The definition of hungry.

After couple of hours at the gym, when I had only a cup of tasteless coffee for breakfast, when my  body sores from running, pedalling, squating, doing lunges, a little lifting and ofcourse, sweating.

Once in a month, on a few days, excess eating and nibbling. I don’t really feel hungry, actually, but it’s kinda calming, when munching. Same thing happens when I have a lot , i mean A LOT, in my head.

Charity. Giving to the poor, help to the those in need. A fantastic feeling after doing it, no matter how big or small what you give. It’s addictive.

I feel empty. During conversations, that I can’t follow, because I don’t have any knowledge about the topic. That kind of hungry.

When love touch me. Constant hunger of hearing a voice, touching a warm body. I need a chest for me to snuggle in, to feel safe. A shoulder to lay my head. Look to the eyes where I can get lost and finally find my comfort. A zen.

  

Renungan kloset.

Dari dulu, saat masih tinggal bersama orang tua, otak saya baru bisa bekerja maksimal sekitar di atas jam 8 malam, setelah semua orang sudah kenyang, santai dan tinggal menunggu tidur. 

Dengan waktu yang sedemikian singkat, sudah pasti kalo belajar ya sistim kebut semalam. Padahal, biasanya juga jam 9 saya sudah mesti tidur. Yaaa kalo musim ujian boleh lah molor molor sedikit sampai jam 10-an. 

Cukup, buat belajar? Ya enggak. Bused, belom pake ngelamunnya, paling cuma mampu menyerap beberapa lembar saja. Ujian kan bisa beberapa mata pelajaran sekaligus.

Trus gimana dong? Ya gak gimana mana. Santai saja. Sebagai orang yang mengandalkan penglihatan dan pendengaran dalam menghapal, kan bisa colongan saat mendengar guru atau dosen mengajar di depan kelas. Biasanya sih, materi ujian nggak terlalu beda dengan apa yang diajarkan kok. Jadi cuma perlu ambil sedikit dari buku paket. 

Makanya saya suka senewen jika tidak bisa hadir semisal karena sakit. Bisa dipastikan, materi hari itu susah sekali menetap di kepala meski saya sudah membaca catatan dari teman.

Saya juga tidak terlalu tekun mencatat. Paling berupa poin poin, atau bikin foot note di buku teks. Makanya buku paket saya jarang turun temurun. Kasihan, keburu ruwet nanti yang memakainya. Rame dengan coret coretan. 

Bisa tidak hal yang saya alami itu diterapkan ke anak anak saya? Nah ini dia. Tanpa disadari kan kita sebagai orang tua menerapkan apa yang biasa diterapkan pada kita saat kita kecil. 

Saya suka lupa, bahwa anak anak saya bukanlah saya. Jendernya saja sudah beda, mereka laki laki dan saya perempuan. Di usia yang sama, saya pasti lebih anteng dan lebih dewasa ketimbang mereka, maka bisa menemukan metode belajar seperti di atas.

Hingga hari ini pun saya masih mencoba menemukan formula yang pas untuk membuat anak anak saya ini merasakan kebutuhan akan belajar. Dan di era gadget dan game dan segala macam fasilitas yang memanjakan anak begini, astagaaaa.. Susahnya. Baru mendengar kata ‘belajar’ aja si Sulung udah langsung menguap dan si Bungsu kontan melipir membawa tablet.

Jadi ya begitu renungan saya di kloset pagi ini. Membesarkan anak di jaman begini, susah susah gampang. Dikerasin, tidak bisa. Mereka berontak dan bisa melawan. Dengan lemah lembut lah kok ya jadinya ngetes ngetes terus kesabaran simboknya….

Kasih tahu ya, kalo kamu sudah ketemu metodenya. Saya perlu pencerahan. 

Enigma.

Jika ingin memakai bahasa tinggi, maka sering seringlah membaca tulisan yang berbahasa tinggi.

Saat ini yang terlintas di kepala saya adalah sebuah kata : ‘enigma’. Dulu pernah tahu artinya, tetapi karena tidak pernah memakai kata kata itu dalam percakapan sehari hari, ya saya jadi lupa.

Yang saya ingat malah itu nama grup musik, genrenya kayaknya gospel gitu deh. Yang lagu topnya : Return to Innocence ( iya, saya anak 90’an ).

Buku dengan bahasa tinggi tidak terlalu menarik buat saya. Ya saya baca juga sih. Tapi membacanya suka lompat lompat atau malah tidak tuntas. Mungkin kemampuan otak saya ngga nyampe, ya. Atau emang uda ribet, jadi keburu ribet baca yang rada ribet.

Dalam beberapa tulisan yang pernah saya buat, tidak ada rasanya yang pakai bahasa tinggi. Yang berbahasa Inggris pun grammar nya juga moderate aja, gak canggih canggih amat. 

Beberapa tulisan malah rada dangdut, semacam era majalah Anita Cemerlang atau novel Freddy S yang entah kenapa covernya selalu mas mas berjambul dengan kumis tipis ( iyaaaa iyaa, saya sudah menjelang 40 tahun, uda dewasa banget nget )

Yang paling canggih kayaknya satu karya di mana semuanya, satu cerita, memakai awalan A. Ada, karya lama saya. Ntar deh saya masukkan di sini. Itu paling canggih yang sudah pernah saya buat. Segitu-gitunya saja.

Sama seperti isi kepala saya, maka apa yang telah dan akan saya tulis, random saja. Mungkin suatu saat saya akn mengulas tentang sebuah kota. Atau restoran. Atau jajanan kaki lima. Atau mengulas tentang seseorang.

Saya tak punya target khusus, cocok untuk usia berapa, latar belakang pendidikan apa, apalagi strata sosial. Yang penting yang tulis ada yang suka, dan mudah dicerna, cukup buat saya. 

Syukur syukur jika ocehan saya dalam bentuk tulisan bisa menghasilkan pendapatan. 

( selanjutnya berdoa dengan khusyuk untuk paragraf terakhir itu 👆🏼 )

Aku dan benci.

  

Jika aku tak ingin bertatap mata

Jika aku tak ingin mengucap kata

Jika aku beranjak tak ingin di ruang yang sama

Jika aku meredam doa yang menyumpah

Maka itu adalah luka

Jika luka itu terbiar menganga

Dan sejalan waktu luka itu bertambah

Suatu masa aku hanya ingin mengadu ke hadapanNya

Dan sebuah harapan dan kedamaian kudapat pada akhirnya 

Tak penting lagi semua rasa yang pernah ada

Sejarah, kenangan tak lagi membekas di dada

Rasa habis tiada tersisa

Kutahu di masa yang akan tiba

Kau akan menjadi bukan siapa siapa

Semua tentangmu hanya sebuah ruang hampa

Begitu lah kebencianku mendera…