Do. Be. Have.


Selama ini yang aku tau dan lihat adalah seperti itu :

You DO something…

In order to HAVE something…or everything

To BEcome someone….

Benar. Kerja keras, akhirnya kaya, lalu diakui sukses dan berhasil.

Tapi…..

Dibarengi dengan jiwa yang kosong, kepedean berlebih, empati-simpati berkurang, kemauan makin banyak, lupa bersyukur, pengeluaran makin banyak, lupa mengingat Tuhan, rumah tangga macam neraka, teman-teman yang cuma ada maunya, anak anak yang makin dimanja dengan cara yang salah, diperbudak uang dan kerjaan, bahagia yang temporer, bahkan semu… dan segudang masalah lainnya.

Kemarin aku dapat gambaran baru, mengapa tidak dibalik saja rumus di atas menjadi :

BE someone first..know yourself first, love yourself first. Those who know how to look deep into themselves, will automatically love their God and ofcourse, know how to be grateful

Then DO something ( you love ), not because of what you thought anybody or society expect you to do so

And in the end of the day, you’ll HAVE everything which can’t be measured only by material thing

Advertisements

Pesanku.

Kalau nanti menikah, dibikin senang saja.

Tak usah terpaku pada pola pikir zaman dulu, suami harusnya begini..istri harusnya begitu.

Sudah nggak zamannya lagi, yang penting hari gini itu adalah : kompromi.

Hubungan seorang pria dan seorang wanita seharusnya saling melengkapi.

Bukan hanya semata engkau pria, dia wanita, maka kau pasti paling benar dan tahu, begitu pun sebaliknya. 

[ efek ngeliat tayangan gosip artis2 muda baru nikah dan masih memandang semua indah ]

Family comes first.

Berapa lama sih usia berteman?

Kau kira mereka akan selalu ada?

Kau kira mereka tak punya keluarga?

Orang-orang terkasih yang dipilih lebih dulu daripada engkau?

Jadi jika kau pecahkan keluarga hanya karena kau kira teman-teman ini akan selalu ada, 

Maka kelak kau akan rasa jika mereka kembali pada keluarga

Kau akan terhenyak, terdiam tanpa siapa-siapa….

Obat. 

[ sayup-sayup terngiang potongan lagu dari penyanyi Pink : “…you’re just like a pill….’Stead of makin’ me better, you keep makin’ me ill….You keep makin’ me ill…” ]

Jadi begini. Aku ini orang yang saaaangat malas minum obat. Mungkin karena terbiasa dari kecil saat masuk ke kamar kakekku yang seorang tenaga medis, aku selalu ( merasa ) mencium bau obat.
Di kamar kakek-nenekku yang biasanya full AC itu, ada sebuah lemari berlaci yang kalau dibuka di dalamnya ada berjenis-jenis obat. 
Aku ingat, tiap kali ada kata kata , ” Nanti habis maghrib masuk kamar Yai ( yang artinya kakek dalam bahasa Palembang )..” biasanya artinya akan disuntik, entah vaksin.. entah vitamin. Jadi…ya. Pengalaman itu cukup horor, dan terkenang sepanjang hidupku.. 

Aku lalu melihat bagaimana ibuku, yang rentan terkena migren, kerap minum obat untuk meredakan nyerinya. Dimulai dari obat merk ini, begitu dianggap kurang cespleng, pindah ke merk itu, yang aku yakin dosisnya juga pasti makin naik.

Aku juga melihat ibuku setiap hari minum obat, yang dikemudian hari aku paham, bahwa obat obat berukuran mungil dan ditandai dengan angka itu adalah pil KB. Dan aku juga akhirnya paham, mengapa beliau sering nyeri kepala. Dan hal ini yang menyebabkan aku, hingga kini, di tahun 2017 ini, tak pernah mau menggunakan alat kontrasepsi hormonal.

Singkat cerita, aku jadi malas minum obat.

Aku percaya akan konsep self healing. Sebenarnya tubuh itu sakit dan sembuh oleh kita sendiri. Kecuali penyakit bawaan, kalo itu sih sudah urusan Tuhan.

Tapi aku juga percaya, bahwa Tuhan memberi otak dan kemampuan untuk manusia terus belajar. Makanya ada dokter. Juga penemu dan pembuat obat.

Aku lebih percaya lagi, bahwa buatan Tuhan tak pernah salah. Buatan manusia ( dalam hal ini obat-obatan ), terlalu banyak celah.

Aku memilih memakan sayur dan buah, yang notabene memang buatan Tuhan, demi kelancaran fungsi fungsi organ tubuh. Karena aku enggan minum vitamin atau supplemen. 

Aku memilih terapi pijat daripada minum obat sakit kepala. Lebih mahal sih. 1 kali sesi pijat bisa beli sekantong obat sakit kepala. Minum sebutir obat pereda nyeri memang lebih cepat menghilangkan senut-senut. 1 kali sesi pijat terkadang hanya meredakan keluhan, dan harus disambung dengan tidur sejenak. Butuh waktu lebih lama, tapi paling tidak aku tak mesti minum obat.

Untuk hidup sehat hari gini pun sedikit susah. Okelah, sayur dan buah adalah buatan Tuhan. Tapi bagaimana dengan pestisida dan genetika silang yg notabene kerjaan manusia?

Well. Ada opsi. Pindah ke produk yang disebut organik. Mahal? Yasudah.. coba minimalkan kerusakan sayur dan buah tersebut dengan sabun pencuci khusus. Selesai.

Alasan basi.

Baca berita insan layar kaca.

Seorang ustadz menceraikan istrinya karena dianggap tidak bisa mengurus kelima buah hatinya.

Saat putusan cerai turun, anak-anak berada di bawah asuhan sang ibu. 

Kalo ngga bisa ngurus, ya bapaknya aja kaliiiiik yang ngurus. Kenapa akhirnya pengasuhan anak tetap ada di tangan si istri?

Jika seorang ibu bisa tertampar dengan tuduhan seperti ini, maka suatu saat hendaknya ada gugatan dari pihak istri, bahwa burung sang suami, kecil dan tak bisa berdiri.

Dangdutan.

Aku sudah 17 tahun lebih menetap di Jakarta. 10 tahun pertama tinggal di sebuah kompleks dengan 18 rumah yang jaraknya paling banter hanya 20-25 meter dari jalan raya. 

3 tahun kemudian, pindah dan tinggal lagi-lagi di sebuah kompleks kecil  berisi 7 rumah yang jaraknya…hmmm… kurang dari 100m dari jalan yang jauh lebih raya. 3 tahun kemudian, pindah lagi ke sebuah rumah yang nyaris di pinggir jalan super raya. Hitungannya sudah jalan arteri, kali ya.

Setahun terakhir, aku pindah ke rumahku yang sekarang. Lokasinya lebih ke dalam, jauh dari jalan raya. Mungkin sekitar 1.5km atau mungkin lebih, jaraknya.

Belasan tahun ( jika dihitung dari tempat kosku di kota Bandung sebelumnya, mencapai 20 tahunan ) sudah aku tinggal di pinggir jalan raya. Tentu saja aku sudah familiar dengan hingar bingar suara klakson dan deru kendaraan. Sesekali terdengar suara rem berdecit, bahkan braaaak! Suara tabrakan. Terkadang suara kendaraan yang lalu lalang justru menjadi semacam lagu pengantar tidur buatku. 

Begitu pindah ke rumah ini, mendadak hingar bingar itu hilang. Tak ada suara klakson berulang, deru knalpot kendaraan,    apalagi bunyi tabrakan. Hanya ketenangan, begitu hari beranjak malam.

Kukira, aku tak tahan dengan kesunyian. Sama ketika dulu saat kami masih sering berlibur ke sebuah rumah milik almarhum orang tua ayah dari anak-anakku di kota Bandung. Menjelang tidur, ada suara berdenging panjang di telingaku. Katanya, itu adalah sound of silence, saking sunyinya daerah di sekitar rumah itu.

Suara kesunyian itu acap kali menderaku, sampai pernah saking aku tidak tahan, aku tidur sembari mendengarkan musik dari telepon genggam, atau perangkat penyimpan lagu.

Namun kini, kesunyian ini justru menenangkanku. Suara paling berisik yang pernah kudengar adalah deru angin, karena posisi rumah ini cukup tinggi sehingga terpaan angin langsung masuk ke bagian belakang rumah. Itupun, siang hari saja terdengar. Nguuuuung…. nguuuuuungg… begitu suaranya.

Di kompleks ini terdiri dari 23 unit rumah mungil yang saling menempel dengan disain masa kini : minimalis. Istilah kerennya, townhouse. Ada 28 unit lagi yang luas tanahnya tak sebesar unit yang kutinggali.

Lingkungan sekitarku bagi kaum urban Jakarta masih disebut…uhm…kampung. Masih banyak penduduk asli Jakarta, yakni suku Betawi yang tinggal di sekitar sini. Mereka baik baik, ramah. Aku sering bertegur sapa baik dengan ibu RT, tetangga di luar kompleks, pemilik warung, tukang vermak baju, dan tukang sayur. 

Di kampung belakang, ada penjual gado gado yang seporsi hanya Rp 12.000 yang isinya segabruk-gabruk, bisa dimakan berdua, dan itupun masih menyisa.

Berbeda sekali dengan lingkungan di rumah terakhir yang kutinggali sebelum ini. Rumah gedong, mewah berlantai marmer dengan luas tanah… uhmmm… berapa ya..  mungkin 600-700m2 di lokasi yang harga tanahnya permeternya sudah bisa buat berangkat naik haji. 

3 tahun tinggal di situ, aku tak tahu menahu siapa tetangga di depanku. Mengapa banyak mobil keluar masuk situ. Atau siapa tetangga di sebelahku. Ibarat kata jika ada pesta bahkan tindakan kriminal di situ pun, kami tak akan pernah tahu, akibat tebal dan tingginya tembok yang membatasi. Oh well… aku tak terlalu merindukan juga rumah itu. Seperti menumpang tinggal saja, lagipula…batinku tak pernah menyatu dengan rumah itu.

Di rumahku yang sekarang, aku bisa leluasa naik sepeda, ke luar kompleks pun masih nyaman. Karena jalan yang kulewati bukan jalan utama. Setiap malam Minggu, ada satu ruas yang selalu ditutup karena ada semacam pasar malam yang diselenggarakan di sepanjang jalan itu. Seru atau tidaknya pasar malam itu aku belum tahu. Belum ada kesempatan untuk sekedar melihat-lihat ke situ.

Namun yang lumayan terasa saat malam Minggu, adalah sayup sayup terdengar alunan musik dangdut dengan suara vokalisnya yang khas, meliuk-liuk. Aku yakin, arahnya dari jalan yang ditutup itu. 

Kulihat jam, menunjuk ke angka 11, dan sudah menjelang tengah malam. Kutarik selimut, kucoba pejamkan mata. Jika puluhan tahun aku terbiasa dengan suara knalpot atau motor yang ngebut, apalah artinya satu malam dalam seminggu tidur diiringi penduduk yang lagi asik berjoged dangdut.

Menulis pendek.

Suatu hari, aku dikomplen anakku. 

Katanya, ” Mami, kalau lagi ngomong ( maksudnya kalau aku lagi ngomel, bisaaalaah..ibu-ibu ), jangan pake kata kata yang panjang. aku pusing. ”

Sehari-hari, aku rutin menulis artikel untuk sebuah website dunia hiburan. Biasanya dalam sehari ada 3 artikel yang harus kutulis, dan jika beritanya cukup ‘panas’ bisa membengkak jadi 5-7 artikel.

Mulanya aku menulis dengan berusaha menjabarkan sedetil mungkin sebuah peristiwa atau hasil wawancara dengan si narasumber. Kenapa? Karena saat membaca berita dari portal berita online seringkali aku berpikir : “bused, ini berita pendek amat, gak jelas runutannya”.

Atau : “ini kok satu berita, dibikin beberapa judul, padahal isinya diulang ulang mirip artikel sebelum-sebelumnya”.

Dan aku merasa pointless, untuk meneruskan membaca artikel berikutnya, karena yang membedakan antara artikel satu dengan yang lainnya paling hanya 1-2 kalimat.

Jadilah aku menulis 1 artikel untuk 1 judul untuk 1 peristiwa dengan berusaha sedetil mungkin agar si pembaca merasa cukup puas. Tentunya, artikelku cenderung panjang…panjaaaaang.

Yang aku lupa adalah, ini adalah cara berpikirku. Bukan cara berpikir sebagian besar netizen, bahkan anakku yang merupakan generasi kekinian gitu lah, istilahnya.

Aku lupa, kalau hari gini, kita terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, dan instan. Mungkin juga aku lupa, atau sengaja lupa, kalau aku ini memang generasi masa lalu yang terbiasa membaca novel, buku dan koran yang penjabarannya lebih detil daripada isi portal media online di masa kini. 

Perhatikan saja, buku-buku yang sekarang beredar dari penulis-penulis muda cenderung lebih tipis, dan terdiri dari berbagai cerita yang berbeda dalam bab-babnya.

Selain terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, manusia-manusia sekarang cenderung tidak sabaran dan mudah bosan. Jadi, detil dirasakan bikin ribet. Cukup garis besarnya sajalah. 

Padahal menurutku, detil itu penting. Agar tak jadi sebuah kesalahpahaman, karena pasti setiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda satu sama lain. Tapi sekali lagi, ini adalah aku. Bukan menggambarkan sebagian besar bagaimana pembaca saat ini. Sementara, sebagai seorang penulis, harus pula mengelus ego dan minat pembaca, bukan?