If I Had a Girl.

Suatu ketika, pernah kulihat seorang gadis kecil duduk termangu. Wajahnya murung. Ia hanya menggeleng pelan, saat kutanya hendak kah ia bermain bersama teman temannya di halaman depan. Untuk beberapa saat kucoba tidak menghiraukannya, dan meneruskan kembali membaca buku yang kupegang. Namun lama kelamaan tak tahan juga. Kudatangi dia.
“ Ayolah main sana… masa sore sore begini kamu malah bengong…”
“ Enggak Tante..” sekali lagi ia menggeleng. 
“Kamu kenapa? Sakit? “
Ia mengangguk.
“ Sakit apa?”
Duh, benar benar deh aku… mau tahuuu aja.
Gadis kecil itu terdiam. Mukanya nampak bingung.
“ Sakit apa? “ ulangku.
Dengan takut takut ia berkata bahwa ia sedang haid. Tidak mau pergi bermain karena ia takut jika celananya tembus oleh darah haid.
“ Loh…memangnya tidak pakai pembalut? “
Dia kembali menggeleng. Whaaaatttt??!?!!? Jelas aku kaget setengah mati. Kutanya lagi, “ Mengapa tidak pakai pembalut? “
“ Aku takut ibu marah, Tante….” si Gadis Kecil tertunduk. Waktu kemarin dulu aku bilang aku sepertinya haid, ibuku marah… Katanya aku masih terlalu kecil untuk haid. Ibuku dulu baru haid saat berumur 15 tahun. Katanya aku masih 11 tahun, mustinya belum…”
“ Ah tidak juga…” kataku. “ Tante dulu juga seumur kamu…Gak apa apa kok..”
“ Aku takut Tante. Kata ibuku kalau sudah haid, aku tidak boleh dekat dekat dengan anak lelaki. Katanya bisa hamil. Ibuku waktu itu kelihatan marah sekali. Jadi aku tidak berani bilang kalau sekarang aku haid lagi. Kapan haid ini tidak datang lagi, Tante? Aku mau haid ini jangan datang lagi…Aku nggak mau punya anak. Aku pasti nggak bisa, aku kan masih kecil…”
Kudekati dia. Kukatakan padanya, bahwa memang perempuan sudah semestinya mendapat haid. Kucoba menjelaskan kepadanya bahwa sebenarnya mungkin ibunya tidak benar benar marah. Hanya kaget saja ( dan mungkin juga ngeri, karena kewajiban untuk lebih mengawasi anak gadisnya ternyata datang lebih cepat dari yang ia duga). Haid bukanlah sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan.Namun benar, itu suatu pertanda bahwa dia harus benar benar menjaga dirinya.
Ia mengatakan bahwa itu haidnya yang kali kedua. Saat pertama kali ia mengetahui bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, ia sendiri bingung dalam menghadapinya. Di tengah kebingungan itu ia bertanya pada ibunya. Dan sayangnya, ya seperti yang ia ceritakan padaku di atas. Bukannya mendapat penjelasan dan arahan, justru kebingungan dan ketakutan yang ia dapat. Ya Tuhan, anak ini baru kelas 6 sekolah dasar, pikirku. Tentu saja ia masih belum mengerti. 
“ Kalau kamu tidak memakai pembalut, sekarang kamu pakai apa? “
Wajahnya nampak malu malu. “ Ada kain bekas seprai, Tante. Diam diam aku ambil dan aku potong potong… Makanya aku tidak berani main, aku takut copot dan jatuh…”
Astagaaa… aku mau menangis mendengarnya. Segera kuambil dompetku dan mencari warung terdekat untuk membelikan dia pembalut sebanyak banyaknya. Kukatakan padanya, jika ibunya bertanya, katakan saja aku yang memberinya. Walaupun saat itu aku masih gadis dan belum berkeluarga, namun jika untuk menghadapi ibunya dalam memperjuangkan hak si Gadis Kecil ini,aku sih siap siap saja. Untungnya, tidak ada apa apa sih, setelah kejadian hari itu. Dalam hati kubertekad, jika kelak aku memiliki anak perempuan aku tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padanya…
Pada suatu pesta pernikahan keluarga, kulihat ada seorang gadis, remaja tanggung. Kalau tidak salah kelas 2 SMP. Aku sebenarnya sedikit geli melihatnya karena ia memakai busana yang kedodoran di tubuh mungilnya.
“ Ah, kamu kurang makan nih…. kekurusan sih.. Makanya bajunya belum masuk…” godaku.
“ Bukan bajuku, Kak..” jawabnya. “ Pinjam punya tante…”
“ Emangnya kamu tidak punya baju pesta?”
Ia menggeleng.
“ Masa tidak punya? Satu pun? “
Ia mengangguk. Aku terhenyak. Aku tahu orangtuanya. Setahuku, ayahnya bekerja sebagai pegawai di perusahaan yang cukup besar. Memang sih, dia punya seorang kakak dan seorang adik. Tapi masa sih, sehelai baju yang cukup layak untuk dipakai ke acara resmi ia tak punya?
“ Benar benar tidak punya? “ aku masih tak percaya.
“ Ada Kak. Baju buat Lebaran 2 tahun lalu. Tapi sudah kekecilan.. lagipula sudah agak lusuh, karena setiap ada acara aku pakai baju itu…”
Tak usah kutanya, aku yakin pasti ia pun malu. Umur umur segitu, anak ABG pasti lagi centil centilnya kan. Selanjutnya kukatakan padanya, walau kedodoran, dia tetap manis kok memakai baju itu. Dan kalau ternyata baju itu dihibahkan untuknya, kusuruh ia makan yang banyak agar cepat muat di baju tersebut. Saat kuajak dia mengambil makanan, katanya nanti saja. Dia sudah minta abangnya mengantarkan makanan, karena kalau berdiri dia takut celana yang ia kenakan melorot, karena masih longgar di pinggang mungilnya. Dalam hati kubertekad, jika kelak aku memiliki anak perempuan aku tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padanya….
Sorang temanku sedang hamil tua. Mungkin tinggal menghitung hari. Menurut perkiraan dokter, mungkin jatuh di antara 2-3 hari ke depan, terhitung pada hari saat aku bertemu dia di sebuah kafe pada suatu sore.
Di saat sedang sibuk membahas suatu topik, telepon genggamnya berdering. Kudengar ia berkata :’ya Ma’ , ‘tak apa apa Ma..’ atau ‘tak usah Ma..’ , jadi kupikir pastilah itu ibunya yang menelepon. Kuteruskan menghirup tehku sambil menunggu ia selesai berbicara dengan ibunya.
Tak sampai lima menit kemudian temanku tadi meletakkan telepon genggamnya. Selanjutnya pembicaraan kami seperti tidak nyambung. Kulihat dia pikirannya entah melayang ke mana. Kutanyakan padanya, “ Kamu kenapa? Kok gak konsen? Mulai mulas? Apa uda mau pecah ketuban nih….?”
Was was juga aku. Kalo mbrojol di tengah tengah kafe sih kan gak lucu juga, meski sebuah rumah sakit besar tepat berada di sebelahnya . Oh ya, aku janjian sama temanku ini sebelum dia cek ke dokter kandungan mengenai flek flek yang sudah mulai keluar. Sembari menunggu suaminya datang, maka aku lah yang menemaninya terlebih dulu. 
“ Ah tidak… Itu tadi ibuku..”
“ Oh ya? Sudah mau berangkat ya? Menunggui kamu melahirkan? “
Di luar dugaan ia menggeleng. Katanya ibunya memutuskan tidak akan datang.
Haaaaaah???
“ Ibuku bilang, dia gak usah datang saja ya… Soalnya ada adikku dan istrinya baru datang ke Medan. Katanya ia tidak enak meninggalkan mereka. Katanya apa ayahku saja, yang datang ke mari. Kubilang tidak usah. Tak apa apa…”
Temanku tadi mengambil tisu. Suaranya mulai bergetar. Waduh, aku jadi tidak enak hati. Kudekati dia, kuelus elus pundaknya sembari celingak celinguk takut ada yang memperhatikan . Nanti aku pula yang dikira membuat menangis seorang wanita hamil.
“ Urusan begini, mau melahirkan, jelas aku lebih butuh ibuku,kan? Katanya, karena ini anak ke duaku, ibuku bilang aku pasti sudah punya pengalaman. Jadi sudah bisa sendiri…“
Temanku mulai terisak.
“ Hmmmmm…” kepalaku berputar mencari kata kata yang tepat. “ Lihat sisi baiknya, Say… Ibu lo menaruh kepercayaan yang besar ama elo.. Menurutnya, elo dan suami bisa menghandle semuanya… “
“ Iya tetap saja. Aku sebenarnya sangat berharap ibuku ada. Dan dengan perkataannya bahwa sedang ada adikku di sana, aduuh… rasanya aku ini seperti tidak dianggap …Bukannya aku tak mau ada ayahku. Tapi ayahku mana mengerti urusan perempuan begini. Sebenar benarnya aku sangat butuh ibuku. Nggak tau nih..rasanya aku sedih sekali..
” Kau tahu, saat hendak melahirkan anak pertamaku pun tadinya ibuku enggan datang. Katanya ia tak sanggup membayangkan..apalagi melihat aku kesakitan saat melahirkan. Sedangkan justru di saat saat itu, aku sangat membutuhkan seorang ibu…Mengapa ia memilih ketakutannya sendiri, mengesampingkan apa yang aku, anak perempuannya, sangat butuhkan? ”
” Tapi kan si Tante akhirnya datang Say..” hiburku.
” Iya. itu setelah didesak nenekku… dan seminggu setelah aku melahirkan, ibuku sudah kembali pulang.”
Aku tak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa menit kubiarkan ia menumpahkan isi hatinya, temanku tadi segera menghapus air matanya. Katanya, walau sesedih dan sebegitu kecewanya ia, tetap saja itu ibunya. Ah dalam hati kubertekad, jika kelak aku memiliki anak perempuan aku tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padanya….

( a re-post )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s