Kata.

Kesederhanaan dalam merangkai kata menjadi sebuah kalimat mungkin dipandang sebelah mata, seperti sebuah kasta.

Makin canggih kata kata yang dipilih, nampaknya semakin menunjukkan kualitas penulis yang mumpuni.

Menurutku , tidak juga. Jika bagi mereka kasta itu lebih berharga, bagiku pembaca yang mengerti lebih membuat bangga.

Tak penting jika pembaca hanya sekedar memuji. Tanpa memahami. Ah pujian itu hanya demi sebuah kepuasan pribadi. Lantas..Apa faedahnya menyuarakan isi kepala dan hati? 

Karena bagiku , tulisan yang baik memiliki 2 makna. Sebagai sumber inspirasi atau hiburan semata.

Advertisements

A Woman’s Work.


When you go to the bank, how can you ask for money+interest, if you haven’t invested anything yet?

Men thought that women are complicated. Actually, what we..oh well…most of us, need is a simple thing called : comfortness. It is more important than material things. When the heart is empty, but obedience is a must, love feels more like a cage than a feeling.

We are, infact, complicated. That’s why, we hardly can focus since we have so many things in our mind. We have to be multitasked, and God! Taking care of children and house indeed is already a 24/7/365 job. Not to mention the pressure of being an easy target to blame when something is not right or good infront of family or society.

Children have failing grades. Mother’s fault.

House is not tidy. Wife’s fault.

Husband not wearing the right tie. Wife’s fault.

Maids come and go. Lady of the house’s fault.

Have maids and driver. That woman is useless, not doing her job.

House expenses is high. Wife is not being smart in financial management.

And all of that faults, can be eased and accepted if we have the right partners. If they can not help in doing our 24/7/365 job, at least they can try to hear and understand, without prejudice. Afterall, this cost them no money, right?

Because I Know How It Feels.

Saat seorang teman lagi disebelin, apalagi dizalimin oleh beberapa orang, aku selalu gampang iba. Apalagi jika si Teman tadi jadi bulan bulanan, diomongin terus. Diobrak abrik kisah hidupnya, dipantau gerak geriknya, dan asik asik aja diberi komen negatif.

Beberapa perempuan itu aneh. Demen banget dengan sebel keroyokan . Sepertinya ada kesenangan untuk beramai ramai tidak menyukai orang yang sama. Kadang malah untuk alasan yang tidak jelas, padahal orang tersebut nyaris tak pernah bersinggungan dengan mereka pribadi, boro boro pernah nyusahin. Biasanya yang punya problem cuma salah satu atau salah dua dari grup itu.  Kataku sih, daripada didepak atau di-ceng-in ama anggota grup atau gengnya, yaude deh ikutan aja. Ya kan bego.

Aku sih gak mau begitu. Urusannya sama siapa dulu. Kalo nggak ganggu hidupku ya, terserah. Mau mau aja tuh aku tetap berteman, menegur dan diajak ketemuan ama yang lagi disebelin tadi. Resiko didepak dari geng atau grup, ya biarin aja. Paling malas aku, menilai seseorang dari apa kata orang. Kalo vibrasinya cocok denganku, ya sudah, itu cukup buatku.

Maka dari itu aku menghindari terlalu loyal dengan sebuah grup pertemanan. Pernah itu jadi suatu masalah, ketidakloyalan, yang menyebabkan aku terdepak keluar.

Sedih gak? Nggak. Keki aja. Dikit. Sialan lu, pikirku saat itu. Ya kan aku juga perempuan, yg punya perasaan. Deu.

Sebut saja aku arogan. Dengan diriku. Percaya diri banget dengan semua value yang kupegang. Dan aku tak suka jika karakterku diutak atik. Bagiku aku ya aku. Dengan keras kepalaku, dengan judesku, dengan kekakuanku, dengan kesomplakanku, dengan kelembutanku ( bagian terakhir aku agak hiperbolis, gak percaya ya gak apa apa kok ). Jadi mengikuti kemauan orang lain yang tidak sesuai dengan hatiku, ya jelas aku ngga mau. Apalagi disuru ikutan nyebelin orang yang gak pernah bikin ulah ke aku.

Kalo sampai pernah bikin ulah, nah. Itu lain cerita…..

Tentang seorang teman.

Jika pernah ada suatu masa

Orang yang pernah kita bela

Saat kita dengar hal yang buruk tentangnya

Dan ternyata ia memang tak sebaik yang kita kira

Maka akuilah

Penilaian kita memang bisa salah

Namun menyesal tidak usah

Karena tak ada dosanya berbaik sangka…

Umrah.

Beberapa teman menyarankan, jika sedang menghadapi masalah, sebaiknya aku pergi umrah.

Aku bertanya balik, ” Emang kenapa? ”

Kata mereka, ” Ya lo mohon bimbinganNya. Kalau di sana itu lebih khusyuk, lebih dekat dengan Allah. ”

Kupikir, emang Allah tinggal di Mekkah? Kok bisa lebih dekat? 

Cuma ah ya sudahlah. Aku malas berdebat. Lagipula saran itu saran yang baik pula. 

Seorang teman menyarankan, saat menghadapi masalah, umrahkanlah kedua orang tuamu. Niscaya nanti akan berbalas lebih besar. 

Dalam hati kuberhitung. Dengan nominal yang akan dikeluarkan, dengan kenyataan bahwa aku tidak memiliki penghasilan, dengan keperluan yang masih lumayan banyak di hadapan, dengan kenyataan pula bahwa aku belum pernah umrah apalagi berhaji, rasanya juga belum tentu saran tersebut bijak kulaksanakan. Aku pun tak yakin kedua orangtuaku akan mengiyakan.

Lagi lagi saran tersebut aku aminkan saja.

Beberapa orang teman mengajak berumrah. Bahkan beberapa dari mereka menjadikan umrah itu sarana merecharge diri. Bisa setiap tahun datang ke Tanah Suci. Katanya, biar balance. 

Iya, sebulan balance, bulan berikutnya kembali bergibah, menyimpan iri, menenggak minuman keras dan ajojing beibeh.

Aku belum pernah mengiyakan. 

Kenapa, kata mereka.

Kubilang, aku menunggu sampai siap berhaji. Bukankah umrah itu untuk menyempurnakan haji?

Kata mereka, kan umrah itu haji kecil. Latihan dulu, biar nanti siap berhaji yang katanya lebih lama dan berat.

Aku mengiyakan kembali, dan enggan berdebat. Bagaimana seseorang itu dengan ibadahnya, bukan hakku untuk menentukan mana yang benar dan yang salah. Mereka sudah berniat mendekatkan dirinya dengan Allah ke Tanah Suci saja itu sudah alhamdulillah, menurutku. Jika mereka memiliki dana untuk melaksanakannya, ya sudah. Good for them.

Kata mereka, aku idealis. Berhaji itu kan lebih berat. Kataku aku realistis. Jika aku memiliki dananya, lebih baik aku lakukan dulu yang wajib. Mana tahu hanya itu satu satunya kesempatanku untuk bisa ke Tanah Suci?

Di benakku, setelah berhaji ( dan jika kemudian mampu berumroh ), aku harus jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika belum menutup aurat, maka sudah harus menutup aurat dengan benar. Begitupun dengan pola pikir dan tingkah lakuku kelak. Harus lebih baik.

Untuk bisa ke sana butuh biaya yang tidak sedikit. Saat menjalani rangkaian rukun haji itu juga tidak mudah. Butuh kesiapan mental dan fisik. Sayang, jika apa yang sudah dikeluarkan dan disiapkan itu akhirnya terbuang percuma jika tidak membawa perubahan positif. 

Aku tidak berkata bahwa aku adalah makhluk yang lebih baik, tetapi aku sering melihat orang orang yang sudah atau bahkan berulang kali ke Tanah Suci sekembalinya dari sana, tetap tak membawa banyak perubahan. Tak urung aku berpikir, emangnya umroh bisa sampai sekian kali itu, sama dengan semacam pengakuan dosa dan selanjutnya kembali fitri untuk melakukan dosa berikutnya, ya?

Jika hanya ingin Allah membantu menyelesaikan masalahku, kurasa doa dan kepasrahan yang tulus ikhlas lebih pas untukku. Bagiku Allah ada di mana saja. Di Jakarta, Mekkah, Las Vegas, Hong Kong bahkan di Jombang.

Tidak ada yang mampu menjamin doaku akan lebih didengar saat di depan Ka’bah atau di atas selembar sajadah sederhana di kamar mungilku. Karena toh yang tahu  tulus tidaknya isi hatiku ya hanya Dia seorang. Dan jika Dia berkenan melimpahkan rahmat dan hidayahnya padaku, maka akan kulangkahkan kakiku menuju Tanah Suci dengan kesiapan dan kepasrahan yang luar biasa. Untuk jadi lebih baik, bukan semata untukNya mendengarkan keluh kesahku dan menyelesaikan masalahku.

Definitely maybe.

Berencana itu tentang probabilitas. Bisa ya, bisa tidak. Kalo tidak jadinya itu, jadinya ini. Sudah, 2 itu saja. Jika hasilnya ya, maka selanjutnya ada probabilitas lagi, saat menjalankannya. Dan terus akan begitu, sampai bertemu titik akhir : sebuah result. Begitupun jika hasilnya tidak, maka akan ada sebuah rencana baru, atau sebuah back up plan, yang kembali lagi menjadi sebuah probabilitas, dan mengulang siklus yang sama pula.

Tidak ada yang pasti. Semua bisa meleset menjadi sebuah kemungkinan yang lain. Rumus, sekalipun.

Yang pasti di dunia itu sih satu : setiap makhluk hidup di muka bumi ini ya pasti mati. Hal ini mau dicari probabilitasnya agar tak terjadi ya mana bisa. Entahlah jika apa yang digambarkan di film tentang makhluk immortal itu sebenarnya benar benar ada. Katanya, jika Tuhan berkata : ” kun fayakun” , maka terjadilah. Ada, mungkin. Makhluk immortal sejenis vampir atau highlander. 

Nah kan. Sebuah probabilitas lagi.

Tekad.

Tak perlu banyak rencana apalagi banyak  bicara…

Lumatkan dan cerna habis semua rasa…

Melangkahlah dengan perlahan, buka mata, lebarkan telinga…

Hadapi semua rintangan di muka…

Yakinlah bahwa Tuhan itu ada…

Dan kau akan selalu terjaga…

Bukankah sedari dulu hal itu terbukti nyata?

Berbagai kemungkinan terjadi bisa saja..

Satu hal pasti yang tak boleh lupa :

Jangan lagi beri hiburan kepada jiwa-jiwa busuk yang kini sedang tertawa…