In the end.


Tinggal menunggu waktu.

Tahun demi tahun sudah berlalu.

Dan aku tahu diriku.

Aku punya cinta yang menggebu.

Namun tetap kujaga logikaku.

Jika kau mau aku tetap ada di situ,

Berikan pula lebih hanya sekedar waktumu.

Karena cinta butuh pengorbanan yang tak hanya satu.

Bukan masalah hitungan baku.

Tapi akan sangat letih jika hanya memberi melulu.

Terutama untuk hal yang sekiranya semu.

Jadi hanya tinggal menunggu waktu.

Dan jika tiba saat itu,

Ku akan langkahkan kakiku tanpa ragu.

Menoleh ke belakang lagi pun ku tak akan mau….

Advertisements

Hitung sana. Hitung sini.

Jika seorang wanita, istri, dan ibu harus tetap mencari pendapatan dengan alasan : untuk berjaga jaga jika terjadi sebuah kepahitan, menurutku itu sebuah kemunduran.

Iya. 

Sebegitu tidak terjaminnya kini sebuah institusi pernikahan, yang mayoritas ujung-ujungnya tetap saja lebih banyak merugikan kaum wanita, dalam hal kenyamanan. Mayoritas loh, bukan semua.

Cape, tau, jadi perempuan, Tuhan aja tahu. Makanya di kitab suci isinya : ibumu..ibumu..ibumu. Atau pepatah : surga di telapak kaki ibu. Ibu, bukan ayah. Masih juga harus berjaga jaga dengan tetap susah payah mencari nafkah? 

Yang ideal menurutku adalah : laki laki, sudah selayaknya yang berkerja. Menafkahi segala kebutuhan keluarganya. Uangnya, diberikan pada si istri untuk dikelola sebaik baiknya. Istri sih, tak perlu2 amat berkerja. Make sure semua kebutuhan rumah, anak, suami, tagihan, tabungan terpenuhi. Kalo ternyata ada keterampilan yang bisa menambah pemasukan, ya lebih baik. Tapi itu semestinya hanya sebagai nilai tambah. Bukan sebuah kewajiban.

What if shit happens?

Kita lihat siapa yg kepingin menyudahi. Laki-lakinya kah, atau perempuannya. Alasannya apa? 

Jika karena faktor orang ke tiga, mestinya yang mau mengambil resiko pecahnya rumah tangga yang meninggalkan apa yang mereka pernah punya. Lah, orang dia mau mencari kebahagiaannya sendiri. Yang jika begitu optimis meninggalkan keluarga, kudu optimis juga dong bahagia dan rejekinya kelak akan tetap ada.

Eh tapi.. mana ada maling yang mau ngaku ya? Meski dari yang saya tahu, sebagian kasus perceraian kebanyakan akibat adanya orang ke tiga, entah itu sebagai penyebab utama, atau sebagai pemicu.

Jika keputusan pahit itu diambil akibat kasus KDRT, atau narkoba yang kelihatannya sudah sukar disembuhkan, yaaa tentulah harus dilihat dulu sikonnya.

Singkat kata, menurutku sih..sumber kekuatannya bermuara pada satu hal : Uang. Siapa yang memegang kendali atas ini. 

Jika yang pegang perempuan ( istri ), menurut pengamatan saya, sebuah rumah tangga 55-75% akan tetap bertahan, meski tak luput dari goncangan

Kenapa? Karena adanya unsur ketergantungan dari seorang laki laki terhadap perempuannya. Lagipula, kan dia yang cape kerja cari uang. Kan sayang juga kalo diceraikan dan si laki laki harus memulai lagi dari awal, sementara si perempuannya bisa hidup tenang ( apalagi jika kelak jika sudah bersama laki2 lain) dengan modal hasil keringatnya.

Namun, jika seorang perempuan tidak dibagi kepercayaan untuk mengelola ( apalagi mengendalikan keuangan ) maka 55-75% perkawinan menuju kandas. Kalaupun bisa bertahan, pastilah dengan sebuah kegetiran.

 Kenapa? Ya karena si laki laki merasa dia punya kuasa dan bisa melakukan semuanya, bahkan ke urusan yang mestinya menjadi tanggung jawab istrinya. Dan lebih gampang baginya buat memilih jalan perpisahan.

Ini sih, hanya berlaku bagi perempuan, terutama yang tidak berkerja, dan memang bisa mengatur rumah tangga.

Karena di luar sana, tetap lah pasti ada tipe perempuan juga yang memang susah untuk diberi kepercayaan dari segi finansial. Semisal, boros, gemar berjudi, dan gemar berhutang. Kriteria boros pun masih ada variabelnya. Yang mana dulu.

Menurutku seorang perempuan dikatakan boros jika pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan, yang menjurus ke arah timbulnya hutang, dan tak mampu menyisakan dana buat tabungan. 

Sesederhana itu saja. Jika ia menyukai perhiasan, fashion dan membelinya, namun jika tidak mengurangi jatah beras, ya sah sah saja. Begitulah memang perempuan. Sama, seperti kalian kaum laki laki yang menggemari otomotif atau gadget.

Jika kesukaan seorang wanita akan suatu hal menjadi sebuah masalah, dan dianggap keborosan, mungkin laki lakinya sih yang kelewat perhitungan. Alias pelit. 

Palingan saya cuma akan bertanya pada laki laki seperti itu : kamu butuh istri, ataukah pembantu bersertifikat ( dengan kata lain : makan sekolahan ) yang bisa ditiduri ?

” Gak Akan.”

The first word that came up the moment I opened my eyes.

That word is , literally, an eye opener. Of things that I, for almost 3 years, tried to compromize. 

The sign.

I read it.

The chances.

I knew it.

And when that word finally came up,

it didn’t feel like a slap on my face.

But more feels like yellow light, after a long pause of green light.

Gak segampang itu.

Berdamai dengan masa lalu,

Ya bisa.

Berdamai dengan orangnya,

Eittts ntar dulu.

Dunia ini ga bisa terlalu indah,

Apalagi untuk orang kayak elu.

Jika semua indah melulu,

Siapa entar yang mau usaha buat ke surga?