Pak Ferry.

Gundukan tanah merah itu masih basah. Di atasnya bertaburan bunga dan irisan daun pandan, masih segar tampak kulihat. 

Tadi subuh kudengar kabar ia berpulang, kemarin sore. Begitulah Jakarta, dengan tembok tinggi dan manusia-manusia yang terkadang sibuk sendiri. Dengan jarak rumah yang hanya sekitar 30-50 meter, aku sampai tidak mengetahui kabar duka ini.

Sore kemarin itu, aku sibuk dengan rasa gerah, yang kukira akan hujan lebat ( padahal tidak ). Sibuk memikirkan apa yang aku tulis, dari sebuah show yang sedang tayang di layar televisi. Dan 20 menit kemudian aku tanpa sadar terlelap, dengan buku tulis yang terbuka di atas dada, memegang pulpen dan televisi yang masih menyala.

Tak kudengar hiruk pikuk mereka yang menyiapkan liang lahat. Tak kudengar sedikitpun prosesi pemakaman. Padahal, aku hanya perlu naik ke lantai 2 dan menjulurkan kepala.

Pak Ferry adalah seorang petugas keamanan di kompleks ini. Untuk ukuran usia lanjut, dia terhitung masih sangat trendy. Jika tidak sedang bertugas, suka mengenakan celana denim dengan atasan kaos bak anak muda. Tak lupa selembar kafiyeh melilit lehernya. Iya, kafiyeh dengan warna abu abu hitam kecokelatan, sering kulihat dipakainya, walaupun terkadang kurang senada dengan seragam keamanan yang berwarna biru tua.

Tubuhnya terhitung kecil ramping, belakangan aku tahu bahwa almarhum selama ini menderita sakit lever yang cukup parah. Beberapa minggu terakhir, tak kulihat ia berjaga di depan pintu kompleks, duduk dengan memangku satu kaki di atas kaki lainnya. Sedang sakit, kata bapakku.

2 minggu terakhir bapakku berkata, Pak Ferry dirawat di rumah. Karena pihak rumah sakit sudah menyerah.

Sempat terlintas ingin memberikan bantuan biaya sekedarnya. Ya nantilah, pikirku saat itu. Dan sesudahnya, aku alpa.

Sekarang, saat menatap gundukan tanah merah itu, sebersit penyesalan menyeruak perlahan di relung hati. Dan berbagai seharusnya..atau semestinya.. atau andai saja.

Pak Ferry memang bukan keluarga. Aku hanya mengenalnya kurang lebih baru setahun saja. Tapi ia sering kuminta tolong untuk urusan rumah. Selama ini, almarhum cukup tanggap melayani segala minta-tolongku itu. Reaksinya cepat, meski upah yang kuberi tak juga berlebihan. 

” Tolong Pak… listrik saya mati.”

” Tolong Pak, panggilkan tukang, tembok saya bocor. ”

” Tolong Pak.. ban sepeda saya gembos… ”

” Tolong Pak, rumput saya pitak-pitak..”

” Tolong Pak, taman saya ditanami..”

Dan Lebaran tahun lalu, saat aku menanyakan dimana bisa membeli ketupat yang sudah jadi, tepat di malam takbiran dia membawakan beberapa buah ketupat buatan istrinya. 

Sekarang ia sudah tenang 7 kaki di bawah bumi. Tak merasakan sakit lagi. Kukirimkan sebuah doa untuknya, semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima amal ibadahnya, mengampunkan dosa-dosanya dan memudahkan jalannya. Namun sebuah kealpaan yang  sudah kulakukan sepertinya harus kutebus bak sebuah hutang. Mungkin sudah tak berarti apa apa, tapi cuma itu cara berterimakasih yang aku bisa.

Advertisements

Friday.


I was born on Friday.

I started to have a monthly paid job after more than 16yrs of hibernation on Friday 5 months ago.

I started my own professional writing with a pray, a bismillah.

I know writing has always been a passion to me. I got my first writing fee when I was 10 years old for a poem. I don’t know whether it was also on Friday or not, but sure it was a good day. Then I got another one couple of months later, also for a poem.   Both, I got Rp 5.000,- each.

After I got my first child, I wrote a short story for a magazine. It was like, only for a page.  I got paid Rp 185.000. It was considered small amount of money, compare to a job as a housewife at that time. But the satisfaction was overwhelming. Then I wrote another short story. It took 3 pages. They paid me Rp 240.000. I think I wrote another 2-3 pages fiction story, but I could’nt remember it got published or not. I don’t know what days they were, but sure they were good days.

I know, I’m not really a good writer. I can’t play with those fancy words and grammar. I’m already a complicated person, and last thing I want is people who read my writing feel like it’s complicated and confusing. I am just being me, and I hope in a way, you’ll find at least one of your similarity with me, and you’ll understand what my mind is telling you about.

Today is not Friday. But my mind is all set up with plans and goals. Whether God will grant a success on Friday or not, I’m sure it’s gonna be a good day.

Tentang kasihan mengkasihani.

Ada beberapa orang, dan mungkin juga aku, sedikit merasa gimaaaanaaaa, gitu…saat merasa dikasihani.

Contohnya kayak gini nih :

” Kasihan.. ga ada suami.” 

Laaaaah, emang ada jaminan, bahwa punya suami pasti lebih bahagia? Ya sih, gak punya suami membuat sedikit ketidaktenangan akan masa depan. Gak ada yang bertanggungjawab…oh well…gak ada yang dimintai duit, kasarnya, kalo terjadi apa-apa. Tapi hey, ada juga enaknya. Kalo mau pergi, ga usah repot kudu wajib lapor. Pergi ya pergi aja. Paling yang dipikirin, anak sama siapa? 

” Kasihan…ga punya teman.”

Laaaah…. kata siapa, gak punya teman? Baaanyaaaaaaak kok, syukurnya. Cuman, karena usia makin bertambah, prioritas pun mulai berubah. Ya masa, jadi janda larinya gaul ke teman-teman bak anak muda. Eh maaf, bukan bermaksud menyinggung yang punya pola pikir berbeda loh ya. Hanya saja, aku memilih hal lain. Semisal….olahraga, nemenin anak, atau tidur di rumah. 

” Kasihan, sekarang dapat duit darimana..”

Aduuh ya sudahlah untuk yang satu ini aku malas juga membahasnya. Intinya gini, aku percaya Tuhan, Allah itu tidak tidur. Semua pasti ada garis dan jalannya. Nah kita nih yang manusia yang harus buka mata buka telinga, bukan hanya sekedar pasrah. 

Satu lagi, gak usah terlalu ngoyo dan ambisius dalam mengejar duit —-> pengalaman pribadi. Kalo emang dasarnya emang rejeki kita, usaha aja, namun pasrahkan hasilnya pada si Pemberi Rejeki. Lihat deh, nanti tau-tau, adaaaaaa aja jalannya buat dapat duit. Pede aja, bahwa kita itu ama Tuhan gak akan dibikin susah. 

” Kasihan…anak-anaknya..”

Kalo yang satu ini, iya, aku terima dengan lapang dada. Sejujurnya, aku mendoakan agar jangan ada anak anak yang terluka lagi akibat perpisahan orang tuanya. Semoga ke depannya orang tua-orang tua lain bisa menekan ego pribadinya demi kebahagiaan anak anak mereka. Oh ya..menekan iseng dan jailnya juga. Karena tak jarang hancurnya sebuah rumah tangga dimulai dari keisengan dan kejailan.

Kayak….Iseng ah, kontak mantan pacar. Jail ah, kenalan sama orang baru. Iseng ah, curhat ma si Ini. Jail ah..godain si Itu.

Aku tak percaya bahwa agar anak bahagia, orang tua harus bahagia terlebih dahulu. Tidak. Bagiku, unconditional love itu adalah saat seseorang rela berkorban, betapapun berdarah-darah hatinya ( asal jangan raga yang berdarah, catet ya.. ) demi kebahagiaan orang lain ( maksudku dalam hal ini : anak. Kalo orang dewasa bodo amat..kan sudah gede ini ). 

Dan jika dalam sebuah pengorbanan, kebahagiaan anak menjadi kebahagiaan orang tua, niscaya semua masalah akan mampu dilewati..well at least mungkin terasa enteng sedikit saat dijalani. Tauk deh sampai kapan. Ya jalaaaanin aja dulu, kan Tuhan juga kok, yang menentukan.

Setelah kupikir-pikir, ego lah yang membuat kasihan tadi terasa ngehek banget . Ego, merasa sebagai sosok yang lebih kurang, direndahkan, gitu. Padahal kalo dipikir, mungkin saja yang ngomong sekedar merasa empati. Mungkin saja, setelah ucapan kasihannya ada sebaris doa buat kita.

Misalnya : 

” Ya semoga saja dia bisa baik-baik saja melewatinya.”

Aamiin.

” Tenanglah, Gusti Alloh mboten sare. Nanti pasti ada jalannya. ”

Aamiin.

Jadi, poinku adalah, tak mengapa jika orang merasa kasihan, iba pada kita. Yang tau situasi kondisi secara pasti, ya kita sendiri. Anggap aja, ada doa dibalik ‘kasian’nya itu.

Sengkuni.

” Shakuni (Dewanagari: Śakuni) atau Saubala (patronim dari Subala) adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Ia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu. Menurut Mahabharata, Sangkuni merupakan personifikasi dari Dwaparayuga, yaitu masa kekacauan di muka Bumi, pendahulu zaman kegelapan atau Kaliyuga. zaman kegelapan atau Kaliyuga. “

Jika ada satu karakter manusia yang paling tak kumengerti, ya karakter seperti di atas ini.

Aku tidak terlalu ingat secara detil kisah Mahabarata atau Bratayudha, atau entahlah namanya. Yang aku ingat adalah Sengkuni ini adalah satu tokoh dengan watak culas, dan gemar menghasut. Segala tindakan yang ia ambil hanya fokus ke satu hal : keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sounds familiar? 

Betul. Hareeee geeneee, ada aja Sengkuni modern di sekeliling kita. Karena zamannya sudah beda, regardless kisah Mahabharata tadi adalah kisah nyata ataukah hanya fiksi semata, Sengkuni modern pun turut berevolusi.

Kalau dulu Sengkuni berusaha sebanyak mungkin mengumpulkan kekayaan dengan cara seculas mungkin, dengan jalan menghasut dan adu domba sampai dengan adu kodok, Sengkuni modern makin absurd makna dan tujuannya.

Terkadang, gak ada keuntungan materi yang didapat dari sebuah atau beberapa hal dari keculasan yang dia lakukan.

Kayak apa, sih tuh?

Contoh… screenshot foto atau tulisan yang dengan sengaja dikirimkan ke pihak yang sedang bertikai. Sengkuni tadi bisa dengan pura pura bego ( atau emang tolol? ) dan pasang muka polos di hadapan kedua pihak tadi. Gunanya apa? Dianggap pahlawan pembela kebenaran bagi pihak yang lain? Kalo emang sudah menyatakan keberpihakan, yang tegas dooong. Jangan mau di sini enak, di situ enak.

Mbok ya kalo emang mau jadi sejenis Go Go Power Renjer ya berusaha ngademin, bukan malah nyulutin api. Kan salah satu atau salah duanya bisa tambah panas dan besar kemungkinan terjadi tawuran?

Jadi ya gitu. Di era keterbukaan medsos ini, butuh kebijakan tentang apapun yang diunggah, pasti menimbulkan resiko. Selain bisa menimbulkan persepsi ( jangan sedih, aku yang aktif menulis dari di atas selembar tisu sampai di berbagai medsos bagi beberapa orang dianggap ‘stress’ *belagaknangismewekbutheyhonestlyIdonotreallycare* ) ,  hal ini juga bisa jadi pemuas batin bagi Sengkuni Modern yang sudah melek teknologi. Sekali lagi, mungkin bukan untuk keuntungan materi, namun sebagai kebutuhan batin untuk dianggap : pahlawan pembela kebenaran nan baik hati lagi suci bersih abadi.

Pret. 
P.S

Bukan pengalaman pribadi, hanya hasil mengamati. Wassalam.

Unthankful.

Tak habis-habisnya cinta diterima

Baik itu hanya sekedar beberapa tepukan di pundak

Meski tanpa terucap kata

Mengalirkan rasa, doa dan juga semangat

Keluarga, sahabat, orang orang terkasih

Aku masih punya semua

Lantas, untuk apa aku terkadang bermuram durja?

Jilat ludah.

Suatu saat ada yang berkata : ‘ah si ini anaknya begitu.. begini.. ‘

Besoknya foto selfie berdua.

Suatu saat ada yang berkata : ‘ah, ga cocok emang gua ama si anu..orangnya begini begitu..’

Besoknya pajang foto di sosmed lagi makan siang bersama.

Suatu saat ada yang berkata : ‘udahlah..emang gak asik mainnya, ga selevelan otaknya!’

Dan kemudian…mereka pergi ngopi bersama.

Buat apa berteman, jika hati dan mulut bisa gampang menghujat?

Jika tak yakin akan penilaian sendiri, sebaiknya kau jaga lisan.

Dan ketika lisan itu sudah dikeluarkan menjadi barisan kata yang sampai di telinga orang, maka tepatilah apa yang telah terucap.

Namun yang terpenting bagiku adalah : buat apa berteman jika masih bisa di belakang gampang mencela dan menghujat?