Respect.

Beberapa perempuan, entahlah. Mungkin mereka naif. Mungkin juga mereka memiliki kekuatan yang hebat akan sebuah harapan. Mungkin juga mereka sebenarnya sangat lemah, sehingga untuk menyenangkan dan menenangkan hati mereka, dan memilih untuk membangun sebuah dunia imajiner, yang menurutku sih, penuh dengan denial.

Mungkin juga ada yang memiliki ketiga-tiga kondisi batin tersebut sekaligus.

Sudah dari sononya, kebanyakan perempuan itu memiliki hati seluas samudera. Memiliki pintu iba dan maaf yang selalu terbuka, sebagaimana berat dan kerasnya ia diperlakukan, disakiti, bahkan dikhianati.

Aku teringat beberapa tahun lalu, seorang ibu ( yang kebetulan seorang paranormal ) berkata : ” Satu kali laki laki berbuat kesalahan, tetap skornya satu baik bagi perempuan atau laki laki. Namun, sekali perempuan berbuat salah, maka terhitung 25 kali lebih berat skor nya bagi laki laki.” Jadi ya, kalau dibandingkan dengan laki laki, perempuan mestilah lebih sabar. 

Pret.

Aku banyak mendengar, melihat bagaimana beberapa teman perempuan menghadapi sebuah ‘kesalahan’ yang dibuat pasangan mereka. Beberapa dari mereka cukup punya nyali untuk angkat kaki. Ada pula yang memilih status quo. Tapi yang terkadang susah kumengerti adalah ya itu. Yang memilih dunia imajinarinya sendiri padahal sudah dihantam oleh fakta berkali kali. 

Entahlah, mungkin ia memiliki cinta yang demikian dashyat. Atau…sebuah keengganan untuk meninggalkan zona nyaman? Atau…sebuah pengorbanan : ” Ini semua demi anak-anak” .  Atau, ada sebuah ketidakpercayaan diri : ” Siapa lagi yang mau dengan saya kalau bukan dia?”. Atau : ” Ini semua kujalani jika imbalan atas pengorbanan dan kesabaranku kelak berbuah surga”.

 [ untuk kalimat terakhir di atas, pingin salim, aku rasanya. Sambil tepuk tangan dan geleng-geleng kagum, SERIOUSLY! ]

Kalau pesanku sih.. Dear, love yourself. Have a respect for yourself. Kalo cuma ke gap-gap lucu lucuan aja sih, ah ya… Sudahlah. Perkawinan itu pasti ada titik jenuhnya. Namanya juga kepleset.. Hari gini, apalagi buat yang tinggal di Ibu Kota. Mempertahankan sebuah sakralnya hubungan atau perkawinan itu berat, jenderal. Baik laki-laki dan perempuan banyak yang tutup mata dengan status ‘sertifikat hak milik’. Yu suka, ay suka, lets go lah. Kaget? Well, that’s the fact, tuh…

Tapi jika lucu lucuan itu sudah berupa tindakan nyata akan ketidakrespekan seorang pria terhadap pasangannya , ya kusarankan pada sesama perempuan : HAVE SOME DIGNITY.

When your man said he doesn’t love you anymore. 

When your man terang terangan menunjukkan he already has someone else.

When your man sudah mulai berani tidak pulang ke rumah tanpa alasan yang jelas.

When your man berani posting foto selfie berdua dengan seorang wanita berkali-kali di akun media sosialnya.

When some random people terrorize you, regarding your partner’s other woman.

YOU SHOULD HAVE A SELFRESPECT.

Apalagi di era sosial media begini, ucapan penuh cinta, rajin tag pasangan seolah olah menunjukkan pada dunia ‘all is well, nothing happened’ , padahal the fact is : he betrayed you , not only that..he disrecpected you like over and over and over again. You know what..You’re definitely in denial! Mending ga usah gitu gitu amat lah, tetap berpijak pada kenyataan. Takutnya jika yang terjadi kelak berbeda dengan harapan, tersungkurnya gak kira kira karena kurang persiapan.

START TO LOVE YOURSELF MORE.

Bukan bangun dunia imajinasi bahwa sebuah surat nikah mampu memegang hati pasanganmu. Saat hatinya berpaling, ya sudah, mulai belajar merelakan dia. Leave him decide what he wants. If you really love him, you still wanna be with him, thats OKAY kok. Tetapi usaha yang dilakukan sewajarnya. Gak usahlah malah makin menyek-menyek dengan harapan dia akan memilih kamu daripada dia. Laaah, udalah ngaco, malah dapet full servis dari 2 perempuan pulak. Ihhh enak banget. 

Don’t be so hard on yourself.  Tentunya juga harus selalu introspeksi diri. Konsentrasikan dulu ke diri sendiri, jika ada yang perlu dibenah, maka benahi. Try to look nicer, be nicer. Kata ibuku, kalo yang namanya jodoh ya gak ke mana. Mo muter muter dihindari, akhirnya akan kembali juga. Begitupun jika tak berjodoh, mo dirantai, dikintilin kemana pun pergi, ya lepas juga. Ini tentang hati sih, ya gak ada hitungan pasti…

Begitulah. Kataku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s