Anak Gaul.

Bagaimana sih seseorang itu dikatakan ‘anak gaul’? Apa karena orang dari ujung ke ujung mengenal kita?  Yang saban ke tempat ramai, ada aja yang negur atau ngajak salaman. Apa kalau punya kebiasaan pergi malam, dugem disebut anak gaul? Apa kalo sering nongol di beberapa arisan juga terhitung gaul? Atau… Dandanan ap to det asik asoy kekinian juga dengan cepat orang menyimpulkan : pasti anak gaul.

Saya melihat ‘anak gaul’ di Jakarta ini bak sebuah strata. Berada di atas golongan nobody, cupu alias golongan biasa biasa aja yang selauuuuw dan gak macem macem. Setingkat dengan orang ade, alias orang kaya yang ga seberapa gaul. Sementara kasta tertinggi adalah orang ade yang gaul, wah bisa dipuja bak dewa dan jadi panutan yang beginian.

Makanya tak sedikit yang mengidamkan untuk mencapai kasta tertinggi itu. Power utama yang dibutuhkan untuk sampai ke situ tak lain dan tak bukan : uang. Kalau punya uang yaaa, ada bisa ngapain aja. Traktir orang, pake barang bagus dan keyen, jalan jalan ke luar negeri, ngasi ngasi barang ke orang lain. Jadi orang akan notice keberadaan kita.

Bagaimana yang gak punya uang? Yaa paling tidak jadi oportunis lah, bisa nempel, mungkin akan kecipratan spot light. 

Sayangnya, orang kaya belum tentu punya kemampuan bersosialisasi yang mumpuni. Kemampuan sosialisasi itu bakat. Uang itu berkat. Kalo si orang kaya ga punya uang, kemampuan sosialisasinya payah, apalagi garing dan membosankan ( worse, hanya bisa copycat karakter orang lain ), ya kastanya merosot ke cupu. Alias nobody.

Sementara, nobody dengan uang pas pas an, namun mampu bersosialisasi dengan baik, bisa aja naik ke kasta selanjutnya. Bahkan didekati oleh kasta tertinggi. 

Biasanya modal yang dimiliki sebenarnya hanya satu : sense of humor. Kalo punya ini, berbagai kasta apapun bisa ditembus. Teori yang satu ini belom berhasil saya buktikan ke pelawak sih. Kalo pelawak kan terkadang melawak berdasarkan skenario. Yang saya maksud sense of humor di atas ya yang bawaan. Gak usah mikir panjang, celetukan atau kata katanya mampu memancing tawa. Yang gak lebay, dan asli bukan tiruan. Asal celetukannya juga yang smart ya, bukan yg ngasal. Exposure dan tingkat pendidikan juga perlu, biar ga terlalu slapstik. 

Yaaah..kira kira begitu saya menilainya. Kalau buat diri saya pribadi sih, bergaul mah sama aja. Mau sama siapapun. Orang kaya, oportunis, cupu, orang gak punya, cakep, ancur, standart, tua, muda, direktur, tukang parkir, tukang jamu, hobi sama, hobi berbeda, laki, perempuan, gay, galau, hepi, lagi depresi.. Saya nggak punya waktu mengkotak kotakkan orang. Tapi saya punya waktu untuk merubah diri saya untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan dan orang yang saya hadapi. Itu, mungkin keuntungan sebagai anak rantau dengan latar belakang ekonomi yang biasa biasa saja. Bukan lahir dengan sendok emas di jidat saya. 

Advertisements

7 thoughts on “Anak Gaul.

    1. Kalo di Barat kan yang menggambarkan lahir sudah kaya : born with silverspoon

      Di sini, di lapak gue : lahir dengan sendok emas di jidat .. Namanya juga ngaraaaang..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s