Dijaga.

Saat menjalin sebuah hubungan, baik pertemanan, persaudaraan atau romantika, intinya yang cuma sesimpel judul di atas.

Pada dasarnya, tak ada seorang pun yang mampu membuat orang lain berubah mengikuti apa yang kita mau, jika orang tersebut tidak menghendakinya. 

Saat ini aku lagi ingin membahas tentang hubungan yang paling ribet, di mana justru di situlah terkadang letak ego dan gengsi ditaruh setinggi tingginya. Yaitu hubungan antara laki laki dan perempuan  yang diikat atas nama cinta. Katanya.

Padahal, cinta itu kan kalo diikuti dengan santai akan mengalir begitu aja. Nggak pake ribet. Yang bikin ribet ya manusianya, si empunya hati. Padahal, sesungguhnya hati atau nurani kan tidak bisa berbohong. Sebenarnya sih, biang keroknya itu adalah yang disebut ekspektasi. Keinginan hati agar sesuatu itu terjadi seperti yang dikehendaki. Memang bisa, kita selalu dapat apa yang kita mau?

Aku pernah berada di sebuah hubungan yang saat ini kupikir, absurd setengah mati. Pada saat menjalaninya sih, tak terasa gitu gitu amat. Mungkin karena dasarnya aku anak rantau, ya gampang saja beradaptasi. Setelah berakhir, barulah semua kejadian yang terlewati seolah membuka mata lebar lebar dan serta merta menampar wajah ini bolak balik.

Astagaaa, bodoh juga ya aku ternyata. Yang diperbuat atasku ternyata jika dilihat kembali, sungguh tak adil meski didasari dengan apa yang (tadinya ) dikatakan cinta. 

Astaaaagaaa, badak juga ya aku ternyata. Diperlakukan sebegitunya masih saja tak bergeming, masih cengar cengir aja. Well, ini one good thing sih. Kan konon berlian juga butuh diasah berkali kali agar bisa cemerlang.

Namun tak ada gunanya dipikirkan hal hal  yang sudah dialami. Paling tidak, pengalaman yang sudah lewat mengajarkan aku beberapa hal yang kuinginkan atau tak kuinginkan di masa yang akan datang. Jangan sampai mengulangi atau berada di situasi yang sama dengan yang sudah sudah.

Contohnya apa?

Aku menginginkan hubungan yang pasangan bukan hanya sebatas dia imam aku mukmin. Dia berkata iya, maka aku harus berkata aaaaamiiin. Tidak mau. Aku juga mau dia jadi temanku, sahabatku. Tempat mencurahkan pikiran, diskusi, bercanda atau obrolan remeh yang tak penting. Bisa seperti itu? Ya harusnya bisa. Kecuali pasanganmu menghabiskan setengah waktu hidupnya di hutan seperti Tarzan, jadi cuma mengerti bahasa hewan. Atau mengalami masalah kejiwaan ansos : antisosial. Tapi selagi dia masih bisa berteman, atau berinteraksi dengan baik dengan orang lain , ya mestinya bisa juga bersahabat dengan pasangan sendiri. Enak malah kan, bisa te-te-em an dengan halal tanpa perlu ngumpet ngumpet. 

Aku mengharapkan hubungan yang berlandaskan kepercayaan, dan kebebasan untuk mengembangkan diri. Alangkah letihnya untuk tidak dipercaya, dicurigai, dan dianggap perlu sebuah tali di pergelangan kaki. 

Aku kan,afterall…. bukan seekor doggy? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s