Do. Be. Have.


Selama ini yang aku tau dan lihat adalah seperti itu :

You DO something…

In order to HAVE something…or everything

To BEcome someone….

Benar. Kerja keras, akhirnya kaya, lalu diakui sukses dan berhasil.

Tapi…..

Dibarengi dengan jiwa yang kosong, kepedean berlebih, empati-simpati berkurang, kemauan makin banyak, lupa bersyukur, pengeluaran makin banyak, lupa mengingat Tuhan, rumah tangga macam neraka, teman-teman yang cuma ada maunya, anak anak yang makin dimanja dengan cara yang salah, diperbudak uang dan kerjaan, bahagia yang temporer, bahkan semu… dan segudang masalah lainnya.

Kemarin aku dapat gambaran baru, mengapa tidak dibalik saja rumus di atas menjadi :

BE someone first..know yourself first, love yourself first. Those who know how to look deep into themselves, will automatically love their God and ofcourse, know how to be grateful

Then DO something ( you love ), not because of what you thought anybody or society expect you to do so

And in the end of the day, you’ll HAVE everything which can’t be measured only by material thing

Pesanku.

Kalau nanti menikah, dibikin senang saja.

Tak usah terpaku pada pola pikir zaman dulu, suami harusnya begini..istri harusnya begitu.

Sudah nggak zamannya lagi, yang penting hari gini itu adalah : kompromi.

Hubungan seorang pria dan seorang wanita seharusnya saling melengkapi.

Bukan hanya semata engkau pria, dia wanita, maka kau pasti paling benar dan tahu, begitu pun sebaliknya. 

[ efek ngeliat tayangan gosip artis2 muda baru nikah dan masih memandang semua indah ]

Family comes first.

Berapa lama sih usia berteman?

Kau kira mereka akan selalu ada?

Kau kira mereka tak punya keluarga?

Orang-orang terkasih yang dipilih lebih dulu daripada engkau?

Jadi jika kau pecahkan keluarga hanya karena kau kira teman-teman ini akan selalu ada, 

Maka kelak kau akan rasa jika mereka kembali pada keluarga

Kau akan terhenyak, terdiam tanpa siapa-siapa….

Obat. 

[ sayup-sayup terngiang potongan lagu dari penyanyi Pink : “…you’re just like a pill….’Stead of makin’ me better, you keep makin’ me ill….You keep makin’ me ill…” ]

Jadi begini. Aku ini orang yang saaaangat malas minum obat. Mungkin karena terbiasa dari kecil saat masuk ke kamar kakekku yang seorang tenaga medis, aku selalu ( merasa ) mencium bau obat.
Di kamar kakek-nenekku yang biasanya full AC itu, ada sebuah lemari berlaci yang kalau dibuka di dalamnya ada berjenis-jenis obat. 
Aku ingat, tiap kali ada kata kata , ” Nanti habis maghrib masuk kamar Yai ( yang artinya kakek dalam bahasa Palembang )..” biasanya artinya akan disuntik, entah vaksin.. entah vitamin. Jadi…ya. Pengalaman itu cukup horor, dan terkenang sepanjang hidupku.. 

Aku lalu melihat bagaimana ibuku, yang rentan terkena migren, kerap minum obat untuk meredakan nyerinya. Dimulai dari obat merk ini, begitu dianggap kurang cespleng, pindah ke merk itu, yang aku yakin dosisnya juga pasti makin naik.

Aku juga melihat ibuku setiap hari minum obat, yang dikemudian hari aku paham, bahwa obat obat berukuran mungil dan ditandai dengan angka itu adalah pil KB. Dan aku juga akhirnya paham, mengapa beliau sering nyeri kepala. Dan hal ini yang menyebabkan aku, hingga kini, di tahun 2017 ini, tak pernah mau menggunakan alat kontrasepsi hormonal.

Singkat cerita, aku jadi malas minum obat.

Aku percaya akan konsep self healing. Sebenarnya tubuh itu sakit dan sembuh oleh kita sendiri. Kecuali penyakit bawaan, kalo itu sih sudah urusan Tuhan.

Tapi aku juga percaya, bahwa Tuhan memberi otak dan kemampuan untuk manusia terus belajar. Makanya ada dokter. Juga penemu dan pembuat obat.

Aku lebih percaya lagi, bahwa buatan Tuhan tak pernah salah. Buatan manusia ( dalam hal ini obat-obatan ), terlalu banyak celah.

Aku memilih memakan sayur dan buah, yang notabene memang buatan Tuhan, demi kelancaran fungsi fungsi organ tubuh. Karena aku enggan minum vitamin atau supplemen. 

Aku memilih terapi pijat daripada minum obat sakit kepala. Lebih mahal sih. 1 kali sesi pijat bisa beli sekantong obat sakit kepala. Minum sebutir obat pereda nyeri memang lebih cepat menghilangkan senut-senut. 1 kali sesi pijat terkadang hanya meredakan keluhan, dan harus disambung dengan tidur sejenak. Butuh waktu lebih lama, tapi paling tidak aku tak mesti minum obat.

Untuk hidup sehat hari gini pun sedikit susah. Okelah, sayur dan buah adalah buatan Tuhan. Tapi bagaimana dengan pestisida dan genetika silang yg notabene kerjaan manusia?

Well. Ada opsi. Pindah ke produk yang disebut organik. Mahal? Yasudah.. coba minimalkan kerusakan sayur dan buah tersebut dengan sabun pencuci khusus. Selesai.

Alasan basi.

Baca berita insan layar kaca.

Seorang ustadz menceraikan istrinya karena dianggap tidak bisa mengurus kelima buah hatinya.

Saat putusan cerai turun, anak-anak berada di bawah asuhan sang ibu. 

Kalo ngga bisa ngurus, ya bapaknya aja kaliiiiik yang ngurus. Kenapa akhirnya pengasuhan anak tetap ada di tangan si istri?

Jika seorang ibu bisa tertampar dengan tuduhan seperti ini, maka suatu saat hendaknya ada gugatan dari pihak istri, bahwa burung sang suami, kecil dan tak bisa berdiri.

Dangdutan.

Aku sudah 17 tahun lebih menetap di Jakarta. 10 tahun pertama tinggal di sebuah kompleks dengan 18 rumah yang jaraknya paling banter hanya 20-25 meter dari jalan raya. 

3 tahun kemudian, pindah dan tinggal lagi-lagi di sebuah kompleks kecil  berisi 7 rumah yang jaraknya…hmmm… kurang dari 100m dari jalan yang jauh lebih raya. 3 tahun kemudian, pindah lagi ke sebuah rumah yang nyaris di pinggir jalan super raya. Hitungannya sudah jalan arteri, kali ya.

Setahun terakhir, aku pindah ke rumahku yang sekarang. Lokasinya lebih ke dalam, jauh dari jalan raya. Mungkin sekitar 1.5km atau mungkin lebih, jaraknya.

Belasan tahun ( jika dihitung dari tempat kosku di kota Bandung sebelumnya, mencapai 20 tahunan ) sudah aku tinggal di pinggir jalan raya. Tentu saja aku sudah familiar dengan hingar bingar suara klakson dan deru kendaraan. Sesekali terdengar suara rem berdecit, bahkan braaaak! Suara tabrakan. Terkadang suara kendaraan yang lalu lalang justru menjadi semacam lagu pengantar tidur buatku. 

Begitu pindah ke rumah ini, mendadak hingar bingar itu hilang. Tak ada suara klakson berulang, deru knalpot kendaraan,    apalagi bunyi tabrakan. Hanya ketenangan, begitu hari beranjak malam.

Kukira, aku tak tahan dengan kesunyian. Sama ketika dulu saat kami masih sering berlibur ke sebuah rumah milik almarhum orang tua ayah dari anak-anakku di kota Bandung. Menjelang tidur, ada suara berdenging panjang di telingaku. Katanya, itu adalah sound of silence, saking sunyinya daerah di sekitar rumah itu.

Suara kesunyian itu acap kali menderaku, sampai pernah saking aku tidak tahan, aku tidur sembari mendengarkan musik dari telepon genggam, atau perangkat penyimpan lagu.

Namun kini, kesunyian ini justru menenangkanku. Suara paling berisik yang pernah kudengar adalah deru angin, karena posisi rumah ini cukup tinggi sehingga terpaan angin langsung masuk ke bagian belakang rumah. Itupun, siang hari saja terdengar. Nguuuuung…. nguuuuuungg… begitu suaranya.

Di kompleks ini terdiri dari 23 unit rumah mungil yang saling menempel dengan disain masa kini : minimalis. Istilah kerennya, townhouse. Ada 28 unit lagi yang luas tanahnya tak sebesar unit yang kutinggali.

Lingkungan sekitarku bagi kaum urban Jakarta masih disebut…uhm…kampung. Masih banyak penduduk asli Jakarta, yakni suku Betawi yang tinggal di sekitar sini. Mereka baik baik, ramah. Aku sering bertegur sapa baik dengan ibu RT, tetangga di luar kompleks, pemilik warung, tukang vermak baju, dan tukang sayur. 

Di kampung belakang, ada penjual gado gado yang seporsi hanya Rp 12.000 yang isinya segabruk-gabruk, bisa dimakan berdua, dan itupun masih menyisa.

Berbeda sekali dengan lingkungan di rumah terakhir yang kutinggali sebelum ini. Rumah gedong, mewah berlantai marmer dengan luas tanah… uhmmm… berapa ya..  mungkin 600-700m2 di lokasi yang harga tanahnya permeternya sudah bisa buat berangkat naik haji. 

3 tahun tinggal di situ, aku tak tahu menahu siapa tetangga di depanku. Mengapa banyak mobil keluar masuk situ. Atau siapa tetangga di sebelahku. Ibarat kata jika ada pesta bahkan tindakan kriminal di situ pun, kami tak akan pernah tahu, akibat tebal dan tingginya tembok yang membatasi. Oh well… aku tak terlalu merindukan juga rumah itu. Seperti menumpang tinggal saja, lagipula…batinku tak pernah menyatu dengan rumah itu.

Di rumahku yang sekarang, aku bisa leluasa naik sepeda, ke luar kompleks pun masih nyaman. Karena jalan yang kulewati bukan jalan utama. Setiap malam Minggu, ada satu ruas yang selalu ditutup karena ada semacam pasar malam yang diselenggarakan di sepanjang jalan itu. Seru atau tidaknya pasar malam itu aku belum tahu. Belum ada kesempatan untuk sekedar melihat-lihat ke situ.

Namun yang lumayan terasa saat malam Minggu, adalah sayup sayup terdengar alunan musik dangdut dengan suara vokalisnya yang khas, meliuk-liuk. Aku yakin, arahnya dari jalan yang ditutup itu. 

Kulihat jam, menunjuk ke angka 11, dan sudah menjelang tengah malam. Kutarik selimut, kucoba pejamkan mata. Jika puluhan tahun aku terbiasa dengan suara knalpot atau motor yang ngebut, apalah artinya satu malam dalam seminggu tidur diiringi penduduk yang lagi asik berjoged dangdut.

Menulis pendek.

Suatu hari, aku dikomplen anakku. 

Katanya, ” Mami, kalau lagi ngomong ( maksudnya kalau aku lagi ngomel, bisaaalaah..ibu-ibu ), jangan pake kata kata yang panjang. aku pusing. ”

Sehari-hari, aku rutin menulis artikel untuk sebuah website dunia hiburan. Biasanya dalam sehari ada 3 artikel yang harus kutulis, dan jika beritanya cukup ‘panas’ bisa membengkak jadi 5-7 artikel.

Mulanya aku menulis dengan berusaha menjabarkan sedetil mungkin sebuah peristiwa atau hasil wawancara dengan si narasumber. Kenapa? Karena saat membaca berita dari portal berita online seringkali aku berpikir : “bused, ini berita pendek amat, gak jelas runutannya”.

Atau : “ini kok satu berita, dibikin beberapa judul, padahal isinya diulang ulang mirip artikel sebelum-sebelumnya”.

Dan aku merasa pointless, untuk meneruskan membaca artikel berikutnya, karena yang membedakan antara artikel satu dengan yang lainnya paling hanya 1-2 kalimat.

Jadilah aku menulis 1 artikel untuk 1 judul untuk 1 peristiwa dengan berusaha sedetil mungkin agar si pembaca merasa cukup puas. Tentunya, artikelku cenderung panjang…panjaaaaang.

Yang aku lupa adalah, ini adalah cara berpikirku. Bukan cara berpikir sebagian besar netizen, bahkan anakku yang merupakan generasi kekinian gitu lah, istilahnya.

Aku lupa, kalau hari gini, kita terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, dan instan. Mungkin juga aku lupa, atau sengaja lupa, kalau aku ini memang generasi masa lalu yang terbiasa membaca novel, buku dan koran yang penjabarannya lebih detil daripada isi portal media online di masa kini. 

Perhatikan saja, buku-buku yang sekarang beredar dari penulis-penulis muda cenderung lebih tipis, dan terdiri dari berbagai cerita yang berbeda dalam bab-babnya.

Selain terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, manusia-manusia sekarang cenderung tidak sabaran dan mudah bosan. Jadi, detil dirasakan bikin ribet. Cukup garis besarnya sajalah. 

Padahal menurutku, detil itu penting. Agar tak jadi sebuah kesalahpahaman, karena pasti setiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda satu sama lain. Tapi sekali lagi, ini adalah aku. Bukan menggambarkan sebagian besar bagaimana pembaca saat ini. Sementara, sebagai seorang penulis, harus pula mengelus ego dan minat pembaca, bukan? 

Berteman dengan perempuan.


Membaca kata kata di atas, membuatku berpikir : ” Who are my friends?

Siapakah orang-orang yang kuanggap teman, I mean, ‘benar-benar’ teman? 

Seperti umumnya perempuan, biasanya memiliki satu-dua orang ( bisa juga lebih sih ) yang dianggap teman dekat. Di mana bisa saling curhat rahasia terdalam, seringkali terlihat bersama, gosipan, endebre..endebre…endebre.

Dan akhirnya aku terhenyak. Rasanya aku nggak punya teman perempuan yang seperti itu. 

Pertanyaannya : haruskah aku punya ?

Tentang curhat, aku punya 1-2 orang teman perempuan yang biasanya kuajak bertukar pikiran. Seringkah aku bertemu? Nggak tuh. Jarang-jarang. Masing masing kami punya kesibukan dan komunitas sendiri. Pembicaraan seringkali hanya melalui sambungan telepon yang, ya Tuhan… pernah suatu ketika mencapai durasi nyaris 4 jam!

Aku nyaris tak punya rahasia. Beberapa teman tahu hal hal pribadi tentang diriku. Terkadang, yang tak seberapa dekat denganku pun jika bertanya hal pribadi, ya kujawab sebisaku. Biasanya mereka mereka yang punya nyali untuk bertanya langsung ini, bukan tipe yang enggan bertanya, tapi kasak kusuk di belakang bikin cerita sendiri, sih. Begitu mereka tahu, ya sudah. Begitu saja.

Untuk janjian makan siang atau kopi kopi sore, aku punya beberapa set teman dari lingkungan yang berbeda dan saat bertemu, punya topik bahasan bahkan gosipan yang berbeda pula. Rutinkah aku bertemu? Nggak juga. Sesempatnya waktu mereka dan aku saja.

Jadi, siapakah teman perempuan terdekatku saat ini? Terus terang aku tidak tahu dengan pasti. Ya, mungkin ada 1 orang nama yang muncul di benakku. Tapi rasanya nggak sebegitunya, sih.

Aku sempat punya 1-2 teman perempuan yang ibaratnya sudah seperti saudara sendiri. Honestly, I loved them so dearly. Saking cintanya, akhirnya mirip seperti hubungan asmara, ekspektasi juga mengikuti dan merusak segalanya.

Entahlah. 

Mungkin… ekspektasi mereka besar pula terhadapku, sebesar cinta mereka kepadaku. Ceileh.

Mungkin…memang pada dasarnya aku memang terlalu acuh untuk melihat ada hal apa dibalik sebuah ekspektasi. Yang kulihat hanya : lu tunjukin A, ya sudah gue ikutin A sesuai mau elu. 

Aduh, aku ngga sanggup untuk mengira-ngira bagaimana sih… benak dan mau seorang perempuan ( dear gentlemen out there, I know how y’all feel, trust me..I KNOW! ).  Aku ikuti apa yang terlihat sajalah. Lebih baik lagi, ikuti apa yang terucap sajalah. Lebih jelas arahannya.

Dan sesudahnya, bisanya aku diam tak bergeming, membiarkan things fall apart dan akhirnya hilang begitu saja.

Mungkin… itu yang dilihat oleh beberapa perempuan bahwa I’m hard to love. Terlalu keras dan kaku sebagai seorang teman, apalagi sahabat perempuan. Sehingga mungkin… mereka merasa lelah untuk terus memiliki ekspektasi agar aku menjadi teman yang seperti mereka mau.

Mungkin, seperti itu….

#perempuan #teman #bff #pertemanan#temanperempuan 

Happy wife, happy family part 1.

[ ini bukan gua yang bikin, kayaknya tulisan seseorang yg bernama dari Shendy Patty ]
Lelaki seperti apa, menghasilkan istri seperti apa.

Seorang teman merasa istrinya semakin lama semakin egois dan kasar. Karena itu, mereka bertengkar setiap hari.

Saking seringnya bertengkar, lelaki ini memiliki selingkuhan.

Akhirnya, mereka bercerai dan sang suami menikah lagi dengan selingkuhannya. Sang mantan istripun tak lama kemudian menikah lagi.

Mereka masih belum dikaruniai anak. pernikahan baru keduanya masing masing berjalan dengan sangat lancar.

Tetapi setelah menikah, istri baru dari lelaki ini semakin lamapun kelembutannya semakin pudar.

Rumah tangga mereka berakhir sama seperti yg dulu, sedikit sedikit bertengkar.

Istri barunya bahkan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, teman saya terpaksa membersihkan rumah sendiri.

Teman saya merasa nasib dia tidak baik, mengapa ia selalu memilih istri yg kurang baik, setiap hari ia mengeluh.

Sampai suatu hari, di suatu acara makan malam ia secara kebetulan bertemu dengan suami baru mantan istrinya.

Pada awalnya kedua lelaki ini tidak berbicara apa apa, tetapi setelah saling menyapa merekapun minum bersama.

Akhirnya teman saya tak bisa menahan diri lagi dan bertanya bagaimana keadaan rumah tangga mereka. Suami baru mantan istrinya ini tidak tampan, tetapi sangat teliti dalam berbicara.

Ia berkata, “Istri saya adalah wanita yg sangat hebat, sangat perhatian dan lembut, ia mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Juga sangat menyayangi saya, ia selalu bersikap baik ke orangtua, saudara, dan teman teman saya. Saatnya jujur dia akan jujur, saatnya butuh perhatian, dia akan memberi perhatian penuh. Wanita seperti ini, sudah sedikit sekali.”

Teman saya setelah mendengarnya merasa bingung, dan berpikir apa dia memang sebaik itu?. Mengapa dulu dia sama sekali tidak menyadarinya?. Pasti ini semua cuma bualan suami baru istrinya ini untuk membuat saya bingung.

Tak lama kemudian, kebetulan sekali, teman saya pergi berbelanja ke supermarket dan melihat mantan istri dan suami barunya sedang berbelanja.

Ia bersembunyi di samping dan memperhatikan, akhirnya ia menyadari pasangan itu benar benar bahagia.

Kebahagian itu bisa ia lihat dari senyuman mantan istrinya yg selalu bermekaran. Juga bisa dilihat dari pelukan lembut yg diberikan oleh lelaki di sampingnya itu.

Sebenarnya, di bermacam situasi, istri berubah menjadi malaikat atau berubah menjadi nenek sihir, semua tergantung pada lelaki.

Didetik wanita memutuskan untuk menikah, ia juga memutuskan untuk menjalani hidup dengan baik bersama suaminya.

Walaupun dalam pernikahan, kesabaran merupakan suatu kebajikan, tetapi jika ada cinta maka ada toleransi.

Saat anda merasa tidak puas dengan wanita anda, wanita pun tidak peduli lagi.

Jadi, jika anda menginginkan wanita baik seperti malaikat, terlebih dahulu perlakukan dia sebagai malaikat.

Karena semua wanita di dunia yang sudah menjadi “istri seseorang” memiliki potensi menjadi malaikat.

Saat anda bisa melakukannya dengan baik, anda akan menyadari bahwa perubahan sikap anda dapat membentuk sesosok malaikat yg sempurna.

Cinta wanita muncul karena kasih sayang pria, Kebencian wanita muncul karena kebohongan pria; Keluhan wanita muncul karena kedinginan pria. Kebahagiaan wanita muncul karena kehangatan pria. Kecantikan wanita muncul karena dimanjakan pria. Kerusakan wanita adalah hutang pria.

Wanita adalah sebuah piano, jika bertemu dengan seorang pianis handal, suara yg dihasilkan adalah lagu kelas dunia, jika dimainkan oleh orang biasa, maka akan menghasilkan lagu pop, tetapi apabila dimainkan oleh orang sembarangan, pasti tidak akan membentuk sebuah lagu.

       ***for me, oh this is so true***

Anakmu bukanlah anakmu.

Setelah membaca isi puisi Kahlil Gibran ini, kupaham maksudnya. Sebenarnya sebagian besar isinya pun sudah kupikirkan, kupahami, meski belum tahu apakah bisa kujalani dengan sesempurna itu.

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Pesan orang tua, apapun di dunia ini bukan milikmu. Semua berupa titipan, pinjaman yang sewaktu-waktu bisa saja diambil oleh si Empunya Hak.

Tapi jika berkaitan dengan anak, aduh bagaimana ya… begitu derasnya cinta yang tertuang tak pelak terkadang membangkitkan harapan.

‘ Nanti jadi anak yang pintar, ya? Kan itu juga buat kebaikan kamu..’ —> padahal tak jarang orangtua juga yang bertepuk dada jika anaknya ketahuan berprestasi

” Kalau sudah besar, gantian jaga ibu ya…” —> yaaa emang nanti anaknya gak punya keluarga sendiri yang harus diurus juga? 

Menurutku, tak ada yang paling mematahkan hati di dunia ini saat seorang ibu harus kehilangan anaknya. Kuacungkan tujuh jempol ( yang 3 minjem jempol orang ) saat kulihat bagaimana tegarnya nenekku saat kehilangan 3 orang anak, 2 di antaranya dalam waktu yang berdekatan. Tak setetespun air matanya kulihat jatuh saat di pemakaman.

Suatu hari beliau berkata, ” Sebenarnya tak terkatakan bagaimana remuknya hatiku, jika tak mengingat Allah. Dan terus mengulang ulang di kepala, jika anak-anakku itu adalah titipan… bukan milikku. Mereka milik Allah..”

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Pembentukan karakter seseorang itu dimulai dari rumah. Anak adalah peniru yang ulung. Makanya sering kali karakter dan sifat awal yang terbentuk tak jauh dengan apa yang dimiliki kedua orangtuanya. Tergantung mana yang dominan, ada yang lebih dominan ke ibu, ada yang dominan ke ayah. 

Butuh orang tua yang bijaksana, yang bisa memahami kekurangan pada dirinya, dan mencoba membalik kekurangan itu agar tak ditiru oleh sang anak. 

Tak usah khawatir, tentang kelebihan. Tak perlu diulang ulang agar dapat penghargaan atau berharap kelak akan ditiru oleh si Anak. Itu akan membuat alpa. Walau bagaimanapun, wujud keberhasilan orang tua menurutku jika anak bisa menjadi jauh lebih baik dari orangtuanya di berbagai hal. Bukan dihitung cetek dari sekedar dari karir dan finansial saja, loh.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

Yah bahasan tentang paragraf ini sih bakalan meper dengan paragraf sebelumnya. Jadi ya baca yang di atas aja lah ya.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Bagiku, akan kulakukan yang terbaik yang kubisa. Walau bagaimanapun, aku adalah cetakan dari kedua orang tuaku, aku dibesarkan dengan nilai nilai yang mereka tanamkan padaku, dan bapak dari anak-anakku pun menurunkan nilai-nilai yang ia dapat dari orangtuanya.  

Tentu, nilai2 tersebut ada kekurangan dan kelebihannya, beberapa bahkan bertolak belakang. Sesungguhnya ini saatnya anak memilah, mana yang akan dia bawa selamanya. Bisa kupaksakan ia agar jadi pribadi yang aku mau? Tentu tidak. Mereka punya hak memilih kok.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Dalam hidupku sejauh ini, tak ada yang mematahkan hatiku saat melihat anak meneteskan airmatanya dan berkata : ” I am broken ( of what you guys did ). ”

Rasanya seperti tertusuk belati berkali kali tepat di hulu hati. 

Atau tangis sesunggrukannya di malam takbiran beberapa waktu lalu. Aku tak mampu membuatnya mengerti. Aku tak mau membuatnya mengerti. Sebaliknya aku membuat diriku yang mengerti tentang anak (anak) ku.
Dan akhirnya, aku akan tahu ke mana aku melangkah. Aku tak bisa berada di depannya, karena aku adalah sebuah contoh yang tak kuinginkan ia ikuti. Tapi aku bisa berada di sampingnya. Mungkin suatu saat aku akan berada di belakangnya, untuk memberi sebuah dorongan. Atau bahkan sebuah ‘cambukan’ jika diperlukan

Maaf, kalo bahasannya ngga nyambung dengan paragraf terakhir. Aku tuh nggak punya terjemahan yang pas. Karena sepertinya paragraf terakhir ini sudah cukup puitis dan dangdut abis.