Perlukah menghapus sosial media sang Mantan?

Nggak sengaja, ketemu satu link tentang hal ini. Interesting, karena yang bikin nampaknya adalah sepasang ( mantan ) pacar. Sama seperti 2 teman bincang saya tentang hidup, yang juga sepasang laki laki dan perempuan, mereka ini memberi perspektif dari sudut pandang berbeda berdasarkan jender masing-masing.
Berdasarkan tulisan mereka, saya berasumsi mereka ini masih lebih muda, mungkin jauh lebih muda. Atau paling tidak belum setua saya lah. Haha.
Relationship yang dibahas di link tersebut masih tahap pacaran dan putus. Belum ke hal yang lebih kompleks seperti perkawinan, apalagi yang super kompleks : hubungan pasca perceraian.
Namun demikian, ada beberapa hal yang tetap bisa saya serap dan membuat saya mengangguk angguk : ” Oh iya ya… ” dan ” Oooh…jadi begitu…”
Intinya begini.
Laki laki itu biasanya simpel. Mereka ga masalah jika masih terhubung dengan mantan di berbagai sosial media. Kalopun ada keponya, ya paling kadarnya cuma sedikit. Palingan : ” Oh.. itu pacar barunya..” atau, ” Ya sih cakepan..oh well..” atau, ” Lah kok gemukan?”. Dah gitu aja. Bagi mereka sejarah ya sejarah, mau dilupain ya gak bisa. Jadi, tinggal jalani hidup dengannya, udah lewat ini. Sesimpel itu.
Yang suka baper tu ya kita kita ini para wanita. Termasuk saya, meskipun saya merasa  2/3 bagian wanita, 1/3-nya lagi merasa sebagai laki laki terutama dari pola pikir dan garis wajah, serta bentuk rahang . Haha.
Kita wanita, begitu selesai dalam sebuah hubungan cenderung mencoba mematikan sejarah. Dimulai dengan menghapus akun sosmed mantan, dan beberapa orang mungkin lebih ekstrim : blok semua kontak yang terhubung dengan sang mantan.
Keponya juga suka gak sante. Abis stalking mantan ( padahal dia jugaaaa, yang ngedilet atau ngeblok, dia jugaaa yang pengen tau ), suka baper sendiri, apalagi jika mantan sudah punya pasangan baru. Asiiik asiiik butuh afirmasi : mana yang lebih kece, gue, apa yang baru?
Duh ya. Bagi saya gak penting kece-an yang baru, dibandingkan ama kita yang sudah berlalu. Pada kenyataannya, yang baru kok yang sedang menjalani dengan si mantan. Kan kita da lewat. Ibarat fashion, dah last season gitu loooh. 
Bagi saya sih, prestasi itu adalah saat yang baru itu senewennya setengah mati ama kita yang uda last season. Padahal kita juga uda ke mup on mana tauuuu. Boro masih ngarep ma mantan, mikirin juga kagak segitunya sih… ( secara gak mungkin juga gak kepikir atau keinget sama sekali, lah namanya pernah kenal ). Kan keren, kita da bodo amat, eh ayang barunya mantan setengah mati senewennya ama sejarah yang sudah kita tinggalkan. Emang bisa gitu, hapus sejarah?
Nah…. sebagai orang yang malas nengok nengok ke belakang, kalo saya sih, merasa gak perlu untuk tahu kehidupan si Mantan pasca perpisahan. Biasanya saya unfollow semua sosmednya. Biar kepala dan batin tenang, anteng, adem aja. Gak perlu liat liat si mantan lagi ngapain. Ingat ya, di era dijital ini, salah satu pattern dari pasca pecahnya sebuah relationship adalah : pameran di sosmed hidup siapa yg paling hassikkkk setelah berpisah.
Weak. 
Saat saya menjalani sebuah perpisahan, salah satu yang saya hindari adalah pattern basi ini. I made everything berjalan seperti biasa. Rutin saja. Malah cenderung lebih malas keluar rumah buat bergaul, apalagi party gila2an macam norak banget meraih kebebasan. Hubungan pertemenan, oh ya, tentu harus tetap dijaga. Tapi kan ga mesti harus keluar rumah, apalagi di era dijital seperti sekarang, di mana sosial media pun banyak ragamnya. Teman, ya… kalo yang namanya mantan, ya biarkan di porsi yang seperlunya sajalah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s