Tentang Uang.

Jika ada benda yang paling berpengaruh di muka dunia ini, maka hal itu adalah uang. Selembar kertas itu bisa merubah apa saja. Dari tak kenal menjadi kenal akrab , dari baik menjadi jahat, dari saudara menjadi musuh, dari rendah diri, menjadi pongah yang luar biasa. Dari merana menjadi amat bahagia, atau…. sebaliknya. 

Aku berasal dari keluarga yang biasa biasa saja, cenderung merangkak dari bawah. Okelaaah, kakek cukup punya jabatan di BUMN yang terkenal basah..uhm banjir malah, pada zamannya. Tetapi ayahku adalah anak laki laki pertama dari 10 saudara. Bisa gitu, berfoya-foya? Aku rasa tidak, karena aku ingat bagaimana ayah ( dan juga ibu ) dulu berkerja keras menghidupi kami. 

Ibu adalah tipe perempuan yang amat ketat memegang keuangan. Saking ketatnya terkadang aku berpikir, apa guna memiliki uang jika tidak mampu menikmatinya? Cenderung takut malah kekurangan uang. Aduh, capeknya.

Sementara ayah adalah orang yang cukup santai dengan uang. Ah, bisa dicari katanya. Tentu saja, karena saat itu beliau masih aktif berkerja.

Dengan latar belakang seperti itu aku mencoba mengambil sisi baik baik dari ayah maupun ibuku, dan memadukannya. 

Dari sisi ibu, beliau mengajarkan bahwa berjaga jaga itu perlu, maka dari itu jika memiliki tabungan, usahakan tidak mengutak atik tabungan tersebut hingga benar benar dibutuhkan. Dan dalam setiap tahapan kehidupan, pasti ada momen momen di mana perlu memakai tabungan tersebut. Semisal untuk biaya sekolah, membeli rumah sebagai investasi, dan mungkin karena sudah tradisi di keluarga besar kami : modal untuk kelak menikahkan anak laki laki.

Ibuku tidak suka berhutang. Segala aset yang orang tuaku miliki, meski tidak banyak, kebanyakan beli tunai. Yaa sesekali beliau mengkridit barang, yang kecil kecil saja. Dan selalu dibayar tepat waktu. Itu aku tiru, untuk berupaya tidak memiliki ( banyak ) hutang. Karena sempat kulihat dulu ayahku yang terlalu santai dengan uang , seringkali ditelepon oleh bank penerbit kartu kredit karena keterlambatan pembayaran. Untuk hal ini, aku menyetujui langkah ibuku yang ketat dalam pengaturan keuangan. Hutang itu adalah kewajiban, yang jika tidak pandai mengelolanya, bisa mencekik leher kita sendiri. 

Hingga hari ini, berapa pun tabungan yang kupunya, besar kecil, kuproyeksikan untuk berjaga jaga. Karena aku tidak berkerja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Bagaimana jika aku harus menghidupi diriku sendiri dan anak anak? Bagaimana saat itu aku pun jatuh sakit, butuh biaya tak sedikit, sedangkan aku kan tak memiliki penghasilan? 

Sebanyak banyaknya uang di tabungan jika ditarik terus menerus tanpa diisi, akhirnya kan akan habis juga. Lantas, bagaimana aku melanjutkan hidup kelak? Bagaimana jika anak-anakku membutuhkan biaya kelak?

Orang bilang, rejeki ada yang mengatur. Serahkan pada Tuhan, semua ada porsinya. Benar, aku pun setuju. Akan tetapi ya kita diberikan otak dan nalar ya tentu untuk berpikir. Termasuk di dalamnya itu tadi, berprediksi, berencana, dan berusaha. Konyol , jika cuma pasrah berpegang pada prinsip “rejeki ada yang mengatur”. Tetap, usaha saja dulu, dari level yang paling sederhana sekalipun.

Aku rasa tidak ada yang ingin hidup susah dan melarat. Apalagi jika selama ini sudah dimanjakan dengan status ekonomi yang cukup stabil. Aku pun demikian. Ya tak perlu lah bermegah-megah, asal cukup dan masih bisa menikmatinya sudah cukup buatku. Jangan pula lengah, terbuai dengan nominal yang tercetak di buku tabungan hingga tidak bijak mengeluarkan uang ( beda loh antara bijak dan pelit ). Seperti yang kubilang, sebanyak-banyaknya uang di tabungan, jika terus dikuras tanpa diisi kembali, akhirnya bisa habis juga. Belum lagi kalo bicara inflasi. Haduuh, nominal 1 juta bisa sekejab saja hasilnya tanpa terasa. Nah…Kalau sudah habis, and then what…?
  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s