Hari Kartini

Melihat ramainya anak sekolah dengan hiruk pikuk atributnya kontan mengingatkanku akan masa kecil. 

Entah kenapa setiap Hari Kartini sudah dari jaman dahulu anak anak dibiasakan dengan pawai dan lomba memakai kebaya, sanggul atau pakaian daerah. Entah siapa yang duluan memulai, tapi bagiku it’s a good thing.

Negara mana di dunia ini yang memiliki keberagaman budaya sekaya Indonesia? Aku rasa tidak ada. Hampir semua kebudayaan yang kita punya asli milik kita sendiri. Mungkin ada sedikit pengaruh budaya asing, seperti yang dimiliki saudara kita di wilayah timur seperti Manado atau Ambon. Selebihnya, aku rasa murni asli budaya daerah yang ada di Indonesia. Maka jika ada momen di mana keberagaman itu bisa dirayakan, maka rayakanlah.

Dari kecil, seingatku aku hanya sekali ikut pawai Hari Kartini. Itupun setelah merengek rengek minta pada ibuku, karena akupun ingin seperti teman-temanku yang lain. Kostum yang kukenakan pun ekspress, dijahit ibuku semalam sebelum pawai berlangsung. Jenis kostumnya aku juga tidak tahu pasti makna dan tujuannya, hahahaa.

Lebih mirip baju muslim daripada pakaian daerah. Maka sudah pasti aku tidak menang dalam lomba di pawai itu.

Selain lomba pakaian daerah, di pawai itupun ada lomba sepeda hias. Ah akupun ingin ikut. Tetapi, meski bisa menaikinya, aku tidak punya sepeda. Ya sudah, itu hanya sebatas angan saja.

Ada beberapa tahap, dalam hidupku, yang aku merasa bahwa sebagai seorang anak, aku tidak merasa sepenuhnya dituntun oleh seorang ibu dalam menjalani masa kanak kanakku. Lebih banyak dilepas sendiri, baik dalam pengaturan diri, sosialisasi maupun urusan belajar. 

Di mataku, gagalkan ibuku? Tidak. Salahkah ibuku? Tidak.

Seumur hidupku yang kutahu ibu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan tentu, memasak. Masakannya enak. Khas. 

Mana bisa dia mengerjakan semua, ditambah dengan mengurus 3 orang anak, tanpa pembantu pula. Jadi jika ada yang tak terpenuhi, misalnya keabsenan beliau mengajar kami dalam bidang studi, kami semua memaklumi. Tak sekalipun aku mendengar ayahku dengan gampang menuding ibu, jika ada sesuatu yang tak beres terjadi pada rumah dan kami. 

Cuma ya itu, terkadang ibu sudah terlalu lelah fisiknya, untuk diajak diskusi yang berat berat. Beliau lebih memilih banyak menjawab tidak tahu, bahkan cenderung lebih baik tidak tahu sama sekali. Setelah aku beranjak dewasa, hal itu bisa tertutupi karena ayah lebih banyak berdiskusi denganku. 

Mungkin sebenarnya itu yang diharapkan oleh Ibu Kita Kartini. Sebuah penghargaan dan pemakluman terhadap wanita. Seorang perempuan tidak mesti selalu berada di belakang lelaki, di dapur dan mengurus anak tanp diberi kesempatan mengembangkan diri, jika itu hal yang diinginkannya. 

Namun juga harus bertaji, pintar cari uang, berkarir dengan cemerlang dan memiliki anak yang cerdik cendikia berprestasi untuk dikatakan sebagai Kartini masa kini. Masing masing Kartini bisa berjuang dengan kapasitas dan jalannya sendiri. Karena setiap wanita pasti memiliki kelebihan maupun kekurangan. Tidak bisa disamaratakan.

Ibuku tidak mengajariku dalam belajar, meski beliau yang pertama mengenalkan alfabet. Mengecek pekerjaan rumahku saja rasanya tidak pernah tuh. Ibuku tidak memandikan, memotong kukuku dan menyuapiku lagi sejak aku berusia 7 tahun. Semua bisa kulakukan sendiri. Tetapi aku mampu tumbuh dengan karakterku sendiri. Tidak cengeng. Tidak manja. Dan bagiku, ibuku sudah memenuhi syarat untuk menjadi seorang Kartini. Meski aku tidak tumbuh sebagai wanita pandai dengan karir cemerlang.  

Advertisements

Harga diri.

Rasanya, sudah terlalu letih untuk menyumpah. Sakit? Iya. Malu? Iya. Belasan tahun yang terbuang, membuatku berpikir, alangkah bodohnya tidak dengan pandai membuatku mandiri. Kupikir, hanya dengan membebaskan, tak banyak tanya dan membiarkan, di situ lah hargaku tak terbeli. Kukira dengan mandiri akan membuat situasi makin tak terkendali. 

Tapi ah, susah memang menghadapi sebuah sempitnya hati. Daripada  akhirnya kumati berdiri?

Politis.

Lucu, bagaimana seseorang, sebut saja namanya Mawar,  yang merasa memiliki masalah dengan sebut saja namanya Udin, memukul rata orang-orang di sekitar Udin pasti akan memihak Udin dan telah menganggap negatif diri Mawar.

Kemarin sore saya bertemu dengan seorang teman, sebut saja namanya Dahlia. Dahlia ini temenan, dengan Mawar dan Udin. Tetapi Dahlia lebih dulu berteman dan dekat dengan Udin.

” Aneh deh si Mawar. Dulu dulu masih suka tag gue, di sosmed. Atau ngasih emotikon apa gitu… Sesekali masih ngomong di telepon. Sekarang nggak loh.. Apa karena gue temennya Udin ya? ”

Saya tertawa. Begitu deh.. Banyaaaakk model yang begituan, kata saya.

” Iya, padahal si Udin juga cerita mah yang netral-netral aja, kenapa ribut ma Mawar.”

” Nah lu tau, gimana Mawar demen banget curhat massal. Dah gitu dengan versinya sendiri yang dipolitisir agar gimana orang memihak dia dan menganggap si Udin yang ngaco. Ya mungkin Mawar parno, lo gitu juga kali. Dikira dibrainwash dan masuk team yang ngebelain Udin.”

” Idiiih… Itukan urusan mereka. Penting apa gue dianggap mihak yang mana? Yang dengerin curhatan sepihaknya Mawar juga bego. Kenapa juga kebawa, kaga netralin. Kek geng anak SMA aja. ”

” Ah sama begonya,” tukas saya. ” Punya masalah kok ga dikelarin one on one, malah menggalang massa. Tau sendiri perempuan, kadang susah objektif, bisa jadi sok solider, trus tanpa sadar malah ngomporin. Kan bego.”

” Iyalah. Kalo curhat mah jangan gitu gitu amat ya, kek anak kecil. Yang curhat mestinya dengan cara dewasa, yang dicurhatin juga mestinya mencermati dengan cara yang dewasa juga.”

” Iya.Namanya juga parno.”

…hal ini langsung mengingatkan saya pada seseorang.

Pe-er.

There are people, yang gak bisa fokus dalam melakukan satu hal. Di mana isi kepalanya terlalu njlimet dengan berbagai hal berseliweran dengan cepat . This! That! Oh, don’t forget also this.. Ah ya, that too!

Terlihat seperti tak ada tujuan, dan terkadang.. Malah kayak gak ada kerjaan yang nggeunah. Padahal, tanpa perlu memberi tahu, dalam satu waktu orang itu mampu melakukan atau menyelesaikan 2-3 hal sekaligus. 

Bagus? Gak juga sih . Karena sesuatu yang tak fokus,  biasanya hasilnya kurang optimal. Dan orang orang seperti ini, jeleknya : easily get bored. 

Lemon.

” Duh susah banget turun ni angka timbangan.”

” Lo minum air lemon aja, tiap pagi. Ntar kurus kayak si Anu.”

” Maag gue kumat…”

” Lo rutin aja minum air lemon tiap pagi. Ntar sembuh.”

Saya sering mendengar kata kata di atas berulang kali. Setahu saya, air dengan kandungan jeruk lemon atau jeruk nipis tidak sesakti itu lah… 

Saya mengenal tentang metode ini saat saya belajar yoga dengan salah satu penggerak food combining. Jadi sedikit banyak familiar dengan prinsip dasarnya, termasuk di dalamnya tentang air perasan jeruk lemon tadi. Tidak bermaksud sok tahu, atau bahkan menggurui, anggaplah saya hanya sharing apa yang saya pernah dengar tentang tujuan mengapa disarankan mengkonsumsi segelas air hangat dengan perasan jeruk lemon pertama kali saat kita bangun tidur di pagi hari.

Saat bangun pagi, tubuh baru saja selesai bekerja keras bermetabolisme. Air hangat mengaktifkan beragam enzym dalam tubuh sekaligus bantu bersihkan lendir sisa metabolisme di sepanjang sistem cerna.

Pemberian perasan lemon/jeruk nipis selain memberikan sifat basa pada air yang masuk tersebut, juga memperkuat daya bersih lendir pada air. Sekaligus memberikan tonik bagi liver. Organ ini bekerja ekstra keras saat tidur. Pagi hari tonik menjadi ‘hadiah’ baginya.
Saat lever kita sehat, otomatis ya menunjang organ organ lainnya untuk sehat juga. Tubuh kita ibarat mobil, di mana untuk menjalankannya butuh mesin yang setiap bagiannya berjalan sempurna.

Sesakti itu kah? Tentu tidak. Harus pula diikuti dengan pola makan yang baik dan benar. Jangan berharap bisa langsing dan sehat, jika hanya mengandalkan minum perasan air lemon setiap pagi. Tetap perlu diet seimbang dan berolahraga. 

Untuk disiplin menjalankan food combining itu sumpah deh, susah. Butuh tekad yang kuat. Apalagi Indonesia surganya makanan enak yang kebanyakan tidak sesuai dengan prinsip food combining. Bisa sih, dilakukan, sesekali makan atau jajan sebagai rekreasi, di akhir pekan. Sisanya komit. Yang sudah pernah saya lakukan sih, ya jeprut. Tak bertahan lama. Hahaahaha.

  

Diktator.

Dibeliin…diingetin..dikasih duit..diperintahi…dikasih barang…ditelentangin…dibawa pergi..diomongin..dikasih hadiah..dimintain pertanggungjawaban..dikasih liburan..diomongin ke mana mana..dikasih hape…dicemberutin..diajak bicara..didiemin..diajak diskusi didiemin..didiemin..katanya sibuk sendiri..ada di rumah..kurang melayani..di luar rumah..menelantarkan..minta barang..dianggap tak mensyukuri..diberi saran…seolah menggurui..tak banyak tanya..dianggap acuh..diberi kepercayaan…balas mencurigai..tak berhutang..dikatakan rakus..diberi ngepas..katanya banyak kejanggalan..pembayaran tepat waktu…katanya boros…bertanya..resek…tak banyak melarang..banyak menekan..dihargai..melecehkan..dijaga nama baiknya..dijelekjelekkan..didekati..membatu..dibiarkan..katanya,klise, we grow apart..menguat..mungkin harapnya tersungkur..

hanya dengan dituruti tanpa kompromi, baru akan terdiam. Masalahnya, enerji telah padam.