Tentang Curhat II.

Dalam hubungan dengan sesama perempuan, pasti ada bumbu bumbu cerita, keluh kesah, minta saran, dan berbagai spektrum dari curhat.

Saya sih dengan terbuka selalu menyodorkan telinga. Bagi saya, cerita mereka bukan hal yang bikin ribet saya, kok. Meski iya, terkadang saya suka terbawa perasaan juga, dan tak jarang ikut memikirkan hal yang tadi diceritakan ke saya. 

Ada orang yang menganggap : ” Masalah gua dah banyak. Gak perlu gua tambah tambah dengan ikut mikirin masalah orang. ”

Kalau saya tidak begitu sih. Saat kita menyodorkan telinga waktu diminta mendengarkan keluh kesah seseorang, kita sudah turut melegakan dada dan pikirannya. Itu saya rasa bisa dihitung sebagai amal. Memang tidak bisa dibayar sekarang, mungkin kelak saat Hari Perhitungan tiba.

Apa yang dialami oleh si Dia yang sedang berkeluh kesah, bisa kita jadikan pelajaran. Mana tahu nanti kita dihadapkan dengan hal yang sama, kan? Itu ilmu. Dan ilmu adalah salah satu modal penting dalam menghadapi hidup.

Saat kita diminta atau memberikan saran, saran loh ya, bukan keinginan kita agar dia mengikuti pola pikir kita, secara langsung kita sudah membuka perspektif baru yang mungkin belum sempat dia pikirkan sebelumnya. Itu juga ilmu untuk dia. Pada saat kita menurunkan ilmu, dan dia mengikuti bahkan mungkin meneruskannya bukankah itu sudah termasuk amal jariyah?

Sesimpel itu saja saya memikirkannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s