua. Blas, 2-3 tahun sesudahnya saya tidak ada waktu berolahraga.

Berbeda dengan anak pertama, pasca melahirkan anak ke dua ini, timbangan saya tidak mau bergerak ke bawah angka 6. Tentu saja saya terlihat montok, apalagi di foto. Mau ikut gym, ahhh.. Takut. Nanti males malesan. Trus joining fee nya mahal ah… Banyak deh pertimbangannya, plus dasarnya sudah pemalas juga sih.

Suatu hari seorang teman menawarkan. Mau nggak ikut gym terkenal bayar langsung sekaligus untuk setahun? All club. Dengan harga yang jauuh lebih murah. Istilahnya di bawah tangan ( terakhirnya saya baru tahu ternyata ini illegal dan karyawan yang terlibat di dalamnya terkena masalah hukum dan tentu, dipecat dari gym tersebut ). Saya setuju, dan selanjutnya bergabung dengan gym tersebut 6 tahun lalu, hingga hari ini.

Untuk memulai kebiasaan berolahraga itu awalnya pasti susah. Kalau saya perhatikan, mungkin karena hal itu belum menjadi budaya di negara kita ini. 

Saya jadi teringat masa kecil saya dulu. Kampung kami terletak di tengah belantara hutan di timur Kalimantan. Era 70-an akhir hingga menjelang 90-an awal banyak orang asing atau expatriat yang berkerja di perusahaan yang sama dengan ayah kami. Populasi mereka lumayan banyak, sehingga ada sebuah sekolah internasional khusus untuk anak anak mereka.

Karena tempat tinggal saya saat itu lumayan dekat dengan permukiman mereka, saya sering melihat betapa aktifnya mereka dengan olahraga. Paling tidak jogging lah, setiap pagi dan sore ada saja bule bule yang berlari mencari keringat. 

Begitupun anak anak mereka. Di usia dini mereka sudah pandai berenang dan rajin nyemplung di kolam. Di sekolah, olahraga termasuk ekstra kurikuler selain  merupakan mata pelajaran wajib. Dan mereka antusias melakoninya.

Sementara, di sekolah saya, mata pelajaran olahraga hanya seminggu sekali, selama 1.5 jam. Ada sih ekskul softball. Tapi itu juga peminatnya sedikit dan kelihatannya tidak berlangsung lama. 

Jadi, ya begitu. Mungkin bagi masyarakat kita olahraga belum menjadi sebuah budaya. Tidak terlalu penting seperti matematika atau IPA. Padahal istilah mensana in corpore sano itu menunjang loh, buat dunia pendidikan. Kan anak anak bisa lebih kuat fisiknya, segar pikirannya, sehingga menyerap pelajarannya juga akan lebih baik. Asal sesudahnya jangan makan sekalap kalapnya. Ya lemas, trus ngantuk deh…

Awal mula saya memecut diri saya untuk rutin berolahraga adalah dengan alasan umum kaum perempuan : pingin kurus, jangan sampai gemuk. Tadi saya bilang kan, saya sudah 6 tahun bergabung dengan pusat kebugaran terbesar di Jakarta Raya ini. Bisa terbentuk pola olahraga yang sekarang juga paling 3 tahun terakhir. Sebelumnya ya bolong bolong, bahkan sempat vakum sampai beberapa bulan. 

Awalnya mulai dengan latihan 2 kali seminggu, 3 kali seminggu, hingga akhirnya sampai hari ini hampir setiap hari saya berolahraga. Karena saya orangnya gampang jenuh, saya memilih masuk kelas kelas. Sehingga olahraga yang saya jalani bisa bervariasi, dari kardio, beban dan yoga. Paling tidak, seminggu sekali saya berlari. Kalau tidak sempat ke pusat kebugaran, saya sempatkan berlari di sekitar rumah selama 30 menitan. Jarak terjauh berlari  yang sudah saya jalani adalah 21 kilometer. 

Kerenkah badan saya? Nggak juga tuh, masih ada bagian yg bisa dicubit, banyak malah… hahahaha. Butuh disiplin yang sangat baik untuk bisa membentuk tubuh  kencang berotot. Latihan yang keras, dan tentu yang utama : pola makan.

Nah itu. Makan. Waaaaah,kita di Indonesia ini dimanjakan dengan baaanyaaaak sekali masakan yang enak, lezat dan berkalori tinggi. Sementara makanan diet itu ya begitu. Meski gizi tinggi, namun dengan citarasa amat terbatas, nyaris hambar malah. Terus terang, bagian yang ini yang saya masih berantakan.

Namun paling tidak, olahraga kini telah jadi bagian dari keseharian saya. Dulu, cape sedikit saya tidak enak badan. Sakit sakit, masuk angin. Sekarang terbalik, 2-3 hari tidak berolahraga, maka sakit sakitlah tubuh saya. Menagih endorfin, katanya. Hal yang baik bukan? Daripada sakau yang lain…..
  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s