Platonic.

Genggam erat tanganku. Tak perlu ucapkan kata kata yang penuh bujuk rayu. Aku tak butuh itu. Berikan saja dadamu, untukku bersandar di situ. Elus pelan rambutku, ah..ya begitu!

Tak banyak sesungguhnya yang kumau. Hanya kuminta selain menjadi imamku, jadilah engkau sebagai sehabatku. Di mana kita selain bercumbu, mampu pula tertawa tentang sesuatu yang sebenarnya tak terlalu lucu.

Aku hanya ingin canda tawa denganmu, tanpa drama yang tak perlu. Oh, kita bukan malaikat, aku pun tahu. Seperti kau terima semua kekuranganku, aku pun akan begitu. Seperti yang kubilang, tak banyak sesungguhnya yang ku mau. Kurasa, karena kau pun mau mencari tahu bagaimana gerak hatiku. Ya, kau berhasil mendapatku dengan cara itu.

Aku mengimpikan menghabiskan masa tua di sebuah rumah mungil dengan hawa sejuk denganmu. Kita menyepi dari hingar bingar dunia dan masa lalu. Tak perlu tamasya mewah dan uang berlimpah di saku. Jika itu hanya akan menjadi bahan syak wasangka dan curiga selalu. Merasa ‘cukup’, itu yang nomer satu.

Entahlah jika itu hanya sebuah angan bagiku. Denganmu, atau bahkan menyepi sendiri bisa saja terjadi di masa tuaku. Katanya, jangan gantungkan pada orang lain kebahagiaanku. Aku setuju. Hanya saja, tentu menyenangkan, jika ada seseorang selalu di sampingku. Asal saja dia adalah orang yang tepat untukku. Saat ini, engkaulah orang itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s