Tentang Berteman.

Dalam berteman, prinsip saya itu sederhana. Perlakukan orang lain bagaimana saya ingin diperlakukan. Sesimpel itu saja. 

Saya sadar, saya bukan tipe orang yang ( terlihat ) ramah. Dengan mata sipit, tulang pipi tinggi dan bibir tipis saya lekat dengan citra galak, jutek dan judes. Ya tidak apa apa… Orang sudah diberi Tuhan begini adanya, masa bisa minta diganti casing?

Galakkah saya? Iya kadang kadang. Terutama jika ada hal hal yang membuat sisi harga diri dan difensif saya melambung tinggi. Misalnya, saya sudah menyetir dengan taat peraturan lalin, tiba tiba ada kendaraan lain yang menyelonong, apalagi sampai menimbulkan kerusakan pada kendaraan saya. Sudah pasti saya galak, meraung malah.

Atau jika saya terlalu lama diam, sementara saya merasa diperlakukan tidak semestinya. Biasanya jika terjadi sampai kali ke empat, saya bisa menjadi sangat galak, dan tentu meraung juga.

Jutek kah saya? Entahlah. Saya sih merasa roman muka saya biasa kok, karena hati juga seringan merasa datar datar saja. Tapi bagi yang melihat sih katanya begitu….jutek.

Judeskah saya? Iya. Saya akui sih kalo yang ini. Dalam keadaan yang amat marah, justru saya dengan mati matian mengontrol tata bahasa saya. Saya tidak suka memaki dengan kata kata kasar, kotor atau jenis jenis hewan. Tidak.

Saya biasanya korek habis analisa saya berdasarkan pengamatan yang sudah saya lakukan terhadap lawan bicara saya, dan serang dengan kesalahan atau kelemahan yang pernah dia buat. Tidak perlu dengan nada tinggi. Flat saja. Kalau perlu gunakan pujian yang sebenarnya berupa sindiran. Yang sudah sudah sih, hal ini biasanya membuat lawan saya ( yang sebelumnya sudah banjir isi kebun binatang memaki saya ), malah makin uring-uringan sendiri tuh. Kadang kadang marahnya sampai keringatan, karena makin seru teriak dan makiannya. Hih, pasti capek ya…

Untuk menghindari masalah , apalagi terkait dengan hutang budi, saya amat menghindari meribetkan orang lain, meski teman sekalipun. Betul, mana orang yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Tapi bukankah lebih baik jika kita lebih banyak memberi daripada meminta?
Contoh kecil saja, urusan titip menitip barang saat traveling. Jika tidak benar benar mendesak, dan dekat, maka hampir dipastikan saya tidak akan berkata, ” Titiiiip dooong “. 

Seringkah saya dititipi barang? Oh ya. Sering. Hampir setiap traveling malah. Dari yang remeh sampai yang ribet ( dan mohon maaf tidak bisa saya belikan ) juga pernah.

Tahu nggak, hal yang pertama yang saya lakukan jika pertama kali menginjakkan kaki ke destinasi liburan? Ya itu. Mencarikan titipan. Karena jika saya menyanggupi, itu seperti sebuah hutang.

Padahal kalau dipikir ya, titipan itu ya gitu. Yang ketitipan harus menyediakan waktu, mengeluarkan dana dulu ( karena biasanya bayarnya belakangan ) tanpa dapat keuntungan yang signifikan dan jangan lupa… Titipan itu mengambil ruang di koper yang mungkin lebih bisa dipakai untuk kepentingan pribadi atau keluarga. 

Yang lebih menggelikan, jika yang menitip mengharapkan harga barang yang dipesan lebih murah dari di tanah air, plus dikurangi tax refund. Dikata enak, apa ngantri dan ngisi form di tax refund? Yah sudah hukum tak tertulis lah, tax refund biasanya direlakan ke si yang dititipkan. Hitung hitung ongkos mencarikan.

Bukan masalah untung ruginya sih. Cuma wujud perhargaan saja, karena suka atau tidak suka ya sudah merepotkan. Kecuali sih, jika ditawarkan terlebih dahulu : mau titip apa? Ya beda.

Untuk urusan pribadi pun saya amat hati hati dalam memberikan komentar. Apalagi celetukan mengenai fisik. Saya tidak mau berkomentar kecuali hal hal yang baik. Seperti : ” Eh langsingan deh kamu”. Atau, ” Kulit muka lo bagus amat.  Perawatan di mana? “. Jika tidak berupa pujian maka lebih baik saya diam. Kata seorang teman, sulit mendapat pujian dari saya, tapi jika saya sudah memuji artinya sudah seperti lolos nominasi piala Oscar. Hahaha.

Begitupun dengan interaksi dengan pasangan dari teman perempuan saya. Sebisa mungkin saya akan menjaga jarak, dan sopan santun. Ah jangankan kontak fisik, meminta nomor kontak atau meng-add sosial media pasangan dari teman saja saya hindari. Kecuali memang sesuai keperluan, yang biasanya ya si teman tadi juga yang meminta saya menghubungi langsung pasangannya.

Dalam hal ini, bukan karena saya ke ge er an atau terlalu difensif takut terjadi hal hal yang gimanaaaa gitu yah. Bukan. Begitulah wujud perhargaan saya terhadap teman. Sesimpel itu saja, kok. 

Dengan segala peraturan yang saya terapkan pada diri sendiri itu, semestinya saya tidak memiliki masalah dong dalam kehidupan sosial?

Enggak tuh.

Malah menurut saya, dengan memiliki value sendiri begitu malah banyak relationship yang sudah saya korbankan. Biasanya karena bersinggungan, dan adanya ketidakikhlasan dalam hati saya : ” Gua ga pernah bikin dia begitu, kenapa dia giniin gua? ” atau , ” Emang kapan gue acak acak urusan dia, kenapa dia acak acak gue ?”. Atau, ” Kalo gua jadi dia, gak akan gue bikin begini..”

Begitulah. Dengan memiliki nilai sendiri, maka makin tersortir hal hal mana yang bisa saya tolerir mana yang tidak. Mungkin sebagian besar orang akan memilih menghindari konflik. Saya pun sebenarnya begitu, namun kesabaran dan pemakluman saya masih amat kurang. Saya akui itu. Saya masih belum menemukan formula bagaimana caranya meningkatkannya. Mungkin nanti, kali ya… Sejalan dengan pengalaman hidup yang saya akan pelajari hari per hari. Mungkin.

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s