N.

Aku tahu bagaimana menjadi sebuah topik pembicaraan. Saat orang lain berkata ini berkata itu, membahas ini membahas itu dari sebuah spekulasi hingga akhirnya menjadi tuduhan. Seolah mereka hidup denganku dengan jarak sejengkalan.  Kuanggap saja mereka lupa pengetahuan. Bahwa yang tahu isi hati manusia itu cuma Tuhan.

Berdasarkan hal itu, maka gambaran tentang seseorang dari orang lain aku tak cepat cepat aminkan. Oh, tentu tetap aku dengarkan. Penting itu buat pertahanan. Karena aku sendiri bisa kok, memberi penilaian. 

Saat aku tak menyukai seseorang maka jarang aku letupkan. Tak ingin pula aku sebarkan. Apalagi kubuat orang lain berpikir sama dengan yang aku rasakan. Kuanggap saja vibrasi kami yang tak sejalan. Belum tentu dengan yang lain dia bertentangan. Dan jika orang lain juga merasakan, kuanggap saja ternyata nurani dan nalarku memang mampu berperan. 

Namun bila sampai jika aku telah mengambil sebuah keputusan. Melalui berbagai pengamatan dan berbagai tahapan. Niscaya akan bulat, maka tak akan ragu-ragu seseorang itu aku tinggalkan. 

Berprasangka buruk aku amat tak berkenan. Aku percaya selama ini aku dalam lindungan Tuhan. Semua yang tak baik akan Dia peringatkan. Bukan berarti aku tak percaya kepada sesama insan. Tapi aku punya hati yang mesti aku selalu bersihkan. Apa perlu menambah beban berupa buruknya pikiran…?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s