N.

Aku tahu bagaimana menjadi sebuah topik pembicaraan. Saat orang lain berkata ini berkata itu, membahas ini membahas itu dari sebuah spekulasi hingga akhirnya menjadi tuduhan. Seolah mereka hidup denganku dengan jarak sejengkalan.  Kuanggap saja mereka lupa pengetahuan. Bahwa yang tahu isi hati manusia itu cuma Tuhan.

Berdasarkan hal itu, maka gambaran tentang seseorang dari orang lain aku tak cepat cepat aminkan. Oh, tentu tetap aku dengarkan. Penting itu buat pertahanan. Karena aku sendiri bisa kok, memberi penilaian. 

Saat aku tak menyukai seseorang maka jarang aku letupkan. Tak ingin pula aku sebarkan. Apalagi kubuat orang lain berpikir sama dengan yang aku rasakan. Kuanggap saja vibrasi kami yang tak sejalan. Belum tentu dengan yang lain dia bertentangan. Dan jika orang lain juga merasakan, kuanggap saja ternyata nurani dan nalarku memang mampu berperan. 

Namun bila sampai jika aku telah mengambil sebuah keputusan. Melalui berbagai pengamatan dan berbagai tahapan. Niscaya akan bulat, maka tak akan ragu-ragu seseorang itu aku tinggalkan. 

Berprasangka buruk aku amat tak berkenan. Aku percaya selama ini aku dalam lindungan Tuhan. Semua yang tak baik akan Dia peringatkan. Bukan berarti aku tak percaya kepada sesama insan. Tapi aku punya hati yang mesti aku selalu bersihkan. Apa perlu menambah beban berupa buruknya pikiran…?

Advertisements

Menelan diam.

Tak hanya sekali dua, bahkan mungkin tiga. Terkena terjangan amarah, entah karena syak wasangka, ataukah memang alpa. Mencoba menjelaskan pun, terkadang percuma juga. Karena jika berbantah, dianggap tak mau mengaku salah. 

Sadari diri sendiri, itu yang pertama. Saat merasa diri tak banyak tingkah, sementara lebih banyak berdamai dengan rasa, di situ yang bahaya. 

Aku sudah buat apa?

Banyak kah aturan yang membuatmu susah?

Bukankah selama ini aku lebih banyak berkata iya?

Tak cukupkah aku bisa dipercaya?

Ah.

Percuma. Kata kata yang tak berguna. Mau balik meradang lebih percuma. Berkata jujur dengan pelan pun sia sia. Vonis sudah dilempar di depan muka. Maka lebih baik diam itu ditelan saja.
  

Tentang Orang Kaya.

Kekayaan itu memang bisa bikin arogan, ya. 
Mungkin beberapa orang lupa, 
kalau mati, siapa yang memandikan?

Siapa yang masukin ke peti?

Urus ke pemakaman?

Siapa yang mendoakan?

Bisa sih bayar orang.

Sebelom mati da buru2 dp buat pemakaman dan tetek bengeknya. 

Tapi ada lagi…

Mungkin mereka juga lupa..

Tiket masuk surga kan ga bisa dibeli?

Nama.

Setelah sekian belas tahun menggunakan nama yang lain, ( akibat ketidaktahuan bahwa hal tersebut sebenarnya tidak boleh dalam Islam ) lucu juga melihat nama sendiri sesuai akta lahir. 

Gak seperti di akta sih, sebenarnya. Saya merasa nama asli saya terlalu panjang. Jadi untuk nama depan, saya sunat 2 huruf, sesuai nama panggilan. 

Ada sebuah doa saat saya mengembalikan nama gadis saya. Bahwa sehabis ini , semoga rezeki, nasib dan kesehatan saya turut juga membaik. ((( Aamiin! )))

Saat kedua orangtua memutuskan memberi nama ini, saya pun yakin mereka memiliki doa, dan harapan yang baik- baik pula terhadap saya. Semoga doa tersebut masih akan mengiringi setiap langkah saya. ((( Amiiiiiin )))

Cinta Kasih Induk Seekor Trenggiling.

Seorang pejabat dari daratan Tiongkok beserta beberapa kolega ketika bermain di sebuah kota, melihat pedagang kuliner di situ ada yang menyajikan proses penyembelihan trenggiling hidup sampai memanggangnya. Mereka pun merasa tertarik dan ingin menyaksikan sendiri seluruh proses penyajian hidangan lezat itu

Konon, hewan trenggiling setelah tertangkap, karena ketakutan atau defensif secara naluri dan secara otomatis tubuhnya akan menggulung sendiri dengan sangat erat bak sebuah lingkaran atau bola. 
Pada umumnya penjualan trenggiling adalah sbb: Setelah dipilih oleh pembeli, penjual akan sekuat tenaga menarik hingga lurus trenggiling yang meringkuk itu, selanjutnya dada dan perut dibelah, organ-organ dalam dikeluarkan, kemudian dicuci bersih, dijepit dengan jepitan besi dan dipanggang di atas bara api sampai sisik tebal di tubuhnya rontok semua.
Seorang pemuda penjual mengambil pilihan trenggiling yang berbadan gemuk, lalu dengan ketrampilannya siap menarik lurus trenggiling yang dipegangnya itu, namun dengan sekuat tenaga ia tak mampu juga menarik lurus pemakan serangga terutama semut dan rayap tersebut.

Giliran orang-orang yang menyaksikan merasa heran, penjual muda itu juga merasa kehilangan muka, maka dibantinglah si trenggiling malang itu ke lantai dengan keras, sambil menjelaskan trenggiling akan membuka dirinya jika kesakitan. Tidak

dinyana bantingan berkali-kali itu malah membuat sang trenggiling meringkuk lebih erat, dan mata sipit trenggiling yang semula terlihat ketakutan telah tertutup dengan rapat, dari sudut moncong yang runcing itu mengalir darah segar, akan tetapi tubuhnya tidak nampak menjadi lurus, malah terkesan semakin melingkar dengan erat. 

Rombongan tidak tega menyaksikan kondisi trenggiling itu dan melambaikan tangan memberi isyarat tidak ingin diteruskan lagi. Pemuda penjual masih belum puas, diambillah jepitan besi lalu menjepit trenggiling kemudian diletakkan di atas api panggang, sisik keras berontokan, bau terbakar menebar luas, posisi trenggiling itu tetap tidak berubah. 

Pemuda penjual tidak berdaya lagi, dan menggelengkan kepala sambil berkata trenggiling ini pasti bermasalah, tidak layak dikonsumsi, sambil membuangnya di lahan pasir yang terletak di belakangnya. Kemudian dipilih lagi 2 ekor lainnya, proses pengolahanpun berjalan dengan sangat lancar dan tidak sampai 5 menit telah selesai.

Selanjutnya teman itu mengatakan, ketika beberapa temannya sedang membayar, tanpa disengaja terlihat trenggiling naas tadi yang terbuang di atas pasir itu perlahan-lahan meluruskan tubuhnya, kelopak matanya terbuka sedikit, disusul dengan beberapa kedutan, lantas menjadi lurus kaku dan tidak bernyawa lagi. seiring dengan tubuhnya menjadi lurus, mereka semua dikejutkan oleh gerakan lembut dari perut yang terkapar, muncullah seekor trenggiling kecil yang tubuhnya transparan, hanya sebesar seekor tikus, perlahan-lahan ia membuka mulutnya yang kecil, seakan-akan sedang memanggil induknya yang sudah kaku tak bernyawa itu.

Pemandangan tersebut membuat semua orang terpana. Dalam sekejap saya merasakan darah dalam tubuh bergelora, kepala dan rambut seakan membengkak, air mata bergulir dalam kelopak mata. Berat badan trenggiling itu tidak melebihi 5 kg, namun tubuhnya telah mengalami bantingan dan pembakaran, hingga napas terakhir masih saja melindungi anaknya, tubuh yang telah terpanggang setengah matang, sisik pun rontok semua, namun masih tetap berhasil melindungi keutuhan jiwa dan raga anaknya, kekuatan semangatnya telah jauh melampaui batas kehidupan
“Cinta kasih induk” hewan begitu mengharukan, cinta kasih ibu seorang manusia lebih menyentuh hati. 
Ada yang mengatakan kasih ibu bagaikan payung, walau sudah butut, namun dapat melindungi dari sengatan matahari dan terpaan hujan. Kasih ibu merupakan sebuah harapan tanpa suara, walau tanpa kata-kata, namun sangat menggetarkan hati…kasih ibu sepanjang hayat.
(( I did not write this. But the story touched my deepest heart, cuz definitely I’d do the same ))

Gaduh.

Terlalu banyak memikirkan hal hal yang tak penting itu bak sebuah kutukan. Melelahkan, saat isi kepala terdengar sangat bising, bersahut-sahutan dengan berbagai pertanyaan dan sekaligus jawabannya, namun dengan berbagai versi.

Anehnya, kebisingan itu menjadi sebuah kenikmatan sendiri, meski oh Tuhan.. Lelahnya.

Tidur, adalah salah satu terapi yang bisa meredamnya. Itupun dengan syarat jika tidak disertai mimpi.

But sometimes, I believe in my dreams.

Meski sebagian besar adalah benar, mimpi itu hanya bunga tidur. Efek alam bawah sadar, yang merekam semua kejadian, keinginan dan ketakutan kita meski belum tentu semua itu bakal benar terjadi. Aku percaya, mimpi juga bisa berupa petunjuk. Asal mau dipikirkan.

Nah itu.

Balik lagi kan, jadi salah satu bahan pikiran yang mungkin tidak penting. Seperti bakal menyelamatkan dunia saja, jika memikirkan mimpi. 

Begitupun dengan cinta. Tak luput dari salah satu sumber gaduhnya isi kepalaku. Apa yang sudah, atau aku jalani, apa yang kudengar, kulihat dan kurasa. Seperti biasa, kepikirkan mulai dari definisi yang umum, sampai ke keputusan akhir apa cinta itu menurutku.

Aku teringat saat seseorang pernah bertanya : ” Why are you so bitter? ” , trus melanjutkannya dengan , ” You have the ability to love and cheer people up? ”

[ Jangan lupa, orang yang menyenangkan dan bisa menghibur itu belum tentu bisa membuat hatinya sendiri bahagia. Atau seorang dokter, belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri. Atau seorang motivator, guru, belum tentu bisa menatar dirinya sendiri. Atau seorang pemuka agama belum tentu bisa menahan hawa nafsunya sendiri <– nah kan. Getir.]

Some thought, I asked too much. While I thought, I never asked much. Some thought, I’m being uncontrollable.While I thought, I had obeyed so many rules. If I could give them freedom, why they keep wanting me to stay in a cage? Some thought, I’m too wild. While I thought, I hardly give any restrictions to anybody. Some thought, I’m too cold. While I thought, I’ve been pouring oh so many love. Why must I always say yes, while they kept telling me no? I gave my trust to them, why is it to hard to trust me back?  

Kira kira begitu isi perdebatan di kepalaku. Berisik, yah? Karena selalu ada 2 sisi yang saling berinteraksi, sahut sahutan dengan situasi yang bertolak belakang.

For me, love is simple. All you have to do is : trust. Itu modal utama. Selanjutnya semua akan mengikuti dan akan berjalan baik baik saja. Mau dari segi hati kek, finansial kek, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang kek. Just trust your partner. 

I trust. Karena itu menyehatkan mentalku. Semudah itu alasannya. Pertanyaannya selalu sama dalam setiap relationship yang aku jalani : ” Can you trust me? “

Good Mood.

Am in good mood.
Maybe because it’s weekend.
Maybe because actually my body is aching like hell, sore, tired.
Maybe because it’s always nice to earn ( eventhough only a little ) money.
Maybe because of Monday.
Maybe because I see the smile of my baby.
Maybe because I met people.
Maybe because I laughed and smiled a lot today.
Maybe because I was sweating.

Doesn’t matter.
All I know I’m in a good mood.

View on Path