Ahok.

Membayangkan bolak balik urusan dengan pemerintahan itu kadung sudah bikin be te. Yang udah udah, selain lelet, panduan ga jelas, ribet, dan kudu selap selipin lembaran rupiah. Kalau tidak selap selip, dijamin habis waktu dan ditangani dengan muka lempeng bahkan cenderung masam.
Beberapa hari lalu saya mesti berurusan dengan aparat negara di tingkat kelurahan. Lumayan lah. Tidak semrawut,  antri tidak terlalu lama, dan sudah memakai nomer antrian. Seperti yang saya sudah duga sebelumnya, tidak hanya selesai di situ saja.
Saya mesti mendatangi Pak RT, lalu Pak RW untuk sebuah surat pengantar. Okelah anggap saja memang keteledoran saya untuk memahami birokrasi, tapi itu saja saya mesti 2x bolak balik menemui Pak RT dan Pak RW.
Begitu urusan Pak RT/RW selesai, tinggal tahap akhir, yakni butuh tanda tangan Pak Lurah, yang kebetulan saat itu sedang tidak berada di tempat. Kata staffnya, kembali nanti pukul 13.00.
Mengingat budaya bangsa kita yang cenderung molor, saya pikir oke deh 30 menit dari pukul 13.00 saya kembali ke kelurahan. 

Sialnya, beliau keburu sudah tidak ada di tempat. Aduuuuh. Kesalnya. Praktis setengah hari sudah habis waktu saya.

Tiba-tiba salah seorang staf kelurahan menghampiri saya. Katanya, ” Telepon aja, Bu. Tanya kapan kembali ke kantor. Tapi baiknya SMS saja dulu, takutnya sedang rapat atau tidak diangkat karena nomer tak dikenal.”

Heh?

Saya sempat pesimis, ada gitu pejabat yang mau direcoki warga? Tapi kadung sudah capek bolak balik, saya coba kirim SMS. 

Di luar dugaan, Pak Lurah dalam waktu singkat membalas, bahkan menelepon saya untuk memberitahukan pukul 16.00 beliau sudah kembali ke kantor.

Wah. Kejutan!

Yang saya tahu, dulu dulu paling lama juga pukul 15.00 pejabat atau pegawai instansi sudah pada bubar jalan. Entah ke mana. 

Singkat cerita, kembalilah saya ke kelurahan dan diterima dengan baik oleh Pak Lurah. Koperatif, informatif, jauh dari kesan merasa terganggu,  apalagi citra mata duitan. 

Saat beliau keluar ruangannya untuk memberi stempel pada berkas yang saya perlukan, mata saya tertuju pada foto yang terpampang di dinding.

Di situ ada wajah yang berbeda dari wajah wajah lainnya. Bentuk mukanya bulat, mata sipit dan kulit putih bersih khas peranakan Tionghoa. Tertulis namanya Basuki Tjahaja Purnama, yang selama ini lebih dikenal dengan panggilan “Ahok”.

Suka atau tidak suka, kemajuan yang dirasakan warga seperti saya, terasa perbedaannya sebelum beliau menjabat sebagai wakil hingga akhirnya menjadi Gubernur. Apalagi mengingat hebatnya pro dan kontra saat pencalonannya berlangsung. Sekarang? Lah lebih beres kok. Jaaauh lebih beres. Katanya sih : takut sama Ahok. 

Iya, dia temperamen. Keras, tidak pake ba bi bu. Tapi he really is doing his job. Mungkin orang orang kita perlu pemimpin berani mati seperti dia. Bukan yang asal ho oh saja yang penting jadi kaya sampai entah berapa keturunan.

Saran saya sih cuma satu buat Koh Ahok, marah boleh. Sikat habis di tempat juga boleh. Bagus buat shock therapy. Tapi sebaiknya pemilihan kata katanya dipercantik sedikit, namun tetap pedas dan bikin keder. Jadinya elegan. 

Akhir kata, cuma mau bilang, terima kasih Koh Ahok. Well done. I’m with you. 

Merdeka!

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s