Sengkuni.

” Shakuni (Dewanagari: Śakuni) atau Saubala (patronim dari Subala) adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Ia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu. Menurut Mahabharata, Sangkuni merupakan personifikasi dari Dwaparayuga, yaitu masa kekacauan di muka Bumi, pendahulu zaman kegelapan atau Kaliyuga. zaman kegelapan atau Kaliyuga. “

Jika ada satu karakter manusia yang paling tak kumengerti, ya karakter seperti di atas ini.

Aku tidak terlalu ingat secara detil kisah Mahabarata atau Bratayudha, atau entahlah namanya. Yang aku ingat adalah Sengkuni ini adalah satu tokoh dengan watak culas, dan gemar menghasut. Segala tindakan yang ia ambil hanya fokus ke satu hal : keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sounds familiar? 

Betul. Hareeee geeneee, ada aja Sengkuni modern di sekeliling kita. Karena zamannya sudah beda, regardless kisah Mahabharata tadi adalah kisah nyata ataukah hanya fiksi semata, Sengkuni modern pun turut berevolusi.

Kalau dulu Sengkuni berusaha sebanyak mungkin mengumpulkan kekayaan dengan cara seculas mungkin, dengan jalan menghasut dan adu domba sampai dengan adu kodok, Sengkuni modern makin absurd makna dan tujuannya.

Terkadang, gak ada keuntungan materi yang didapat dari sebuah atau beberapa hal dari keculasan yang dia lakukan.

Kayak apa, sih tuh?

Contoh… screenshot foto atau tulisan yang dengan sengaja dikirimkan ke pihak yang sedang bertikai. Sengkuni tadi bisa dengan pura pura bego ( atau emang tolol? ) dan pasang muka polos di hadapan kedua pihak tadi. Gunanya apa? Dianggap pahlawan pembela kebenaran bagi pihak yang lain? Kalo emang sudah menyatakan keberpihakan, yang tegas dooong. Jangan mau di sini enak, di situ enak.

Mbok ya kalo emang mau jadi sejenis Go Go Power Renjer ya berusaha ngademin, bukan malah nyulutin api. Kan salah satu atau salah duanya bisa tambah panas dan besar kemungkinan terjadi tawuran?

Jadi ya gitu. Di era keterbukaan medsos ini, butuh kebijakan tentang apapun yang diunggah, pasti menimbulkan resiko. Selain bisa menimbulkan persepsi ( jangan sedih, aku yang aktif menulis dari di atas selembar tisu sampai di berbagai medsos bagi beberapa orang dianggap ‘stress’ *belagaknangismewekbutheyhonestlyIdonotreallycare* ) ,  hal ini juga bisa jadi pemuas batin bagi Sengkuni Modern yang sudah melek teknologi. Sekali lagi, mungkin bukan untuk keuntungan materi, namun sebagai kebutuhan batin untuk dianggap : pahlawan pembela kebenaran nan baik hati lagi suci bersih abadi.

Pret. 
P.S

Bukan pengalaman pribadi, hanya hasil mengamati. Wassalam.

Advertisements

3 thoughts on “Sengkuni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s