The Walking Dead.

Salah satu serial TV yang saya ikuti, selain serial kriminal seperti Criminal Minds, Law & Order : SVU adalah serial tentang kehancuran umat manusia oleh virus zombie di The Walking Dead. 

Tidak pernah dengan jelas saya tahu bagaimana di serial itu bagaimana seseorang bisa berubah jadi zombie. Okelah jika tergigit, mungkin ada bakteri atau kuman dari liur makhluk mati yang entah kenapa masih bisa berjalan dan merasakan lapar padahal hanya sebagian dari otaknya masih berfungsi. Tetapi bagaimana bisa setiap yang sudah mati, pasti berubah jadi zombie ( walau tidak tergigit) , jika tidak ditikam atau dimatikan otaknya? Virus juga dong ya? Yang bisa menyebar lewat udara. 

Memasuki musim ke 6 yang sebentar lagi habis, setelah saya pikir, tidak terlalu banyak ilmu yang bisa dipetik dari tayangan ini. Murni hiburan saja. Hiburan sadis, yang anehnya bisa bikin penasaran sekaligus….ya itu, menghibur.

Sebenarnya getir sih. Bagaimana tidak getir, menyaksikan satu persatu tokoh menghilang entah sakit atau mati atau dibunuh agar tidak berubah menjadi mayat hidup. Seorang anak harus menikam kepala ibunya agar tidak ikut-ikutan menjadi zombie, ada seorang ibu harus menyaksikan anaknya dimakan sekelompok mayat hidup. Atau bagaimana sekelompok manusia yang masih hidup dengan alasan survival harus mematikan sekelompok manusia lainnya. Membayangkan betapa capai nya ( mantan ) Sheriff Rick Grimes dan kelompoknya harus tetap selalu berjaga jaga baik terhadap ancaman zombie atau sesama manusia yang masih hidup.

Alert dan awareness seperti itu tentulah meletihkan. Merubah seseorang untuk selalu waspada dan cenderung paranoid, apalagi terhadap orang baru. Padahal, yang hidup ya tinggal segitu gitunya. Kepercayaan, itu unsur penting dan ekslusif, di mana si Sheriff dan kelompoknya berkali kali kecele mengira seseorang atau sebuah kelompok lainnya memiliki visi, misi yang sama dengan mereka.

Makin ke sini makin buram, apakah Rick Grimes dkk ini di pihak yang baik, Good Guys. Kegetiran sedikit demi sedikit merubah mindset mereka. Cuma yaaah, namanya film, mesti ada jagoan dan penjahat. Mereka sudah pasti masih berupa para jagoan lah….

  

Advertisements

Respect.

Beberapa perempuan, entahlah. Mungkin mereka naif. Mungkin juga mereka memiliki kekuatan yang hebat akan sebuah harapan. Mungkin juga mereka sebenarnya sangat lemah, sehingga untuk menyenangkan dan menenangkan hati mereka, dan memilih untuk membangun sebuah dunia imajiner, yang menurutku sih, penuh dengan denial.

Mungkin juga ada yang memiliki ketiga-tiga kondisi batin tersebut sekaligus.

Sudah dari sononya, kebanyakan perempuan itu memiliki hati seluas samudera. Memiliki pintu iba dan maaf yang selalu terbuka, sebagaimana berat dan kerasnya ia diperlakukan, disakiti, bahkan dikhianati.

Aku teringat beberapa tahun lalu, seorang ibu ( yang kebetulan seorang paranormal ) berkata : ” Satu kali laki laki berbuat kesalahan, tetap skornya satu baik bagi perempuan atau laki laki. Namun, sekali perempuan berbuat salah, maka terhitung 25 kali lebih berat skor nya bagi laki laki.” Jadi ya, kalau dibandingkan dengan laki laki, perempuan mestilah lebih sabar. 

Pret.

Aku banyak mendengar, melihat bagaimana beberapa teman perempuan menghadapi sebuah ‘kesalahan’ yang dibuat pasangan mereka. Beberapa dari mereka cukup punya nyali untuk angkat kaki. Ada pula yang memilih status quo. Tapi yang terkadang susah kumengerti adalah ya itu. Yang memilih dunia imajinarinya sendiri padahal sudah dihantam oleh fakta berkali kali. 

Entahlah, mungkin ia memiliki cinta yang demikian dashyat. Atau…sebuah keengganan untuk meninggalkan zona nyaman? Atau…sebuah pengorbanan : ” Ini semua demi anak-anak” .  Atau, ada sebuah ketidakpercayaan diri : ” Siapa lagi yang mau dengan saya kalau bukan dia?”. Atau : ” Ini semua kujalani jika imbalan atas pengorbanan dan kesabaranku kelak berbuah surga”.

 [ untuk kalimat terakhir di atas, pingin salim, aku rasanya. Sambil tepuk tangan dan geleng-geleng kagum, SERIOUSLY! ]

Kalau pesanku sih.. Dear, love yourself. Have a respect for yourself. Kalo cuma ke gap-gap lucu lucuan aja sih, ah ya… Sudahlah. Perkawinan itu pasti ada titik jenuhnya. Namanya juga kepleset.. Hari gini, apalagi buat yang tinggal di Ibu Kota. Mempertahankan sebuah sakralnya hubungan atau perkawinan itu berat, jenderal. Baik laki-laki dan perempuan banyak yang tutup mata dengan status ‘sertifikat hak milik’. Yu suka, ay suka, lets go lah. Kaget? Well, that’s the fact, tuh…

Tapi jika lucu lucuan itu sudah berupa tindakan nyata akan ketidakrespekan seorang pria terhadap pasangannya , ya kusarankan pada sesama perempuan : HAVE SOME DIGNITY.

When your man said he doesn’t love you anymore. 

When your man terang terangan menunjukkan he already has someone else.

When your man sudah mulai berani tidak pulang ke rumah tanpa alasan yang jelas.

When your man berani posting foto selfie berdua dengan seorang wanita berkali-kali di akun media sosialnya.

When some random people terrorize you, regarding your partner’s other woman.

YOU SHOULD HAVE A SELFRESPECT.

Apalagi di era sosial media begini, ucapan penuh cinta, rajin tag pasangan seolah olah menunjukkan pada dunia ‘all is well, nothing happened’ , padahal the fact is : he betrayed you , not only that..he disrecpected you like over and over and over again. You know what..You’re definitely in denial! Mending ga usah gitu gitu amat lah, tetap berpijak pada kenyataan. Takutnya jika yang terjadi kelak berbeda dengan harapan, tersungkurnya gak kira kira karena kurang persiapan.

START TO LOVE YOURSELF MORE.

Bukan bangun dunia imajinasi bahwa sebuah surat nikah mampu memegang hati pasanganmu. Saat hatinya berpaling, ya sudah, mulai belajar merelakan dia. Leave him decide what he wants. If you really love him, you still wanna be with him, thats OKAY kok. Tetapi usaha yang dilakukan sewajarnya. Gak usahlah malah makin menyek-menyek dengan harapan dia akan memilih kamu daripada dia. Laaah, udalah ngaco, malah dapet full servis dari 2 perempuan pulak. Ihhh enak banget. 

Don’t be so hard on yourself.  Tentunya juga harus selalu introspeksi diri. Konsentrasikan dulu ke diri sendiri, jika ada yang perlu dibenah, maka benahi. Try to look nicer, be nicer. Kata ibuku, kalo yang namanya jodoh ya gak ke mana. Mo muter muter dihindari, akhirnya akan kembali juga. Begitupun jika tak berjodoh, mo dirantai, dikintilin kemana pun pergi, ya lepas juga. Ini tentang hati sih, ya gak ada hitungan pasti…

Begitulah. Kataku.

Tentang Curhat II.

Dalam hubungan dengan sesama perempuan, pasti ada bumbu bumbu cerita, keluh kesah, minta saran, dan berbagai spektrum dari curhat.

Saya sih dengan terbuka selalu menyodorkan telinga. Bagi saya, cerita mereka bukan hal yang bikin ribet saya, kok. Meski iya, terkadang saya suka terbawa perasaan juga, dan tak jarang ikut memikirkan hal yang tadi diceritakan ke saya. 

Ada orang yang menganggap : ” Masalah gua dah banyak. Gak perlu gua tambah tambah dengan ikut mikirin masalah orang. ”

Kalau saya tidak begitu sih. Saat kita menyodorkan telinga waktu diminta mendengarkan keluh kesah seseorang, kita sudah turut melegakan dada dan pikirannya. Itu saya rasa bisa dihitung sebagai amal. Memang tidak bisa dibayar sekarang, mungkin kelak saat Hari Perhitungan tiba.

Apa yang dialami oleh si Dia yang sedang berkeluh kesah, bisa kita jadikan pelajaran. Mana tahu nanti kita dihadapkan dengan hal yang sama, kan? Itu ilmu. Dan ilmu adalah salah satu modal penting dalam menghadapi hidup.

Saat kita diminta atau memberikan saran, saran loh ya, bukan keinginan kita agar dia mengikuti pola pikir kita, secara langsung kita sudah membuka perspektif baru yang mungkin belum sempat dia pikirkan sebelumnya. Itu juga ilmu untuk dia. Pada saat kita menurunkan ilmu, dan dia mengikuti bahkan mungkin meneruskannya bukankah itu sudah termasuk amal jariyah?

Sesimpel itu saja saya memikirkannya. 

About My Hobby ( or Talent? ).

  

I like to write. Probably i like it more than food and gym. 

I write since I was.. Like 9 or 10 years old.  I think because I read too much. I read everything since I knew how to read. From novels, magazines, comics even my dad’s newspaper. 

I read everyday at that time. I remember my mom was always yelling at me about a pile of magazines and comics in the bathroom. Or when she’s complaining I always had something to read when having my meals. 

It triggered my imagination. Those reading materials had influenced me how to string word by word into a sentence. Sentence by sentence into a paragraph.

At 11 years old, I tried to send couple of my writings to a newspaper, and got published. So happy I was, seeing my name, my class and my school were written in a national newspaper. My first writing fee  I think about Rp 2.500 or Rp 5.000. I don’t think my parents knew or remembered it. I was pretty introvert during my childhood. I was so busy in my own full of imagination world.

When I had my first child, to kill time I sent some of my writings, mostly short stories to woman’s magazines. Got published too, and they sent me like Rp 185.000- Rp 250.000 as my rewards. Ofcourse there some which didn’t get published too. 

It’s not the money. But more like a satisfaction, seeing my own idea, imagination got appreciated. 

Today, with all these social medias, I can write anything, anytime. Some said that I am  such a social media junkie. It doesn’t matter for me. Social media is an outlet for this hobby ( or talent? ) of mine. I don’t really make a big deal about whether people will comment or give me a feedback about my posts. I hardly tag anybody anyway. 

If they like my posts, thank God. If they don’t.. Oh well.. That’s okay too as long I don’t offend anyone or spreading hate. I hope I will never stop writing. And reading. Ofcourse.

Tentang Berteman.

Dalam berteman, prinsip saya itu sederhana. Perlakukan orang lain bagaimana saya ingin diperlakukan. Sesimpel itu saja. 

Saya sadar, saya bukan tipe orang yang ( terlihat ) ramah. Dengan mata sipit, tulang pipi tinggi dan bibir tipis saya lekat dengan citra galak, jutek dan judes. Ya tidak apa apa… Orang sudah diberi Tuhan begini adanya, masa bisa minta diganti casing?

Galakkah saya? Iya kadang kadang. Terutama jika ada hal hal yang membuat sisi harga diri dan difensif saya melambung tinggi. Misalnya, saya sudah menyetir dengan taat peraturan lalin, tiba tiba ada kendaraan lain yang menyelonong, apalagi sampai menimbulkan kerusakan pada kendaraan saya. Sudah pasti saya galak, meraung malah.

Atau jika saya terlalu lama diam, sementara saya merasa diperlakukan tidak semestinya. Biasanya jika terjadi sampai kali ke empat, saya bisa menjadi sangat galak, dan tentu meraung juga.

Jutek kah saya? Entahlah. Saya sih merasa roman muka saya biasa kok, karena hati juga seringan merasa datar datar saja. Tapi bagi yang melihat sih katanya begitu….jutek.

Judeskah saya? Iya. Saya akui sih kalo yang ini. Dalam keadaan yang amat marah, justru saya dengan mati matian mengontrol tata bahasa saya. Saya tidak suka memaki dengan kata kata kasar, kotor atau jenis jenis hewan. Tidak.

Saya biasanya korek habis analisa saya berdasarkan pengamatan yang sudah saya lakukan terhadap lawan bicara saya, dan serang dengan kesalahan atau kelemahan yang pernah dia buat. Tidak perlu dengan nada tinggi. Flat saja. Kalau perlu gunakan pujian yang sebenarnya berupa sindiran. Yang sudah sudah sih, hal ini biasanya membuat lawan saya ( yang sebelumnya sudah banjir isi kebun binatang memaki saya ), malah makin uring-uringan sendiri tuh. Kadang kadang marahnya sampai keringatan, karena makin seru teriak dan makiannya. Hih, pasti capek ya…

Untuk menghindari masalah , apalagi terkait dengan hutang budi, saya amat menghindari meribetkan orang lain, meski teman sekalipun. Betul, mana orang yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Tapi bukankah lebih baik jika kita lebih banyak memberi daripada meminta?
Contoh kecil saja, urusan titip menitip barang saat traveling. Jika tidak benar benar mendesak, dan dekat, maka hampir dipastikan saya tidak akan berkata, ” Titiiiip dooong “. 

Seringkah saya dititipi barang? Oh ya. Sering. Hampir setiap traveling malah. Dari yang remeh sampai yang ribet ( dan mohon maaf tidak bisa saya belikan ) juga pernah.

Tahu nggak, hal yang pertama yang saya lakukan jika pertama kali menginjakkan kaki ke destinasi liburan? Ya itu. Mencarikan titipan. Karena jika saya menyanggupi, itu seperti sebuah hutang.

Padahal kalau dipikir ya, titipan itu ya gitu. Yang ketitipan harus menyediakan waktu, mengeluarkan dana dulu ( karena biasanya bayarnya belakangan ) tanpa dapat keuntungan yang signifikan dan jangan lupa… Titipan itu mengambil ruang di koper yang mungkin lebih bisa dipakai untuk kepentingan pribadi atau keluarga. 

Yang lebih menggelikan, jika yang menitip mengharapkan harga barang yang dipesan lebih murah dari di tanah air, plus dikurangi tax refund. Dikata enak, apa ngantri dan ngisi form di tax refund? Yah sudah hukum tak tertulis lah, tax refund biasanya direlakan ke si yang dititipkan. Hitung hitung ongkos mencarikan.

Bukan masalah untung ruginya sih. Cuma wujud perhargaan saja, karena suka atau tidak suka ya sudah merepotkan. Kecuali sih, jika ditawarkan terlebih dahulu : mau titip apa? Ya beda.

Untuk urusan pribadi pun saya amat hati hati dalam memberikan komentar. Apalagi celetukan mengenai fisik. Saya tidak mau berkomentar kecuali hal hal yang baik. Seperti : ” Eh langsingan deh kamu”. Atau, ” Kulit muka lo bagus amat.  Perawatan di mana? “. Jika tidak berupa pujian maka lebih baik saya diam. Kata seorang teman, sulit mendapat pujian dari saya, tapi jika saya sudah memuji artinya sudah seperti lolos nominasi piala Oscar. Hahaha.

Begitupun dengan interaksi dengan pasangan dari teman perempuan saya. Sebisa mungkin saya akan menjaga jarak, dan sopan santun. Ah jangankan kontak fisik, meminta nomor kontak atau meng-add sosial media pasangan dari teman saja saya hindari. Kecuali memang sesuai keperluan, yang biasanya ya si teman tadi juga yang meminta saya menghubungi langsung pasangannya.

Dalam hal ini, bukan karena saya ke ge er an atau terlalu difensif takut terjadi hal hal yang gimanaaaa gitu yah. Bukan. Begitulah wujud perhargaan saya terhadap teman. Sesimpel itu saja, kok. 

Dengan segala peraturan yang saya terapkan pada diri sendiri itu, semestinya saya tidak memiliki masalah dong dalam kehidupan sosial?

Enggak tuh.

Malah menurut saya, dengan memiliki value sendiri begitu malah banyak relationship yang sudah saya korbankan. Biasanya karena bersinggungan, dan adanya ketidakikhlasan dalam hati saya : ” Gua ga pernah bikin dia begitu, kenapa dia giniin gua? ” atau , ” Emang kapan gue acak acak urusan dia, kenapa dia acak acak gue ?”. Atau, ” Kalo gua jadi dia, gak akan gue bikin begini..”

Begitulah. Dengan memiliki nilai sendiri, maka makin tersortir hal hal mana yang bisa saya tolerir mana yang tidak. Mungkin sebagian besar orang akan memilih menghindari konflik. Saya pun sebenarnya begitu, namun kesabaran dan pemakluman saya masih amat kurang. Saya akui itu. Saya masih belum menemukan formula bagaimana caranya meningkatkannya. Mungkin nanti, kali ya… Sejalan dengan pengalaman hidup yang saya akan pelajari hari per hari. Mungkin.

  

Insincere?

As a mother, or a housewife I’m considered far from perfect. Lack in every aspect. I got help. Plenty of them. We have 2 maids, and a driver ( eventhough I’m familiar with all these chores from cleaning the toilets to ironing since I was a teenager ). 

If things don’t work properly in this house, we can always pay. Or even buy a new one.

That, makes me compromize.

Because I know, I’m not doing what other housewives are struggling everyday. I never had maid problems for like more than 12 yrs. I often heard, some of, well..most of my friends had their maids changed for various reasons. 

Everything in this house is running like a machine. Same old routine from early morning til the night comes.

I can imagine myself, what would I be, if I were doing all these houseworks. Take care the kids, cleaning, driving them to school, washing clothes, ironing every single day.

I’m pretty sure I would not compromize as much as I am today. Maybe, I’d be those kind of ladies who yappin’ around, complaining and litterally being ‘the queen of the house’. Maybe I’d demand more. Maybe I’d take control of financial, savings and assets, because : I deserve it, I’m doing my job for God’s sake. Maybe I’d take control in most of decissions too. Maybe I got fat, and snob.

Would it work out? Nah. I guess not, either..