Thank you note.

Terima kasih atas sebuah jabatan baru yang kau bebankan di pundakku.

Terima kasih atas ocehan ocehan  yang semilirnya hingga kini masih terdengar di belakangku.

Terima kasih atas pandangan iba maupun sebuah penghakiman yang mesti tak terucap, terpampang jelas di mata mereka.

Terima kasih atas 2.5 tahun yang hebat, yang mampu membuatku semakin berdiri tegak hingga hari ini.

Terima kasih atas ilmu yang mengajarkanku untuk lebih tegas mengenai apa yang kumau, dan yang terpenting : apa yang tidak kumau.

Terima kasih atas kesulitan, hambatan dan rintangan yang membuatku mampu bersyukur dan makin dekat dengan Tuhanku.

Terima kasih karena mengajarkanku untuk berdoa begitu khusyuk dengan lelehan air mata namun tanpa perlu meraung, terisak bahkan mengeluarkan suara.

…percayalah. Tuhan tidak tidur, dan kuyakin kau akan mendapatkan imbalan yang pantas karena telah demikian berjasa mengajarkan aku bagaimana cara berterimakasih.

Advertisements

Dilet.

Saya orang yang tidak terlalu nyaman dengan kegiatan hapus menghapus kontak di sosial media. 

Mau orangnya sudah meninggal dunia pun, saya merasa tak perlu menghapusnya. Biarkan saja. Kalo kangen kan bisa dilihat lihat ketikan dan foto foto lamanya. 

Mau orangnya punya 7 bijik akun di sosmed yang sama, selagi dia bilang aktif semua, ya saya tetap biarkan saja.

Kalau sampai, saya menghapus akun seseorang di sosial media saya, penyebabnya hanya dua : too painful, dan too annoying.

Untungnya hanya 1-2 orang lah yang pernah mengalami saya delete koneksinya dengan sosmed saya. Kok bisa? Ya penjelasannya cuma 2 tadi : nyakitin sangat, atau mengganggu sangat. Percaya deh, saya punya batas toleransi yang amat longgar tentang apa yang saya lihat di postingan orang orang. 

Saya sering mendengar komen semisal, ” Gue dilet juga nih si Anu. Kerjaannya selfie mulu.”

Atau,

” Dia gue dilet. Abis CCTV doang, komen kagak, ngasih emotikon kagak, ngapain. Menuh menuhin aja.”

Atau,

” Gak tahan gue liat postingannya. Emang gue perlu, gitu, tahu tentang hidupnya? ” ( laaaaah, kenapa di-approve at the first place? )

Belum lagi yang main dilet dilet an pas lagi berantem, atau putus cinta. 

Bagi saya, sosial media ya gitu aja. Dibilang ada artinya ya gak juga. Gak ada artinya ya iya juga. Jadi saya tidak terlalu memusingkan apa dan kenapa orang mem-post-ing ini itu. 

Kalau dia posting liburan di luar negeri, barang barang yang dia punyai, saat beberapa atau sebagian orang beranggapan pamer, saya mikirnya sebatas  : ‘enakkk banget siiih hidup loooeee’. 

Kalau dia posting selfie di berbagai sisi, ya saya pikir : ‘ kok ekspresi mukanya sama aja ya, baik dari bangun tidur, kerja, olahraga sampai ngeden. Gak berubah. Dalam dunia model sih, uda pasti ditolak yang beginian’.

Kalo ada yang postingan makanan melulu, saya mikirnya : ‘ mayan ada referensi baru’. 

Dengan moments atau postingan yang mencapai hampir 14.000 di salah satu akun teraktif media sosial saya, terkadang terlintas keingin tahuan, bagaimana orang memandang. 

Yaaaa terkadang tercetuslah beberapa anggapan mereka selama ini : kurang kerjaan. Stress, dalam tekanan makanya ada di berbagai sosial media. 

Ya saya ketawa aja…Emang gue pikirin? Kalau tidak suka silakan aja dilet saya. Selagi isi postingan saya tidak SARA, tidak menebarkan kebencian dan gak monoton, saya sih nyantai aja, kok.

Tentu saja saya juga pernah mengalami didilet oleh beberapa orang. Zamannya dulu salah satu sosial media masih sangat selektif memilih teman, cukup di angka 150. Ya sudah, gak juga saya keki. Kebetulan, mereka yang add saya duluan sih. 

Sosial media buat saya hanya hiburan semata. Sarana melepas kepenatan, kesepian. Bisa dipakai menjalin silaturahmi, dan sesekali ada kok info yang berguna.

Apa yang orang tampilkan di situ, tidak serta merta saya percayai atau hakimi. Bagi saya hidup mereka, bukan urusan saya. Kita kan tidak akan pernah benar benar tahu. Jadi, tak perlulah dipikirin dan diambil hati.

Dijaga.

Saat menjalin sebuah hubungan, baik pertemanan, persaudaraan atau romantika, intinya yang cuma sesimpel judul di atas.

Pada dasarnya, tak ada seorang pun yang mampu membuat orang lain berubah mengikuti apa yang kita mau, jika orang tersebut tidak menghendakinya. 

Saat ini aku lagi ingin membahas tentang hubungan yang paling ribet, di mana justru di situlah terkadang letak ego dan gengsi ditaruh setinggi tingginya. Yaitu hubungan antara laki laki dan perempuan  yang diikat atas nama cinta. Katanya.

Padahal, cinta itu kan kalo diikuti dengan santai akan mengalir begitu aja. Nggak pake ribet. Yang bikin ribet ya manusianya, si empunya hati. Padahal, sesungguhnya hati atau nurani kan tidak bisa berbohong. Sebenarnya sih, biang keroknya itu adalah yang disebut ekspektasi. Keinginan hati agar sesuatu itu terjadi seperti yang dikehendaki. Memang bisa, kita selalu dapat apa yang kita mau?

Aku pernah berada di sebuah hubungan yang saat ini kupikir, absurd setengah mati. Pada saat menjalaninya sih, tak terasa gitu gitu amat. Mungkin karena dasarnya aku anak rantau, ya gampang saja beradaptasi. Setelah berakhir, barulah semua kejadian yang terlewati seolah membuka mata lebar lebar dan serta merta menampar wajah ini bolak balik.

Astagaaa, bodoh juga ya aku ternyata. Yang diperbuat atasku ternyata jika dilihat kembali, sungguh tak adil meski didasari dengan apa yang (tadinya ) dikatakan cinta. 

Astaaaagaaa, badak juga ya aku ternyata. Diperlakukan sebegitunya masih saja tak bergeming, masih cengar cengir aja. Well, ini one good thing sih. Kan konon berlian juga butuh diasah berkali kali agar bisa cemerlang.

Namun tak ada gunanya dipikirkan hal hal  yang sudah dialami. Paling tidak, pengalaman yang sudah lewat mengajarkan aku beberapa hal yang kuinginkan atau tak kuinginkan di masa yang akan datang. Jangan sampai mengulangi atau berada di situasi yang sama dengan yang sudah sudah.

Contohnya apa?

Aku menginginkan hubungan yang pasangan bukan hanya sebatas dia imam aku mukmin. Dia berkata iya, maka aku harus berkata aaaaamiiin. Tidak mau. Aku juga mau dia jadi temanku, sahabatku. Tempat mencurahkan pikiran, diskusi, bercanda atau obrolan remeh yang tak penting. Bisa seperti itu? Ya harusnya bisa. Kecuali pasanganmu menghabiskan setengah waktu hidupnya di hutan seperti Tarzan, jadi cuma mengerti bahasa hewan. Atau mengalami masalah kejiwaan ansos : antisosial. Tapi selagi dia masih bisa berteman, atau berinteraksi dengan baik dengan orang lain , ya mestinya bisa juga bersahabat dengan pasangan sendiri. Enak malah kan, bisa te-te-em an dengan halal tanpa perlu ngumpet ngumpet. 

Aku mengharapkan hubungan yang berlandaskan kepercayaan, dan kebebasan untuk mengembangkan diri. Alangkah letihnya untuk tidak dipercaya, dicurigai, dan dianggap perlu sebuah tali di pergelangan kaki. 

Aku kan,afterall…. bukan seekor doggy? 

Japan.

I always wanted to go to Japan. Not just because my major was Japanese Language and Literature ( which, most of what I have studied have gone due to lack of exposure and practice ),  the country itself always fascinates me. Thanks to ol skool anime movies such as Voltes V, Go Shogun, God Sigma, and Captain Gaiking. I watched them when I was little. 

From socmeds, everytime I saw friends who spend their holiday in Japan, I still have the same urge to go back once more.

Yep, I’ve been there, finally. Just last year. It was kinda blurry experience eventhough i was there for 10 days. I remember seeing things. But my feeling wasn’t there, at all. I don’t recall happiness. I don’t recall excitements.

Am I being unthankful? Perhaps. 

Maybe next time I’ll go there, my feelings will be so much better than last time. If I can’t afford fancy flight, fancy hotel or eat in a fancy restaurant, I will find my way to get there somehow, but with more excitements and happiness.