Grudge.

Festive seasons.

Birthdays.

School holidays.
….tsk! For you and your happiness.

Advertisements

Niat dan kesempatan.

Niat baik adalah niat baik. Walau bagaimanapun juga harus dihargai, dihormati. Memang tidak semua niat baik harus segera dipahami. Beberapa mungkin harus sabar untuk dapat diterima dan dimaklumi.

Walau bagaimanapun sebuah niat pasti ada tujuan. Untuk sampai tujuan harus ada hati yang terbuka, bukan yang sedang terluka. Niat yang sudah ada, jangan sampai salah sasaran, apalagi ada kepura puraan. Atau ada sebuah ketidak ikhlasan. 

Seringkali menghapus sebuah luka tak cukup hanya dengan satu kali perbuatan. Apalagi hanya dengan ucapan. Mungkin butuh dua, tiga atau bahkan ratusan. Di situlah diuji sebuah ketulusan. Saat itu, yang dibutuhkan hanya kesempatan. Waktu yang tepat, situasi yang juga nyaman.

Karena menutup sebuah luka yang sudah keburu menganga, terkadang butuh lebih dari sebuah niat dan kesempatan. Sesuatu yang menyakitkan harusnya memberi pelajaran. Dalam hidup tak semua harus dengan baik berjalan. Dan ada beberapa luka biarkanlah sembuh secara perlahan….
                    – Happy Idul Fitri 2016-

Walk the talk.

Adalah beberapa kali, orang memuji bagaimana caraku menulis pesan singkat saat mencoba mendiskusikan sesuatu.

Loh, diskusi kok pakai pesan singkat? Kenapa tidak langsung saja?

Begini. Ada beberapa orang, yang nampaknya jika diajak bicara langsung, sudah buru buru pasang perisai tinggi, bak pesawat luar angkasa Enterprisenya Star Trek. Tidak semua orang, yang jika didatangi, mau duduk sejajar, membuka telinga ( apalagi pikirannya ) untuk menerima masukan kita. Apalagi kondisinya jika si orang ini merasa kita adalah lawannya. Wah, bakalan mental. Meskipun kita sudah sangat hati hati dalam memilih kata, menjaga intonasi maupun raut wajah. Bawaan pihak sana sudah negatif, saja.

Jika tidak punya kepentingan yang akan berkelanjutan, ya bodo amat sih gue. Didengerin syukur. Ga didengerin, ya emang gue pikirin? Yang repot kan, kalo memiliki kepentingan. Kita harus sabaaaaar, memikirkan berbagai formula baru agar sebuah komunikasi dan diskusi bisa tercapai.

Karena sedang sabar, maka aku memilih komunikasi melalui pesan singkat dan email. Biasanya karena upaya untuk bicara secara langsung seringkali sudah keburu mandeg. Itupun tidak jaminan, akan ditanggapi. Karena pihak sana bisa saja langsung menghapus tanpa membacanya lagi. Tapi kan paling tidak, kita masih punya copy dari email dan pesan yang telah terkirim itu, sehingga gak perlu repot mengulang kata kata seperti saat bicara langsung. 

Praktis, bisa dikirim ulang berkali kali tanpa kekurangan sebuah titik atau koma. Enaknya, malah bisa ditambah. 

Seseorang pernah berkata : ” Wahhh elo cakep bener dah kalo nulissss …Kena banget sih kalo di gue…”

Ya alhamdulillah. 

Seseorang pernah berkata : ” Apa yang elo tulis, runutannya, apa iya lo cuma anak kampung Kalimantan sana yang ga punya potensi apa apa? ”

Ya kembali alhamdulillah. 

Seseorang pernah berkata : ” .. Penulis lebih rasional, dalam arti selalu yg di omongin berdasarkan fakta. Kalo seorang pembicara kan asal dia bicara aja, mana tau pernah dilakukan atau tidak. Biasanya gitu kok…”

Bagaimana penulis cerita fiksi? Kupikir, benar juga. Sengarang-ngarangnya seorang penulis, pasti ada pengaruh dari apa yang sudah pernah ia lihat atau alami. Pasti ada sumber inspirasi yang berasal dari dunia nyata. Tinggal pengembangannya, tergantung sejauh mana imajinasinya.

Suatu hari, saat menonton televisi bersama kedua orang tuaku, adikku bertanya : ” Siapa sih pembicara di TV itu? ”

Bapakku menyebutkan nama seseorang. Kata beliau, ” Bagus tu orang. Papa pernah datang seminarnya. ”

Tak urung aku yang sedang menata meja melihat pula ke pembicara  yang sedang ditayangkan di televisi. 

Kata katanya positif banget. Semua indah. Semua baik. Saat berbicara senyumnya tidak lepas. Sempat kupikir, gak pegal apa, nyengir mulu begitu?

I did not really like him. 

No 1. Dia nyengir mulu. Di dunia nyata, I don’t trust people yang nyengir mulu. Tuhan menciptakan emosi itu banyak. Ada sebel, ada gembira, ada takjub, ada sedih, dan otot otot muka sudah didisain untuk menopang segala emosi itu. Kalo dia nyengir mulu, gimana kita tahu isi hatinya? Mana tau muknya nyengir tapi hatinya menyimpan amarah atau dengki pada kita. Kan ngerrrrriiiii….

No 2. Kata-kata motivasinya positif mulu. Dalam hidup, gak ada yang semuanya positif. Hidup itu bukan taman bunga. Yang perlu dimotivasi adalah saat mengalami hal atau menemui orang yang negatif, yang gimana kita mampu menguasai diri secara realistis. Ya  kalo aku sih…misalnya saat digaplok orang, aku ga mau dengar kata kata untuk bersabar anggap level kita lebih tinggi, kasihani orang tersebut, mungkin ada trauma masa kecil bla bla bla… Digaplok orang ya gue gaplok balik  sambil bilang, ” Heh santai dong, lo. Mang gue maen tangan? Heh?! Heh?!! ”

Kira kira begitu. 

Atau kalo aku rasa gak level gaplok gaplokan ma tu orang, dan ada saksi, ya selfie aja lah. Trus minta visum buat laporan ke polisi. 

No 3. Level getirku sudah mencapai 45% kayaknya. Karena aku sudah melihat hidup itu dengan porsi negatif-positifnya nyaris sama besar. Bukan apa apa sih, buat proteksi diri saja. Agar aku siap dengan berbagai kemungkinan.

Kembali ke pembicara di televisi tadi, aku akhirnya berkomentar singkat, ” Lihat dulu keluarganya. Kalo beneran happy family, ya okelah. Kalo kawin cerai atau berbini lagi, ngga usah didengerin. ”

Dan itu diamini oleh para pemirsa di ruang keluargaku.

Keluarga. Itu basic. Sekeren dan sepintar apapun seorang pembicara, yang seolah penuh dengan pandangan dan arahan positif, jika tak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya, bagiku dia sebuah kegagalan. Daripada ngajak ngajakin orang berpikir positif, ya positifin aja dulu diri sendiri. Kecuali dia jadi pembicara tentang mengatasi trauma rumah tangga, berdasarkan apa yang sudah pernah dialaminya.

Sama saat akhirnya aku tidak pernah mengikuti lagi ceramah 2 orang pendakwah. Begitu mereka melakukan poligami, aku hilang selera. Jika mereka mampu menceramahi orang mengenai pengendalian hawa nafsu, mengapa mereka sendiri tidak mempraktekkannya? Katanya mengikuti nabi. Laaaah yang dinikahi ( biasanya ) lebih muda dan lebih cantik, kok. 

Sama saat aku sesekali mengikuti tayangan seorang pengkotbah. 

Dalam 7 deadly sins, ada yang disebut gluttony, yakni kerakusan dan keserakahan terhadap makanan. Bisa juga berarti sebagai dorongan makan yang melebihi kapasitas tubuh.

Jika si Pengkotbah tadi mampu mengkotbahi orang lain, mengapa ia tak mampu mengkotbahi dirinya sendiri sehingga bodinya ga melar sampai oh begitu melarnya banget?

Sama saat ke dokter kulit untuk perawatan wajah. Saat konsultasi, otomatis yang kulihat kulit wajah dokter kulitnya dulu. Kalo memang oke, ya bolehlah, meski mana tau perawatannya memakai prodaknya atau prodak import yg juuuuauh lebih mahal. 

Kalau biasa saja, bagaimana aku bisa percaya dia bisa merawat wajahku jika dia sendiri tidak optimal merawat miliknya sendiri?

Seseorang pernah berkata, ” Lah kan memang gitu. Seorang psikiater belum tentu bisa menyembuhkan dirinya sendiri. ”

Tapi kan mereka semua itu paham teorinya? Belajar kok, bertahun tahun. Pembicara yang bagus ya paham teori, sekaligus melakukan prakteknya, jadi paham kejadian nyata di lapangannya. Kalau prakteknya ga bisa, cuma sekedar teori, ya ga usahlaaah dipercaya banget saat bicara di khayalak ramai. 

Mendingan begini. Ngoce berupa tulisan. Semua yang tertulis bisa berdasarkan apa yang dilihat, dirasa, dan dipikirkan. Jika ada yang baca syukur.. Ga ada yang baca ya sudah….kapan kapan bole tengok lagi lapak kita ya, Sist…