Anja.

Awalnya saya tergugah dengan sebuah foto yang beredar secara viral di sosial media Instagram. Di foto itu nampak seorang perempuan kulit putih, dengan tangan dan kaki penuh tato, sedang berjongkok memegang botol air mineral dan meminumkannya kepada seorang anak kulit hitam yang kurus kering nyaris tinggal tulang dan kulit, dan tanpa selembar benang pun.
Sayang postingan seperti itu tidak dilengkapi dengan tautan agar followers bisa membaca informasi yang lengkap dari foto tersebut. Yah kalo cuma demi mendapatkan ratusan atau bahkan ribuan ‘like’ doang sih, apa faedahnya ya?

Sampai suatu ketika saya tak sengaja membaca sebuah artikel tentang seorang humanis berkebangsaan Denmark, Anja Ringgren Lovèn. Dia menyelamatkan anak anak terbuang di Nigeria hanya karena dianggap memiliki kekuatan tenung, atau bahkan penyihir. Dan ternyata Anja adalah sosok di foto yang pernah saya lihat itu.

Membaca artikel tersebut membuat saya tak habis pikir, bagaimana manusia begitu barbar nya membuang ke jalan seorang anak, bahkan masih batita begitu saja di jalan dengan alasan yang begitu absurd. Anak kurus kering tadi, yang sekarang diberi nama Hope, masih berusia 2 tahun, saat dibuang oleh keluarganya dan sudah 8 bulan menggelandang di jalan. Tubuhnya penuh luka, cacingan dan sudah pasti mengalami malnutrisi. 
Dari artikel yang saya baca, Anja rela menjual semua yang ia punya, dan pindah ke sebuah daerah yang belum dipetakan di Nigeria untuk menyelamatkan anak anak malang ini. Menurutnya ada ribuan anak anak yang meninggal, menderita dan dibuang akibat praktik kuno dan kejam yang masih berlaku di sana. 

Oh well. What do you know. 

Ada orang yang yang dengan rela menyumbangkan tenaga , pikiran bahkan seluruh harta bendanya untuk orang lain. Tanpa perlu gembar gembor. 

Saya sering lihat, bagaimana relawan, atau pekerja sosial yang umumnya bule itu saat melakukan tugas kemanusiaan. Saat diliput pun ya biasa saja, dengan rambut diikat atau diuntal, tanpa make up. Pakaian pun sederhana. 

Kok beda ya dengan di sini? Apalagi jika sudah masuk ke sosial media. Kadang saya suka agak gimana gitu.. Ini maksudnya apa, menggugah agar orang terpancing jiwa sosialnya? Upaya transparansi ke donaturkah, bahwa ini looh sumbangannya sudah saya jadikan ini anu itu. Tapi kok…muka dia muluk yang ada di situ? Apalagi kalau sampai bawa fotografer profesional. 

Tidak apa apa sih sosialisasi , mengajak orang beramal itu kan berpahala. Menggambarkan keadaan orang orang yang perlu dibantu pun ya perlu, agar orang tergugah. Tapi ya, gak juga mesti ada kitanya nampang di situ sih. Sesekali boleh lah. Sesekali saja.

Menurut saya, sebaik baiknya amal, adalah yang tak terlihat namun menggurita di belakang tanpa dengan sengaja diekspos. Jika memang kedamaian yang dicari, tak perlu orang tahu siapa saya, dan apa yang saya perbuat. Tak usah khawatir, lambat laun akan terekspos juga kok, hal hal baik seperti ini. Tapi ya lebih tulus, karena orang lain yang membicarakan dan memberi apresiasi. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s