Dilet.

Saya orang yang tidak terlalu nyaman dengan kegiatan hapus menghapus kontak di sosial media. 

Mau orangnya sudah meninggal dunia pun, saya merasa tak perlu menghapusnya. Biarkan saja. Kalo kangen kan bisa dilihat lihat ketikan dan foto foto lamanya. 

Mau orangnya punya 7 bijik akun di sosmed yang sama, selagi dia bilang aktif semua, ya saya tetap biarkan saja.

Kalau sampai, saya menghapus akun seseorang di sosial media saya, penyebabnya hanya dua : too painful, dan too annoying.

Untungnya hanya 1-2 orang lah yang pernah mengalami saya delete koneksinya dengan sosmed saya. Kok bisa? Ya penjelasannya cuma 2 tadi : nyakitin sangat, atau mengganggu sangat. Percaya deh, saya punya batas toleransi yang amat longgar tentang apa yang saya lihat di postingan orang orang. 

Saya sering mendengar komen semisal, ” Gue dilet juga nih si Anu. Kerjaannya selfie mulu.”

Atau,

” Dia gue dilet. Abis CCTV doang, komen kagak, ngasih emotikon kagak, ngapain. Menuh menuhin aja.”

Atau,

” Gak tahan gue liat postingannya. Emang gue perlu, gitu, tahu tentang hidupnya? ” ( laaaaah, kenapa di-approve at the first place? )

Belum lagi yang main dilet dilet an pas lagi berantem, atau putus cinta. 

Bagi saya, sosial media ya gitu aja. Dibilang ada artinya ya gak juga. Gak ada artinya ya iya juga. Jadi saya tidak terlalu memusingkan apa dan kenapa orang mem-post-ing ini itu. 

Kalau dia posting liburan di luar negeri, barang barang yang dia punyai, saat beberapa atau sebagian orang beranggapan pamer, saya mikirnya sebatas  : ‘enakkk banget siiih hidup loooeee’. 

Kalau dia posting selfie di berbagai sisi, ya saya pikir : ‘ kok ekspresi mukanya sama aja ya, baik dari bangun tidur, kerja, olahraga sampai ngeden. Gak berubah. Dalam dunia model sih, uda pasti ditolak yang beginian’.

Kalo ada yang postingan makanan melulu, saya mikirnya : ‘ mayan ada referensi baru’. 

Dengan moments atau postingan yang mencapai hampir 14.000 di salah satu akun teraktif media sosial saya, terkadang terlintas keingin tahuan, bagaimana orang memandang. 

Yaaaa terkadang tercetuslah beberapa anggapan mereka selama ini : kurang kerjaan. Stress, dalam tekanan makanya ada di berbagai sosial media. 

Ya saya ketawa aja…Emang gue pikirin? Kalau tidak suka silakan aja dilet saya. Selagi isi postingan saya tidak SARA, tidak menebarkan kebencian dan gak monoton, saya sih nyantai aja, kok.

Tentu saja saya juga pernah mengalami didilet oleh beberapa orang. Zamannya dulu salah satu sosial media masih sangat selektif memilih teman, cukup di angka 150. Ya sudah, gak juga saya keki. Kebetulan, mereka yang add saya duluan sih. 

Sosial media buat saya hanya hiburan semata. Sarana melepas kepenatan, kesepian. Bisa dipakai menjalin silaturahmi, dan sesekali ada kok info yang berguna.

Apa yang orang tampilkan di situ, tidak serta merta saya percayai atau hakimi. Bagi saya hidup mereka, bukan urusan saya. Kita kan tidak akan pernah benar benar tahu. Jadi, tak perlulah dipikirin dan diambil hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s