Pelajaran Baru.

Aku bebal. Keras kepala, kata bapakku. 

Kata dia juga. 

Katamu pun begitu.

Sama pula dengan kata mereka.

Padahal, sini kuberi tahu.

Aku bukan semata mata bebal.

Atau tidak bisa dilarang.

Gampang kok.. Jika kau mau aku menurutimu.

Bantu aku pahami maumu.

Bukan hanya sekedar agar kupatuh.

Apalagi  cuma bermodalkan  kata-kata , ” Aku tahu yang terbaik untukmu.”

Bagiku bak sebuah pelecehan, bahwa aku tak mampu.

Apa guna orangtuaku berpeluh menyekolahkanku?

Tak usah khawatir aku akan merendahkanmu.

Ketahuilah, sebuah kelemahan sesungguhnya lebih bisa membeli hatiku.

Jangan kau tutupi dengan kuasamu.

Akan kuatlah aku membatu.

Kata mereka, jika kau paham itu.

Mengapa tidak mencoba iyakan dulu.

Tanpa banyak tanya seolah berdebat.

Oh bukan, sanggahku.

Berdebat bukan yang kumau.

Itukan katamu, kata mereka padaku.

Bagi dia itu sebuah debat.

Selama ini kubertahan dengan sikapku.

Kurasa tak ada yang kurugikan darinya atau darimu.

Tak peduli dengan apa di kepalanya dan kepalamu.

Aku sedang letih dengan ini itu.

Pernahkah aku membuat susah dirimu?

Mungkin itu yang menyebabkan mereka berlalu.

Apakah ini pelajaran baru buatku?

Agar selalu mengiyakan terlebih dulu?

Advertisements

Ahok.

Membayangkan bolak balik urusan dengan pemerintahan itu kadung sudah bikin be te. Yang udah udah, selain lelet, panduan ga jelas, ribet, dan kudu selap selipin lembaran rupiah. Kalau tidak selap selip, dijamin habis waktu dan ditangani dengan muka lempeng bahkan cenderung masam.
Beberapa hari lalu saya mesti berurusan dengan aparat negara di tingkat kelurahan. Lumayan lah. Tidak semrawut,  antri tidak terlalu lama, dan sudah memakai nomer antrian. Seperti yang saya sudah duga sebelumnya, tidak hanya selesai di situ saja.
Saya mesti mendatangi Pak RT, lalu Pak RW untuk sebuah surat pengantar. Okelah anggap saja memang keteledoran saya untuk memahami birokrasi, tapi itu saja saya mesti 2x bolak balik menemui Pak RT dan Pak RW.
Begitu urusan Pak RT/RW selesai, tinggal tahap akhir, yakni butuh tanda tangan Pak Lurah, yang kebetulan saat itu sedang tidak berada di tempat. Kata staffnya, kembali nanti pukul 13.00.
Mengingat budaya bangsa kita yang cenderung molor, saya pikir oke deh 30 menit dari pukul 13.00 saya kembali ke kelurahan. 

Sialnya, beliau keburu sudah tidak ada di tempat. Aduuuuh. Kesalnya. Praktis setengah hari sudah habis waktu saya.

Tiba-tiba salah seorang staf kelurahan menghampiri saya. Katanya, ” Telepon aja, Bu. Tanya kapan kembali ke kantor. Tapi baiknya SMS saja dulu, takutnya sedang rapat atau tidak diangkat karena nomer tak dikenal.”

Heh?

Saya sempat pesimis, ada gitu pejabat yang mau direcoki warga? Tapi kadung sudah capek bolak balik, saya coba kirim SMS. 

Di luar dugaan, Pak Lurah dalam waktu singkat membalas, bahkan menelepon saya untuk memberitahukan pukul 16.00 beliau sudah kembali ke kantor.

Wah. Kejutan!

Yang saya tahu, dulu dulu paling lama juga pukul 15.00 pejabat atau pegawai instansi sudah pada bubar jalan. Entah ke mana. 

Singkat cerita, kembalilah saya ke kelurahan dan diterima dengan baik oleh Pak Lurah. Koperatif, informatif, jauh dari kesan merasa terganggu,  apalagi citra mata duitan. 

Saat beliau keluar ruangannya untuk memberi stempel pada berkas yang saya perlukan, mata saya tertuju pada foto yang terpampang di dinding.

Di situ ada wajah yang berbeda dari wajah wajah lainnya. Bentuk mukanya bulat, mata sipit dan kulit putih bersih khas peranakan Tionghoa. Tertulis namanya Basuki Tjahaja Purnama, yang selama ini lebih dikenal dengan panggilan “Ahok”.

Suka atau tidak suka, kemajuan yang dirasakan warga seperti saya, terasa perbedaannya sebelum beliau menjabat sebagai wakil hingga akhirnya menjadi Gubernur. Apalagi mengingat hebatnya pro dan kontra saat pencalonannya berlangsung. Sekarang? Lah lebih beres kok. Jaaauh lebih beres. Katanya sih : takut sama Ahok. 

Iya, dia temperamen. Keras, tidak pake ba bi bu. Tapi he really is doing his job. Mungkin orang orang kita perlu pemimpin berani mati seperti dia. Bukan yang asal ho oh saja yang penting jadi kaya sampai entah berapa keturunan.

Saran saya sih cuma satu buat Koh Ahok, marah boleh. Sikat habis di tempat juga boleh. Bagus buat shock therapy. Tapi sebaiknya pemilihan kata katanya dipercantik sedikit, namun tetap pedas dan bikin keder. Jadinya elegan. 

Akhir kata, cuma mau bilang, terima kasih Koh Ahok. Well done. I’m with you. 

Merdeka!

  

Battle of Sexes.

Some says that I’m too cold. Too independent. Showing too much power, that’s why some people, especially men find me too strong, too wild for their ego. 

Actually, just like any other women, I have my soft spots too. There are times, when I got stuck, didn’t know what to do or where to start. That’s when I seek for a partner, a friend to share. For a discussion, not for a debate. Eventhough sometimes I don’t really follow exactly what they suggest, since I have to make my own decissions, but for me they already help me to see from different perspectives. They prepped me for any possibilities that might appear. I surely appreciate that. 

Maybe some men like their women helpless. So they can fullfil their ego as a superior. I can give that too. I can pretend like I always need a help, I can pretend that everything is too hard and I need them to do that for me. I can be annoying. I can be spoiled woman who doesn’t know anything except shopping and spreading my legs wide open for them.

But based on past history, it wouldn’t last long. As soon as I get the signal I’m being a disturbance, incapable, as soon as they thought I complain too much ( i only try to share, for heaven’s sake ) that’s when I’m back being me. I keep my mouth shut, and do everything on my own. And when I’m back being me, tell me…

What are you to me?

Run, for Fun.

Saya bukanlah seorang pelari. Mengenal olahraga lari pun baru baru saja, mungkin baru tahun lalu. Awalnya karena ajakan beberapa teman yang sudah terlebih dahulu menekuni lari.

Pada dasarnya, saya orang yang mau mau saja mencoba hal hal baru. Begitupun dalam berolahraga. Mencoba saja mengikuti semuanya, kalau cocok ya teruskan, kalo tidak ya udah, yang penting sudah tahu rasanya.

Event lari pertama yang saya ikuti adalah Color Run. Tahun lalu. Jaraknya 5 kilo. Kata teman, ah itu lari lucu lucu saja kok.. Dan karena soundtrack event tersebut adalah lagu Elle Goulding : Anything Could Happen, yang kebetulan lagi saya suka, maka saya tertarik untuk ikut. 5k pertama saya itu, berhasil dilewati. Meski dengan banyak jalan dan paru paru yang mau pecah rasanya karena belum bisa mengatur nafas dan tempo. Selesai lari, saya ngejeblak tidur di sofa seperti baru selesai menggali sumur.

Keesokan harinya, bokong saya sakit. Nyut nyutan. Kata teman saya, oh kamu mungkin salah menjejakkan kaki. Tumit jatuh duluan ke tanah. Semestinya semua tapak yang jatuh ke tanah, kecuali para sprinter yang biasanya lari memakai ujung kaki. Okelah, pelajaran pertama saran itu tadi. Ketika saya praktekkan ternyata benar. Bokong tidak sakit lagi. 

Satu demi satu event lari saya ikuti. Boro boro mikir mau menang, jadi juara. Asal bisa finish dan tidak cidera sudah cukup bagi saya. Berikutnya saya bertujuan meningkatkan perolehan waktu. Lebih ke arah challenging diri sendiri saja, sih.

Saya tahu. Untuk jadi pelari kencang itu susah banget. Butuh latihan dan dedikasi yang tinggi. Jadi, salut pada mereka, yang mampu berlari jarak jauh, dan finish dengan catatan waktu yang baik pula. Saya tahulah kapasitas diri saya. Tak terlalu kompetitif, santai, dan enggan dengan pressure. Begitulah. So I decide, I do run.  But only for fun…

  

Khayal.

  
Ku punya mimpi tentang sebuah rumah. Tak perlu megah, tapi bagiku amat indah. Ku tak pernah suka tembok yang sekedar putih saja. Tergantung jenis rumahnya. Jika tipe seperti di Eropa, warna2 gelap cocok kurasa.

Rumah itu harus kutata dengan cinta. Di mana aku merasa memilikinya. Aku tak terlalu suka berpindah pindah. Karena bagiku rumah dan aku mesti satu jiwa. Sentimentil, katanya. Lah , memangnya itu salah?

Aku tak ingin tinggal sebuah rumah, yang entah mengapa aku merasa bukan bagian darinya. Seperti hanya pelengkap saja. Namun tak jelas gunanya seperti apa. Bukankah itu tugas seorang wanita? Menata rumah? Dan nyaman berada di dalamnya? Kalau hanya sekedar merapikan, seorang pembantu kan juga bisa.

Dan apabila dikatakan aku tak punya hak atas sebuah rumah, bahwa kelak aku hanya datang sebagai tamu saja, aku rasa tak perlu lah aku punya keterikatan apa apa. Tak diungkapkan aku toh sudah merasa. Dari pertama kali datang pun kedatanganku tidak dengan sukacita. Penuh dengan sesak di dada. Dan kala kata itu terucap, hanya membawa sakit di hati saja. 

Harapanku mimpiku menjadi nyata, tentang sebuah rumah, di mana aku merasa menjadi bagian darinya, dengan tembok yang tak sekedar putih saja. Di mana akan banyak tawa dan canda di sana. Dan saat jauh darinya, ada rasa yang menggebu terasa. Seperti ingin pulang ke pelukan ibunda. Itu rumah yang kudamba. 

Namun…. Akankah ada engkau di sana?

  

Secrets.

  

Aku tahu banyak rahasia.

Aku tahu dia marah padamu karena apa.

Aku tahu dia punya orang lain di sisinya.

Aku tahu pasangannya tidak setia.

Aku tahu bahkan sampai punya anak darinya.

Aku tahu ia juga sama.

Aku tahu mereka ini hampir berpisah.

Aku tahu pasangannya gemar membeli cinta.

Tak seperti yang terpampang di sosial media.

Aaaaah.

Aku pun pernah berjumpa saat ia bersama orang lain yang bukan muhrimnya.

Oh tentu bukan pertemuan biasa

Karena saat melihatku mengapa ada kepanikan yang terlihat di wajahnya?

Tentu karena aku kenal dekat dengan istrinya.

Aku tahu banyak kisah yang berbeda.
Tentu dari mulut yang berbeda pula.

Masing masing membuka rahasia.

Yang hingga kini tetap kujaga.

Tak perlu membuat mereka, atau orang orang lainnya beradu kata.

Atau menggelar apa saja yang mereka anggap fakta.

Bagiku, buat apa?

Bukan aku, yang bernafas dengan menyebarkan berita.

Bak menikmati makan bangkai sesama.

Memangnya aku seperti dia, si Ular Betina?

Kupendam berbagai cerita sekedar membantu saja.

Bukankah enak saat kita ingin didengarkan, ada yang menyodorkan telinga?

Maybe.

They will come

A bunch of them, maybe lots of them

In search of gold and glitters

And a selfish hope of will be well taken care of by you

But too blind to realize

You will drawned into a sea of awe

How you thought how good you are

For a moment you forgot about these wounded hearts

Forgot that the one who came before them when you have almost nothing

Way before you have everything and become something

But there will be time when you realize

What has been going thru is the most precious thing ever happened in your life

And you will know, somehow, this new joy and happiness can not be compared to the past

And the curse of regrets will follow you at last