Hitung.

Saat ini, aku mulai meragukan akan apa yang pernah seseorang berikan kepadaku selama ini bukan dari hati nurani, bukan dari sebuah ketulusan. Namun entah itu berupa upah, down payment, atau bahkan sebuah marketing scheme yang diharapkan mampu memoles dan menaikkan citra seseorang yang memberi itu tadi.

Termasuk hal besar dengan nominal besar pula, yang baru-barusan ini diberikan kepadaku belakangan ini. Aku jadi merasa ada sebuah ketidakrelaan di situ, namun mau tidak mau harus diberikan padaku. Karena ya itu tadi :  bagian dari pencitraan. Bukan semata murni memikirkan kesejahteraanku, atau at least.. sebuah balas jasa atau penghargaan deh.

Orang yang tulus itu yang kutahu, tidak berhitung ( aku dalam hal ini menekankan bentuk nominal rupiah ). Sebagaimana pun ia ( merasa ) dilanda marah, kecewa, sakit hatinya. Memberi adalah sebuah kebahagiaan instan, yang efek bahagianya terasa hanya sekejab . Saat itu saja.  Tak perlu dikenang kenang, apalagi diumbar. Manfaat dan faedah jangka panjang dari memberi, hanya kita sendiri yang merasakan. Dan yang bisa menentukan itu termasuk hitungan amal, kebaikan cuma Tuhan, kok. Begitupun niat tidak tulus dari situ, hanya Dia pula yang tahu. However, hasil dari tulus atau tidaknya, pasti bisa terlihat dan dirasakan oleh sesama manusia.
Ku pernah tahu ada orang yang berhitung, seperak dua perak meski ada gunungan emas di belakangnya. Dia akan berhitung pula tentang apa yang sudah dia lakukan. Dia akan terlalu sibuk berhitung sehingga menutup mata, telinga dan hatinya tentang apa yang sudah orang lain lakukan untuk dirinya. 

Karena bagi dia, hubungan antar manusia itu ibarat sebuah kontrak : ” I have the money, I pay, you make me happy and obey me. ” 

Don’t obey, next please! 

Terkadang suka terbit iba. Pasti ada sebuah lubang besar menganga di hatinya yang selama ini tak cukup cukup cinta dan kasih sayang untuk menambalnya. Entah deh apa yang orang orang seperti ini cari, sementara banyak nikmat yang bisa mereka syukuri. 

Akan tetapi, hidup ini kan pelajaran bagi setiap individu yang menjalani. Kita bisa iba, kita bisa sumbang saran, kita bisa mendoakan, namun rasa syukur, ikhlas, bahagia itu sebuah proyek individu. Ya harus dia sendiri lah yang mencari dan mengalami. Betul, tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s