Anakmu bukanlah anakmu.

Setelah membaca isi puisi Kahlil Gibran ini, kupaham maksudnya. Sebenarnya sebagian besar isinya pun sudah kupikirkan, kupahami, meski belum tahu apakah bisa kujalani dengan sesempurna itu.

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Pesan orang tua, apapun di dunia ini bukan milikmu. Semua berupa titipan, pinjaman yang sewaktu-waktu bisa saja diambil oleh si Empunya Hak.

Tapi jika berkaitan dengan anak, aduh bagaimana ya… begitu derasnya cinta yang tertuang tak pelak terkadang membangkitkan harapan.

‘ Nanti jadi anak yang pintar, ya? Kan itu juga buat kebaikan kamu..’ —> padahal tak jarang orangtua juga yang bertepuk dada jika anaknya ketahuan berprestasi

” Kalau sudah besar, gantian jaga ibu ya…” —> yaaa emang nanti anaknya gak punya keluarga sendiri yang harus diurus juga? 

Menurutku, tak ada yang paling mematahkan hati di dunia ini saat seorang ibu harus kehilangan anaknya. Kuacungkan tujuh jempol ( yang 3 minjem jempol orang ) saat kulihat bagaimana tegarnya nenekku saat kehilangan 3 orang anak, 2 di antaranya dalam waktu yang berdekatan. Tak setetespun air matanya kulihat jatuh saat di pemakaman.

Suatu hari beliau berkata, ” Sebenarnya tak terkatakan bagaimana remuknya hatiku, jika tak mengingat Allah. Dan terus mengulang ulang di kepala, jika anak-anakku itu adalah titipan… bukan milikku. Mereka milik Allah..”

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Pembentukan karakter seseorang itu dimulai dari rumah. Anak adalah peniru yang ulung. Makanya sering kali karakter dan sifat awal yang terbentuk tak jauh dengan apa yang dimiliki kedua orangtuanya. Tergantung mana yang dominan, ada yang lebih dominan ke ibu, ada yang dominan ke ayah. 

Butuh orang tua yang bijaksana, yang bisa memahami kekurangan pada dirinya, dan mencoba membalik kekurangan itu agar tak ditiru oleh sang anak. 

Tak usah khawatir, tentang kelebihan. Tak perlu diulang ulang agar dapat penghargaan atau berharap kelak akan ditiru oleh si Anak. Itu akan membuat alpa. Walau bagaimanapun, wujud keberhasilan orang tua menurutku jika anak bisa menjadi jauh lebih baik dari orangtuanya di berbagai hal. Bukan dihitung cetek dari sekedar dari karir dan finansial saja, loh.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

Yah bahasan tentang paragraf ini sih bakalan meper dengan paragraf sebelumnya. Jadi ya baca yang di atas aja lah ya.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Bagiku, akan kulakukan yang terbaik yang kubisa. Walau bagaimanapun, aku adalah cetakan dari kedua orang tuaku, aku dibesarkan dengan nilai nilai yang mereka tanamkan padaku, dan bapak dari anak-anakku pun menurunkan nilai-nilai yang ia dapat dari orangtuanya.  

Tentu, nilai2 tersebut ada kekurangan dan kelebihannya, beberapa bahkan bertolak belakang. Sesungguhnya ini saatnya anak memilah, mana yang akan dia bawa selamanya. Bisa kupaksakan ia agar jadi pribadi yang aku mau? Tentu tidak. Mereka punya hak memilih kok.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Dalam hidupku sejauh ini, tak ada yang mematahkan hatiku saat melihat anak meneteskan airmatanya dan berkata : ” I am broken ( of what you guys did ). ”

Rasanya seperti tertusuk belati berkali kali tepat di hulu hati. 

Atau tangis sesunggrukannya di malam takbiran beberapa waktu lalu. Aku tak mampu membuatnya mengerti. Aku tak mau membuatnya mengerti. Sebaliknya aku membuat diriku yang mengerti tentang anak (anak) ku.
Dan akhirnya, aku akan tahu ke mana aku melangkah. Aku tak bisa berada di depannya, karena aku adalah sebuah contoh yang tak kuinginkan ia ikuti. Tapi aku bisa berada di sampingnya. Mungkin suatu saat aku akan berada di belakangnya, untuk memberi sebuah dorongan. Atau bahkan sebuah ‘cambukan’ jika diperlukan

Maaf, kalo bahasannya ngga nyambung dengan paragraf terakhir. Aku tuh nggak punya terjemahan yang pas. Karena sepertinya paragraf terakhir ini sudah cukup puitis dan dangdut abis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s