Tentang kasihan mengkasihani.

Ada beberapa orang, dan mungkin juga aku, sedikit merasa gimaaaanaaaa, gitu…saat merasa dikasihani.

Contohnya kayak gini nih :

” Kasihan.. ga ada suami.” 

Laaaaah, emang ada jaminan, bahwa punya suami pasti lebih bahagia? Ya sih, gak punya suami membuat sedikit ketidaktenangan akan masa depan. Gak ada yang bertanggungjawab…oh well…gak ada yang dimintai duit, kasarnya, kalo terjadi apa-apa. Tapi hey, ada juga enaknya. Kalo mau pergi, ga usah repot kudu wajib lapor. Pergi ya pergi aja. Paling yang dipikirin, anak sama siapa? 

” Kasihan…ga punya teman.”

Laaaah…. kata siapa, gak punya teman? Baaanyaaaaaaak kok, syukurnya. Cuman, karena usia makin bertambah, prioritas pun mulai berubah. Ya masa, jadi janda larinya gaul ke teman-teman bak anak muda. Eh maaf, bukan bermaksud menyinggung yang punya pola pikir berbeda loh ya. Hanya saja, aku memilih hal lain. Semisal….olahraga, nemenin anak, atau tidur di rumah. 

” Kasihan, sekarang dapat duit darimana..”

Aduuh ya sudahlah untuk yang satu ini aku malas juga membahasnya. Intinya gini, aku percaya Tuhan, Allah itu tidak tidur. Semua pasti ada garis dan jalannya. Nah kita nih yang manusia yang harus buka mata buka telinga, bukan hanya sekedar pasrah. 

Satu lagi, gak usah terlalu ngoyo dan ambisius dalam mengejar duit —-> pengalaman pribadi. Kalo emang dasarnya emang rejeki kita, usaha aja, namun pasrahkan hasilnya pada si Pemberi Rejeki. Lihat deh, nanti tau-tau, adaaaaaa aja jalannya buat dapat duit. Pede aja, bahwa kita itu ama Tuhan gak akan dibikin susah. 

” Kasihan…anak-anaknya..”

Kalo yang satu ini, iya, aku terima dengan lapang dada. Sejujurnya, aku mendoakan agar jangan ada anak anak yang terluka lagi akibat perpisahan orang tuanya. Semoga ke depannya orang tua-orang tua lain bisa menekan ego pribadinya demi kebahagiaan anak anak mereka. Oh ya..menekan iseng dan jailnya juga. Karena tak jarang hancurnya sebuah rumah tangga dimulai dari keisengan dan kejailan.

Kayak….Iseng ah, kontak mantan pacar. Jail ah, kenalan sama orang baru. Iseng ah, curhat ma si Ini. Jail ah..godain si Itu.

Aku tak percaya bahwa agar anak bahagia, orang tua harus bahagia terlebih dahulu. Tidak. Bagiku, unconditional love itu adalah saat seseorang rela berkorban, betapapun berdarah-darah hatinya ( asal jangan raga yang berdarah, catet ya.. ) demi kebahagiaan orang lain ( maksudku dalam hal ini : anak. Kalo orang dewasa bodo amat..kan sudah gede ini ). 

Dan jika dalam sebuah pengorbanan, kebahagiaan anak menjadi kebahagiaan orang tua, niscaya semua masalah akan mampu dilewati..well at least mungkin terasa enteng sedikit saat dijalani. Tauk deh sampai kapan. Ya jalaaaanin aja dulu, kan Tuhan juga kok, yang menentukan.

Setelah kupikir-pikir, ego lah yang membuat kasihan tadi terasa ngehek banget . Ego, merasa sebagai sosok yang lebih kurang, direndahkan, gitu. Padahal kalo dipikir, mungkin saja yang ngomong sekedar merasa empati. Mungkin saja, setelah ucapan kasihannya ada sebaris doa buat kita.

Misalnya : 

” Ya semoga saja dia bisa baik-baik saja melewatinya.”

Aamiin.

” Tenanglah, Gusti Alloh mboten sare. Nanti pasti ada jalannya. ”

Aamiin.

Jadi, poinku adalah, tak mengapa jika orang merasa kasihan, iba pada kita. Yang tau situasi kondisi secara pasti, ya kita sendiri. Anggap aja, ada doa dibalik ‘kasian’nya itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s