M.

Someday,

This will make sense. Tears will be wiped away. Hearts will grow stronger. And things are gonna be better. I love you, Mikka.

Advertisements

Selfnote.

If life knocked you down, take a deep breath. It’s ok, to stumble and fall. Cry a little while. Hate a little while. Just don’t seek or even think about seek a revenge.

Taste the pain. Feel the bitterness for a while. We’re just being human.

Do what you like, as long as it’s positive. Drink, eat something healhty. Alcohol it’s not a solution. So is flirting around and non consensual sex. 

Do something that people thought you’re not capable of. Surprise them. Do it to make you feel better, value yourself better. 

Never mind what others may think. It’s not your duty to please everybody.

Tanya, kenapa?

Suatu hari, aku membaca sebuah postingan bagus di salah satu sosial media. Katanya begini, kenapa kita memberi barang barang yang mahal untuk orang yang sudah kaya, namun memberikan barang barang bekas atau tak terlalu berharga ke orang yang tidak punya?

Wah, baru kepikiran. Benar juga ya. Aku pun begitu. Lantas aku bertanya pada diriku sendiri : kenapa?

Aku pribadi, ada rasa malu, jika memberikan barang barang yang “tak sepadan” kepada orang orang yang secara finansial mampu. Apalagi jika mereka pun pernah memberikan barang atau kado yang bagus dan bernilai pula. 

Tapi jika ada yang memberikan barang mahal dengan harapan kelak akan dibalas begitu juga, atau dengan tujuan menunjukkan status sosial yang sama atau bahkan lebih baik, nah.. Itu aku tidak. Entahlah jika ada yang begitu.

Pada saat memberikan barang bekas atau yang tidak mahal kepada orang yang kurang beruntung, tanpa disadari ada perasaan : ” Ah dikasih begini juga mereka sudah senang ” atau ” cukuplaaah ini, sudah cukup bagus. ”

Ih jadi malu.

Padahal ya, kalau mau ditilik balik, ada beberapa kejadian yang mestinya bisa menamparku bolak balik. 

Misalnya, kukeluarkan seperak untuk orang orang yang kurang beruntung, entah kenapa…seringkali balasan yang kuterima bisa 5 kali, bahkan bisa sampai 500 kali dari seperak yang kukeluarkan tadi. Dan kadang tidak tanggung tanggung, balasan itu kuterima hari itu juga dalam hitungan jam. Hal seperti itu baruuu saja terjadi kemarin.

Anehnya…Saat aku memberi barang atau bantuan dana dengan nominal yang cukup lumayan kepada yang mampu, aku belum pernah merasakan nikmat yang sama tuh seperti yang kuceritakan di atas. Ya sudah,begitu saja…flat.

Itu yang terjadi padaku, aku tak tahu denganmu. Apa kau juga begitu?

Bodoh.

Seperti menegakkan benang basah

Seperti menggarami air di lautan lepas

Seperti mendulang air di peniris

Suatu pekerjaan yang sia sia

Meski dengan sekuat tenaga dicoba

Tanpa diketahui bagaimana ujungnya

Yang tersisa hanya lelah

Dan sebuah tanda tanya

Yang dipunya hanya setitik asa

Ya

Setitik saja

Hanya bisa ikut dadu nasip ke mana bergulir

Karena jika dipakai logika

Bak menatap lubang benang dari sebuah jarum

Jika sudah begini, yang bodoh siapa?

Terus…

Kalo jadi janda, kenapa? Apa artinya pasti masuk neraka? Sebuah prodak gagal sebagai wanita? Atau kalo sampe punya duit pasti entah jadi simpanan siapa? Atau sejenis makhluk berbahaya yang beresiko tinggi untuk merebut pasangan atau suami orang?

Apalagi janda yang  diceraikan. Stigma yang ada ( yang sedihnya, malah kebanyakan didengungkan oleh sesama perempuan )  : ” Wah… Pasti gak beres tuh. Sampai lakinya yang gak tahan.” Padahal bisa jadi yang agak sarap atau kebelet kawin lagi ya si suaminya . Eeee, masih aja tetap ada pembelaan : ” Dia juga siiih, gak ngurus dengan benar lakinya, diambil deh ma orang.”

Itu lah yaaaa… 

Kenapa saya suka sebal dengan joke atau meme : ” cewek tak pernah salah.” Pada prakteknya, perempuan apalagi yang sudah menikah itu lebih rentan loh akan tudingan salah. Kenapa? Karena makin banyak ekspektasi yang dibebankan di pundaknya. Dari urusan rumah, anak, suami dan bahkan diri sendiri. Diharapkan semua berjalan mendekati sempurna.

Heylaaaauuw.. Kami hanya perempuan, bukan jagoan merangkap juga sebagai malaikat. 

Jika ada satu aspek yang tak terpenuhi, ya sudahlaah. Jangan konsentrasi ke situ. Alihkan saja ke hal lain yang mungkin lebih baik. Semestinya begitulah cinta yang sesungguhnya. Berdamai dengan kenyataan bahwa tak semua yang kita inginkan akan didapatkan, dan setiap insan pasti memiliki kekurangan. 

Menurut saya, cinta adalah kemistri. Tapi pernikahan adalah komitmen. Dan komitmen itu butuh kesamaan prinsip dari dua orang. Kalau saya sih, prinsipnya : menikah kalo bisa ya hanya sekali seumur hidup. 

Kok pakai kalau bisa? Ya iya. Kalau pasangan saya tukang gebuk, suka pulang ke rumah bawa perempuan lain, ngga pernah menafkahi, ya ngapain tetap ngotot berada dalam sebuah pernikahan? Atau jika pasangan saya modelannya adalah : ‘gak cocok ma bini yang ini, saya gak bahagia. Dah gak cinta. Ganti’. Ya buat apa juga bertahan? Emang bisa, kita menyetir isi kepala dan hati orang? Emang kita bisa memaksakan cinta hanya dengan bertamengkan anak dan pegangan beberapa lembar kertas di buku nikah?

Butuh kedewasaan dan ego yang minimal dari kedua belah pihak untuk tetap bertahan dalam sebuah pernikahan. Butuh komunikasi yang sehat dan kerelaan untuk berkompromi. Tak semata mata hanya merasa bahagia atau tidak. Bahagia itu sederhana, yang ribet dan banyak ekspektasi itu manusianya. Ibarat kata hanya melihat rerumputan yang hijau, kalau kita setel pikiran : ‘ Ya Tuhaaan, indahnya tu rumput.. Adeeem hati ngeliatnya,” maka bahagia lah kita. Dah gitu aja. 

Tetapi jika prinsip dan komitmen ini tak sejalan, maka akhirnya bisalah terjadi peceraian, dan seorang wanita menjadi janda. 

Dengan adanya alasan yang tertuang di dalam gugatan suami yang akan menceraikannya , komen atau analisa sok tahu dari berbagai orang yang tak benar benar tahu dan mengalaminya, belum lagi mengatasi emosi internal,  itu akan mempengaruhi benak seorang ( calon ) janda. Takut, sedih, amarah dan malu. Pasti itu. 

Sebagian, mungkin akan terpuruk. Tak apa apa, itu lumrah. Asal bisa kembali berdiri tegak. Dan dengan status baru sebagai janda, ya tahan tahan juga lah tindakan yang seperti baru melek ama kebebasan. Apalagi jika memiliki anak. 

Hari gini, di kota metropolitan ini, gak perlu jadi janda buat ngacak ngacak rumah tangga orang kok. Yang berstatus masih menikahpun tak kalah ganas bergerilya. Apalagi yang single dan dengan tujuan meningkatkan taraf hidup.    Jadi ya sudah. Tak usah pusing pusing amat mikirin stigma dan apa kata orang, selagi tindakan, ucapan, bahkan niatnya memang tidak ingin merusak. Jika kenyataan hidup mengharuskan untuk menerima predikat sebagai janda, ya hadapilah. Toh bukan akhir dari segalanya, karena masih banyak hal penting lainnya yang harus dipikirkan.

Random.

Hidup itu penuh keajaiban. Bagi seorang yang terus menerus berpikir, apapun bisa jadi bahan. Hal hal kecil, remeh gak guna bagi orang lain sekalipun. Dari urusan rumah tangga, sampai pulsa handphone. Dari indahnya saat bunga Wijaya Kusuma berkembang sampai kenapa mesin cuci ini harus diletakkan di situ, bukan di sana. Apa saja lah.

Ah ribet amat semua mau dipikirin.

Lah gimana. Benak itu 11-12 dengan hati. Jika dilepaskan, ia akan mengembara seluas seluasnya. Menembus jarak dan waktu. Eh tapi… Asal jangan menembus dimensi saja, ngeri.. Takutnya gak kuat, jadi seteheng deh, alias setengah ‘hang’.

Aku rasa, setenang tenangnya seseorang, tetap sih.. Isi kepalanya tetap muter. Ya kalo gak muter, jadi sayur dong. Kayak orang yang lagi koma. Bukan itu sih maksudku. Pasti ada aja hal hal yang bagi orang lain remeh, bagi dia tetap dipikirkan. Mungkin malah, semakin tenang ia ( kelihatannya ) , makin gegap gempita lah isi di kepalanya.

Bagus, bikin kepala terus berpikir biar nggak nambah pikun. Asal diutarakan saja. Cari partner, atau teman yang bisa diajak bicara, bahkan ngayal bersama. Sama efeknya seperti olahraga efeknya, bagiku sih. Dan terkadang, pandangan atau pikiran dari orang lain bisa menambah wawasan. Jadi kita juga tidak terlalu pongah menganggap apa yang kita  pikirkan sudah yang paling benar.

Sayangnya, tidak semua orang memahami hal ini. Tak sekali dua, terdengar jawaban semisal,” Duileeee.. Males banget kayak gitu aja dipikiriiiirin. Ngga ada yang lebih penting apa…”. Tak mengapa juga. Cari saja rekan yang lain. Pasti akan ada kok orang yang  bisa diajak tukar pikiran, paling tidak mau mendengarkan, syukur syukur bisa memahami.

Stagnant

Bebas, namun tak lepas

Lepas, namun masih terikat

Memiliki, namun masih dihalau sepi

Berteriak, namun bibir terkunci

Mencari damai, namun masih masih merasa nyeri

Akan tiba suatu saatnya nanti

Harus lebih mencintai diri sendiri

Untuk hal yang membebani

Tak akan lagi ada peduli