Khayal.

  
Ku punya mimpi tentang sebuah rumah. Tak perlu megah, tapi bagiku amat indah. Ku tak pernah suka tembok yang sekedar putih saja. Tergantung jenis rumahnya. Jika tipe seperti di Eropa, warna2 gelap cocok kurasa.

Rumah itu harus kutata dengan cinta. Di mana aku merasa memilikinya. Aku tak terlalu suka berpindah pindah. Karena bagiku rumah dan aku mesti satu jiwa. Sentimentil, katanya. Lah , memangnya itu salah?

Aku tak ingin tinggal sebuah rumah, yang entah mengapa aku merasa bukan bagian darinya. Seperti hanya pelengkap saja. Namun tak jelas gunanya seperti apa. Bukankah itu tugas seorang wanita? Menata rumah? Dan nyaman berada di dalamnya? Kalau hanya sekedar merapikan, seorang pembantu kan juga bisa.

Dan apabila dikatakan aku tak punya hak atas sebuah rumah, bahwa kelak aku hanya datang sebagai tamu saja, aku rasa tak perlu lah aku punya keterikatan apa apa. Tak diungkapkan aku toh sudah merasa. Dari pertama kali datang pun kedatanganku tidak dengan sukacita. Penuh dengan sesak di dada. Dan kala kata itu terucap, hanya membawa sakit di hati saja. 

Harapanku mimpiku menjadi nyata, tentang sebuah rumah, di mana aku merasa menjadi bagian darinya, dengan tembok yang tak sekedar putih saja. Di mana akan banyak tawa dan canda di sana. Dan saat jauh darinya, ada rasa yang menggebu terasa. Seperti ingin pulang ke pelukan ibunda. Itu rumah yang kudamba. 

Namun…. Akankah ada engkau di sana?

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s