Stalk.

Do I stalk? Oh yea, ofcourse. It’s fun. But I stalk only certain people, usually people I do not know.
Haha.
You know those celebrity gossip accounts? I stalk some of them. It’s kinda fun to know about these celebrities when you’re reaally rrreally don’t know what else to do at home.

Oh nooo…Don’t say you don’t do gossip. Bullsh*t! Pffft… *blowingraspberry*
Everybody enjoys gossip. Men, women. Even children! I guess it’s human nature : always want to knooowwwww…
For me, okay, it’s just something that comes in my left ear and passed thru my right ear. Not something worth it to me to judge. I don’t know them anyway.
Have I being stalked?
Yea ofcourse.
Haha.
One time I found out that somebody stalked me using our friend’s socmed account. It’s okay. It’s a free world.
One time I was told that some people made a conclusion, oh well.. a jugdement based on my posts. They said, ooh she must be this.. she must be that.
Did I give a slightest damn?
Ofcourse not.
You see, I hardly use hastags or nametagging. Because frankly my dear, I just love to write, about everything, based on anything! And it’s not really a big deal for me, whether it gets read or not. If somebody read it, thank you. If nobody reads it, it’s okay too.

Advertisements

Perlukah menghapus sosial media sang Mantan?

Nggak sengaja, ketemu satu link tentang hal ini. Interesting, karena yang bikin nampaknya adalah sepasang ( mantan ) pacar. Sama seperti 2 teman bincang saya tentang hidup, yang juga sepasang laki laki dan perempuan, mereka ini memberi perspektif dari sudut pandang berbeda berdasarkan jender masing-masing.
Berdasarkan tulisan mereka, saya berasumsi mereka ini masih lebih muda, mungkin jauh lebih muda. Atau paling tidak belum setua saya lah. Haha.
Relationship yang dibahas di link tersebut masih tahap pacaran dan putus. Belum ke hal yang lebih kompleks seperti perkawinan, apalagi yang super kompleks : hubungan pasca perceraian.
Namun demikian, ada beberapa hal yang tetap bisa saya serap dan membuat saya mengangguk angguk : ” Oh iya ya… ” dan ” Oooh…jadi begitu…”
Intinya begini.
Laki laki itu biasanya simpel. Mereka ga masalah jika masih terhubung dengan mantan di berbagai sosial media. Kalopun ada keponya, ya paling kadarnya cuma sedikit. Palingan : ” Oh.. itu pacar barunya..” atau, ” Ya sih cakepan..oh well..” atau, ” Lah kok gemukan?”. Dah gitu aja. Bagi mereka sejarah ya sejarah, mau dilupain ya gak bisa. Jadi, tinggal jalani hidup dengannya, udah lewat ini. Sesimpel itu.
Yang suka baper tu ya kita kita ini para wanita. Termasuk saya, meskipun saya merasa  2/3 bagian wanita, 1/3-nya lagi merasa sebagai laki laki terutama dari pola pikir dan garis wajah, serta bentuk rahang . Haha.
Kita wanita, begitu selesai dalam sebuah hubungan cenderung mencoba mematikan sejarah. Dimulai dengan menghapus akun sosmed mantan, dan beberapa orang mungkin lebih ekstrim : blok semua kontak yang terhubung dengan sang mantan.
Keponya juga suka gak sante. Abis stalking mantan ( padahal dia jugaaaa, yang ngedilet atau ngeblok, dia jugaaa yang pengen tau ), suka baper sendiri, apalagi jika mantan sudah punya pasangan baru. Asiiik asiiik butuh afirmasi : mana yang lebih kece, gue, apa yang baru?
Duh ya. Bagi saya gak penting kece-an yang baru, dibandingkan ama kita yang sudah berlalu. Pada kenyataannya, yang baru kok yang sedang menjalani dengan si mantan. Kan kita da lewat. Ibarat fashion, dah last season gitu loooh. 
Bagi saya sih, prestasi itu adalah saat yang baru itu senewennya setengah mati ama kita yang uda last season. Padahal kita juga uda ke mup on mana tauuuu. Boro masih ngarep ma mantan, mikirin juga kagak segitunya sih… ( secara gak mungkin juga gak kepikir atau keinget sama sekali, lah namanya pernah kenal ). Kan keren, kita da bodo amat, eh ayang barunya mantan setengah mati senewennya ama sejarah yang sudah kita tinggalkan. Emang bisa gitu, hapus sejarah?
Nah…. sebagai orang yang malas nengok nengok ke belakang, kalo saya sih, merasa gak perlu untuk tahu kehidupan si Mantan pasca perpisahan. Biasanya saya unfollow semua sosmednya. Biar kepala dan batin tenang, anteng, adem aja. Gak perlu liat liat si mantan lagi ngapain. Ingat ya, di era dijital ini, salah satu pattern dari pasca pecahnya sebuah relationship adalah : pameran di sosmed hidup siapa yg paling hassikkkk setelah berpisah.
Weak. 
Saat saya menjalani sebuah perpisahan, salah satu yang saya hindari adalah pattern basi ini. I made everything berjalan seperti biasa. Rutin saja. Malah cenderung lebih malas keluar rumah buat bergaul, apalagi party gila2an macam norak banget meraih kebebasan. Hubungan pertemenan, oh ya, tentu harus tetap dijaga. Tapi kan ga mesti harus keluar rumah, apalagi di era dijital seperti sekarang, di mana sosial media pun banyak ragamnya. Teman, ya… kalo yang namanya mantan, ya biarkan di porsi yang seperlunya sajalah.

Wake up!

When you’re trying too hard to fit in.

Trying to hard to get accepted.

Trying too hard to get yerself friends.

Trying too hard to please everybody.

Trying too hard to get noticed.

Covering your flaws to get love and attention.

Then you should really know that actually…you’re a fake.

You’re not being yourself.

And people get that kind of vibe.

You’re fake, then you’ll find yourself fake friends too.

So…wake the *eff* up.

Pinta, hutang dan bahagia.

Satu hal yang paling jarang dan malas untuk aku lakukan adalah meminta. Apalagi yang berkaitan dengan uang. Jangankan uang orang, uang milik sendiri yang di orang pun aku suka malas memintanya kembali, mbok ya kesadarannya aja gitu loh.
Adalah beberapa kali, saat uang milikku dipinjam atau terpakai, tak kutagih kembali. Ada juga siih, yang sempat kutagih, sekali beberapa kali, sampai akhirnya kuanggap sebagai sedekah saja lah.
Bijaksana ya?
Ah gak juga. Ada kepentinganku juga di situ. Ada beberapa orang yang entah mereka sadar atau tidak sadar, berhutang itu menjadi sebuah kebiasaan. Dan biasanya, mereka mereka ini akan menyimpan baik-baik data tentang siapa siapa saja yang gampang meminjamkan uang. 
Singkatnya sihhh… Berikutnya mereka butuh berhutang, mereka pasti akan mengontak kita. Pasti!
Orang yang meminjam uangku tadi, seperti yang kuduga, selang beberapa waktu menghubungiku lagi. Hebatnya, dengan tanpa rasa bersalah, bahkan seolah lupa, masih ada kewajibannya yg belum ia kembalikan padaku. Nah kan, penyakit!
Kubilang saja, ” Nah yang lo pinjem tempo hari aja belom balik. ”
Jawaban klisenya : ” Ya sekalian dengan yang tempo hari nanti gue bayarnya. Gue cicil.”
Eh buset. Pake cicil.
Kujawab lagi : ” Yang kemarin aja da mo setahun. Balikin aja dulu yang itu. ”
Padahal….Hutangnya tadi sudah kurelakan saja, anggap beramal. Menghabiskan energi saja menagih yang begituan karena tak terlihat itikad baiknya untuk mengembalikan. Selain itu, kulihat secara ekonomi bukan juga golongan berlebih, mungkin memang dia butuh. Ya cukup lah. Pada akhirnya sampai detik ini dia tidak pernah lagi meminjam uang padaku. Itu tujuanku. Relasi tetap terjaga, posisiku juga aman. Tak lagi sebagai bank penyedia kredit lunak tanpa bunga.
Dulu, aku sering merasa sebagai perempuan tidak berkerja, memiliki pembantu dan supir pula, aku tidak punya hak atas keringat yang dikeluarkan si Pencari Nafkah di keluarga.
Entahlah, rumah tangga konvensional yang aku tahu, seperti bagaimana orang tuaku : ayah berkerja, ibu yang mengelola keuangan. Artinya seluruh pendapatan ayah ibuku pasti tahu, dan hampir semua dikelola ibu.
Tetapi ibuku mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Baginya, daripada uang buat pembantu, mendingan buat ia tabung. Paling paling, ada pembantu yang datang pagi, pulang siang. Begitu saja.
Namun belakangan ini aku berpikir, profesi sebagai ibu rumah tangga juga berhak mendapatkan imbalan. Ya kalo mau hitung2an sih, gak mungkin bisa disamakan dengn suster dan pembantu. Suster dan pembantu, ketauan. Ada ijin cuti, diongkosi, dapat THR. Sewaktu waktu bisa berhenti, demi nominal gaji yang lebih tinggi. Lah kalau ibu rumah tangga? Gak usah susah susah lah.. Mari berhitung dari proses hamil, melahirkan, menyusui, dan make sure tumbuh kembang anak terjaga dengan baik. Satu periode itu saja, deh. Bisakah dihitung angkanya dari situ? Emang harga nyawa seorang ibu itu berapa? Itu aja deh. Ga perlu dihitung bagaimana rasanya berjaga setiap malam saat si anak sakit, mengatur rumah tangga dan sebagainya sebagainya.
Bagi sebagian laki laki bisa sih, dengan gampangnya berkata : ” Itu kan sudah kodrat. Tugasmu. ” Seolah menjadi wanita itu sebenarnya berupa pilihan. Heyyyylaaaauw???? Emang kita bisa rikwes mau lahir jadi laki laki atau perempuan?
Yaaah jika seorang ibu rumah tangga harus bekerja menghasilkan uang hanya demi sebuah penghargaan, apakah sepadan? Lantas yang urus anak anaknya siapa dong? Bapaknya? Jika situasi dibalik, ibu berkerja ayah jaga rumah, sanggupkan jika diberi ucapan yang sama? Aku rasa tidak. Namanya juga ego sebagai laki laki.
Aku pernah diberi tahu, kunci kebahagiaan dalam keluarga ternyata bukan terletak pada ayah yang bahagia. Namun pada kebahagiaan ibu atau istrinya. Kalo dipikir, betul juga. Ibu kan ibarat jembatan, penghubung segalanya di keluarga. Ke anak, ke ayah, ke orang belakang, ke keluarga besar Ayah cukup konsentrasi mencari nafkah, memberikan kepercayaan pada ibu, dan sedikit sedikit membantu jika memang diperlukan. Jika itu berjalan semestinya, sesuai fungsinya, ya ibarat mobil yang rajin servis, lancar tanpa mandeg akibat mogok. 
Lain cerita jika si ibu punya beban pikiran, tak bahagia. Ini kita bicara ketidakbahagiaan yang masuk akal loh ya. Bukan ga bahagia karena ga dikasih beli berlian 4 krat, atau ga bisa ikut arisan jut-jut-an. 
Lihat yang terdekat dulu deh, anak anaknya pasti sedikit terbiar. Boro anak, ngeberesin rumah pun pasti tidak bisa optimal. 
Ayah yang tidak bahagia ( biasanya dalam karir ), niscaya anak, rumah, taman, hewan peliharaan, masihlah bisa terjaga karena ada ibu sebagai benteng penahan, sekaligus penguat bagi Ayah yang resah tadi. Itu jika si Ibu tadi cukup kuat secara lahir batin. Eniwei, perempuan ditakdirkan untuk multitasking kok. Biaaaasanya sih gitu loh ya.
Namun tak terlalu penting sebenarnya sih…siapapun yang merasa tak bahagia. Jika urusannya sudah menyangkut keluarga, apalagi jika menyangkut anak anak, sudah lebih ke arah tanggung jawab. 
Bertanggung jawab atas pilihan menikahi dan dinikahi anak orang, dan yang terpenting adalah bertanggung jawab terhadap anak anak yang sudah dilahirkan.
Mau apa lagi sih dalam hidup? Bahagia di dunia kan begitu saja. Namun kehidupan sesudah mati nanti yang abadi akan dijalani. Saat mati nanti, apa yang sudah diwariskan ke anak cucu? 
Kalau aku sih, ingin mewariskan empati, welas asih, keikhlasan dalam memberi, dan…  

Harapku sederhana, kelak mereka memiliki kebutuhan untuk mendoakanku tanpa henti ketika aku masih hidup, pun sampai saat aku mati nanti. Itu saja aku sudah bahagia, kok.

Siklus rejeki.

Uang itu hanya numpang lewat. Datang, buat pergi. Dapat, buat dibelikan sesuatu. Jadi ya sudah, tidak usah berpikir terlalu ruwet tentangnya.

Punya uang segudang, gak bisa melunakkan hati jika tak dipakai bersedekah dengan ikhlas. Catet, dengan ikhlas loh ya…

Dapat uang segepok, percuma saja jika nuraninya tak terketuk untuk menyelamatkan hewan terlantar, dan memilih pura pura tidak melihat.

Aku sih ngga bisa. Meski hanya seekor kucing kurus, dekil, bau. Mirip seperti yang digambarkan oleh lagu Phoebe Buffay, salah satu karakter di serial Friends: ” Smelly Cat.”

Beberapa bulan lalu, seekor anak kucing ( kampung ) dengan pedenya main masuk ke rumah ini. Dia lucu, cakep. Bersih. Mungkin ada yang memeliharanya, sebelumnya.


Jadilah sekarang kucing ini salah satu anggota rumah kami sekarang. Dengan nama yang berbeda beda : Sylvester, Warrior dan Meng. Tapi lebih sering dipanggil : “Pus..”

Standart banget.

Anyway, gak ribet ribet amat memeliharanya karena relatif sudah cukup besar, bersih pula. Palingan problemnya adalah cacingan. Karena kami tidak bisa melacak apa dan bagaimana dia makan sebelum memilih migrasi ke sini.

2 bulan kemudian, tiba tiba seekor anak kucing nyasar lagi di sini. Entahlah, rumah kami sering disambangi oleh kucing2 liar sekitar sini, entah deh.

Anak kucing ke dua ini belum punya nama. Tadinya aku pikir dia hanya numpang lewat saja, dan selanjutnya pergi melipir entah ke mana.

Namun ternyata ngga. Manteng aja terus di teras depan, dan sesekali berusaha masuk rumah.

Kucing kecil ini kotor. Aku tau,sekecil itu masih belom bisa dimandikan sembarangan. Kulihat pula, ia berkutu. Gawat kalo sampe menulari si Meng yang lagi sehat. Dan melihat perutnya yang buncit, hampir dipastikan dia cacingan.

Duh.

Sehari. Dua hari, tiga hari, aku masih hanya sekedar memberi makan dan minum. Tapi tadi, kulihat dia agak lesu. Kalau sudah begini, ya mana tega aku. Apalagi kalo, amit amit, sampai mati di rumah ini. Aku bisa mewek.

Ya sudah. Mau gak mau mesti dibawa ke dokter hewan. Inapkan sampai besok agar dapat diawasi. Toh di rumah pun aku nggak ngerti mau diapain.

Down paymentnya lumayan. Setengah dari uang yang kudapatkan dari bangun pukul 3 pagi untuk membuat 53 botol jus buah 2 hari lalu.

Cuma kupikir, ah sudahlah. I have always been a cat person. Lagipula, saat hati kecil sudah bersuara untuk menolong, entah manusia atau hewan, kenapa harus ditahan?

Percayakan sajalah pada Tuhan. Uang yang dikeluarkan jika buat kebajikan, akan kembali juga ke kita, entah dari sumber yang mana. Kalaupun tidak, biar saja…anggap ladang untuk meraih pahala.

Apa yang kulakukan ini ngga seberapa. Aku punya pasangan teman yang dengan ikhlas menampung, merawat dan memelihara kucing kucing liar dan yang terlantar. Jumlahnya mungkin sudah puluhan ekor. Untuk biaya perawatannya saja sudah mencapai belasan juta perbulan. Dan mereka adalah orang orang yang berkerja keras mengais rupiah. Yang bukan sekedar kaya dari warisan orang tua atau punya kesuksesan yang mudah. Dan menurut mereka, rejeki ya ada aja.

Mungkin, jika hewan bisa bicara, mereka akan menyatakan terima kasih. Tapi karena ngga bisa, mungkin hanya dalam hati. Dan cuma Tuhan yang bisa mendengarnya. Karena itu, Tuhan pula yang memelihara mereka, dan rejekinya. Pasti begitu.