Siklus rejeki.

Uang itu hanya numpang lewat. Datang, buat pergi. Dapat, buat dibelikan sesuatu. Jadi ya sudah, tidak usah berpikir terlalu ruwet tentangnya.

Punya uang segudang, gak bisa melunakkan hati jika tak dipakai bersedekah dengan ikhlas. Catet, dengan ikhlas loh ya…

Dapat uang segepok, percuma saja jika nuraninya tak terketuk untuk menyelamatkan hewan terlantar, dan memilih pura pura tidak melihat.

Aku sih ngga bisa. Meski hanya seekor kucing kurus, dekil, bau. Mirip seperti yang digambarkan oleh lagu Phoebe Buffay, salah satu karakter di serial Friends: ” Smelly Cat.”

Beberapa bulan lalu, seekor anak kucing ( kampung ) dengan pedenya main masuk ke rumah ini. Dia lucu, cakep. Bersih. Mungkin ada yang memeliharanya, sebelumnya.


Jadilah sekarang kucing ini salah satu anggota rumah kami sekarang. Dengan nama yang berbeda beda : Sylvester, Warrior dan Meng. Tapi lebih sering dipanggil : “Pus..”

Standart banget.

Anyway, gak ribet ribet amat memeliharanya karena relatif sudah cukup besar, bersih pula. Palingan problemnya adalah cacingan. Karena kami tidak bisa melacak apa dan bagaimana dia makan sebelum memilih migrasi ke sini.

2 bulan kemudian, tiba tiba seekor anak kucing nyasar lagi di sini. Entahlah, rumah kami sering disambangi oleh kucing2 liar sekitar sini, entah deh.

Anak kucing ke dua ini belum punya nama. Tadinya aku pikir dia hanya numpang lewat saja, dan selanjutnya pergi melipir entah ke mana.

Namun ternyata ngga. Manteng aja terus di teras depan, dan sesekali berusaha masuk rumah.

Kucing kecil ini kotor. Aku tau,sekecil itu masih belom bisa dimandikan sembarangan. Kulihat pula, ia berkutu. Gawat kalo sampe menulari si Meng yang lagi sehat. Dan melihat perutnya yang buncit, hampir dipastikan dia cacingan.

Duh.

Sehari. Dua hari, tiga hari, aku masih hanya sekedar memberi makan dan minum. Tapi tadi, kulihat dia agak lesu. Kalau sudah begini, ya mana tega aku. Apalagi kalo, amit amit, sampai mati di rumah ini. Aku bisa mewek.

Ya sudah. Mau gak mau mesti dibawa ke dokter hewan. Inapkan sampai besok agar dapat diawasi. Toh di rumah pun aku nggak ngerti mau diapain.

Down paymentnya lumayan. Setengah dari uang yang kudapatkan dari bangun pukul 3 pagi untuk membuat 53 botol jus buah 2 hari lalu.

Cuma kupikir, ah sudahlah. I have always been a cat person. Lagipula, saat hati kecil sudah bersuara untuk menolong, entah manusia atau hewan, kenapa harus ditahan?

Percayakan sajalah pada Tuhan. Uang yang dikeluarkan jika buat kebajikan, akan kembali juga ke kita, entah dari sumber yang mana. Kalaupun tidak, biar saja…anggap ladang untuk meraih pahala.

Apa yang kulakukan ini ngga seberapa. Aku punya pasangan teman yang dengan ikhlas menampung, merawat dan memelihara kucing kucing liar dan yang terlantar. Jumlahnya mungkin sudah puluhan ekor. Untuk biaya perawatannya saja sudah mencapai belasan juta perbulan. Dan mereka adalah orang orang yang berkerja keras mengais rupiah. Yang bukan sekedar kaya dari warisan orang tua atau punya kesuksesan yang mudah. Dan menurut mereka, rejeki ya ada aja.

Mungkin, jika hewan bisa bicara, mereka akan menyatakan terima kasih. Tapi karena ngga bisa, mungkin hanya dalam hati. Dan cuma Tuhan yang bisa mendengarnya. Karena itu, Tuhan pula yang memelihara mereka, dan rejekinya. Pasti begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s