Menelan diam.

Tak hanya sekali dua, bahkan mungkin tiga. Terkena terjangan amarah, entah karena syak wasangka, ataukah memang alpa. Mencoba menjelaskan pun, terkadang percuma juga. Karena jika berbantah, dianggap tak mau mengaku salah. 

Sadari diri sendiri, itu yang pertama. Saat merasa diri tak banyak tingkah, sementara lebih banyak berdamai dengan rasa, di situ yang bahaya. 

Aku sudah buat apa?

Banyak kah aturan yang membuatmu susah?

Bukankah selama ini aku lebih banyak berkata iya?

Tak cukupkah aku bisa dipercaya?

Ah.

Percuma. Kata kata yang tak berguna. Mau balik meradang lebih percuma. Berkata jujur dengan pelan pun sia sia. Vonis sudah dilempar di depan muka. Maka lebih baik diam itu ditelan saja.
  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s