The Curse of Being ‘Songong’.

Sebuah predikat yang cukup mengganggu di telinga. Kalo dipikirin ya buat apa juga sih. Cuma, karena berulang ulang terdengar, yah paling tidak sebelah telinga adalah yang memerah. 

Padahal sudah bisa ditebak, yang mengatakan biasanya orang yang gak kenal kenal amat. Yang cuma bisa menerka-nerka dan menganalisa dari satu sisi. Beberapa yang mengatakan bahkan, tak dikenal sama sekali. Akhirnya sebuah image tercipta.

Bad news is a good news. Itulah mengapa hal yang buruk lebih mudah tersebar ketimbang hal hal baik. Mungkin karena kita perlu menghibur diri. Mendengarkan nasip buruk atau kejelekan sesorang kan bisa membuat kita merasa lebih beruntung dan lebih baik. Jadi paling tidak sejenak lupa akan keburukan dan kekurangan yang ada dalam diri kita.

Bagaimana yang kadung diberi predikat songong? Ya mau gimana. Namanya sudah kadung terbentuk image seperti itu. Predikat itu hukuman sosial juga loh. Mau apa lagi? Mau koar koar membela diri juga emang didengerin? Yang ada makin diketawain. Boro boro dipercayai, didengerin juga nggak. Jadi, buat apa repot repot?

Nah. Itu lagi. Untuk merasa buat apa ‘repot-repot’ itu salah satu bentuk kesongongan bagi sebagian orang. Ketidakpedulian. Kesombongan. Kalo buat saya sih, asik asik aja. Malah mungkin itu adalah salah satu cara buat survive dalam hidup.

Masyarakat kita itu terkadang aneh. Jarang, ada yang memuji atau mengakui kelebihan orang lain langsung, dengan sepenuh hati. Entahlah, mungkin karena gengsi. Tapiii.. Giliran menghujat, saat menceritakan kejelekan orang, apalagi keroyokan, waaaaaaaaah. Cepat sekali. 

Eh…Ada lah yang suka memuji. Tapi keseringan juga bikin gue ngga ngerti. Ini tulus apa enggak sih?  Padahal jika kita bisa memuji dengan tulus, tandanya kita adalah orang yang bisa berbesar hati. Orang yang berbesar hati niscaya jauh dari iri hati dan dengki.

Kembali ke urusan songong, jadi teringat sebuah meme yang bergambar 2 orang yang mengomentari 2 orang lagi dengan seekor keledai. Dinaikin tu keledai salah, dituntun tetep juga salah.


Jadi ya gitu. Kalo da keburu dikasih sanksi sosial dengan predikat predikat keren seperti : songong, sok burju, belagu, jutek, ah ya sudahlah… Gak usah repot repot nunjukin siapa kita sebenarnya. Karena jika itu ga benar, pada akhirnya yang berada di sekeliling kita ya adalah orang orang yang tepat, yang mau memahami dan menerima diri kita apa adanya kok. 

Mereka yang ga paham paham amat, yang dengan saktinya bisa berkomentar ini itu, ya sudah. Anggap saja fans. Karena mereka ada waktu mengamati dan mikirin hidupmu. 

Nah kan. Songong ‘kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s