Being 41.

Beberapa bulan terakhir, mataku rewel. Sumpah, rewel banget. Berair, kering, gatal, sempat bengkak. Sempat mengecil. 

Yang bikin parno, saat mengecil, sipit sebelah. Kan gawat, kalo permanen. Males banget kalo mesti operasi.

Singkat cerita, periksa deh ke sebuah klinik mata di dekat rumah. Sebelumnya, harus malewati serangkaian tes. Lensa kontak harus kucopot, ganti dengan kacamata yang aduuh, menurutku gak nyaman, berat dan mengganggu gerak.

Selama 23-25 tahun terakhir, minus mataku tetap. Kiri -3.50, kanan -2.00. 

Saat di cek. Jeng jenggg…. ada peningkatan. Mata kiri naik jadi -4.00 mata kanan -2.50. Ada silindris, tapi sedikit. 

Wajar, kata dokter yang mendiagnosa. Karena umur, jadi syaraf mulai pada kendor.

S****t.

Umur.

Iya ya…. usiaku 41 tahun, minggu depan. 

Forty…………….one.

” Tes baca jarak dekat ya,bu.. ” kata mas mas yang periksa dengan alat tes manual berbentuk kacamata dan lensa yang bisa dicopot-copot.

Hasilnya : +1. Kanan kiri. Komplit banget kini paket mata yang kupunya. + – cyl.

Vonis itu kuterima dengan mata nanar. Diagnosa mata yang menyipit sebelah yang ternyata efek alergi dan kekeringan akibat pemakaian lensa kontak mendadak sudah tak terlalu penting lagi.

Gak  tau deh, sebenarnya nanarku itu sebenarnya malas menerima kenyataan bahwa minus bertambah, atau karena sekarang ada silindris dan plus…. ataukah karena seperti tertampar kenyataan bahwa…aku sudah bukan dewasa lagi, apalagi remaja. Aku ini sudah sangat matang, dan dalam beberapa waktu lagi akan…..

…bonyok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s