Umrah.

Beberapa teman menyarankan, jika sedang menghadapi masalah, sebaiknya aku pergi umrah.

Aku bertanya balik, ” Emang kenapa? ”

Kata mereka, ” Ya lo mohon bimbinganNya. Kalau di sana itu lebih khusyuk, lebih dekat dengan Allah. ”

Kupikir, emang Allah tinggal di Mekkah? Kok bisa lebih dekat? 

Cuma ah ya sudahlah. Aku malas berdebat. Lagipula saran itu saran yang baik pula. 

Seorang teman menyarankan, saat menghadapi masalah, umrahkanlah kedua orang tuamu. Niscaya nanti akan berbalas lebih besar. 

Dalam hati kuberhitung. Dengan nominal yang akan dikeluarkan, dengan kenyataan bahwa aku tidak memiliki penghasilan, dengan keperluan yang masih lumayan banyak di hadapan, dengan kenyataan pula bahwa aku belum pernah umrah apalagi berhaji, rasanya juga belum tentu saran tersebut bijak kulaksanakan. Aku pun tak yakin kedua orangtuaku akan mengiyakan.

Lagi lagi saran tersebut aku aminkan saja.

Beberapa orang teman mengajak berumrah. Bahkan beberapa dari mereka menjadikan umrah itu sarana merecharge diri. Bisa setiap tahun datang ke Tanah Suci. Katanya, biar balance. 

Iya, sebulan balance, bulan berikutnya kembali bergibah, menyimpan iri, menenggak minuman keras dan ajojing beibeh.

Aku belum pernah mengiyakan. 

Kenapa, kata mereka.

Kubilang, aku menunggu sampai siap berhaji. Bukankah umrah itu untuk menyempurnakan haji?

Kata mereka, kan umrah itu haji kecil. Latihan dulu, biar nanti siap berhaji yang katanya lebih lama dan berat.

Aku mengiyakan kembali, dan enggan berdebat. Bagaimana seseorang itu dengan ibadahnya, bukan hakku untuk menentukan mana yang benar dan yang salah. Mereka sudah berniat mendekatkan dirinya dengan Allah ke Tanah Suci saja itu sudah alhamdulillah, menurutku. Jika mereka memiliki dana untuk melaksanakannya, ya sudah. Good for them.

Kata mereka, aku idealis. Berhaji itu kan lebih berat. Kataku aku realistis. Jika aku memiliki dananya, lebih baik aku lakukan dulu yang wajib. Mana tahu hanya itu satu satunya kesempatanku untuk bisa ke Tanah Suci?

Di benakku, setelah berhaji ( dan jika kemudian mampu berumroh ), aku harus jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika belum menutup aurat, maka sudah harus menutup aurat dengan benar. Begitupun dengan pola pikir dan tingkah lakuku kelak. Harus lebih baik.

Untuk bisa ke sana butuh biaya yang tidak sedikit. Saat menjalani rangkaian rukun haji itu juga tidak mudah. Butuh kesiapan mental dan fisik. Sayang, jika apa yang sudah dikeluarkan dan disiapkan itu akhirnya terbuang percuma jika tidak membawa perubahan positif. 

Aku tidak berkata bahwa aku adalah makhluk yang lebih baik, tetapi aku sering melihat orang orang yang sudah atau bahkan berulang kali ke Tanah Suci sekembalinya dari sana, tetap tak membawa banyak perubahan. Tak urung aku berpikir, emangnya umroh bisa sampai sekian kali itu, sama dengan semacam pengakuan dosa dan selanjutnya kembali fitri untuk melakukan dosa berikutnya, ya?

Jika hanya ingin Allah membantu menyelesaikan masalahku, kurasa doa dan kepasrahan yang tulus ikhlas lebih pas untukku. Bagiku Allah ada di mana saja. Di Jakarta, Mekkah, Las Vegas, Hong Kong bahkan di Jombang.

Tidak ada yang mampu menjamin doaku akan lebih didengar saat di depan Ka’bah atau di atas selembar sajadah sederhana di kamar mungilku. Karena toh yang tahu  tulus tidaknya isi hatiku ya hanya Dia seorang. Dan jika Dia berkenan melimpahkan rahmat dan hidayahnya padaku, maka akan kulangkahkan kakiku menuju Tanah Suci dengan kesiapan dan kepasrahan yang luar biasa. Untuk jadi lebih baik, bukan semata untukNya mendengarkan keluh kesahku dan menyelesaikan masalahku.

Advertisements

5 thoughts on “Umrah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s