Ahmingse dan Eplinse.

Ahmingse dan Eplinse bak dunia yang terbalik saja. Ahmingse yang notabene seorang pria, suka berdandan dan berperilaku bak wanita, sementara Eplinse adalah seorang wanita yang berpenampilan dan cara berpikirnya males ribet. Yang praktis-praktis aja, bak seorang pria. 

Kata Ahmingse, Eplinse kasar. Agresif. Serem. Kata Eplinse, Ahmingse itu nyinyir, bawel. Nama baik Eplinse sudah runyam ke mana tau. Vonis pun berjatuhan, pertemanan pun menjadi 2 kubu : siapa yang pro siapa.

Entah apa, yang membuat Amingse yang katanya sebenarnya sangat mencintai Eplinse dan kini berbalik seolah Eplinse adalah perbuatan dosa yang harus dijauhi. Trauma?

Entah apa yang membuat Eplinse yang notabene seorang perempuan diperlakukan sedemikian rupa namun masih tetap ingin bersama. Faktor ekonomi?

Yang pasti, cinta itu tidak bisa hanya dari 1 pihak. Cinta itu diberi, diterima, dan diberi kembali. Cinta itu juga ibarat sebuah frekwensi radio. Untuk dapat siaran yang jernih, ya harus tepat di-tune in-nya. Mislek sesekali ya wajar, mungkin karena faktor cuaca. Tapi kalo sudah menggeser channel, mau pindah frekwensi yang lebih baik, ya udah. Selesai. Bisa sih balik lagi, tune in ke  saluran yang lama. Tapi dalam hal ini, tak seperti sebuah radio, hati itu kan bukan sebuah benda mati….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s